Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 19.04 on 12 September 2012 Permalink  

    Telaah Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.


    Islam Dalam Ramalan Jayabaya

    (Telaah Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya)
    PENDAHULUAN
    Bagi sebagian kalangan muslim memunculkan kajian terhadap ‘keberterimaan’terhadap ramalan sudah tentu akan memantik sebuah polemik. Betapa tidak, konsep Islam dalam memandang ramalan pada dimensi supranatural telah tegas dan jelas. Umat Islam dikenai larangan atas sejumlah pengharapan spekulatif, seperti mengundi suatu pilihan dengan anak panah, berjudi, dan termasuk di dalamnya dengan jalan mempercayai ramalan. Apa yang penulis maksudkan dengan ramalan ini sudah tentu bukan merupakan sebuah upaya perkiraan masa depan dengan sejumlah metode ilmiah semacam metode forecasting penilaian kelayakan bisnis dalam perekonomian atau sejenisnya. Namun lebih kepada ramalan yang berorientasi pada klenik dan atau mengarah praktek kebatinan. Efek ramalan sendiri biasanya berlainan pada tiap-tiap individu yang berbeda. Akan tetapi umumnya, ramalan akan membuat manusia terjebak oleh angan-angan, bahkan secara negatif menjerumuskan pada kemusyrikan.
    Namun harus menjadi sebuah kesadaran bahwa realitas yang lain tentang berkembangnya ramalan, akhir-akhir ini, justru semakin marak menyeruak. Semakin canggih piranti teknologi, kemudahan menikmati hidup, dan terbuka lebarnya akses informasi bukannya mengikis kepercayaan manusia modern terhadap model klenik yang satu ini. Ramalan justru seperti memanfaatkan kondisi dengan berperan mengisi kekosongan jiwa “manusia modern” dari kemiskinan spiritualitas. Ramalan bukan lagi identik dengan asap kemenyan pedupaan, spekulasi kartu tarot, bola kristal, pendulum, atau benda-benda yang dianggap memiliki tuah magis lainnya. Akan tetapi berkembang dengan menyelusup melalui layanan jasa komunikasi yang bisa diakses melalui piranti elektronik dengan biaya relatif terjangkau oleh masyarakat luas.
    Di kelas menegah ke bawah, kebangkitan ramalan ditandai dengan menguatnya isu-isu lawas tentang pentahapan jaman. Kondisi perubahan sosial kemasyarakatan yang terus didera oleh berbagai kesulitan hidup, krisis kemanusiaan berkepanjangan, dan dekadensi moral telah menumbuhkan angan-angan dan penantian akan kemunculan sosok ‘ratu adil’. Tidak terkecuali, ramalan seringkali menjadi pelarian atas kehidupan yang dianggap semakin tidak pasti.
    Bagi masyarakat Jawa khususnya, ramalan Jayabaya (baca: Joyoboyo) merupakan ramalan yang dianggap memiliki akurasi tinggi dalam menerangkan berbagai pertanda perubahan jaman. Ramalan ini sering diagung-agungkan sebagai memiliki gambaran tentang masa depan secara jelas dan meyakinkan. Anehnya, masyarakat yang mempercayai “kebesaran” ramalan Jayabaya, umumnya tidak memiliki pengenalan mendalam tentang keyakinannya berdasarkan sumber ‘resmi’ ramalan Jayabaya. Sikap taken for granted yang mereka tunjukkan umumnya terbentuk hanya melalui proses oral dengan sumber informasi yang tidak jarang sukar dipertanggungjawabkan. Tidak jarang mereka hanya berpatokan kepada ‘kata orang’. Demikian juga sejumlah pihak yang memposisikan diri sebagi penolak ramalan Jayabaya, umumnya juga tidak membangun sikapnya berdasarkan pengetahuan ataupun proses kajian yang jelas. Bahkan kadangkala hanya didasarkan atas sikap mula-mula yang sudah antipati terhadap istilah ‘ramalan’, maka menjadi justifikasi bahwa ramalan Jayabaya pun memiliki kadar ‘negatif’ sebagaimana penilaian awalnya.
    Hadirnya tulisan terkait ramalan Jayabaya ini bukan merupakan usaha untuk melegalkan praktek ramalan. Namun lebih merupakan upaya informatif bagi para pembaca guna bersama memahami hakikat ramalan Jayabaya. Sehingga kejelasan sikap dan tindakan pembaca, terutama sebagai seorang muslim, akan terbangun berlandaskan sebuah pemahaman yang nyata. Sekaligus dalam hal ini penulis berharap, akan tumbuh sikap bahwa baik dalam posisi menerima maupun menolak terhadap hakikat sesuatu hendaknya didasarkan pada sebuah pengetahuan dan bukan hanya berdasarkan penilaian awal yang belum tentu benar apalagi sekedar ‘kata orang’.
    PENULIS RAMALAN JAYABAYA
    Perlu diketahui, Ramalan Jayabaya merupakan kumpulan ramalan yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa. Ramalan yang sering disebut dengan istilah Jangka Jayabaya (baca: jongko joyoboyo) tersebut dinilai oleh banyak kalangan sebagai hasil karya pujangga yang memiliki akurasi tinggi dalam menggambarkan jaman dan kondisi masa depan yang diprediksi. Dengan kata lain sejumlah ‘orang Jawa’ sangat mempercayai ketepatan dan kesesuaian Jangka Jayabaya dalam menggambarkan masa depan.
    Jangka Jayabaya memiliki banyak versi, minimal ada 9 (sembilan) macam versi. Umumnya kitab-kitab tentang ramalan Jayabaya tersebut merupakan hasil karya abad XVII atau XIX Masehi. Dari beragam versi Jangka Jayabaya tersebut, secara substansial kebanyakan memiliki kesamaan ide dan gagasan. Kemungkinan besar hal ini disebabkan beragam versi tersebut sebenarnya mengambil dari sebuah sumber induk yang sama yaitu kitab yang disebut Musarar atau Asrar. Oleh karena itulah maka penulis memutuskan untuk membatasi kajian ini berdasarkan Serat Pranitiwakya Jangka Jayabaya saja. Kitab diyakini merupakan karya Raden Ngabehi Ranggawarsita (baca: Ronggowarsito).[1] Serat Pranitiwakya ini dapat dikatakan mewakili ramalan Jayabaya dalam wujud yang bersifat lebih ringkas.
    TOKOH JAYABAYA MENURUT SERAT PRANITI WAKYA
    Jayabaya yang dimaksud dalam Jangka Jayabaya tidak lain adalah Prabu Jayabaya, raja Kediri, yang dianggap memiliki kemampuan luar biasa dalam meramal masa depan. Nama Prabu Jayabaya sendiri bagi masyarakat Jawa sering menjadi inspirasi dalam menciptakan gambaran tentang ratu adil. Keberadaannya kerap kali dikaitkan sebagi penitisan Dewa Wisnu yang terakhir di tanah Jawa.[2] Hal yang terakhir ini menjelaskan bahwa Prabu Jayabaya hidup pada atmosfer jaman Hindhuisme dimana seorang raja besar yang pernah hidup digambarkan memiliki hubungan dengan dunia mistik, sebagi wujud inkarnasi Dewa dalam rangka menjaga kelangsungan kehidupan di mayapada (bumi).
    Akan tetapi pesan utama yang hendak disampaikan ramalan Jayabaya tentang sosok prabu Jayabaya, hakekatnya justru tidak mengkaitkan sang raja dengan Hindhuisme. Dalam Serat Praniti Wakya, Prabu Jayabaya digambarkan sebagai seorang yang telah menganut agama Islam. Bahkan dalam versi Serat Jayabaya yang lain digambarkan bahwa keislaman yang paling mendekati praktek Nabi adalah keislaman Prabu Jayabaya pada masa itu. “Yen Islama kadi Nabi, Ri Sang Jayabaya…” (Jika ingin melihat keislaman yang yang mendekati ajaran Nabi (Muhammad saw), orang demikian adalah Sang Jayabaya).[3] Gambaran keislaman yang dianggap terbaik demikian, jika memang benar terjadi, pembandingnya tentu adalah praktek keagamaan pada jaman Hindhuisme yang mendominasi tersebut. Parbu Jayabaya dianggap sebagai tokoh Muslim dengan parktek keislaman terbaik mendekati parktek Nabi dibandingkan banyak manusia pada masa itu yang masih mempraktekkan ajaran Hindhu.
    Terkait dengan ‘keislaman’ Prabu Jayabaya, Serat Praniti Wakya menjelaskan bahwa raja Kediri tersebut telah berguru kepada Maulana Ngali Syamsujen yang berasal dari negeri Rum. Yang dimaksud dengan tokoh tersebut tentu adalah Maulana ‘Ali Syamsu Zein, seorang sufi yang kemungkinan besar berasal dari Damaskus.Pabu Jayabaya, digambarkan dalam Praniti Wakya sebagai sangat patuh menjalankan ajaran gurunya yang beragama Islam tersebut.
    Lantas, apakah ‘keislaman’ Prabu Jayabaya yang hidup dalam atmosfer jaman kehindhuan ini dapat dipertanggungjawabkan sebagai informasi yang shahih ? Hal ini merupakan persoalan yang sulit diverifikasi kebenarannya. Sebab tidak terlalu banyak bahan yang dapat digunakan untuk merekonstruksi kehidupan keagamaan pada masa hidup Prabu Jayabaya. Bahkan tidak sedikit yang menggambarkan bahwa sosok Prabu Jayabaya tidak lain hanya sekedar tokoh fiktif belaka. Penulisan beragam versi Jangka Jayabaya pun, umumnya berasal dari masa belakangan, dimana Islam telah berkembang sebagai ajaran masyarakat.Namun hal ini penting dimengerti, terutama bagi para da’i yang berdakwah kepada kaum kebatinan dan kejawen, bahwa klaim mereka tentang Jangka Jayabaya merupakan kitab milik kaum kebatinan dan kejawen adalah salah. Sebab kitab ini sesungguhnya kitab ini dihasilkan berdasarkan pengaruh ajaran Islam.
    Terkait keberadaan penganut agama Islam pada masa yang diyakini sebagai ‘Jaman’ Jayabaya, bukan merupakan persoalan yang mustahil. Prabu Jayabaya diyakini hidup pada abad XII, pada masa antara tahun 1135 dan 1157 M.[5] Sedangkan pada masa sebelumnya, yaitu era pemerintahan Erlangga, abad XI, di Leran, sekitar 8 (delapan) kilometer dari Gresik, telah ditemukan batu nisan dari makam seorang bernama Fathimah binti Maimun bin Hibatullah yang memberikan informasi bahwa wanita yang diyakini beragama Islam tersebut meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H atau tahun 1082 M.[6] Bahkan menurut Prof. Dr. Hamka jauh-jauh hari sebelumnya, dalam catatan China,disebutkan bahwa raja Arab telah mengirimkan duta untuk menyelidiki seorang ratu dari Holing (Kalingga) yang bernama Ratu Shi Ma yang diyakini telah melaksanakan hukuman had. Ratu tersebut ditahbiskan antara tahun 674-675 M. Prof. Dr. Hamka menyimpulkan bahwa raja Arab yang dimaksud adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang hidup pada masa itu dan wafat pada 680 M.[7] Demikan juga hasil kesimpulan Seminar Masuknya Islam ke Indonesia menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kali adalah abad I H atau abad VII-VIII M.[8]
    Karya sastra yang ditulis pada masa yang diperkirakan sebagai era Jayabaya, juga memiliki kecenderungan terpengaruh oleh keberadaan ajaran Islam. Disertasi Dr. Sucipta Wiryosuparto menyebutkan bahwa Kakawin Gatutkacasraya karya Mpu Panuluh, banyak menggunakan kata-kata dari Bahasa Arab.[9] Penggunaan kosa kata Arab yang serupa juga dapat ditemukan dalam Serat Baratayuddha, karya bersama Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Tulisan pujangga yang demikian tentu tidak mungkin terjadi kecuali telah terjadi interaksi dengan penganut agama Islam. Hal ini membuktikan bahwa telah ada komunitas umat Islam di Tanah Jawa pada masa yang diyakini sebagai era Jayabaya. Dengan demikian dakwah kepada penguasa, termasuk kepada Prabu Jayabaya pun bukan merupakan perihal yang mustahil. Demikian juga tentang keislaman sang raja Jayabaya merupakan persoalan yang sangat mungkin terjadi. Apalagi Jangka Jayabaya seringkali disebut-sebut diturunkan dari sejumlah karya yang lebih tua.
    SUBSTANSI JANGKA JAYABAYA
    Boleh dikatakan bahwa hampir sebagian besar isi Serat Praniti Wakya berbicara tentang “masa depan” Pulau Jawa dalam visi Jayabaya. Namun bila dicermati lebih mendalam, akan nampak bahwa Serat Praniti Wakya banyak mengambil isnpirasi penulisan dari sumber-sumber Islam berupa Al Quran dan Hadits. Berita-berita tentang akhir jaman dari kedua pusaka umat Islam tersebut kemudian diolah dalam redaksi pengarang Serat Praniti Wakya (dalam hal ini diyakini sebagai karya R. Ng. Ranggawarsita). Sehingga sifat universal dari ajaran Islam tentang berita akhir jaman kemudian diterangkan dan diterapkan dalam lingkup Jawa. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar ajaaran islam dalam Serat tersebut telah mengalami proses yang disebut ‘jawanisasi’. Namun demikian, substansi Islam itu sendiri masih nampak bersifat tetap dan tidak hilang.
    Simak misalnya, penuturan Jayabaya tentang kiamat. Sang Prabu menyatakan bahwa kiamat adalah “kukuting djagad lan wiji kang gumelar iki, iku tekane djajal laknat …”.[10] Sorotan lain Serat Praniti Wakya juga membahas tentang pandangan Prabu Haji Jayabaya tentang akan datangnya Yakjuja wa Makjuja[11] (Ya’juj dan Ma’juj), kiamat kubra[12] (kiamat besar), lochil ma’pule[13] (lauh al mahfudz), dan lain sebagainya.
    Konsep-konsep yang termuat dalam Serat Paraniti Wakya tersebut di atas jelas tidak dapat diingkari berasal dari ajaran Islam. Deskripsi beberapa terminologi Islam dalam Praniti Wakya sebagian memang tidak bersifat lugas dan jelas. Pembabakan Jaman menjadi 3 bagian seperti jaman kaliswara, kaliyoga, dan kalisengara jelas bukan merupakan visi ajaran Islam. Demikian juga beberapa ramalan tentang ‘akan’ munculnya sejumlah kerajaan di Jawa seperti Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Kartasura, dan Surakarta. Namun hal tersebut bukan tidak dapat dijelaskan. Penjelasan pertama, sangat mungkin sang pengarang Praniti Wakya, yaitu R. Ng. Ranggawarsita bermaksud menggambarkan pemahaman sang tokoh Prabu Jayabaya secara apa adanya, yaitu seorang muslim yang masih hidup dalam atmosfer Hindhuisme. Namun dengan penjelasan kedua, hal tersebut bisa saja timbul dari pemikiran pengarang sendiri. Saat menulis sejumlah versi ramalan Jayabaya, jelas Ranggawarsita telah hidup pada masa dimana dia bisa mengikuti sejumlah perkembangan terkait jatuh bangunnya sejumlah kerajaan pada masa lampau, seperti Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, dan seterusnya.Penjelasan awal tersebut memiliki konsekuensi memungkinkan terjadinya pembenaran bahwa Ramalan Jayabaya memang seolah terbukti akurat. Namun mengingat bahwa tidak ada catatan pasti yang menyatakan bahwa Prabu Jayabaya merupakan sosok yang memang ‘pintar’ meramal masa depan, maka penjelasan kedua ini lebih dapat digunakan sebagai argumentasi. Sedang terkait banyaknya konsep Islam dalam ramalan Jayabaya yang kadang terlihat ‘kurang’ islami lagi, mungkin hal ini disebabkan pemahaman R. Ng. Ranggawarsita yang kurang tuntas dalam memahami Syariat Islam.
    Ranggawarsita pernah belajar di Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo, dibawah asuhan Kyai Hasan Bashori atau sering disebut Kyai Kasan Besari dalam lidah Jawa. Sebelum berangkat ke pondok, sebenarnya Ranggawarsita telah pandai membaca Al Quran. Oleh karena pengajaran awal di pondok Pesantren Tegalsari, adalah pelajaran tentang kajian Al Quran dan Fiqih maka Ranggawarsita menjadi jengkel. Bahkan untuk melampiaskan kekesalannya, dia sering keluar dari lingkungan pondok untuk berjudi mengadu ayam. Kyai Kasan Besari akhirnya mengetahui kekesalan Ranggawarsita, maka kepada sang Ranggawarsita kemudian diajarkan ilmu tassawuf.[14] Agaknya hal ini sangat berpengaruh terhadap pemahaman syariat Ranggawarsita pada masa selanjutnya.
    Sedangkan ‘ramalan’ bersifat futuristik yang seolah memiiliki kesesuaian dengan jaman yang diramalkan, hal tersebut bukannya tidak dapat dijelaskan. Misalnya ungkapan bahwa “… Nusa Jawa bakal kinalungan wesi” (Pulau Jawa akan dikalungi besi). Sebagian penafsir memaknai ungkapan tersebut berkaitan bahwa di Jawa akan timbul industrialisasi. Ada pula yang memaknai bahwa kalung besi yang dimaksud adalah penggambaran bentuk rel kereta api.Jika penafsiran ini benar, maka perlu diketahui bahwa Ranggawarsita hidup pada masa penjajahan Belanda, dimana pengaruh Belanda dalam lingkungan Keraton telah merasuk sedemikian kuatnya. Sedangkan di bumi Eropa sendiri, dimulai dari Perancis dan menyebar ke seluruh Eropa termasuk Belanda, telah mengalami Revolusi industri sehingga industrialisasi maupun transportasi darat menggunakan kereta api sudah umum keberadaannya. Cerita-cerita demikian tentu dapat didengar di wilayah Keraton yang secara intens terlibat dalam pergaulan bangsa Belanda. Sudah tentu dalam pandangan Ranggawarsita, jika Jawa berada dalam genggaman Belanda, maka tidak urung ‘kalung besi’ akan mengitari Jawa. Hal itu bisa berupa industrialisasi maupun wujud rel kereta api.
    Menariknya, serat Praniti Wakya sebagai buah karya R. Ng. Ranggawarsita, mediskripsikan pandangan Prabu Jayabaya terhadap tradisi kepemimpinan pendeta. Telah banyak diketahui bahwa para pendeta dalam sistem kasta Hindhu memiliki strata kedudukan paling tinggi secara sosial. Lebih tinggi dari kasta para raja dan bangsawan yang masuk ke strata kedua, yaitu kasta Ksatria. Diceritakan bahwa setelah selesai belajar kepada Maulana ‘Ali Syamsu Zain, Prabu Jayabaya bersama putranya yang bernama Prabu Anom Jayamijaya berniat mengantar kepulangan sang guru ke negeri Rum hingga ke pelabuhan. Sepulang dari pelabuhan, Prabu Jayabaya dan putranya menyempatkan diri singgah dipertapaan seorang pendeta bernama Ajar Subrata, saudara seperguruan sang Prabu namun masih menganut ajaran Hindhu. Sang pendeta bermaksud mencobai Prabu Jayabaya yang dikenal sebagi titisan Bathara Wisnu dengan memberi suguhan berupa 7 (tujuh) jenis yaitu kunyit satu rimpang, jadah (makanan dari beras ketan ditumbuk) darah, kejar sawit, bawang putih, bunga melati, dan bunga seruni masing-masing satu takir (wadah yang dibuat dari daun pisang, biasanya untuk meletakkan sesaji).[15]
    Suguhan tersebut bagi Prabu Jayabaya, memiliki makna tersandi atau arti tersembunyi yang berada disebalik suguhan tersebut. Apalagi Prabu Jayabaya dan Ajar Subrata pernah menjadi saudara seperguruan sehingga dimungkinkan mereka memiliki pengetahuan yang kurang lebih sama.Suguhan tersebut membuat sang Prabu sangat marah dan akhirnya membunuh sang pendeta sekaligus putrinya yang menjadi istri dari Prabu Anom Jayamijaya, putranya. Pasca peristiwa tersebut Jayabaya menerangkan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan untuk menghukum kekurangajaran sang pendeta yang secara tersandi berniat mengakhiri kekuasaan raja-raja di Jawa. Suguhan tersebut memiliki makna bahwa jika Prabu Jayabaya memakannya maka kekuasaan akan tetap berada ditangan pendeta dan jaman baru, termasuk di dalamnya berkembangnya ajaran Islam, tidak akan pernah terjadi.
    Demikianlah pandangan Serat Praniti Wakya, bahwa Prabu Jayabaya adalah titisan Wisnu yang hanya tinggal dua kali akan turun ke Marcapada. Pasca Prabu Jayabaya, dikisahkan bahwa Wisnu akan menitis di Jenggala dan setelah itu tidak akan pernah menitis kembali serta tidak memiliki tanggung jawab lagi terhadap kemakmuran ataupun kerusakan bumi maupun alam ghaib.
    “… Ingsun iki pandjenenganing Wisjnu Murti[16], kebubuhan agawe rahardjaning bumi, dene panitahingsun mung kari pindo, katelu ingsun iki, ing sapungkuringsun saka Kediri nuli tumitah ana ing Djenggala, wus ora tumitah maneh, karana wus dudu bubuhan ingsun, gemah rusaking djagad, lawan kahananing wus ginaib, ingsun wus ora kena melu-melu, tunggal ana sadjroning kakarahe guruningsun, ...”[17]
    Pernyataan di atas menggambarkan bahwa ajaran kedewaan dalam Hindhuisme tidak akan berlaku lagi pasca penitisan wisnu di Jenggala. Hal ini diperkuat pula bahwa pasca penitisan di Jenggala, Wisnu tidak akan memiliki tanggung jawab lagi terhadap keutuhan dunia nyata maupun dunia maya alam ghaib, termasuk alam kedewaan sekalipun. Dapat kita lihat pula bahwa pasca itu, Majapahit yang dianggap sebagai kerajaan tersohor di nusantara sekalipun ternyata sudah tidak melaksanakan ajaran Hindhu secara murni, namun menjalankan sinkertisme antara ajaran Syiwa dan Budha. Selanjutnya, jaman akan berubah menuju jaman Islam yang diisyaratkan bahwa semua keadaan akan menjadisatu dengan tongkat atau pegangan guru Jayabaya yang bernama Maulana ‘Ali Syamsu Zein. Bahkan secara tersirat Serat Praniti Wakya sebenarnya mencoba mengungkapkan bahwa Bathara Wisnu, Dewa yang masuk dalam Trimurti[18] dan memiliki tanggung jawab memelihara alam semesta, ternyata telah pula menerima ajaran Islam sebagai agamanya.
    PENUTUP
    Demikian sekilas gambaran tentang Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya. Kitab tersebut pada dasarnya merupakan buku yang mencoba untuk memberikan apresiasi terhadap keberadaan Islam di Pulau Jawa. Hatta, di dalamnya mengandung banyak hal-hal yang musykil dan seolah tidak sesuai dengan ajaran Islam, namun dengan memandang kitab tersebut sebagai bagian dari proses dakwah di Pulau Jawa, maka perlu pula kaum muslimin mengkaji dan mengapresiasi serat tersebut. Sebab telah banyak kitab Jawa yang sebenarnya memiliki nafas Islam secara kental, namun diklaim sebagi kitab Hindhu maupun kebatinan. Hal ini sudah tentu disebabkan kepedulian umat Islam yang masih minim dan sekaligus kurangnya pengetahuan terhadap naskah-naskah lama karya pujangga. Juga mengindikasikan bahwa kajian keilmuan dikalangan umat Islam, saat ini, masih belum membudaya.
    Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya, karya seorang pujangga R. Ng. Ranggawarsita, seolah merupakan bentuk sinkretis perpaduan antara Islam dan kejawen. Akan tetapi nampak bahwa ajaran Islam lebih dominan sebagai substansi. Sedangkan ‘kejawen’ sendiri terposisikan sebagai kulit luar dari bentuk pemikiran Jawa yang telah terisi dengan ruh Islam.

    Selanjutnya, jika pembaca termasuk ke dalam kelompok kalangan yang mempercayai ramalan Jayabaya sebagai ramalan yang memiliki akurasi tinggi, maka bersegeralah kembali kepada Islam dan sumber-sumbernya berupa Al Quran dan Ash Shunnah. Sebab, hakikatnya “ramalan” Jayabaya merupakan bagian dari upaya memahami Islam melalui proses pencarian panjang yang belum selesai. Sedangkan bagi kalangan yang menolak sebelum mengkaji hal ini sebelumnya, maka hendaknya akan dapat mengubah sikap terhadap pemahaman hakikat segala sesuatu. Bahwa sahnya sebuah amalan adalah pasca terbitnya sebuah kepahaman mendalam.

    FOOTNOTE

    [1] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. (PT. Yudha Gama Corp, Jakarta, 1982). Hal.
    [2] Noname. Serat Praniti Wakja Djangka Djojobojo. (Penerbit Keluarga Soebarno, Surakarta, tth). Hal. 5
    [3] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya …. Opcit. Hal. 20
    [4] Noname. Serat Praniti Wakja Opcit. Hal. 5. Artinya : Sedang yang menjadi pembuka cerita adalah beliau Prabu Haji Jayabaya, raja yang seperti Dewa, yang disebut ratu adil, populer di dunia sebagai titisan Dewa Wisnu.
    [5] Moh. Hari Soewarno. Ramalan JayabayaOpcit. Hal. 16
    [6] Moh. Hari Soewarno. Ramalan JayabayaOpcit. Hal15-16. Juga M. C. Ricklefs. A History of Modern Indonesia. (Macmillan Education Ltd, London and Hampshire, 1981. Edisi Indonesia :Sejarah Indonesia Modern. Terjemah oleh Drs. Dharmono Hardjowidjono. Cetakan II. (Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1992). Hal. 3-4
    [7] Prof. Dr. Hamka. Sejarah Umat Islam. Edisi Baru. Cetakan V. (Pustaka Nasional Ltd, Singapura, 2005). Hal. 671-673
    [8] Panitia Seminar Masuknya Islam ke Indonesia. Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia: Kumpulan Pidato dan Pendapat Para Pemimpin, Pemrasaran, dan Pembanding dalam Seminar tanggal 17 Sampai 20 Maret 1963 di Medan. (Panitia Seminar Masuknya Islam ke Indonesia, Medan, 1963). Hal. 265
    [9] Selengkapnya tentang kata-kata Bahasa Arab dalam Kakawain Gathutkacasraya lihat Prof. Dr. Sucipta Wiryosuparto. Kakawin Gatutkaca Craya. (Disertasi Universitas Indonesia, Jakarta, 1960).
    [10] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 28. Artinya: Kiamat adalah hancurnya dunia dan benih (kehidupan) yang terhampar ini, itu (ditandai) dengan datangnya Dajjal laknat …
    [11] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 29
    [12] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 30
    [13] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 31
    [14] Moh. Hari Soewarno. Serat Darmogandul dan Suluk Gatoloco Tentang Islam. (PT. Antar Surya Jaya, Surabaya, 1985). Hal. 16-17. Buku ini menurut penulis banyak memiliki kelemahan dari sisi data, analisa, dan metodologi terutama dalam membahas tentang Serat Darmagandul dan Suluk Gatoloco.
    [15] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 19-20
    [16] Istilah Wisnu Murti menunjukkan salah satu nama penitisan Dewa Wisnu dalam tiap-tiap masa dalam pandangan masyarakat Jawa pra-Islam. Dalam dunia pewayangan Jawa, terutama kisahRamayana, penitisan Wisnu menjelma menjadi Ramawijaya dan Laksmana. Pada ramawijaya menitis Wisnu Purba (baca : purbo yang “artinya memiliki wewenang”). Sedangkan pada diri Laksmana menitis Wisnu Sejati. Sedangkan pada era Mahabarata Wisnu Murti pernah menitis pada tokoh Kresna dan Arjuna. Sedangkan dalam Lakon wayang Wahyu Purba Sejati, digambarakan bahwa setelah meninggalnya Ramawijaya dan Laksmana, tokoh dari era Ramayana. Kemudian Wisnu Purba menitis pada tokoh Kresna dan Wisnu Sejati menitis pada Arjuna di era Mahabarata. Namun kisah lain menyebutkan bahwa Wisnu Sejati kemudian merasa tidak betah berada dalam tubuh Arjuna, sebab sebelumnya tokoh Laksmana terkenal sebagai karakter wayang yang menjalani hidup wadat (selibat=tidak menikah). Sedangkan Arjuna memiliki istri banyak. Dengan demikian Kresna, Raja Dwarawati atau Dwaraka, mendapat dua penitisan sekaligus yaitu Wisnu Murti dan Purba. Sedangkan Arjuna hanya merupakan penjelmaan Wisnu Murti.
    [17] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 21-22. Artinya: “…aku ini adalah Wisynu Murti, berkewajiban membuatkesejahteraan di bumi, dan penitisanku dibumi tinggal tersisa dua kali, penitisan ketiga adalah diriku ini, sedangkan selanjutnya di Jenggala, pasca itu aku sudah tidak menitis sebagi manusia lagi, sebab hal itu bukan tanggungjawabku lagi, makmur atau rusaknya dunia serta keadaan alam ghaib, aku sudah tidak boleh campur tangan, semuanya sudah menjadi tanggung jawab sesuai tongkat yang dimiliki guruku .”
    [18] Trimurti merupakan ajaran Hindhu yang menyebutkan bahwa terdapat tiga unsur ketuhanan yaitu Brahma, Wisnu, Syiwa, dan Wisnu. Brahma berperan sebagai pencipta alam raya, sedang Wisnu menjadi pemelihara, dan syiwa adalah anasir kekuatan perusak alam semesta.
    Penulis: Susiyanto (Mahasiswa Pasca Sarjana Peradaban Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta)
    Dipublikasikan ulang dari http://www.susiyanto.wordpress.com
    Iklan
     
  • tituitcom 19.02 on 12 September 2012 Permalink  

    Kasih Sayang Generasi Kerbau Dalam Valentine’s Day 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Kasih Sayang Generasi Kerbau Dalam Valentine’s Day

    Tanggal 14 Februari, bukan lagi hari yang asing bagi remaja di Indonesia. Sebuah ‘hari raya’ khas remaja dalam lingkup hura-hura dan histeria masa muda. Hari Valentine, demikian kaum belia menyebutnya, dirayakan sebagai hari kasih sayang dengan menyerahkan coklat sebagai ungkapan cinta kepada orang yang disayangi untuk menyimbolkan pernyataan ketulusan hati. Orang yang disayangi tersebut jelas bukan ayah, ibu, suami, adik, atau familinya. Namun orang yang dianggap sebagai pasangannya. Media massa turut serta menayangkan aneka rupa tontonan sekaligus menjadi kampanye gratis penyebarannya. Hampir semua media mengangkat tema tentang cinta dalam suasana merah jambu.

    Bagi remaja, Hari Valentine tak luput pula menghadirkan nuansa mendebarkan. Dapat dibayangkan, sebagian besar remaja mencari pasangan kencannya untuk menghabiskan malam valentine bersama. Lantas bagi mereka yang belum memiliki kekasih, hari Valentine dapat dipastikan akan menjadi hari yang panjang dan tidak jarang memunculkan keputus asaan. Hari penuh resah dan gelisah menunggu siapa yang akan memberinya coklat tanda bahwa dirinya ‘diminati’. Belum lagi jika harus berdiam diri di rumah karena tidak ‘kebagian’ pasangan, jelas mereka akan merasa malu menyandang predikatkuper, nggak gaul, ketinggalan jaman, dan sebagainya. Sementara udara di luar semakin dingin dan hari kasih sayang telah berubah menjadi hari penuh nafsu. Seks bebas, berpelukan di depan umum, dan peredaran narkotika adalah pemandangan umum ‘hari kasih sayang’, hari ‘surgawi’ bagi para pemuja syahwat.
    Awal mula Valentine’s Day merupakan perayaan dari peradaban Barat untuk mengenang terbunuhnya seorang pendeta Kristen bernama Valentine. Dikisahkan bahwa seorang raja yang demi menjaga stabilitas dan kepentingan nasional negaranya terpaksa memberlakukan wajib militer terhadap kaum muda. Namun para pemuda negeri itu rupanya enggan untuk melakukan bela negara. Sang raja kemudian menitahkan sabdanya bahwa para pemuda belum akan mendapatkan pengesahan pernikahan sebelum mereka mengikuti wajib militer. Maka tersebutlah sepasang muda-mudi yang sudah sangat ngebet kawin. Padahal sang pemuda belum menjalankan wajib militer. Jelas tidak ada pendeta yang berani mengkhianati kepentingan negara dengan menikahkan keduanya. Maka tampillah Pendeta Valentine, bak pahlawan kesiangan, dia menikahkan kedua pasangan tersebut. Valentine kemudian diputuskan bersalah dan dihukum gantung atas perilaku khianatnya. Matilah Valentine sebagai pengkhianat kepentingan nasional namun pahlawan bagi kepentingan individual.
    Versi lain cerita tentang Valentine menyebutkan bahwa pada masa Kaisar Claudius berkuasa, terdapat seorang pendeta Katholik bernama Valentinus. Sang pendeta dijebloskan ke penjara sambil menanti prosesi hukuman mati karena suatu kesalahan. Secara tak terduga sang pendeta ternyata menjalin hubungan asmara dengan puteri sipir penjara. Menjelang dieksekusi pada 14 Februari 269 M, sang pendeta sempat menulis sebuah surat cinta bertuliskan “From Your Valentine”. Surat itu akhirnya menjadi tanda mata terakhir dari Valentinus dan kisahnya berkembang menjadi kisah cinta yang melegenda. Namun umumnya orang akan menghubungkannya dengan kisah romantis semacam Romeo-Juliet. Dari sini, bukankah aneh jika kemudian kisah-kisah demikian dirayakan sebagai hari kasih sayang ?
    Sedangkan bentuk perayaan Valentine’s Day sendiri sebenarnya mengadopsi konsep hari raya kaum penyembah berhala yaitu Perayaan Lupercal yang bertujuan menghormati Faunus, dewa kesuburan bangsa Romawi. Perayaan ini dilakukan oleh kaum muda-mudi dengan memilih pasangannya, saling memberi hadiah, dan puncak acaranya adalah ritual seks bebas termasuk upaya melepaskan keperawanan sebagai lambang dan permohonan kesuburan yang melimpah.
    Lantas, mengapa masyarakat terutama remaja banyak yang memuja Valentine ? Tata nilai masyarakat bisa saja bergeser. Masyarakat hari ini boleh dikatakan bukan lagi sekumpulan rakyat patriotis. Mereka cenderung meninggalkan nilai ketimuran karena telah silau dengan gebyar dari Barat. Valentine’s day sebagai hari kasih sayang sebenarnya hanya berhenti sebagai jargon belaka. Perayaan ini di Barat tidak lebih sebagai moment hura-hura, event untuk melampiaskan nafsu syahwat, dan sekaligus mengakhiri keperawanan atau ‘keperjakaan’ dalam makna yang sesungguhnya. Anehnya budaya ini pun mulai diadopsi oleh dunia timur hingga dalam tingkatan substansi. Maraknya pelacuran remaja, pergaulan bebas, penggunaan narkotika, dan sebagainya tidak lepas dari budaya-budaya tersebut.
    Valentine’s day sendiri dimasyarakatkan bukan sebagai wahana menghubungkan manusia dalam ikatan kasih secara murni. Juga miskin dari nilai perayaan agama. Sebab Valentine’s day justru merupakan sebuah bukti kematian agama Kristen di Barat akibat berkuasanya kapitalisme. Agama telah tunduk pada kemauan pasar. Produknya dipilih dan dipilah berdasarkan selera publik. Secara substansial agama itu pun hanya diberlakukan sebagai ceremonial dan prakteknya tidak lebih sekadar hura-hura belaka.
    Bagi kapitalis, remaja adalah sasaran potensial pemasaran produk. Masyarakat muda yang belum mandiri secara pemikiran dan berada pada masa pencarian jati diri sehingga paling mudah dikendalikan. Untuk dapat menjual produk kepada tingkatan usia ini, maka calon konsumen tersebut musti dikondisikan terlebih dahulu. Maka diciptakanlah sebuah mind-set bahwa remaja musti gaul, cool, kreatif, smart, dan sebagainya. Sifat-sifat yang ingin dibentuk itu pun memiliki nilai khas ala kapitalis, bukan lagi karakter netral. Namun ditentukan oleh tangan-tangan setan (invisible hand), sebutan ilmu ekonomi kapitalis untuk menggambarkan mekanisme pasar. Sifat gaul tidak akan dimiliki jika remaja tidak mengikuti trend. Mereka yang tidak merayakan valentine’s day dianggap tidak gaul. Predikat kreatif pun telah disusupi makna baru. Seorang remaja disebut kreatif jika mampu mengikuti kemauan pasar. Mereka yang pandai bermain music, menciptakan sarana hura-hura, membuat produk yang bisa menjadi trend remaja itulah yang disebut kreatif. Ujungnya, keratif adalah sebutan bagi mereka yang mampu menciptakan budaya konsumenisme sekaligus menjadi penikmatnya.
    Lihat saja misalnya, untuk ukuran seorang remaja yang terlibat pacaran. Untuk berangkat kencan mereka butuh baju-baju bagus dari butik pilihan, terus harus disetrika dengan semprotan pengharum khusus. Belum lagi butuh parfum sebagai pewangi yang lain. Kalau mau nge-kiss pacar tentu mulut tidak boleh berbau maka diiklankan sejumlah produk untuk pengharum mulut mulai dari pasta gigi, sikat gigi, mouth spray, permen wangi, sampai obat kumur. Terus kalau mau dicium, terus wajah belentong-belentong karena jerawatan, maka tentu remaja akan merasa tengsin, maka muncul produk penghalus muka, anti acne, pemutih, scrab, vitamin kulit, dan sebagainya. Jelas rambut pun tidak boleh kusam, maka perlu shampo khusus, creambath, rebonding, vitamin rambut, dan sebagainya. Belum lagi kalau rambutnya penuh ketombe maka semakin ribet kebutuhannya. Bahkan secara sengaja iklan-iklan yang mengarah kepada pergaulan bebas juga dimunculkan sebagai pengenalan dan pemasaran produk sekaligus kampanye. Misalnya remaja musti tahu tentang kesehatan reproduksi yang ujung-ujungnya diarahkan kepada pemahaman seks yang aman atau pencegahan AIDS. Penjualan produk alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan paling berkepentingan dalam hal ini. Semua itu adalah realita kehidupan dalam kapitalisme. Semua hal memiliki potensi untuk menjadi komoditas. Tidak terkecuali perayaan Valentine’s Day.
    Remaja dianggap gaul jika mampu mengikuti mode dan trend tertentu. Trend mark dan brand image yang mereka kejar untuk mendapat ‘gelar’ gaul, cool, modern, smart, tidak ketinggalan jaman, dan jargon-jargon tersebut harus mereka bayar dengan harga tidak sedikit. Sebuah pencarian jati diri yang tergadai dalam kepura-puraan mengejar angan dan harapan semu. Membuat semakin sulit bagi remaja untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab secara kejiwaan dan sistemik, kehidupan mereka sendiri telah terbelenggu oleh peraturan tidak tertulis yang diciptakan oleh tangan-tangan kapitalis dengan memanfaatkan mekanisme pasar.
    Sungguh, apakah sedemikian bodohnya kaum remaja masa kini. Sehingga masih sanggup tertawa, gembira, dan berhura-hura ketika dibodohi dengan predikat dan mekanisme yang tidak sepenuhnya netral atau berpihak kepada mereka. Tertawa lebar tanpa sadar menertawakan keterjajahannya. Tersenyum simpul dalam kematian nalar warasnya. Jawaban mereka atas nasihat ini pun akan terlalu simple karena lahir dari kemampuan berfikir yang sederhana “ ah seperti tidak pernah muda saja”. Remaja model demikian pun akhirnya menjadi generasi kerbau yang dicocok hidungnya, pasrah dan menurut saja kehendak ‘sang tuan’. Dan pastinya, akan semakin sulit bangsa ini dilanjutkan oleh generasi pilihan, jika remaja kita kadung terjerembab dalam budaya sarat nilai negatif dari Barat, termasuk Valentine’s Day.
    TAMBAHAN: Tidak ada yang perlu disalahkan. Hanya saja akar dari semua itu berupa sekularisme yang melahirkan kapitalisme, liberalisme, individualisme, materialisme, dan berbagai paham negatif Barat lainnya hendaknya segera dikikis.
    Penulis: Susiyanto
    (Peneliti Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) & Mahasiswa Pasca Sarjana Peradaban Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta)

    Dipublikasikan ulang seizin penulis dari http://www.susiyanto.wordpress.com

     
  • tituitcom 18.50 on 12 September 2012 Permalink  

    Satu tahun sebelum lulus menjadi dokter 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.


    Satu tahun sebelum lulus menjadi dokter, mahasiswa kedokteran Turki Fatma Orgel terjebak ke dalam pilihan pahit, untuk melepaskan jilbab atau menghapus mimpinya  berkarir di dunia medis.
    “Aku bisa tidak menyelesaikan gelar, atau pergi ke negara lain untuk belajar,” tutur Orgel kepada The Sydney Morning Herald Sabtu, 27 Februari.
    Satu tahun sebelum menyelesaikan kuliahnya, pemerintah sekuler Turki memberlakukan undang-undang  yang melarang jilbab di kampus pada tahun 1999. Hal ini tentu saja meresahkan mahasiswa di Turki untuk meneruskan cita-citanya di bangku kuliah atau melepaskan jilbabnya, pakaian wajib bagi seorang muslimah.
    “Ketika larangan diberlakukan, membuat orang tua saya kehilangan  mimpi-mimpi mereka agar aku menjadi seorang dokter ,” kata Orgel, 35 tahun mengenang.
    Tapi, Orgel, yang tumbuh dalam keluarga tradisional, ayah seorang guru agama dan ibu yang seorang ibu rumah tangga di Barat daya kota Anatolya, tidak pernah berfikir melepas jilbabnya.
    Akhirnya, ia mengambil keputusan sulit untuk pergi ke luar negeri, tepatnya di Hungaria untuk menyelesaikan studi kedokteran.
    “Pada akhirnya saya beruntung dan menemukan cara untuk melanjutkan studi saya, tetapi kebanyakan orang lain tidak dapat melakukan ini.”
    Setelah menyelesaikan studinya, Orgel kembali ke Turki. Namun lagi-lagi tersandung dengan pelarangan jilbab di kantor-kantor pemerintah, dan tempat-tempat layanan umun. Tidak ada pilihan kecuali meninggalkan Turki untuk kemudian pergi ke London bekerja sebagai dokter sesuai cita-citanya.
    Hijab telah menjadi isu yang sangat lama untuk memecah-belah umat Islam di Turki yang sangat sekuler.

    Pada bulan Februari 2008, parlemen memutuskan untuk membatalkan larangan mengenakan jilbab di kampus, namun keputusan itu kemudian dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi di Turki karena dianggap melanggar prinsip-prinsip negara sekuler.
    Orgel mengatakan bahwa banyak kesalahpahaman yang berlaku di Turki yang sekuler tentang jilbab dan modernisasi.

    “Bangsa Turki selalu menengok ke Barat, ke Eropa, dan percaya bahwa pelarangan jilbab adalah sebuah langkah menuju modernisasi,” katanya.
    “Itu berarti bahwa perempuan yang memahami Al-Quran dibatasi dari pendidikan universitas.”
    “Ketika Islam dilihat dari luar, banyak yang melihat jilbab sebagai simbol penindasan, bahwa kita sedang dipaksa untuk melakukan hal yang bertentangan dengan kehendak kita,” katanya.

    “Saya membuat keputusan ketika saya masih sekitar 15 bahwa aku akan mengenakan jilbab. Ini menjadi bagian dari spiritualitas, bagian dari persepsi hidup saya. “

    Orgel sekarang anggota dewan eksekutif AKDER, sebuah organisasi hak asasi manusia yang melawan diskriminasi terhadap wanita muslim.
    [muslimdaily.net/iol]

     
  • tituitcom 18.44 on 12 September 2012 Permalink  

    MAKALAH JILBAB DAN MODERNISASI 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    MAKALAH JILBAB DAN MODERNISASI

    BAB I
    PENDAHULUAN
    Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal kata yang disebut dengan Jilbab dan kata Modernisasi, dalam kehidupan masyarakat Jilbab dikenal sebagai alat atau untuk tempat menutup aurat yang digunakan untuk para wanita yang menggunakannya. Pada umumnya Jilbab dikalangan masyarakat sangat penting bagi wanita. Terutama wanita-wanita yang sangat taat pada agamanya.
    Sedangkan kita juga sering mendengar kata-kata Modernisasi yang dalam artinya sendiri adalah gaya hidup yang mengikuti perkembangan jaman pada saat ini, pada makalah ini sendiri kami sajikan mulai dari pengertian Jilbab dan Modernisasi.
    Pada materi makalah ini, kita semua telah mempelajari tentang pengertian Jilbab dan Modernisasi. Pengertian itu sendiri telah dilakukan di dalam kalangan masyarakat luas, dengan menggabungkan Jilbab itu sendiri dengan Modernisasi yang seiring dengan perkembangan jaman pada saat sekarang ini.


    BAB II
    PEMBAHASAN
    v Pengertian Jilbab Dan Modernisasi
    Pengertian Jilbab adalah kerudung wanita yang menutupi kepala dan wajahnya apabila ia keluar untuk suatu keperluan. Ada pula yang mengartikan Jilbab itu sebagai pakaian yang lebar sekaligus berudung. Di zaman sekarang ini semakin semarak saja kita lihat perempuan-perempuan muslimah untuk memperlihatkan penampilan yang cantik, anggun, gaul dan mempesona. Dia memakai Jilbab berdasarkan trend mode, semakin gaul Jilbab yang dipakainya itu semakin pede saja ia yang memkaianya belum lagi jika kita coba menyelidiki sikap dan tingkah lakunya perempuan-perempuan yang terjilbab itu, ada yang tidak bisa mengendalikan emosi dan hasratnya. Ada yang memakai Jilbab atas motif “ Saya sudah taubat maka saya berjilbab”. Ada yang memakaianya karena menyadari bahwa umurnya semakin tua sehingga semakin ingin memasrahkan diri pada yang kuasa, dan masih banyak alasan-alasan perempuan muslimah ingin memakai Jilbab.
    Pertanyaan yang sama juga pantas diajukan kepada mereka yang tergila-gila dengan gaya (mode) berpakaian dan berjilbab : Untuk apakah mengikuti mode berpakaian dan berjilbab sehingga semakin baru mode pakaian Jilbab tersebut. Bukankah gaya hidup yang seperti ini jelas-jelas meniru Barat dalam bentuk yang lain. Disinilah tampaknya kita dihadapkan dengan fakta yang semakin jauh perempuan-perempuan Muslimah untuk memakai Jilbab, Jilbab yang tadinya merupakan perkara yang sederhana kami telah berubah menjadi perkara yang rumit dan sulit. Jika disepakati bahwa hakikat Jilbab sesungguhnya tidak hanya untuk menutupi awal saja, melainkan juga untuk menjaga kesucian dan kehormatan seorang perempuan Muslimah dimata para lelaki yang bukan muhrimnya. Oleh karena itu permepuan muslimah itu haruslah menjaga kehormatan, kesucian, dan keamanan dirinya dengan cara memakai Jilbab.
    Sebandingkan pengertian Modernisasi sendiri adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk kita hidup sesuai dengan tuntutan hidup masa kini hidup yang mengikuti perkembangan jaman pada saat sekarang ini.
    Itulah fenomena remaja islam modern dengan jilbabnya yang khas, jilbab model seperti ini mereka sebut kudung gaul, jilbab gaul atau jilbab gaya seleb. Entah siapa yang pertama kali memulai yang jelas mode jilbab itu seperti ini muncul di awal tahun 2000 atau menjelang melinium, Era ini memberikan kebebsan mengekspresikan segala ide yang cenderung kebebsan.
    v Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Jilbab Gaul
    1. Maraknya tayangan televisi atau bacaan yang terlalu berkiblat ke mode Barat. Faktor ini adalah yang paling dominan semenjak menjamurnya televisi dengan persaingan merebut pemirsa dan menjamurnya berbagai tabloid yang menggambar mode buka-bukaan ala Barat yang menyebabkan munculnya peniruan dikalangan generasi muda islam.
    2. Minimnya pengetahuan anak terhadap nilai-nilai islam sebagai akibat kurangnya fungsi jam pendidikan agama disekolah-sekolah umum
    3. Kegagalan fungsi keluarga. Munculnya fenomena Jilbab gaul ini secara tidak langsung menggambarkan kegagalan fungsi keluarga sebagai kontrol terhadap gerak langkah anak-anak muda. Para orang tua telah gagal memberikan pendidikan agama yang benar, parahnya orang tua sendiri cenderung terbawa arus modern.
    v Falsafah Jilbab Islami
    Tidak sedikit orang beranggapan bahwa persoalan jilbab tidaknya seoprang perempuan itu hanya berkutat pada masalah apakah penampilan seorang. Perempuan didalam kehidupan sosial itu lebih baik berjilbab ataukah telanjang, jadi banak orang yang menganggap dan menyakini bahwa persoalan jilbab adalah persoalan pilihan. Oleah karenanya, sebab menganggap persoalan jilbab hanyalah persoalan pilihan, maka biasanya mereka melihat persoalan ini dengan cara dikotomik :
    1. Lebih baik tidak berjilbab tetapi bisa menjaga kehormatan, kemuliaan, dan kesucian diri dari pada berjilbab tapi tidak bisa mejaga hal-hal ini.
    2. Atau, lebih baik tidak berjilbab tetapi tidak pacaran dari pada berjilbab masih juga pacaran
    3. Atau, minimal berjilbab dari pada tidak sebab jilbab merupakan kewajiban
    4. Atau, paling baik berjilbab sekaligus bisa menjaga kehormatan, kemuliaan, dan kesuciaan diri.
    Falsafah jilbab islami tidak mendukung cara berpikir yang seperti ini. Dengan kata lain bukan seperti inilah pandangan dunia islam, dalam mewajibkan seorang perempuan muslimah itu menggerakan jilbab. Dengan menganggap dan menyakini bahwa persoalan jilbab adalah persoalan pilihan yang sangat di kotomis seperti diatas maka persoalan jilbab tampak anyalh menjadi persoalan sepihak saja, yakni pihak perempuan. Baik-buruknya berjilbab atau tidak seakan-seakan hanya tergantung pada perempuan dan hanya tentang perempuan muslimah saja.
    v Batas-Batas Dan Cara Pemkaian Jilbab
    Memakai jilbab dalam batasn-batasan sebagai berikut :
    1. Bisa menutup rambutnya secara keseluruhan, sehingga tidak boleh bagi perempuan muslimah yang memakai jilbab tetapi masih terlihat ada anak rambutnya yang kelihatan di dahi seperti yang populer kita lihat sekarang ini.
    2. Juga bisa menutup leher keseluruhan sehingga menghindarkan diri dari tatapan mata laki-laki yang akan membawa gairah seksual ketika melihat leher tersebut.
    3. Juga kita menutup dadanya yang memakai jilbab sedemikian sehingga menemukan ada perempuan yang memakai jilbab sedemikian sehingga lehernya masih kelihatan, lalu berlanjut pula kelihatan adadnya, hal ini terjadi sebab ia mengikatkan dua ujung jilbabnya ke belakang lehernya. Ini juga perilaku yang tidak islami dari sisi falsafah etika islam.
    4. Juga mengenakan pakaian yang longgar agar terhindar dari tampaknya lekuk-lekuk tubuhnya.
    Empat hal tersebut adalah batas-batas pemakaian jilbab bagi perempuan muslimah. Perempuan muslimah harus memperhatikan dan menerapkan empat hal tersebut, di saat yang sama ia juga harus memperhatikan sikap. Ucapan. Dan perbauatan yang justru akan membawa kecenderungan yang negatif.
    v Jilbab Dan Citra Perempuan Muslimah Minimalis
    Dari sisi pemakaian jilbab, marilah kita kembali merenungkan falsafah jilbab islami dan penerapnnya dimana islam mewajibkan kaum perempuan muslimah berjilbab :
    1. Dengan jilbab. Aurat tertutup, terlindungi dan terjaga dari hal-hal yang tidak di inginkan
    2. Dengan jilbab pula perempuan muslimah akan terjaga dan terpeliahara kesucian, kehrmatan, dan kemuliannya sebagai manusia
    3. Dengan jilbab perempuan muslimah akan lebih bisa berucap bersikap dan bertindak serta berwibawa tenang dan anggun


    BAB III
    KESIMPULAN DAN SARAN
    Cukup banyak seharusnya kaum perempuan yang menyadari pentingnya jilbab dalam pergaulan sehari-harinya. Dengan berjilbab, secara dini mereka sudah membentengi diri dari bencana godaan, rayuan nakal hingga kekerasan atau kejahatan seksual. Tapi, ternyata justru kian banyak saja kaum perempuan yang mencampakkan jilbab, mereka bilang bahwa memakai jilbab itu kolot, enggak gaul dan enggak cantik, mereka lalu memilih tampil modis dan gaul dengan cara memamerkan bagian-bagian auratnya akibatnya cepat atau lambat mereka pun menjadi santapan para lelaki liar.
    Sementara di sisi lain muncul pula kalangan yang mengusung model “jilbab gaul” rambut memang ditutupi namun rambut depan masih kelihatan, leher masih dipajang, pusar dibiarkan kelihatan lekukan-lekukan tubuh sengaja dikemas menonjol di balik balutan celana-celana ketatnya, ujung-ujungnya mereka pun ternyata tak selamat dari mata-mata liar para hidung belang yang berserakan di jalanan……….!dengan melihat kondisi pergaulan yang memprhatinkan itu, makalah ini menyajikan pemikiran-pemikiran yang cemerlang tentang pentinganya jilbab yang benar bagi kaum hawa jangan keburu beranggapan miring menggunakan jilbab. Itu akan mengurangi kecantikan anda, tetapi, malah justru bersama jilbab itu anda akan tampil lebih keren, trendi aman dan sekaligus jauh dari dosa akibat pamer aurat ……….! Jilbab gaul atau jilbab seleb menjadi trend kawula muda modern yang tidak mau ketinggalan mode.


    DAFTAR PUSTAKA
    Muhyidin, Muhammad. 2005. Jilbab Itu Kerennn. Jogyakarta : Diva Press.
    Shifari, Al- Abu. 2001. Kudung Gaul. Bandung : Mujahid Press.


    KATA PENGANTAR
    Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan, rahmat dan karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan dan menuyusun makalah ini dengan judul Jilbab dan Modernisasi.
    Makalah ini disusun berdasarkan kumpulan-kumpulan buku yang ada makalah ini diharapkan dapat membantu para siswa agar dapat mengerti judul dari makalah ini, makalah ini diharapkan dapat memberi pengetahuan bagi para siswa. Yang penyajiannya menggunakan pendekatan pembelajaran. Sehingga siswa yang ingin belajar teori maupun praktik juga ingin menerapkan didalam dunia nyata.
    Makalah ini diharapkan dapat membantu para siswa untuk dapat memberi bekal pembelajaran pada diri mereka sendiri sehingga para siswa bisa mengerti apa yang disampaikan oleh isi makalah ini sendiri. Kami telah berupaya semaksimal mungkin untuk membuat makalah ini sebagai makalah yang akan mudah dimengerti oleh para siswa, untuk itu kritik dan saran dari berbagai pihak baik praktisi maupun narasumber sangat kami harapkan.
    Kepada semua pihak yang telah membantu selesainya makalah ini, kami mengucapkan banyak terimah kasih semoga langkah awal kita ini merupakan ambil dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, dan semoga kita sama mendapat limbahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin
    Penyusun
    Medan, 6 Januari 2009
     
  • tituitcom 10.23 on 10 August 2012 Permalink  

    Merindukan Pejabat Sekaligus Pemimpin 

    Merindukan Pejabat Sekaligus Pemimpin

    Beberapa orang yang mengaku sebagai panitia pembangunan masjid di kampungnya datang ke rumah saya. Kedatangannya tidak lain adalah untuk mencari informasi, kepada siapa mendapatkan bantuan untuk menyelesaikan pembangunan masjid yang sudah beberapa tahun terpaksa berhenti oleh karena kekurangan dana. Mereka mengatakan bahwa masyarakat sekitarnya sudah tidak mungkin lagi mampu mengumpulkan uang untuk menyelesaikan pembangunan tempat ibadah yang sudah terlanjur dimulai tetapi ternyata tidak bisa melanjutkan itu.

    Mereka mengaku, bahwa masyarakat yang pada umumnya petani dengan lahan yang terbatas tidak mungkin mampu menanggung biaya pembangunan masjid yang dihitung-hitung cukup mahal. Penghasilan petani pada saat ini sekedar cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah beruntung. Sekedar untuk membiayai pendidikan anak-anaknya hingga sekolah menengah sudah amat berat. Hasil pertanian, dikatakan oleh mereka sudah tidak sebanding dengan biaya pengelolaannya. Hasil bersih panenannya, setelah dikurangi biaya modal dan perawatan, sudah sangat menipis.

    Di tengah-tengah pembicaraan tentang bagaimana cara mendapatkan dana tersebut, mereka memprihatinkan terhadap kepemimpinan umat. Kebetulan di kabupaten, tempat mereka berdomisili, tidak lama lagi akan diselenggarakan pilkada. Mereka mengetahui bahwa di antara kyai yang menjadi anutannya, ternyata menginginkan untuk mencalonkan diri sebagai bupati. Di mata mereka, pejabat pemerintah, semacam bupati, pada saat sekarang ini bukan lagi seperti zaman dulu. Kepala daerah sekarang ini harus lewat proses pemilihan langsung oleh rakyat. Proses itu akan dianggap beresiko mengurangi kewibawaan yang bersangkutan.

    Pejabat pemerintah, menurut mereka, secara ideal harus mampu melakukan peran ganda sekaligus, yaitu sebagai pejabat dan pemimpin. Manakala proses pemilihan kepala daerah melewati proses pemilihan, maka kedua peran tersebut tidak akan bisa dijalankan sebaik-baiknya. Pemimpin harus memiliki kewibawaan, dicitai oleh rakyat, memiliki ketulusan dan bisa dijadikan anutan. Model pemilihan seperti sekarang ini, kepala daerah tidak akan dipandang sebagai pemimpin sejati.

    Alasan yang dikemukakan sederhana. Pemimpin yang muncul lewat proses-proses yang bersifat kalkulatif dan apalagi diperebutkan akan mengurangi kewibawaannya. Mereka menyebut, pemimpin itu harus dihormati, dan kalau perlu disakralkan. Proses pemilihan kepala daerah seperti sekarang ini tidak akan mungkin lagi menjadikannya berwibawa. Menjelang pemilihan gambar-gambar calon pemimpin dipasang di sembarang tempat, di pinggir jalan. Cara itu, menurut mereka sudah merendahkan calon pemimpin yang bersangkutan. Foto-foto yang terpampang di sembarang tempat, dan tidak menutup kemungkinan dirusak, atau juga tidak sengaja tersobek, jatuh, dan seterusnya, sudah menggambarkan bahwa pemilik foto dimaksud sudah tidak memiliki wibawa. Menurut pandangan mereka foto pemimpin tidak boleh ditaruh di sembarang tempat.

    Belum lagi, sudah menjadi kesan umum, bahwa proses tersebut juga mengharuskan para calon kepala daerah mengeluarkan dana yang tidak sedikit agar dipilih, siapapun orangnya, tidak terkecuali kyai yang mencalonkan diri. Pemimpin yang melakukan langkah-langkah transaksional seperti itu tidak dianggap tulus. Apa saja yang dilakukan oleh kepala daerah, sekalipun didasari niat ikhlas, akan dipandang sebagai cara-cara untuk mendapatkan pengembalian biaya yang telah dikeluarkan sebelumnya. Akibatnya, siapapun calon pejabat yang terpilih, ——termasuk kyai, tidak lagi sekaligus dipandang sebagai pemimpin, melainkan hanya sebagai orang biasa yang mencari keuntungan lewat jabatannya itu.

    Menurut pandangan mereka, seharusnya kyai ya kyai. Mereka adalah sosok pribadi yang seharusnya menjadi anutan dalam segala kehidupan. Peran-peran yang dijalankan sehari-hari seharusnya dilakukan secara tulus dan ikhlas, yaitu semata-mata untuk memandu dan melayani kepentingan umat. Peran kyai seperti itu tidak akan bisa dijalankan manakala yang bersangkutan sudah menjadi pejabat politik. Orientasi yang diharapkan oleh umat sudah tidak akan bisa diharapkan lagi. Mereka menginkan agar, pada zaman seperti sekarang ini, kyai ya kyai. Tidak perlu kyai menjadi pejabat politik. Manakala kyai menjadi pejabat politik, maka ke kyainya akan hilang dengan sendirinya. Masyarakat selalu membutuhkan peran-peran pemimpin yang tulus dan penuh keikhlasan dari tokoh agama sebagaimana yang selama ini dirasakan.

    Para ahli politik dan juga politikus akhir-akhir ini merasa berhasil bahwa kepala daerah telah dipilih langsung oleh rakyat secara demokratis. Sebagai tatanan masyarakat yang demokratis, mereka memandang bahwa kekuasaan adalah ditangan rakyat. Oleh karena itu, penguasa harus dipilih langsung oleh rakyat. Sementara itu, ternyata rakyat sendiri, setelah melihat resiko dan juga harga yang harus dibayar ——-baik berupa uang maupun nilai-nilai sosial yang seharusnya dipertahankan, tidaki semuanya menghendaki mekanisme seperti itu. Rakyat mengehendaki untuk memiliki pejabat yang sekaligus pemimpin, siapapun orangnya. Rekruitmen kepala daerah sebagaimana yang dijalankan sebelumnya, —–tanpa pemilihan, dianggap lebih baik. Lewat cara itu, pejabat tidak terkesan telah diangkat dari hasil transaksi, dan tidak dinilai sekedar bermaksud mendapatkan keuntungan pribadi. Itulah suara sebagian rakyat, yang kiranya juga perlu mendapatkan perhatian.

    Setelah sekian panjang berbicara soal poilitik, ialah tentang pemilihan kepala daerah dan segala resikonya, mereka teringat kembali tentang maksud kedatangannya, ialah mencari cara mendapatkan sumber pendanaan untuk membangun masjid. Sebagai upaya merespon permintaan mereka itu, saya menyaran agar membuat berkas-berkas permohonan yang bisa diajukan kepada pihak-pihak yang mungkin mau memberi dana. Permohonan itu harus dilengkapi dengan gambar, surat-surat tanah, dan rencara biaya yang diperlukan. Mereka mernyanggupi, dan sekalipun sekedar gambaran yang belum ada hasilnya itu, rupanya mereka bergembira sekali. Saya menangkap bahwa masyarakat tingkat bawah, ternyata memang selalu memerlukan bantuan, arahan, dan bimbingan. Biasanya peran itu diberikan oleh kyai, sehingga tatkala tokoh informal ini terjun ke politik, maka dikhawatirkan ketulusannya menjadi tidak sebagaimana sebelumnya. Mereka menginginkan tetap memiliki pejabat sekaligus pemimpin. Wallahu a�lam.

     
  • tituitcom 10.12 on 10 August 2012 Permalink  

    Membiasakan Sejak Usia Dini Mencintai al Qur’an 

    Membiasakan Sejak Usia Dini Mencintai al Qur’an

    Tatkala masih usia anak-anak, di kampung, oleh guru mengaji, saya diberi informasi bahwa para ulama dulu, seperti Imam al Ghazali, Imam syafi�i, dan lain-lain, sejak umur 7 tahun sudah hafal al Qur�an 30 juz. Informasi itu saya rasakan sebagai sesuatu yang aneh. Bagaimana umur sebanyak itu, anak-anak sudah hafal al Qur�an. Saya rasakan hal itu seperti sesuatu yang ajaib dan tidak masuk akal.

    Guru mengaji menambahkan, ——mungkin dengan maksud mendidik, bahwa sejak kecil Imam al Ghazali dan juga Imam Syafi�i, sedemikian mudah berhasil menghafal al Qur�an, oleh karena mereka selalu berbakti kepada orang tua, tidak pernah memakan makanan yang haram, bahkan yang subhat sekalipun, dan selalu berbuat baik kepada siapapun. Ayat-ayat al Qur�an yang suci akan lebih mudah dihafal oleh orang yang selalu menjaga pikiran, hati, dan seluruh anggota badannya.

    Nasehat seperti itu rasanya menjadi tidak mudah terlupakan. Anak-anak, oleh guru mengaji, diberi penjelasan tentang sesuatu yang ideal dan bagaimana cara meraihnya. Nama Imam al Ghazali, Imam Syafi�i dan ulama-ulama besar lainnya menjadi idola, sekalipun terasa, bahwa tidak mungkin prestasi itu bisa ditiru oleh sembarang orang. Apalagi, di kampung kelahiran saya ketika itu tdak pernah ditemukan ada orang yang hafal al Qur�an hingga 30 juz, termasuk guru mengaji itu sendiri. Oleh karena itu, prestasi itu hanya sebatas ada di angan-angan, dan bahkan menjadi sesuatu yang mustahil bisa diraih oleh anak-anak desa, termasuk seperti saya.

    Baru setelah tua dan berkesempatan datang berkunjung ke negara-negara di mana banyak anak-anak sejak usia dini menghafal al Qur�an, yaitu seperti Iran, Iraq, Yaman, Sudan, Saudi Arabia dan lain-lain, maka ternyata prestasi yang diraih oleh Imam al Ghazali dan juga Imam Syafi�i dan lain-lain, bukan sesuatu yang mustahil. Tradisi menghafal al Qur�an sejak usia dini memang banyak dilakukan di negara-negara tersebut. Bahkan ketika beberapa tahun lalu, saya ke Iran, di kota Teheran, menurut informasi yang saya dapatkan, terdapat tidak kurang dari 300 tempat pendidikan penghafal al Qur�an.

    Beberapa tempat di antaranya itu, saya kunjungi. Dan memang betul, anak-anak berusia 7 hingga 9 tahun, sudah sedemikian lancar menghafal al Qur�an hingga 30 juz. Oleh pengasuhnya, saya pernah diminta untuk mengetes hafalan itu. Pengasuh lembaga pendidikan tersebut juga menunjukkan caranya. Saya diminta membuka al Qur�an halaman berapa saja, dan saya disuruh meminta anak-anak penghafal al Qur�an itu membunyikan ayat-ayat di halaman yang saya buka itu, tanpa mereka melihatnya. Ternyata anak-anak yang masih berusia antara 7 hingga 9 tahun tersebut dengan tepat mampu memenuhi permintaan saya. Terbayang oleh saya, bahwa apa yang diraih oleh Imam Syafi�i dan Imam al Ghazali ternyata terulang di zaman modern ini.

    Kekaguman dan sekaligus kebanggaaan saya terulang kembali, namun tidak di Iran, Iraq, Yaman, Sudan, Saudi Arabia, tetapi justru di Pondok Pesantren Sudimoro, Malang selatan. Ternyata di Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH Maftuh yang terletak di desa, sekitar 40 km arah selatan kota Malang juga menjadi tempat mendidik anak-anak menghafal al Qur�an. Sama dengan di negara-negara yang saya sebutkan di muka, Pesantren Sudimoro, Malang Selatan ternyata juga mampu mendidik anak-anak yang baru berumur di bawah 10 tahun sudah hafal al Qur�an hingga 30 juz. Prestasi ini luar biasa dan semestinya menjadi kebanggaan bagi bangsa ini.

    Sebelumnya, saya menyangka bahwa anak-anak yang hafal al Qur�an akan mengalami kesulitan tatkala mempelajari ilmu-ilmu alam, sosial dan humaniora. Akan tetapi pada kenyataannya justru sebaliknya. Banyak anak-anak yang hafal al Qur�an justru memiliki kelebihan, yaitu bahwa tidak sedikit di antara mereka, yang prestasinya lebih unggul dibanding mereka yang tidak hafal kitab suci itu. Oleh karena itu, sebenarnya pendidikan karakter, yang akhir-akhir ini dipandang penting, maka bisa ditempuh dengan cara membiasakan anak-anak agar dekat dengan al Qur�an, dan bahkan menghafalkannya. Apalagi terbukti, bahwa anak-anak penghafal al Qur�an ternyata tidak sedikit yang lebih unggul dari lainnya yang tidak menghafal kitab suci itu. Wallahu a�lam.

     
  • tituitcom 09.57 on 10 August 2012 Permalink  

    Islam mengajarkan agar selalu memenuhi janji atau kesanggupan, 

    Islam mengajarkan agar selalu memenuhi janji atau kesanggupan, sekalipun  itu berat melaksanakannya.  Akhir-akhir ini,  sudah dua kali,  saya menyanggupi  berceramah di dua tempat yang berjauhan. Pertama, pada hari yang sama, saya   harus memberi ceramah di dua pondok pesantren yang berjauhan tempatnya, yaitu pagi di Tebu Ireng Jombang, sedangkan malamnya di Pondok Pesaantren  Salafiyah Syafi’iyah Asem Bagus, Situbondo. Kedua, mengisi ceramah Nuzulul Qur’an yang di antara kedua tempatnya  berjarak juga cukup jauh, yaitu di Istana negara Jakarta dan di Tual, Maluku.
    Antara Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang dengan Pondok Pesantren Salafiyah as Syafi’iyah Asem Bagus Situbondo, harus ditempuh tidak kurang dari 9 jam dengan kendaraan darat. Jarak itu masih harus ditambah lagi dengan perjalanan pulangnya, yang juga tidak kurang dari 7 jam.  Demikian pula perjalanan ke Jakarta untuk memenuhi kesanggupan ceramah di Istana, dan  kemudian diteruskan ke Tual, Maluku.  Jarak antara ke dua kota itu amat jauh.
    Menuju Kota Tual  dari Jakarta cukup melelahkan. Berangkat dari Jakarta jam  01.30 nyampai di Ambon  sudah jam  07.00 pagi.  Kemudian  perjalanan diteruskan dari kota Ambon ke Tual masih harus naik pesawat lagi sekitar satu setengah jam. Perjalanan dari Malang ke Jakarta, Ambon, Tual,  dan kemudian besuk harinya pulang ke Malang lagi, ternyata cukup melelahkan.   Tapi memang, apapun beratnya tugas berdakwah harus dijalani. Di tengah kelelahan itu, saya teringat di masa kecil.  Pada waktu  kecil dulu, saya sering diajak oleh orang tua berdakwah, atau berceramah dari satu desa ke desa lain dengan berjalan kaki. Sering di tengah perjalanan,  orang tua, mengungkapkan keinginanannya, agar  saya menjadi da’i. Rupanya doa orangtua   tersebut terkabulkan.
    Perjalanan sejauh itu memang berat. Apalagi harus mengikuti jadwal penerbangan pesawat yang harus berganti-ganti.  Demikian pula ketika harus menempuh perjalanan darat,  juga harus bersabar tatkala mengalami kemacetan. Perjalanan darat antara Jombang ke Asembagus Situbondo rawan kemacetan, apalagi antara Pasuruan sampai Problolinggo.  Kendaraan berupa truk  pengangkut barang, bus, dan lainnya yang sedemikian  banyak menjadikan jalan macet, sehingga harus pelan.  Kondisi seperti itu, menjadikan bepergian dengan kendaraan darat dan pesawat terbang menjadi sama-sama melelahkan.
    Utungnya perjalanan yang melelahkan itu adalah untuk berdakwah. Berdakwah menjadi terasa penting oleh karena kegiatan itu bisa  mengingatkan diri sendiri, sambil mengajak orang lain. Bukan sebaliknya, yaitu  mengajak orang lain sambil mengingatkan diri sendiri. Kiranya, sebagai manusia biasa, yang selalu berada pada posisi salah dan lupa, maka harus ada mekanisme yang memiliki makna untuk  mengingatkan diri sendiri lewat dakwah itu. Oleh karena itu, sebenarnya berdakwah menjadi sangat penting dilakukan bagi semua orang,  ialah untuk mengingatkan diri sendiri itu.
    Hal yang menarik lainnya, ketika berceramah, lebih-lebih  di  Indonesia Timur,  adalah tentang kerukunan dan kebersamaan.  Dua bulan terakhir ini, saya berceramah di Gubernuran Manado dan juga di kediaman Walikota Tual, Maluku,. Pada kegiatan  itu ternyata dihadiri,  bukan saja oleh umat Islam, tetapi juga oleh para tokoh  dan umat agama lain. Rasanya agak aneh, ceramah tentang isra’ mi’raj dan nuzulul Qur’an,  mereka  yang mendengarkan adalah orang-orang yang berlatar belakang berbagai agama, yaitu agama Hindu, Katholik, Protestan,  dan bahkan juga Kong Hu Cu, dan Islam sendiri.
    Pada kesempatan ceramah  itu, saya mengajak gurau kepada yang hadir. Saya mengatakan bahwa  suasana pengajian menjadi indah sekali.  Orang  yang belum tentu mempercayai al Qur’an pun mendengarkan ayat-ayat al Qur’an dan juga makna yang dikandungnya. Mereka tatkala mendengarkan uraian tentang ayat-ayat al Qur’an dan juga hadits Nabi  menunjukkan apresiasinya dengan tertawa  dan mengangguk-angguk. Entak itu semua bagi mereka, apa  maknanya. Makna itu, tentu secara persis,  hanya diketahui oleh mereka yang bersangkutan. Akan tetapi, keadaan seperti itu, menurut hemat saya,  sangat indah.  Walaupun  mereka bukan muslim,  dengan selalu mengikuti kegiatan itu, maka  akan memperoleh pengertian, bahwa Islam, al Qur’an,  dan hadits nabi itu memang indah. Wallahu a’lam

     
  • tituitcom 22.05 on 9 August 2012 Permalink  

    BERBAKTI KEPADA ORANG TUA 

    BERBAKTI  KEPADA  ORANG  TUA

    Bersilaturrahim dan berbuat baik kepada orang tua merupakan ajaran yang menjadi ketetapan Kitabullah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Allah Ta’ala berfirman:  “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (Al-Isra’: 23)
    Wa Qadha Rabbuka berarti suatu perintah yang lazim tidak bisa ditawar-tawar lagi dan Alla Ta’budu Illa Iyahu berarti perintah ibadah yang bersifat individu.
    Allah menghubungkan beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada orang tua menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang tua dan birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) di sisi Allah.
    Secara naluri orang tua dengan suka rela mau mengorbankan segala sesuatu untuk memelihara dan membesarkan anak-anaknya dan anak mendapatkan kenikmatan serta perlindungan sempurna dari kedua orang tuanya.
    Seorang anak selalu merepotkan dan menyita perhatian orang tuanya dan tatkala menginjak masa tua mereka pun tetap berbahagia dengan keadaan putra-putrinya, akan tetapi betapa cepat seorang anak melalai-kan semua jasa-jasa orang tuanya, hanya disibukkan dengan isteri dan anak sehingga para bapak tidak perlu lagi menasihati anak-anaknya hanya saja seorang anak harus diingatkan dan digugah perasaannya atas kewajib-an mereka terhadap orang tuanya yang sepanjang umurnya dengan berbagai kesulitan dihabiskan untuk mereka serta mengorbankan segala yang ada demi kesenangan dan kebahagiaan mereka hingga datang masa lelah dan letih.
    Maka berbuat baik kepada kedua orang tua menjadi keputusan mutlak dari Allah dan ibadah yang menempati urutan kedua setelah beribadah kepada Allah:  “Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliha-raanmu”. (Al-Isra’: 23)
    Kibar atau kibarul sin artinya berusia lanjut, umur sudah mulai menua, punggung sudah mulai membung-kuk dan kulit sudah mulai keriput. ‘Indaka yang berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya.
    Allah Ta’ala berfirman:  “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka“. (Al-Isra’: 23)
    Seakan-akan Allah berfirman; Bersopan santunlah kamu kepada orang tua! Dengan demikian ayat tersebut mengajarkan sikap sopan agar seorang anak tidak menunjukkan sikap kasar serta menyakitkan hati atau merendahkan kedua orang tua. Allah Ta’ala berfirman:  “Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.
    Ini tingkatan yang lebih tinggi lagi yaitu keharusan bagi anak untuk selalu mengucapkan perkataan yang baik kepada kedua orang tua dan memperlihatkan sikap hormat serta menghargai. Allah Ta’ala juga berfirman:  “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang”.
    Seolah-olah sikap rendah diri memiliki sayap dan sayap tersebut direndahkan sebagai tanda penghormatan dan penyerahan diri dalam arti sikap rendah diri yang selayaknya diperintahkan kepada kedua orang tua, seba-gai pengakuan tulus atas kebaikan dan jasa-jasanya.
    Allah Ta’ala berfirman:  “Dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku kasihilah me-reka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“. (Al-Isra’: 24)
    Penyebutan kondisi masa kecil yang lemah yang membutuhkan perawatan dari kedua orang tua meng-ingatkan kepada kondisi yang sama yang sedang dialami orang tua tatkala menginjak lanjut usia yang selalu membutuhkan kasih sayang dan perawatan semisal. Lalu memohon kepada Allah agar bisa memberi belas-kasih kepada mereka berdua sebagai pengakuan atas kekurangan dalam memberi kasihsayang secara sem-purna dan hanya Allahlah yang bisa memberi kasih-sayang atau perawatan yang sangat sempurna serta hanya Dialah yang mampu membalas semua kebaikan dengan sempurna yang tidak mungkin bagi anak untuk melakukannya.
    Bukti kasih sayang Allah banyak sekali yang tampak pada makhluk lain. Suatu contoh cahaya mata-hari yang menyinari alam semesta, udara yang dihirup manusia melalui proses paru-paru, air berfungsi untuk minum, masak dan menyiram tanaman dan kasih sayang ibu terhadap anaknya yang muncul secara fitrah sebagai bukti nyata kasih sayang Allah Rabb semesta alam.
    Orang mulia dan baik kepada kedua orang tua akan selalu tahu kedudukan serta kemuliaan orang tua, dia merasakan tatkala mencium tangan ibu atau bapak-nya seolah-olah dia bersujud dengan ruh dan perasaan-nya laksana bersujud kepada Allah, dia mendapatkan jati diri yang sebenarnya sebagai suatu rahasia dalam kehidupan. Semua itu menjadi bukti penghargaan dan penghormatan kepada kedua orang tua. Allah Ta’la berfirman:  “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya . Dan jika kedua-nya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti ke-duanya”. (Al-Ankabut: 8).
    Orang tua adalah kerabat terdekat yang mempu-nyai jasa yang tidak terhingga dan kasih sayang yang besar sepanjang masa sehingga tidak aneh bila hak-haknya juga besar.
    Seorang anak wajib mencintai, menghormati dan memelihara orang tua walaupun keduanya musyrik atau berlainan agama, keduanya berhak untuk diberi kebaik-an dan pemeliharaan bukan mentaati dan mengikuti kesyrikan atau agamanya. Allah Ta’ala berfirman:  “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang ber-tambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.” (Luqman : 14)
    Disebutkan berulang-ulang serta banyak sekali wasiat untuk seorang anak agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya di dalam Al-Qur’an dan wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak disebutkan wasiat orang tua untuk berbuat baik terhadap anaknya kecuali sedikit.
    Karena kebaikan dan pengorbanan orang tua berupa jiwa, raga dan kekuatan yang tak terhitung tanpa berkeluh kesah dan meminta balasan dari anaknya, secara fitrah(naluri) sudah cukup sebagai pendorong kedua orang tua untuk bersikap demikian tanpa ditekan dengan wasiat. Adapun anak harus selalu diberi wasiat dan diingatkan agar senantiasa ingat akan jasa-jasa orang yang selama ini telah mencurahkan jiwa dan raga serta seluruh hidupnya dalam membesarkan dan mendidiknya. Apalagi seorang ibu selama mengandung mengalami banyak beban berat sebagaimana firman Allah Ta’ala (ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah), ibu lebih banyak menderita dalam membesarkan dan mengasuh anaknya, dan penderitaan di saat hamil tidak ada yang bisa merasakan payahnya kecuali kaum ibu juga.
    Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Buraidah dari bapaknya bahwa ada seorang lelaki yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya, lalu dia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “ Apakah dengan ini saya sudah menunaikan haknya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Belum! Walaupun se-cuil“.
    Dari Al-Miqdam bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, sesungguhnya Allah berwa-siat agar berbuat baik kepada bapak-bapakmu dan sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu”. (Dishahih-kan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah)
    Anak adalah bagian hidup dan belahan hati orang tua, kasih sayangnya mengalir di dalam darah daging keduanya.
    Dari ‘Aqra’ bin Habis sesungguhnya dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium Hasan, lalu dia berkata: “Sesung-guhnya saya mempunyai sepuluh orang anak dan saya tidak pernah mencium seorangpun di antara mereka. Beliau bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang”. (Muttafaq ‘alaih)
    Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah ditanya tentang masalah sikapnya terhadap anak, maka beliau menjawab: Anak adalah buah hati, belahan jiwa dan tulang punggung, kita rela terhina bagaikan bumi rela diinjak demi mereka dan bagaikan langit yang siap menaungi hidup mereka dan kita siap menjadi senjata pelindung bagi mereka dalam menghadapi marabahaya. Jika mereka minta sesuatu kabulkanlah dan bila marah cari sesuatu yang menye-nangkan hatinya, maka mereka akan membalas kasih sayangmu dan berterimakasih atas setiap pemberian-mu. Janganlah kalian merasa berat dan terbebani oleh anakmu, sebab mereka akan mengacuhkan hidupmu dan menghendaki kematianmu serta segan mendekati-mu.
    Apabila seorang anak di mata orang tua keduduk-annya seperti itu, seharusnya anak menempatkan posisi orang tua tidak kurang dari itu dalam menghormati dan memuliakan orang tua mereka sebagai bukti balas budi dan pengakuan terhadap kebaikan yang telah didapat dari orang tua. Di samping tetap melestarikan kewajiban silaturrahim kepada mereka berdua sesuai ketentuan Kitabullah.
    Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga macam doa yang pasti terkabulkan; doa orang tua untuk anaknya, doa orang musafir dan doa orang yang teraniaya”. (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Al-Albani).
    Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta izin untuk ikut serta berjihad, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Dia berkata: “Ya, masih hidup“. Beliau bersabda:Maka berjihadlah dalam (menjaga) keduanya”.
    Dari Abu Bakrah berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah kalian aku ceritakan tentang dosa yang paling besar? Kami menjawab: “Ya wahai Rasu-lullah”. Beliau bersabda:
    “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau waktu itu bersandar, maka terus duduk dan bersabda: “Ketahuilah, dan perkataan dusta”. (Shahihul Jami’)
    Dari Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Apakah amal yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.” Saya bertanya: “Lalu apalagi?” Beliau bersabda: “Berbuat baik kepada orang tua”. Saya bertanya: “Kemudian apalagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersab-da: “Jihad di jalan Allah”. (Muttafaq ‘alaih)
    Dari Jabir bin Abdullah sesungguhnya seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai harta dan anak, dan bapak saya meng-inginkan hartaku. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu”. (Muttafaq ‘alaih).
    Dan petunjuk birrul walidain yang terbaik adalah sikap yang telah ditunjukkan oleh para nabi ‘alaihimus shalatu wa salam sebagai simbol anutan dan petunjuk bagi setiap manusia.
    Nabi Ismail ‘alaihi salam berkata dan ucapannya diabadi-kan dalam firman Allah Ta’ala:  “Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar”. (Ash-Shafaat: 102).
    Nabi Nuh ‘alaihi salam berkata juga dan ucapannya dise-butkan dalam firman Allah Ta’ala: “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman”. (Nuh: 28)
    Nabi Isa ‘alaihi salam juga disifati oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Dan berbakti kepada ibuku”. (Maryam: 32)
    Nabi Yahya ‘alaihi salam juga disifati oleh Allah Ta’ala demikian yang disebutkan dalam firman Allah: “Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”. (Maryam: 14)
    Betapa indahnya bila seorang muslim bisa mencontoh dan mengikuti jejak para nabi.
    Wahai anakku siang malam sepanjang umurku, aku korbankan untukmu agar kalian berbahagia, kedua orang tuamu letih dan menderita serta hati gundah bila engkau sedang sakit dan wajahmu pucat. Anakku tercin-ta. Itulah kalimat yang sering diulang-ulang oleh seorang ibu atau bapak.
    Wahai seorang anak! Ingatlah jasa kedua orang tuamu yang besar tatkala engkau masih berada dalam kandungan, di saat kau masih bayi dan setelah kau menginjak remaja hingga engkau menjadi orang dewasa. Sekarang tiba saatnya kedua orang tuamu membutuh-kan kasih sayang dan perhatian darimu. Sementara engkau hanya sibuk mengurusi isteri dan anak-anakmu hingga orang tuamu engkau abaikan, padahal orang arab jahiliyah dulu menganggap aib dan harga diri jatuh jika ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Peribahasa-peribahasa Arab menceritakannya, menuduhnya dengan gambaran yang sangat jelek sekali bahkan memberinya julukan dengan julukan-julukan yang sangat keji. Akan tetapi kita membaca banyak cerita di zaman sekarang tentang cerita anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
    Abu Ubaidah At-Taimy dalam kitabnya, Al-‘Aqaqah wal Bararah menuturkan beberapa contoh orang-orang yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan beberapa contoh orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Seorang dari bani Qurai’ bernama Murrah bin Khattab bin Abdullah bin Hamzah pernah mengejek dan terkadang memukul orang tuanya, se-hingga bapaknya berkata:
    Saya besarkan dia tatkala dia masih kecil bagaikan anak burung yang baru lahir yang masih lemah tulang-belulangnya. Induknya yang menyuapi makan sampai melihat anaknya sudah mulai berkulit sempurna.
    Dan contoh lain yang durhaka kepada orang tua-nya adalah putra Umi Tsawab Al-Hazaniyah, dia durhaka kepada ibunya karena isterinya selalu menghalangi untuk berbuat baik kepada ibunya, sehingga ibunya mengungkapkan kepedihan hati dalam sebuah syair:
    Saya mengasuhnya di masa kecil tatkala masih seper-ti anak burung, sementara induknya yang menyuapi makanan dan melihat kulitnya yang masih baru tumbuh.
    Setelah dewasa dia merobek pakaianku dan me-mukul badanku, apakah setelah masa tuaku aku harus mengajari etika dan adab.
    Dan juga Yahya bin Yahya bin Said, suatu ketika dia pernah menyusahkan bapaknya lalu bapaknya meng-hardiknya dengan menulis syair:
    Semenjak lahir dan masa bayi yang masih kecil aku mengasuhmu, dan saya selalu berusaha agar engkau menjadi orang tinggi dan berkecukupan.
    Di malam hari engkau mengeluh sakit hingga tidak bisa tidur. Keluhan itu membuatku gundah dan ketakutan.
    Jiwa selalu gelisah memikirkan keselamatan untuk dirimu, sebab aku tahu setiap jiwa terancam oleh ke-matian.
    Contoh-contoh di atas merupakan sebagian dari beberapa kasus anak durhaka kepada kedua orang tua-nya yang terjadi pada masa lampau dan sekarang.
    Dan di dalam sebagian lagu-lagu masyarakat jahili-yah dahulu, yang sering para wanita lantunkan adalah: Ya Allah, apa yang harus saya perbuat terhadap anakku yang durhaka, di masa kecil aku dengan susah payah membesarkannya, setelah menikah dengan seorang putri Romawi dia berbuat semena-mena terhadapku. Wanita ini mengadu kepada Allah terhadap sikap anaknya yang telah diasuh dengan susah payah, tetapi setelah menikah dengan wanita nasrani Romawi, dia melupakan ibunya.
    Adapun contoh orang-orang yang berbuat baik kepada orang tua antara lain; cerita tiga orang yang terjebak dalam gua, di antara mereka ada yang mengata-kan: “Tidak ada cara yang mampu menyelamatkan kalian kecuali bertawassul dengan amal shalih kalian. Seorang di antara mereka berdo’a: “Ya Allah saya mempunyai dua orang tua yang lanjut usia dan saya sekeluarga tidak makan dan minum di malam hari sebelum mereka berdua, pada suatu saat saya pernah pergi jauh untuk suatu keperluan sehingga saya pulang terlambat dan sesampainya di rumah saya mendapatkan mereka berdua dalam keadaan tidur. Lalu saya memerah susu untuk malam itu, tetapi mereka berdua masih tetap tidur pulas, sementara saya tidak suka jika makan dan minum sebelum mereka. Akhirnya saya menunggu sambil memegang susu hingga mereka berdua ter-bangun, sampai fajar terbit mereka berdua baru bangun lalu meminum susu. Ya Allah jika perbuatan yang telah aku kerjakan tersebut termasuk perbuatan ikhlas karena mencari wajahMu, maka hilangkanlah kesulitan kami dari batu besar ini, lalu batu itu pun bergeser dari mulut gua.
    Masih banyak contoh-contoh lain tentang orang-orang yang berbakti kepada orang tua baik di masa lampau maupun sekarang yang tidak mungkin kita ceritakan seluruhnya, kebaikan tersebut mereka per-sembahkan kepada orang tua sebagai balasan atas jasa-jasa, perhatian dan pemeliharaan mereka dan sebagai bukti pengakuan tulus dan akhlak mulia. Ini semua mengharuskan kepada setiap anak untuk mengingat kebaikan yang selalu mengalir tak ada hentinya hingga akhir hayat.
    Sebagian orang-orang shalih sebelum berangkat kerja ada yang menyempatkan diri singgah ke rumah orang tuanya sambil mencium tangannya untuk memin-ta restu dan menanyakan keadaan serta kesehatan mereka. Lalu berangkat ke tempat kerja. Sikap mulia dan terpuji ini, sangat baik jika dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat.
    Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hu-rairah bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Celakalah, celakalah”. Beliau ditanya: “Siapa wahai Rasulullah? Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seseorang yang mendapati orang tuanya, dan salah satu atau keduanya berusia lanjut, kemudian tidak masuk Surga”.
    Dari Abdullah bin Umar berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga orang tidak masuk Surga dan tidak dilihat Allah pada hari Kiamat; Orang yang durhaka kepa-da orang tua, wanita yang menyerupai laki-laki dan dayyuts. (HR. Ahmad)
    Durhaka kepada orang tua adalah perbuatan zhalim besar dan sikap tidak tahu diri.
    Rasulullah yang mengajari umat manusia etika dan tata krama mengetahui kedudukan dan fungsi seorang ibu dan bapak kemudian memberikan petunjuk kepada setiap orang mukmin agar menjadi umat yang bertang-gung jawab.
    Di antara bentuk birrul walidain setelah orang tuanya meninggal adalah dengan menyambung hubung-an kerabat dengan teman dan sahabat orang tuanya.
    Dari Abdullah bin Umar berkata sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya perbuatan yang terbaik adalah me-nyambung hubungan kerabat dengan sahabat orang tuanya”. (Shahihul Jami’, Al-Albani)
    Bukti cinta dan berbakti kepada orang tua adalah menghormati dan menjaga hubungan persahabatan orang tua dengan teman-temannya. Pada saat seseorang mempererat hubungan persahabatan dengan teman bapaknya, merupakan bukti dalam berbakti kepada orang tua dan pertanda hasil baik pendidikan orang tua kepada anak.
    Imam Muslim dalam kitab shahihnya menyebutkan tentang bab keutamaan menyambung hubungan persa-habatan dengan teman-teman bapak atau ibu. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    “Sesungguhnya perbuatan yang terbaik adalah menyambung hubungan persahabatan dengan saha-bat orang tuanya“.
    Dan juga hadits tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam meng-hormati teman-teman Khadijah setelah wafatnya.
    Para ulama mengatakan bahwa al-birr bermakna menyambung silaturrahim, menyayangi dan berbuat ke-baikan serta menjaga persahabatan. Seluruhnya termasuk bagian inti kebaikan. (Kholid Ar Rasyid)    
     
  • tituitcom 22.03 on 9 August 2012 Permalink  

    Riya Lebih Tersembunyi Daripada Rambatan Semut 

    Riya Lebih Tersembunyi Daripada Rambatan Semut

    Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy (Ibnu Qudamah)


    Pengantar:
    Duhai betapa beruntung pembaca e-mail ini dan betapa rugi penulisnya. Antum mendapatkan air jernih darinya sementara penulisnya mendapat air keruh. Tapi inilah perdagangan yang saya tawarkan. Bila hati pembaca lebih bersih maka itulah yang diharapkan, dengan tanpa terkotorinya hati penulis tentunya. Bila yang terjadi adalah sebaliknya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tempat meminta pertolongan, dan segala kebaikan yang ada berasal dari Allah Yang Maha Tunggal semata.
    Al-‘alamah Ibnu Qudamah memberikan uraian tentang Riya’, Hakekat, Pembagian dan Celaannya, termasuk keterangan riya’ yang menggugurkan amal dan yang tidak, obat dan cara mengobati riya’ dan sebagainya. Uraiannya yang berdasar keterangan dari qur’an dan sunnah cukup jelas, dapat membuat takut orang yang terlalu beharap hingga meremehkan dan memberikan harapan kepada orang yang terlalu takut. Berikut ini saya kutipkan beberapa paragraf dari nasehat beliau yang bisa di jadikan perhatian agar kita bisa hati-hati, karena ini masalah hati. (ALS)


    Ketahuilah bahwa kata riya’ itu berasal dari kata ru’yah (melihat), sedangkan sum’ah (reputasi) berasal dari kata sami’a (mendengar). Orang yang riya’ menginginkan agar orang-orang bisa melihat apa yang dilakukannya. Riya’ itu ada yang tampak dan ada pula yang tersembunyi. Riya’ yang tampak ialah yang dibangkitkan amal dan yang dibawanya. Yang sedikit tersembunyi dari itu adalah riya’ yang tidak dibangkitkan amal, tetapi amal yang sebenarnya ditujukan bagi Allah menjadi ringan, seperti orang yang biasa tahajud setiap malam dan merasa berat melakukannya, namun kemudian dia menjadi ringan mengerjakannya tatkala ada tamu di rumahnya. Yang lebih tersembunyi lagi ialah yang tidak berpengaruh terhadap amal dan tidak membuat pelaksanaannya mudah, tetapi sekalipun begitu riya’ itu tetap ada di dalam hati. Hal ini tidak bisa diketahui secara pasti kecuali lewat tanda-tanda.
    Tanda yang paling jelas adalah, dia merasa senang jika ada orang yang melihat ketaatannya. Berapa banyak orang yang ikhlas mengerjakan amal secara ikhlas dan tidak bermaksud riya’ dan bahkan membencinya. Dengan begitu amalnya menjadi sempurna. Tapi jika ada orang-orang yang melihat dia merasa senang dan bahkan mendorong semangatnya, maka kesenangan ini dinamakan riya’ yang tersembunyi. Andaikan orang-orang tidak melihatnya, maka dia tidak merasa senang. Dari sini bisa diketahui bahwa riya’ itu tersembunyi di dalam hati, seperti api yang tersembunyi di dalam batu. Jika orang-orang melihatnya, maka bisa menimbulkan kesenangannya. Kesenangan ini tidak membawanya kepada hal-hal yang dimakruhkan, tapi ia bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu membangkitkannya untuk menampakkan amalnya, secara tidak langsung maupun secara langsung.
    Kesenangan atau riya’ ini sangat tersembunyi, hampir tidak mendorongnya untuk mengatakannya, tapi cukup dengan sifat-sifat tertentu, seperti muka pucat, badan kurus, suara parau, bibir kuyu, bekas lelehan air mata dan kurang tidur, yang menunjukkan bahwa dia banyak shalat malam.
    Yang lebih tersembunyi lagi ialah menyembunyikan sesuatu tanpa menginginkan untuk diketahui orang lain, tetapi jika bertemu dengan orang-orang, maka dia merasa suka merekalah yang lebih dahulu mengucapkan salam, menerima kedatangannya dengan muka berseri dan rasa hormat, langsung memenuhi segala kebutuhannya, menyuruhnya duduk dan memberinya tempat. Jika mereka tidak berbuat seperti itu, maka ada yang terasa mengganjal di dalam hati.
    Orang-orang yang ikhlas senantiasa merasa takut terhadap riya’ yang tersembunyi, yaitu yang berusaha mengecoh orang-orang dengan amalnya yang shalih, menjaga apa yang disembunyikannya dengan cara yang lebih ketat daripada orang-orang yang menyembunyikan perbuatan kejinya. Semua itu mereka lakukan karena mengharap agar diberi pahala oleh Allah pada Hari Kiamat.
    Noda-noda riya’ yang tersembunyi banyak sekali ragamnya, hampir tidak terhitung jumlahnya. Selagi seseorang menyadari darinya yang terbagi antara memperlihatkan ibadahnya kepada orang-orang dan antara tidak memperlihatkannya, maka di sini sudah ada benih-benih riya’. Tapi tidak setiap noda itu menggugurkan pahala dan merusak amal. Masalah ini harus dirinci lagi secara detail.
    Telah disebutkan dalam riwayat Muslim, dari hadits Abu Dzarr Radliyallahu Anhu, dia berkata, “Ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan suatu amal dari kebaikan dan orang-orang memujinya?” Beliau menjawab, “Itu merupakan kabar gembira bagi orang Mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.”
    Namun jika dia ta’ajub agar orang-orang tahu kebaikannya dan memuliakannya, berarti ini adalah riya’.
    Dipetik dari: Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy , “Muhtashor Minhajul Qoshidin, Edisi Indonesia: Minhajul Qashidhin Jalan Orang-orang yang Mendapat Petunjuk“, penerjemah: Kathur Suhardi, Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur, 1997, hal. 271-286.


     
  • tituitcom 22.02 on 9 August 2012 Permalink  

    Ikhlas Tempat Persinggahan Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in 

    Ikhlas Tempat Persinggahan Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in

    Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah


    Pengantar:
    Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menyebutkan tempat-tempat persinggahan Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in diantaranya adalah ikhlas. Berikut ini saya kutipkan beberapa penggal alenia yang tercantum dalam pasal ini. Bagi yang menginginkan uraian lebih lanjut saya persilahkan membaca langsung dari sumbernya. (ALS)


    Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an, (artinya):
    “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Al-Bayyinah: 5)
    “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (Az-Zumar: 2-3)
    “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2) Al-Fudhail berkata, “Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar.”
    Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu ?”
    Dia menjawab, “Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah.” Kemudian ia membaca ayat, (artinya): “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110)
    Allah juga berfirman, (artinya):
    “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (An-Nisa’: 125)
    Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau.
    Allah juga berfirman, (artinya):
    “Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23)
    Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, “Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajad dan ketinggian karenanya.”
    Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, (artinya):
    “Tiga perkara, yang hati orang mukmin tidak akan berkhianat jika ada padanya: Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepada para waliyul-amri dan mengikuti jama’ah orang-orang Muslim karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka.” (HR. At-Thirmidzi dan Ahmad)
    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berperang karena riya’, berperang karena keberanian dan berperang karena kesetiaan, manakah diantaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliau menjawab, “Orang yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah.
    Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tama diperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari’ Al-Qur’an, mujahid dan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agar dikatakan, “Fulan adalah qari’, fulan adalah pemberani, Fulan adalah orang yang bershadaqah”, yang amal-amal mereka tidak ikhlas karena Allah.
    Di dalam hadits qudsi yang shahih disebutkan; “Allah berfirman, ‘Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku terbebas darinya’.” (HR. Muslim)
    Di dalam hadits lain disebutkan; “Allah berfirman pada hari kiamat, ‘Pergilah lalu ambillah pahalamu dari orang yang amalanmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahala di sisi Kami’.”
    Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
    “Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.” (HR. Muslim)
    Banyak difinisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namun tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya’ dan orang yang shidq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar.
    Al-Fudhail berkata, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya.”
    Al-Junaid berkata, “Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat sehingga dia menulis-nya, tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya.”
    Yusuf bin Al-Husain berkata. “Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya’ dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain.”
    Pengarang Manazilus-Sa’irin berkata, “Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran.” Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun.”
    Dipetik dari: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, Edisi Indonesia: Madarijus Salikin Pendakian Menuju Allah.” Penerjemah Kathur Suhardi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, Cet. I, 1998, hal. 175 – 178


     

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal