Updates from Agustus, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 06.00 on 24 August 2012 Permalink  

    Obat Impotensi Alami 

     Impotensi merupakan momok yang sangat menakutkan bagi pria, karena apabila pria mengalaminya maka mereka tidak bisa untuk memuaskan pasangannya, dan hal ini membuat pria merasa sangat bersalah.Impotensi adalah suatu gangguan yang terjadi pada pria dalam memulai dan mempertahankan ereksi yang dapat disebabkan oleh faktor psikis atau fisik.
    Penyebab Impotensi
    Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab impotensi pada pria, antara lain :

    Ad1.»Penyakit diabetes melitus (kencing manis)
    2.»Penyakit hipertensi (darah tinggi)
    3.»Penyakit jantung dan kolesterol tinggi
    4.»Penyakit yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada penis
    5.»Rusaknya syaraf yang menuju ke penis
    6.»Terlalu banyak mengkonsumsi alkohol dan rokok
    7.»Terjadi gangguan pada hormon
    8.»Konsumsi obat-obatan tertentu
    9.»Usia yang telah lanjut
    10.»Stres yang dialami oleh pria
    11.»Kecemasan pria dalam berereksi

    Cara Pencegahannya
    Penyakit Impotensi dapat dicegah dengan hal-hal sebagai berikut:
    1.»Olahraga secara teratur
    2.»Kurangi konsumsi alkohol dan rokok
    3.»Bergaya hidup sehat, agar penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan impotensi dapat dicegah
    4.»Makan makanan sehat dengan gizi seimbang
    5.»Berusaha agar terhindar dari stres
    6.»Selalu mengkomunikasikan segala sesuatunya dengan pasangan, termasuk masalah impotensi ini

     
  • tituitcom 03.17 on 12 August 2012 Permalink  

    Berbagai Pintu Masuk Perguruan Tinggi 

    Institusi yang paling rasional di antara berbagai lembaga lainnya adalah perguruan tinggi. Sehari-hari, selain bertugas untuk mencerdaskan mahasiswa  melalui proses belajar mengajar, perguruan tinggi  bertugas   melakukan penelitian untuk mendapatkan kebenaran atau pengetahuan baru.  Kegiatan penelitian itu harus dilakukan secara obyektif, rasional,  dan terbuka diuji oleh orang lain  untuk mendapatkan tingkat  kebenaran ilmiah yang tinggi. Oleh karena itu, orang-orang perguruan tinggi dikenal sebagai orang yang cerdas dan rasional.
    Oleh karena itu, perguruan tinggi tidak boleh menerima  sembarang orang. Konsep pemerataan yang diberlakukan  di perguruan tinggi  seharusnya masih tetap  selektif, yaitu diseleksi  untuk mendapatkan  orang-orang yang memanag memiliki kapabilitas yang cukup. Tidak akan mungkin perguruan tinggi menerima  orang-orang yang tidak bersungguh-sungguh dan memiliki kemampuan akademik. Perguruan tinggi  dikenal  sebagai tempat orang-orang memiliki tingkat kecerdasan tertentu. Persyaratan itu semestinya tidak boleh diabaikan.
    Namun agaknya aneh, akhir-akhir ini orientasi masuk ke perguruan tinggi tidak saja berdasar pada kemampuan akademik, tetapi juga ada lainnya, seperti pemerataan, mengejar target, dan bahkan dikaitkan dengan besarnya dana yang  ingin  diterima oleh institusi itu.  Orientasi yang  bukan  murni bersifat akademik  akan menganggu hasil yang diraih. Perguruan tinggi yang mengambil langkah seperti itu tidak akan menghasilkan orang-orang yang berkeahlian tinggi sebagaimana dituntut oleh kehadiran institusi itu.
    Munculnya berbagai pintu  masuk perguruan tinggi, seperti lewat jalur undangan, jalur tes tulis bersama-sama, jalur mandiri, jalur pemerataan, jalur kerjasama, jalur eksekutif dan lain-lain, semua itu bisa dibaca dengan jelas   sudah mengaburkan makna seleksi masuk perguruan tinggi yang sebenarnya. Seleksi masuk ke perguruan tinggi dengan munculnya berbagai jalur itu bukan lagi  berorientasi untuk mendapatkan bibit unggul,  melainkan sudah bermuatan  lain  yang belum tentu terkait dengan orientasi kualitas yang ingin diraih atau dipertahankan.
    Bibit unggul sebagai syarat keberhasilan melahirkan lulusan yang berkualitas, dalam batas-batas tertentu, sudah diabaikan oleh karena adanya kepentingan-kepentingan lain yang akan diraih. Jika orientasi seperti itu terus menerus dilakukan, maka tidak mustahil perguruan tinggi di Indonesia akan semakin terpuruk dan tertinggal dari perguruan tinggi di negara-negara lainnya. Pendidikan tingkat tinggi mestinya tidak boleh dititipi oleh kepentingan-kepentingan lain yang tidak relevan dengan tujuan pokoknya.
    Secara ideal misi perguruan tinggi adalah mengantarkan seseorang meraih derajad sebagai pendekar ilmu  yang sebenarnya, bukan pendekar pada tataran formal.  Lulusan perguruan tinggi akan mengemban identitas yang seharusnya berani diuji di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana seorang pendekar pada umumnya. Oleh karena itu,   semestinya  persyaratan itu tidak boleh diabaikan. Sebagai calon pendekar ilmu yang sebenarnya harus berhasil  menunjukkan semua kemampuan yang harus dikuasai.
    Akhir-akhir ini banyak terdengar bahwa kualitas kesarjanaan menurun. Plagiat terjadi di mana-mana, di banyak perguruan tinggi. Lulusan perguruan tinggi tidak bisa mandiri dan bahkan gagal mendapatkan   pekerjaan. Semestinya, sebagai seorang pendekar atau ilmuwan berkeahlian tinggi,  sekedar mendapatkan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri tidak akan kesulitan. Jika hal itu saja gagal,  maka sebenarnya patut diduga, bahwa kualitas kesarjanaan atau kependekarannya perlu diragukan atau bahkan  dipertanyakan.   
    Memperhatikan gambaran itu semua,  maka semestinya perguruan tinggi kembali kepada misi utamanya, yaitu mengantarkan lulusan hingga berkualitas setinggi-tingginya.  Agar orientasi itu terpenuhi maka dalam   merekrut calon mahasiswa seharusnya  berorientasi pada kualitas, yaitu mencari bibit-bibit unggul.  Kepentingan selain itu harus diabaikan, sebab eksistensi perguruan tinggi tergantung pada keberhasilannya mewujudkan misi pokok yang diembannya.
    Hal  sederhana, tetapi  perlu mendapatkan perhatian adalah,  bahwa  sebuah institusi akan tetap bertahan dan bahkan berkembang manakala mampu  mewujudkan misinya secara benar. Sebaliknya, insitusi apapun akan runtuh manakala di dalamnya terjadi manipulasi, rekayasa, subyektifitas atau kebohongan. Perguruan tinggi di Indonesia harus berhasil mempertahankan identitasnya sebagai pemburu kebenaran dan tidak boleh memposisikan diri di bawah   hegemonik kekuasaan yang akan mengganggu misi dan eksistensinya. Wallahu a’lam.  
     
  • tituitcom 21.07 on 9 August 2012 Permalink  

    Mewaspadai Lisan 

    Mewaspadai Lisan

    Lisan, bentuknya memang relatif kecil bila dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, namun ternyata memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Celaka dan bahagia ternyata tak lepas dari bagaimana manusia memanajemen lidahnya. Bila lidah tak terkendali, dibiarkan berucap sekehendaknya, alamat kesengsaraan akan segera menjelang. Sebaliknya bila ia terkelola dengan baik , hemat dalam berkata, dan memilih perkataan yang baik-baik, maka sebuah alamat akan datangnya banyak kebaikan..
    Di saat kita hendak berkata-kata, tentunya kita harus berpikir untuk memilihkan hal-hal yang baik untuk lidah kita. Bila sulit mendapat kata yang indah dan tepat maka ahsan (mendingan) diam. Inilah realisasi dari sabda Rasulullah sholallohu alaihi wasalam
    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam ( HR Muslim )
    di samping itu kita pun harus paham betul manakah lahan-medan kejelekan sehingga lidah kita tidak keliru memijaknya. Kita harus tahu apakah sebuah hal termasuk dalam bagian dosa bagi lidah kita atau tidak? Bila kita telah tahu , tentunya kita bersegera untuk meninggalkannya.
    Diantara medan-medan dosa bagi lidah kita antara lain..
    • Ghibah
      Ghibah bila didefinisikan maka seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah sholallohu alaihi wasalam
      “Engkau menyebutkan tentang saudaramu, dengan apa-apa yang dia benci” terus bagaimana jika yang kita bicarakan tersebut memang benar-benar ada pada saudara kita? “Jika memang ada padanya apa yang engkau katakan maka engkau telah meng-ghibahinya, dan bila tidak ada padanya maka engkau telah berdusta” (HR. Muslim)
      Di dalam Al quran , Allah ta’ala menggambarkan orang yang meng-ghibahi saudaranya seperti orang yang memakan bangkai saudaranya:
      “Janganlah kalian saling memata-matai dan jangan mengghibahi antara satu dengan yang lain, sukakah kalian memakan daging saudaranya tentu kalian akan benci” ( Al Hujurat 12)

    Tentu sangat menjijikkan makan daging bangkai , semakin menjijkkan lagi apabila yang dimakan adalah daging bangkai manusia , apalagi saudara kita sendiri. Demikianlah ghibah, ia pun sangat menjijkkan sehingga sudah sepantasnya untuk dijauhi dan dan ditinggalkan.
    Lebih ngeri bila berbicara tentang ghibah, apabila kita mengetahui balasan yang akan diterima pelakunya. Seperti dikisahkan oleh Rasulullah sholallohu alaihi wasalam di malam mi’rajnya. Beliau menyaksikan suatu kaum yang berkuku tembaga mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Rasul pun bertanya tentang keberadaan mereka, maka dijawab bahwa mereka lah orang-orang yang ghibah melanggar kehormatan orang lain.

    • Namimah
      Kalau diartikan ia bermakna memindahkan perkataan dari satu kaum kepada kaum yang lain untuk merusak keduanya. Ringkasnya “adu domba”. Sehingga Allah mengkisahkan tentang mereka dalam Al-Qur’an. Mereka yang berjalan dengan namimah , menghasut, dan mengumpat. Di sekitar kita orang yang punya profesi sebagai tukang namimah sangat banyak bergentayangan, dan lebih sering di kenal sebagai provokator-kejelekan. Namimah bukan hal yang kecil , bahkan para ulama mengkatagorikannya di dalam dosa besar . Ancaman Rasulullah bagi tukang namimah

      ” tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba (HR Bukhari)
      akibat ghibah ini sangat besar sekali, dengannya terkoyak persahabatan saudara karib dan melepaskan ikatan yang telah dikokohkan oleh Allah. Ia pun mengakibatkan kerusakan di muka bumi serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
    • Dusta
      Dusta adalah menyelisihi kenyataan atau realita. Dusta bukanlah akhlaq orang yang beriman, bahkan ia melekat pada kepribadian orang munafiq
      “Tiga ciri orang munafik, apabila berkata berdusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila dipercaya berkhianat (HR Bukhari dan Muslim)
      padahal orang munafik balasannya sangat mengerikan “di bawah kerak api neraka” Dusta pun mengantarkan pelakunya kepada kejelekan “Sungguh kedustaan menunjukkan kepada kejelekan dan kejelekan mengantarkan kepada neraka.
     
  • tituitcom 21.02 on 9 August 2012 Permalink  

    Ini adalah sepucuk surat buat segenap ukhti yang beriman kepada Alloh dan hari akhir. 

    KEPADA  SAUDARIKU …

      Ini adalah sepucuk surat buat segenap ukhti yang beriman kepada Alloh dan hari akhir. Buat segenap wanita… baik sebagai ummi, ukhti, istri maupun binti…yang oleh Alloh Ta’ala telah diberi amanah memelihara tanggung jawabnya masing-masing… niscaya di hari kiamat kelak akan menanyakan apa yang menjadi tangggung jawab anti semua.
              Buat segenap remaja putri yang mengimani Alloh… buat siapa saja yang hari ini menjadi ukhti… kemudian esok bakal menjadi istri dan selanjutnya menjadi ummi.
    Wahai wanita yang mengimani Alloh sebagai Rabb-nya, Islam sebagai dien-nya dan Muhammad sebagai nabi serta rasulnya. Mudah-mudahan engkau pernah membaca seruan nan luhur dari Alloh: “Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melembut-lembutkan suara) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap berada di dalam rumahamu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Alloh dan Rasul-Nya… (Al Ahzab: 32-33)
    Itulah seruan Alloh kepada siapa saja yang memahami firman-Nya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan wanita yang mukmin apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang saiap yang mendurhakai Alloh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dalam kesesatan yang nyata. (Al Ahzab: 36)
    Wahai ukhti… bacalah dan jangan terperdaya. Engkau hidup di zaman dimana kehinaan telah menguasai keutamaan. Karena itu berhati-hatilah terhadap mode-mode busana menyolok para wanita telanjang, mode-mode yang menjadi salah satu penyebab kejahatan dan kerusakan.
    Wahai ukhti… janganlah engkau terperdaya oleh para dajjal, turis-turis yang menyerukan tabarruj dan buka-bukaan. Mereka adalah musuh-musuhmu wahai putri Islam-khususnya- dan musuh para kaum muslimin pada umumnya.
    Wahai ukhti… sebenarnya Alloh telah menurunkan ayat-ayatNya yang telah jelas, supaya dengan melaksanakan tuntunan-tuntunan syari’at yang ada di dalamnya, engkau menjadi terpelihara dan tersucikan dari kotoran-kotoran jahiliyah yang hari ini, musuh-musuh Islam, para penyeru kebebasan, berusaha keras untuk sekali lagi mengembalikan kaum wanita ke abad jahiliyah dengan bersembunyidi bawah cover Peradaban, Modernisasi dan Kebebasan.
    Namun sebenarnya orang-orang gila itu lupa dan tidak pernah memperhatikan bahwa wanita muslimah tidak mungkin akan dapat menerima pembebasan dirinya lepas dari pengabdiannya kepada rabb-Nya untuk kemudian jatuh menjadi mangsa bagi budak-budak tentara iblis.
    Wahai putri Islam…para penyeru tabarruj dan buka-bukaan amat berambisi untuk melepaskan hijabmu, mereka berlomba-lomba ingin mengeluarkanmu dari rumah-rumahmu dengan dalih emansipasi.
    Sayang seribu kali sayang, ternyata banyak wanita yang telah keluar rumah dengan pakaian yang menampakan ketelanjangannya (berpakaian tapi telanjang). Mereka berjalan berlenggak-lenggok, sanggul kepalanya seperti punuk onta, menggugah kelelakian kaum lelaki dan membangkitkan letupan-letupan nafsu seksual yang mestinya terpendam.
    Wahai putri fitrah… janganlah engkau tertipu dengan semboyan peradaban yang sebenarnya hanya akan menjajakan wanita sebagai barang dagangan yang ditawarkan kepada siapa saja yang menghendakinya. Jangan pula engkau tertipu dengan tipu daya yang tak tahu malu. Alloh berfirman: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh, tidaklah mereka mengikuti melainkan hanya persangkaan belaka dan tidaklah mereka melainkan hanya berdusta. (Al An’am: 116)
    Pada busana sebatas lutut engkau bergegas? Demi Alloh, sungai manakah yang kan engkau seberangi ?
    Seolah pakaian masih panjang di pagi hari
    Namun kian tersingsing saat demi saat
    Engkau sangka kamu laki-laki itu tanpa rasa ?
    Sebab engkau mungkin tak lagi punya rasa ?
    Tidak malukah engkau terhadap pandangan-pandangan mata itu ?
    Aduhai ukhti… ! bacalah dan jangan terperdaya! Malukah engkau untuk bertaqwa dan berbusana iman ? Sementara engkau tiada malu untuk bertabarruj dan buka-bukaan ?
    Wahai ukhti…, adakah akan merugikanmu penghinaan kaum juhala (orang-orang yang bodoh) itu selama kita berada di atas al haq sedang mereka di atas al bathil ?
    Tidakkah engkau dengar firman Alloh: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulunya di dunia menertawakan orang-orang yang beriman. Dan bila orang-orang yang beriman lewat di hadapan mereka mereka saling mengedip-edipkan matanya. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali dengan gembira. Dan jika  mereka melihat orang-orang mukmin mereka berkata: ‘Sungguh mereka itu benar-benar orang yang sesat’, padahal orang-orang yang berdosa itu tiada dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang–orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al Muthafifin: 29-36)
    Wahai ukhti… siapa yang kelak tertawa di akhirat niscaya dia akan banyak tertawa.
    Atau engkau pernah berfikir bahwa hijabmu itu akan menghalanginya untuk mendapatkan seorang suami?
    Hai ukhti… Demi Alloh! Pikiran itu hanyalah waswasah (bisikan) syetan.
    Tidakkah engaku tahu bahwa Alloh telah menetapkan bagi wanita pasangannya masing-masing? Maka karena itu dengarkan firman-Nya: “Perempuan-perempuan buruk (jahat) untuk pasangan laki-laki yang buruk (jahat). Laki-laki yang buruk untuk pasangan perempuan-perempuan yang buruk pula. Dan perempuan-perempuan yang baik untuk pasangan laki-laki yang baik untuk pasangan perempuan-prempauan yang baik.” (An Nur: 26)
    Oleh sebab itu mestinya engkau jangan ridha kecuali jika menjadi pedamping seorang suami yang baik, yang berpegang teguh pada ajaran diennya dan selalu merasa diawasi oleh Rabbnya.
    Suami seperti inilah yang engkau bakal merasa aman bagi jaminan hidup masa depanmu. Lihatlah! Di sana banyak sekali putri-putri sebangsamu yang terjebak dalam tipu daya kehidupan Romantisme dan Cinta menyesatkan. Ternayata banyak di antara mereka kemudian gagal dalam menempuh jalan hidupnya…. Begitu tragis.
    Alloh berfirman: “…barang siapa yang bertqwa kepada Alloh niscya Alloh butakan baginya jalan keluar dan niscaya Dia akan memberinya rizki dari jalan (arah) yang tiada disangka-sangkanya.” (At Thalaq: 2-3)
    Tapi bagaimanakah engkau sanggup berbusana seperti ini di tengah musim panas dan teriknya sengatan matahari ?
    Wahai putri fitrah… sesungguhnya di dalam iman terdapat rasa manis bagi jiwadan rasa tentram bagi dada. Kalau engkau tahu bahwa neraka jahannam itu lebih panas niscaya segala rasa panas dunia akan, menjadi ringan bagimu.
    Ketahuilah, sungguh seringan-ringannya orang yang disiksa di neraka pada hari kiamat aialah seseorang yang di bawah telapak kakinya diletakkan sepotong ‘bara’ dari api neraka, tetapi dari sepotong bara di bawah kakinya itu kan mendidih otaknya…
    Waspadalah akan godaan-godaan syetan. Dengan demikain apakah gerangan yang menyebabkanmu berpaling dari seruan Alloh? Dunia dan perhiasannyakah …?
    Bacalah firman-Nya: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permaianan, perhiasan dan bermegah-megahan anatar kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yang tanam-tanamannya itu mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu melihat warnanya menjadi kuning kemudian manjadi hancur. Dan akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunaan dari Alloh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenagan yang menipu.” (Al Hadid: 20)
    Atau adakah engaku kini sedang bergembira ria dengan para pemuda dan dengan dunia kecantikan, seraya engaku katakana: “Nantilah saya akan berhijab kalau umurku sudah tua” ?
    Ketahuilah –semoga Alloh menunjuki kita semua- bahwa apa yang engku gembirakan itu adalah nikmat Alloh sebab; Apa-apa yang ada padamu dari suatu nikmat maka ia adalah datangnya dari Alloh.” (an Nahl: 53)
    Mestinya engkau wajib bersyukur kepada Alloh dengan cara mentaati-Nya.
    betapa banyak remaja yang hari-harimnya penuh tawa…
    padahal kain-kain kafan t’lah siap untuknya
    sedang ia tak mengira betapa banyak temanten putri dihias ‘tuk sang suami tiba-tiba nyawa melayang di malam taqdir

    Wahai ukhti… kembalilah segera kepada nilai-nilai dan prinsip Islam, niscaya harga diri dan kehormatanmu akan terjaga di hadapan siapa saja. Angkatlah kemuliaanmu wahai ukhti dengan cara menutup aurat dan berhijab. Semoga Alloh memberi taufik kepada kita semua untuk bisa melakukan apa yang dicintai dan diridahi-Nya. Akhirnya akau memohon pada Alloh agar Ia menjadikan amalan kita ikhlas karena wajah-Nya. (Syeikh Faris Al Jabushi)

     
  • tituitcom 15.59 on 9 August 2012 Permalink  

    "Hidup Cukup" 

    “Hidup Cukup”      
    Bang Uki telah lebih dari 20 tahun berdagang nasi uduk di pinggir Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Uduk yang sungguh enak. Tiap pagi puluhan orang antre untuk makan di tempat atau dibawa pulang. Paling lama dua jam saja seluruh dagangan Bang Uki-ada empal, telur, semur daging, tempe goreng-ludes habis. Begitu setiap hari, 20 tahun lebih.
    Pertengahan 1980-an, ekonomi Orde Baru tengah menanjak ke puncak ketinggiannya. Bang Uki, dengan ritme stabil batang pohon cabai yang terus berproduksi, belanja pukul satu dini hari, masak mulai pukul dua, berangkat pukul empat, dan seusai subuh telah menggelar barang dagangnya. Tepat jam tujuh pagi, semua tuntas. Pukul sepuluh, ia sudah nongkrong di teras rumah, lengkap dengan kretek, gelas kopi, dan perkutut. “Tinggal nunggu lohor,” tukasnya pendek.
    Berulang kali pertanyaan bahkan desakan untuk membuka kios terbukanya hingga lebih siang sedikit ditolak Bang Uki. “Buat apa?” tukasnya. “Gua udah cukup. Anak udah lulus es te em. Berdua bini gua udah naik haji. Apalagi?” Pernah sekali penulis jumpai ia sedang memasak di rumahnya. Langit di luar masih gelap. Kedua mata Bang Uki terpejam. Tangan- nya lincah mengiris bawang merah. Saya menegur. Tak ada reaksi. “Abah masih tidur,” istrinya balas menegur.
    Kini, 15 tahun kemudian, Bang Uki sudah pensiun. Wajahnya penuh senyum. Hidupnya penuh, tak ada kehilangan. Kami yang kehilangan, masakan sedap khas Betawi. Kami sedikit tak rela. Bang Uki terlihat begitu ikhlasnya. Wajahnya terang saat ia dimandikan untuk kali terakhirnya. Dua jam berdagang, enam jam bekerja, telah mencukupkan hidupnya.
    Dan Bang Uki tidak sendiri. Nyi Omah juga tukang uduk di Pasar Jumat, Pak Haji Edeng tukang soto Pondok Pinang, pun begitu. Tukang pecel di Solo, gudeg di Yogya, nasi jamblang di Cirebon, atau bubur kacang hijau di Bandung, juga demikian. Mereka yang bekerja dan berdagang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jika telah cukup, untuk apa bekerja lebih. Untuk apa hasil, harta atau uang berlebih? “Banyak mudaratnya,” kilah Pak Haji Edeng.
    Mungkin. Apa yang kini jelas adalah perilaku bisnis dan ekonomi tradisional negeri ini ternyata mengajarkan satu moralitas: hidup wajib dicukupi, tetapi haram dilebih-lebihkan. Berkah Tuhan dan kekayaan alam bukan untuk kita keruk seorang. Manusia adalah makhluk sosial. Siapa pun mesti menenggang siapa pun.
    Alternatif kapitalisme
    Moralitas berdagang “Bang Uki” tentu bertentangan dengan apa yang kini menjadi moral dasar perekonomian material- kapitalistik. Di mana prinsip laissez faire atau free will dan free market digunakan tak hanya untuk memberi izin bahkan mendesak setiap orang untuk “mendapatkan sebanyak-banyaknya dengan ongkos sesedikit mungkin”. Satu spirit yang nyaris jadi kebenaran universal dan hampir tak ada daya tolak atau daya koreksinya.
    Dan siapa pun mafhum dengan segera, prinsip dan moralitas ekonomi modern itu bukan hanya melahirkan orang-orang yang sangat kaya, bahkan keterlaluan kayanya (semacam pembeli Ferrari seharga Rp 5 miliar yang mubazir di Jakarta yang macet), tetapi juga sejumlah besar orang yang hingga kini tak bisa menjamin apakah ia dapat makan atau tidak hari ini.
    Moralitas kapitalistik hanya menyediakan satu jalur sosial berupa filantrofisme, yang umumnya hanya berupa “pengorbanan” material yang hampir tiada artinya dibanding kekayaan bersih yang dimilikinya. George Soros, misalnya, dengan kekayaan 11 miliar dollar AS (hampir sepertiga APBN Indonesia), mengeluarkan 400 juta dollar (hanya sekitar 4 persen atau setara dengan bunga deposito) untuk berderma dan menerima simpati global di sekian puluh negara.
    Dan siapa peduli, bagaimana seorang Bill Gates, Rupert Murdoch, Liem Sioe Liong atau Probosutedjo menjadi begitu kayanya. Moralitas dasar kapitalisme di atas adalah dasar “legal” untuk meng- amini kekayaan itu. Betapapun, boleh jadi, harta yang amat berlebih itu diperoleh dari cara-cara kasar, telengas, ilegal bahkan atau-langsung dan tak langsung-dari merebut jatah rezeki orang lain.
    Dan siapa mampu mencegah atau menghentikannya? Pertanyaan lebih praktisnya adalah: Siapa berani? Tak seorang pun. Hingga sensus mutakhir menyatakan adanya peningkatan jumlah harta orang- orang kaya dunia sebanding dengan peningkatan jumlah orang yang papa. Belahan kekayaan ini sudah seperti palung gempa yang begitu dalamnya.
    Lalu di mana Bang Uki? Ia tak ada di belahan mana pun yang tersedia. Ia ada dan memiliki dunianya sendiri. Yang mungkin aneh, alienatif, marginal, tersingkir, luput, apa pun. Namun sesungguhnya, ia adalah sebuah alternatif. Bukan musuh, lawan, atau pendamping kapitalisme. Ia adalah sebuah tawaran yang membuka kemungkinan di tengah kejumudan (tepatnya ketidakadilan) tata ekonomi dunia saat ini.
    Ekonomi cukup
    Prinsip “hidup yang cukup” Bang Uki adalah landasan bagi sebuah “ekonomi cukup”, di mana manusia tidak lagi mengeksploitasi diri (nafsu)-nya sendiri, juga lingkungan hidup sekitarnya. Ia mengeksplorasi potensi terbaiknya untuk memenuhi keperluan manusia, sebatas Tuhan-yang mereka percaya-menganjurkan atau membatasinya.
    Bagaimana “cukup” itu didefinisi atau dibatasi, tak ada-bahkan tak perlu-ukuran dan standar. Seorang pengusaha dan profesional dapat mengukurnya sendiri dengan jujur: batas “cukup” bagi dirinya. Jika bagi dia dengan keluarga beranak dua, pembantu dua, tukang kebun, satpam atau lainnya, merasa cukup dengan sebuah rumah indah, dua kendaraan kelas menengah, mengapa ia harus meraih lebih? Mengapa ia harus melipatgandakannya?
    Apalagi jika usaha tersebut harus melanggar prinsip hidup, nilai agama, tradisi dan hal-hal lain yang semula ia junjung tinggi? Andaikan, sesungguhnya ia mampu menghasilkan puluhan miliar tabungan, sekian rumah mewah peristirahatan bahkan jet pribadi, dapat dipastikan hal itu hanya akan menjadi beban. Bukan melulu saat ia berupaya meraih, tetapi juga saat mempertahankannya.
    Bila pengusaha tersebut berhasil men- “cukup”-kan dirinya, secara langsung ia telah mengikhlaskan kekayaan lebih yang tidak diperolehnya (walau ia mampu) untuk menjadi rezeki orang lain. Ini sudah sebuah tindak sosial. Dan tindak tersebut akan bernilai lebih jika “kemampuan lebihnya” itu ia daya gunakan untuk membantu usaha atau sukses orang lain. Sambil menularkan prinsip “ekonomi cukup”, ia akan merasakan “sukses” atau kemenangan hidup yang bernuansa lain jika ia berhasil membantu sukses lain orang dan tak memungut serupiah pun uang jasa.
    Maka, secara langsung satu proses pemerataan demi kesejahteraan bersama pun telah berlangsung. Palung atau sen- jang kekayaan pun menipis. Kesempatan meraih hidup yang baik dapat dirasakan semua pihak. Pemerintah dapat bekerja lebih efektif tanpa gangguan-gangguan luar biasa dari konflik-konflik yang muncul akibat ketidakadilan ekonomi.
    Dan seorang pejabat, hingga presiden sekalipun, dapat pula mendefinisikan “cukup” baginya: jika seluruh kebutuhan hidupku, hingga biaya listrik, gaji pembantu hingga pesiar telah ditanggung negara, buat apalagi gaji besar kuminta? Moralitas seperti ini adalah sebuah revolusi. Dan revolusi membutuhkan keberanian, kekuatan hati serta perjuangan tak henti.
    Maka, “cukuplah cukup”. Kita sederhanakan sebagai prinsip hidup/ekonomi yang “sederhana”. Kian sederhana, maka kian cukup kian sejahteralah kita. Ukurannya? Yang paling sederhana, usul saya: semakin tinggi senjang jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita sehari-hari, makin sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita.
    Jika Anda mampu membeli Ferrari, mengapa tak mengonsumsi Mercedes seri E saja, atau Camry lebih baik, atau Kijang pun juga bisa. Dan dana lebih, bisa Anda gunakan untuk tindak-tindak sosial, untuk membuat harta Anda bersih, aman, dan hidup pun nyaman penuh senyuman.
    Beranikah Anda? Berani kita? Tak usah berlebih, kita cukupkan saja.
    ——–
    Radhar Panca Dahana Sastrawan 
     
  • tituitcom 22.53 on 8 August 2012 Permalink  

    Potensi Limbah Cair Industri Tahu Sebagai Sumber Energi Alternatif Biogas 

    Biogas dikenal sebagai gas rawa atau lumpur dan bisa digunakan sebagai bahan bakar. Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob.
    Biogas dikenal sebagai gas rawa atau lumpur dan bisa digunakan
    sebagai bahan bakar. Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan
    dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri
    anaerob. Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk
    menghasilkan biogas (Anonim, 2005).
    Whey merupakan bagian limbah cair tahu yang paling berbahaya.
    Pengolahan  limbah  cair  tahu  secara  anaerobik  memungkinkan  konversi
    whey menjadi  biogas  karena  whey mengandung  bahan  organik  cukup
    tinggi  sebagaimana  yang  ditunjukkan  oleh  nilai  CODnya.  Pembentukan
    biogas terjadi  selama proses fermentasi berjalan (Setiawan, 2005).
    Pembuatan dan penggunaan biogas di Indonesia mulai digalakkan
    pada awal tahun 1970-an dengan tujuan memanfaatkan buangan atau sisa
    yang  berlimpah  dari  benda  yang  tidak  bermanfaat  menjadi  yang
    bermanfaat,  serta mencari  sumber  energi  lain  di  luar  kayu  bakar  dan
    minyak  tanah.  Pembuatan  biogas  bisa  dengan  drum  bekas  yang  masih kuat atau sengaja dibuat dalam bentuk bejana dari tembok atau bahan-
    bahan lainnya (Suriawiria, 2005).
    Biogas dipergunakan dengan cara yang sama seperti penggunaan
    gas  lainnya yang mudah terbakar dengan mencampurnya dengan oksigen
    (O2). Untuk mendapatkan hasil pembakaran yang optimal perlu dilakukan
    proses pemurnian/penyaringan karena biogas mengandung beberapa gas
    lain yang tidak menguntungkan (Anonim, 2005).
    Biogas  dapat  digunakan  untuk  kepentingan  penerangan  dan
    memasak. Lampu atau kompor yang sudah umum dan biasa dipergunakan
    untuk  gas  lain  selain  biogas  tidak  cocok  untuk  pemakaian  biogas,
    sehingga  memerlukan  penyesuaian  karena  bentuk  dan  sifat  biogas
    berbeda  dengan  bentuk  dan  sifat  gas  lain  yang  sudah  umum.  Pusat
    Teknologi Pembangunan (PTP) ITB telah sejak lama membuat lampu atau
    kompor  yang  dapat  menggunakan  biogas,  yang  asalnya  dari  lampu
    petromak atau  kompor  yang  sudah  ada.  Kompor  biogas  tersebut
    tersusun  dari  rangka,  pembakar,  spuyer,  cincin  penjepit  spuyer  dan
    cincin  pengatur  udara,  yang  kalau  sudah  diatur  akan  mempunyai
    spesifikasi  temperatur  nyala  api  dapat mencapai  560°C  dengan  warna nyala  biru  muda  pada  malam  hari,  dan  laju  pemakaian  biogas  350
    liter/jam.  (Suriawiria, 2005).
    Gas metan mempunyai  nilai  kalor  antara  590  – 700  K.cal/m3.
    Sumber  kalor  lain  dari  biogas  adalah  dari  H2 serta  CO  dalam  jumlah
    kecil, sedang karbon dioksida dan gas nitrogen tak berkontribusi dalam
    soal  nilai  panas.  Nilai  kalor  biogas  lebih  besar  dari  sumber  energi
    lainnya,  seperti  coalgas  (586  K.cal/m3)  ataupun  watergas  (302
    K.cal/m3). Nilai  kalor  biogas  lebih  kecil  dari  gas  alam  (967  K.cal/m3).
    Setiap kubik biogas setara dengan 0,5 kg gas alam cair (liquid petroleum
    gases/LPG),  0,5  L  bensin  dan  0,5  L  minyak  diesel.  Biogas  sanggup
    membangkitkan tenaga  listrik  sebesar 1,25 – 1,50 kilo watt hour  (kwh)
    (Setiawan,2005).
    Biogas merupakan  gas  yang  tidak  berwarna,  tidak  berbau  dan
    sangat  tinggi  dan  cepat  daya  nyalanya,  sehingga  sejak  biogas  berada
    pada  bejana  pembuatan  sampai  penggunaannya  untuk  penerangan
    ataupun  memasak,  harus  selalu  dihindarkan  dari  api  yang  dapat
    menyebabkan kebakaran atau ledakan (Suriawiria, 2005).
    Pembuatan biogas dimulai dengan memasukkan bahan organik ke
    dalam digester,  sehingga bakteri anaerob membusukkan bahan organiktersebut dan menghasilkan gas  yang disebut biogas. Biogas  yang  telah
    terkumpul di dalam digester dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju
    tangki penyimpan gas  atau langsung ke lokasi penggunaannya, misalnya
    kompor. Biogas dapat dipergunakan dengan cara yang sama seperti cara
    penggunaan gas  lainnya yang  mudah terbakar.  Pembakaran  biogas
    dilakukan dengan mencampurnya dengan oksigen (O2). Untuk
    mendapatkan hasil pembakaran yang  optimal  perlu dilakukan proses
    pemurnian/penyaringan karena biogas  mengandung beberapa gas  lain
    yang  tidak menguntungkan. Keuntungan lain yang  diperoleh adalah
    dihasilkannya lumpur yang dapat digunakan sebagai pupuk. Faktor-faktor
    yang mempengaruhi produktivitas sistem biogas antara  lain jenis bahan
    organik yang  diproses, temperatur digester,  ruangan tertutup atau
    kedap udara, pH, tekanan udara serta kelembaban udara. Komposisi gas
    yang terdapat di dalam biogas adalah 40-70 % metana (CH4), 30-60 %
    karbondioksida (CO2)  serta sedikit hidrogen (H2) dan hidrogen sulfida
    (H2S)  (Anonim,2005).
    Dari proses fermentasi dihasilkan campuran biogas yang terdiri
    atas,  metana  (CH4), karbon  dioksida,  hidrogen,  nitrogen  dan  gas  lain
    seperti H2S. Metana  yang dikandung  biogas  ini  jumlahnya  antara  54  –70%,  sedang  karbon  dioksidanya antara 27  – 43%.  Gas-gas  lainnya
    memiliki persentase hanya sedikit saja (Setiawan, 2005).
     
  • tituitcom 22.43 on 8 August 2012 Permalink  

    Mikrobia dalam Pengolahan Limbah Cair Tahu 

    Mikrobia  merupakan  salah  satu  faktor  kunci  yang ikut menentukan  berhasil  tidaknya  suatu  proses  penanganan  limbah  cair organik secara biologi
    Mikrobia  merupakan  salah  satu  faktor  kunci  yang ikut
    menentukan  berhasil  tidaknya  suatu  proses  penanganan  limbah  cair
    organik secara biologi. Keberadaanya sangat diperlukan untuk berbagai
    tahapan dalam perombakan bahan organik.
    Marchaim  (1992)  menyatakan  bahwa  efektifitas  biodegradasi
    limbah  organik menjadi metana membutuhkan  aktifitas metabolik  yang
    terkoordinasi  dari  populasi  mikrobia  yang  berbeda-beda.  Populasi
    mikroba  dalam  jumlah  dan  kondisi  fisiologis  yang  siap  diinokulasikan
    pada media fermentasi disebut sebagai starter.
    Bakteri, suatu grup prokariotik, adalah organisme yang mendapat
    perhatian  utama  baik  dalam  air  maupun  dalam  penanganan  air  limbah
    (Jenie dan Winiati, 1993). Jadi,  dalam proses anaerobik, mikrobia yang
    digunakan  berasal  dari  golongan  bakteri.  Bakteri  yang  bersifat
    fakultatif  anaerob  yaitu  bakteri  yang mampu  berfungsi  dalam  kondisi
    aerobik  maupun  anaerobik.  Bakteri-bakteri  tersebut  dominan  dalam
    proses penanganan limbah cair baik secara aerobik ataupun anaerobik.Marchaim  (1992)  menyatakan  bahwa  digesti  atau  pencernaan
    bahan  organik  yang  efektif membutuhkan  kombinasi metabolisme  dari
    berbagai jenis bakteri anaerobik.
    Beberapa  jamur  (fungi)  dan  protozoa  dapat  ditemukan  dalam
    penguraian  anaerobik,  tetapi  bakteri  merupakan  mikroorganisme  yang
    paling dominan bekerja didalam proses penguraian anaerobik. Sejumlah
    besar  bakteri  anaerobik  dan  fakultatif  yang  terlibat  dalam  proses
    hidrolisis  dan  fermentasi  senyawa  organik  antara  lain  adalah
    Bacteroides,  Bifidobacterium,  Clostridium,  Lactobacillus,
    Streptococcus.  Bakteri  asidogenik  (pembentuk asam)  seperti
    Clostridium, bakteri  asetogenik  (bakteri  yang memproduksi  asetat dan
    H2)  seperti  Syntrobacter  wolinii  dan  Syntrophomonas  wolfei  (Said,
    2006)
    Bakteri  metana  yang  telah  berhasil  diidentifikasi  terdiri  dari
    empat genus  (Jenie dan Rahayu, 1993) :
    1. Bakteri  bentuk  batang  dan  tidak  membentuk  spora  dinamakan
    Methanobacterium.
    2. Bakteri  bentuk  batang  dan  membentuk  spora  adalah
    Methanobacillus.3. Bakteri bentuk kokus yaitu Methanococcus atau kelompok koki yang
    membagi diri.
    4. Bakteri bentuk sarcina pada sudut 90O dan tumbuh dalam kotak yang
    terdiri dari 8 sel yaitu Methanosarcina.
    Bakteri  metanogen  melaksanakan  peranan  penting  pada  digesti
    anaerob  karena  mengendalikan  tingkat  degradasi  bahan  organik  dan
    mengatur  aliran  karbon  dan  elektron  dengan  menghilangkan  metabolit
    perantara  yang  beracun  dan meningkatkan  efisiensi  termodinamik  dari
    metabolisme perantara antar spesies.
    Soetarto  et  all. (1999)  menyatakan  bahwa  bakteri  metanogen
    merupakan  obligat  anaerob  yang  tidak  bisa  tumbuh  pada  keadaan  yang
    terdapat  oksigennya  dan  menghasilkan  metan  dari  oksidasi  hidrogen
    atau senyawa organik sederhana seperti asetat dan metanol serta tidak
    dapat menggunakan karbohidrat, protein, dan substrat komplek organik
    yang  lain.  Bakteri  penghasil  metan  bersifat  gram  variabel,  anaerob,
    dapat mengubah CO2 menjadi metan, dinding selnya mengandung protein
    tetapi  tidak  mempunyai  peptidoglikan.  Bakteri  ini  merupakan  mikrobia
    Archaebacteria yang merupakan jasad renik prokariotik yang habitatnya
    sangat ekstrim. Archaebacteria  adalah kelompok prokariot yang sangat berbeda dari eubacteria. Dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan
    (murein),  tidak  sensitif  terhadap  kloramfemikol.  Pada
    Methanobacterium  sp.,  dinding  selnya  mengandung  materi  seperti
    peptidoglikan  yang  disebut  pseudopeptidoglikan  atau  pseudomurein
    tersusun dari N asetil glukosamin dan asam N asetil talosaminuronat (2
    gula  amino).  Asam  amino  yang  ada  semuanya  bentuk  L  (pada
    peptidoglikan  bentuk D). Dinding  sel  Archaebacteria  tahan  terhadap
    lisosim. Methanosarcina sp. mengandung dinding sel tebal galaktosamin,
    asam  glukuronat,  dan  glukosa.  Dinding  sel  Methanococcus  dan
    Methanomicrobium  mengandung protein dan kekurangan karbohidrat.
    Dwidjoseputro  (1998)  menyatakan  bahwa  ciri  genus
    Methanobacterium  adalah  anaerob,  autotrof/heterotrof,  dan
    menghasilkan gas metan. Bakteri autotrof  (seringkali dibedakan antara
    kemoautotrof  dan  fotoautotrof)  dapat  hidup  dari  zat-zat  anorganik.
    Bakteri heterotrof membutuhkan zat organik untuk kehidupannya.
    Substrat yang digunakan oleh bakteri metanogen berupa  karbon
    dengan sumber energi berupa H2/CO2, format, metanol, metilamin, CO,
    dan  asetat.  Kebanyakan  metanogen  dapat  tumbuh  pada  H2/CO2, akan
    tetapi  beberapa  spesies  tidak  dapat  memetabolisme  H2/CO2.  Nutrisi yang dibutuhkan oleh metanogen bervariasi dari yang sederhana sampai
    yang  kompleks.  Berkaitan  dengan  asimilasi  karbon,  ada  yang  berupa
    metanogen  autotrof  dan  heterotrof.  Di  habitat  aslinya,  bakteri
    metanogen  terantung dari  bakteri  lain  yang menyuplai  nutrien  esensial
    seperti  sisa  mineral,  vitamin,  asetat,  asam  amino,  atau  faktor-faktor
    tumbuh lainnya (Main and Smith, 1981).
    Bakteri  yang  berperan  dalam  penguraian  limbah  organik  secara
    alami  tumbuh  secara  lambat  sehingga  diperlukan  penambahan  inokulasi
    pengurai limbah. Salah satu merk dagang inokulum yang biasa digunakan
    adalah  Bio2000.  Kemasan  Bio2000  mendiskripsikan  bahwa  Bio2000
    merupakan  serbuk  pengurai  limbah  organik  yang  didalamnya  terdapat
    bakteri dan bahan-bahan alami yang dapat menghasilkan bifido bacteria
    (bakteri  yang  menguntungkan)  sehingga mampu  memacu  penguraian
    limbah organik  lebih cepat. Komposisi Bio2000 adalah air  (3 %), % abu
    (72,46),  protein  kasar  (3,57 %  ),  lemak  kasar  (  0,27 %),  serat  kasar
    (9,37), kalsium (19,12 %), fosfor (0,1 %), dan lain-lain (11,33 %). Bakteri
    yang diinokulasikan adalah bakteri amilolitik (35,43 %), selulotik ( 26,64
    %), proteolitik (20,84 %), dan lipolitik (17,13 %).
     
  • tituitcom 22.37 on 8 August 2012 Permalink  

    Proses Transformasi Bahan Organik 


    Pengolahan  limbah  secara  anaerobik  mengakibatkan  terjadinya
    transformasi makromolekul bahan organik menjadi molekul-molekul yang
    lebih sederhana. Menurut Lettinga (1994), terdapat empat tahap proses
    transformasi bahan organik pada sistem anaerobik, yaitu :
    1. Hidrolisis
    Pada  tahapan  hidrolisis,  mikrobia  hidrolitik  mendegradasi
    senyawa  organik  kompleks  yang  berupa  polimer  menjadi
    monomernya  yang  berupa  senyawa  tak  terlarut  dengan  berat
    molekul  yang  lebih  ringan.  Lipida  berubah menjadi  asam  lemak 

    rantai panjang dan gliserin, polisakarida menjadi gula (mono dan
    disakarida),  protein  menjadi  asam  amino  dan  asam  nukleat
    menjadi  purin  dan  pirimidin.  Konversi  lipid  berlangsung  lambat
    pada  suhu  dibawah  20
    OC.  Proses  hidrolisis  membutuhkan
    mediasi  exo-enzim  yang  dieksresi  oleh  bakteri  fermentatif  .
    Hidrolisis molekul komplek dikatalisasi oleh enzim ekstra seluler
    seperti  sellulase,  protease,  dan  lipase.  Walaupun  demikian
    proses  penguraian  anaerobik  sangat  lambat  dan  menjadi
    terbatas  dalam  penguraian  limbah  sellulolitik  yang mengandung
    lignin (Said, 2006).
    2. Asidogenesis.
    Monomer-monomer  hasil  hidrolisis  dikonversi menjadi  senyawa
    organik  sederhana  seperti  asam  lemak  volatil,  alkohol,  asam
    laktat,  senyawa  mineral  seperti  karbondioksida,  hidrogen,
    amoniak,  dan  gas  hidrogen  sulfida.  Tahap  ini  dilakukan  oleh
    berbagai kelompok bakteri, mayoritasnya adalah bakteri obligat
    anaerob  dan sebagian yang lain bakteri anaerob fakultatif.
    3. Asetogenesis
    Hasil asidogenesis dikonversi menjadi hasil  akhir bagi produksi
    metana  berupa  asetat,  hidrogen,  dan  karbondioksida.  Sekitar
    70  %  dari  COD  semula  diubah  menjadi  asam  asetat.
    Pembentukan  asam  asetat  kadang-kadang  disertai  dengan
    pembentukan karbondioksida atau hidrogen, tergantung kondisi
    oksidasi dari bahan organik aslinya.
    Etanol, asam propionat, dan asam butirat dirubah menjadi asam
    asetat  oleh  bakteri  asetogenik  dengan  reaksi  seperti  berikut
    (Said, 2006) :
    CH3CH2OH + CO2  CH3COOH + 2H2            …….. (pers. 1)
    Etanol                       Asam Asetat
    CH3CH2COOH + 2H2O  CH3COOH + CO2 + 3H2    …….. (pers. 2)
    Asam Propionat             Asam Asetat
    CH3CH2CH2COOH + 2H2O  2CH3COOH + 2H2     ……… (pers. 3)
    Asam Butirat                 Asam Asetat
    4. Metanogenesis.
    Pada  tahap  metanogenesis,  terbentuk  metana  dan
    karbondioksida. Metana dihasilkan dari asetat atau dari reduksi
    karbondioksida  oleh  bakteri  asetotropik  dan  hidrogenotropik
    dengan menggunakan hidrogen.
    Tiga  tahap  pertama  di  atas  disebut  sebagai  fermentasi  asam
    sedangkan tahap keempat disebut fermentasi metanogenik (Lettinga, et
    all,  1994).  Tahap  asetogenesis    terkadang  ditulis  sebagai  bagian  dari
    tahap asidogenesis.
    Fermentasi  asam  cenderung  menyebabkan  penurunan  pH  karena
    adanya  produksi  asam  lemak  volatil  dan  intermediet-intermediet  lain
    yang memisahkan  dan memproduksi  proton. Metanogenesis  hanya  akan
    berkembang  dengan  baik  pada  kondisi  pH  netral  sehingga
    ketidakstabilan  mungkin  muncul  sehingga  aktivitas  metanogen  dapat
    berkurang.  Kondisi  ini  biasa  disebut  souring (pengasaman)  (Lettinga,
    1994).
    Berbagai studi tentang digesti anerobik pada berbagai ekosistem
    menunjukkan bahwa 70 %  atau  lebih metana yang  terbentuk diperoleh
    dari  asetat  (pers.  1).  Jadi  asetat  merupakan  intermediet  kunci  pada seluruh  fermentasi  pada  berbagai  ekosistem  tersebut  (Main  et  al.
    1977).    Hanya  sekitar  33  %  bahan  organik  yang  dikonversi  menjadi
    metana melalui  jalur hidrogenotropik dari reduksi CO2 menggunakan H2
    (pers. 2) (Marchaim,1992).
    Reaksi  kimia  pembentukan  metan  dari  asam  asetat  dan  reduksi
    CO2 dapat dilihat pada persamaan reaksi berikut :
    Asetotropik metanogenesis :
    CH3COOH  CH4 + CO2  …………………………………. (pers. 1)
    Hidrogenotropik metanogenesis :
    4H2 + CO2  CH4 + H2O …………………………………. (pers. 2)
    Henzen  and  Harremoe  (1983)  dalam  Lettinga  et  all (1994)
    menyatakan bahwa bakteri yang memproduksi metana dari hidrogen dan
    karbondioksida  tumbuh  lebih  cepat  daripada  yang  menggunakan  asam
    asetat. Kecepatan  penguraian  biopolimer,  tidak  hanya  tergantung  pada
    jumlah jenis bakteri yang ada dalam reaktor, akan tetapi juga efisiensi
    dalam mengubah substrat dengan kondisi-kondisi waktu tinggal substrat
    di dalam  reaktor, kecepatan  alir  efluen,  temperatur dan pH  yang yang
    terjadi  di  dalam  bioreaktor.  Bilamana  substrat yang  mudah  larut
    dominan, reaksi kecepatan terbatas akan cenderung membentuk metana
    dari asam asetat dan dari asam lemak dengan kondisi stabil atau steady 
    state. Faktor  lain  yang mempengaruhi proses  antara  lain waktu  tinggal
    atau lamanya substrat berada dalam suatu reaktor sebelum dikeluarkan
    sebagai  sebagai  supernatan  atau  digested  sludge (efluen). 
    Minimum waktu tinggal harus lebih besar dari waktu generasi metan sendiri, agar
    mikroorganisme  didalam  reaktor  tidak  keluar  dari  reaktor  atau  yang
    dikenal dengan istilah wash out (Indriyati, 2005).
    Mikroba  yang  bekerja  butuh  makanan  yang  terdiri  atas
    karbohidrat, lemak, protein, fosfor dan unsur-unsur mikro. Lewat siklus
    biokimia,  nutrisi  diuraikan  dan  dihasilkan  energi  untuk  tumbuh.  Dari
    proses pencernaan anaerobik  ini akan dihasilkan gas metan. Bila  unsur-
    unsur  dalam  makanan  tak  berada  dalam  kondisi  yang  seimbang  atau
    kurang,  bisa  dipastikan  produksi  enzim  untuk  menguraikan  molekul
    karbon  komplek  oleh  mikroba  akan  terhambat.  Pertumbuhan  mikroba
    yang  optimum  biasanya  membutuhkan  perbandingan  unsur  C  :  N  :  P
    sebesar  150  :  55  :  1  (Jenie  dan  Winiati,  1993).  Namun,  aktivitas
    metabolisme dari bakteri metanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N
    sekitar 8-20 (Anonim, 2005).
    Ada  beberapa  senyawa  yang  bisa  menghambat  (proses)
    penguraian dalam  suatu  unit biogas  saat menyiapkan bahan baku  untuk
    produksi  biogas,  seperti  antiobiotik,  desinfektan  dan  logam  berat
    (Setiawan, 2005).

     
  • tituitcom 01.24 on 8 August 2012 Permalink  

    keutamaan doa 

    keutamaan doa[1]
    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
    “Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan kabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.'”[2]
    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia memohon kepada-Ku. Karena itu, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada di atas kebenaran. “[3]
    Nabi صلي الله عليه وسلمbersabda:
    الدُّعَاءُ هُوَالعِبَادَةُ، قَلَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
    “Doa adalah ibadah. Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan”[4]
    اِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَيْ حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِيْ مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّ هُمَاصِفْرًا
    “Sungguh, Rabb kalian Tabaraka wa ta ‘ala Maha Pemalu dan Mahamulia. Dia malu kepada hamba-Nya jika ia mengangkat kedua tangannya (berdoa) kepada-Nya, lalu membiarkan tanpa memberinya. “[5]
    مَامِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ اللهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَيْ ثَلاَثٍ: إِمَّاأَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَالَهُ فِيْ اللآخِرَةِ وَإِمَّ أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِسْلِهَا. قَالُوْا: إِذًا نُكْثِرَ. قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ.
    “Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah yang di dalammya tidak ada unsur dosa dan pemutusan hubungan keluarga kecuali Allah pasti memberikan salah satu di antara tiga hal ini: doanya segera dikabulkan, Dia menyimpannya di akhirat untuknya, atau Dia menghindarkan orang tersebut dari kejelekan yang sebanding. ” Mereka berkata, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.” Beliau bersabda, “Allah lebih banyak (mengabulkan). “[6]
    adab-adab dan sebab-sebab terkabulnya doa
    1.      Ikhlas untuk Allah semata.
    2.      Memulai dan menutup doa dengan memuji Allah, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama.
    3.      Mantab dalam berdoa dan yakin akan dikabulkan.
    4.      Sungguh-sungguh dan terus-menerus dalam berdoa serta tidak tergesa-gesa
    5.      Menghadirkan hati dalam berdoa
    6.      Berdoa dalam keadaan suka maupun duka.
    7.      Hanya meminta kepada Allah.
    8.      Tidak mendoakan kejelekan untuk keluarga, harta, anak, dan jiwa.
    9.      Merendahkan suara ketika berdoa, yakni tengah-tengah antara pelan dan keras.
    10.  Mengakui dosa, lalu memohon ampunan dan mengakui nikmat, lalu bersyukur kepada Allah.
    11.  Tidak bersajak dalam mengucapkan doa.
    12.  Merendahkan diri, khusyu’, penuh harap, dan takut.
    13.  Mengembalikan setiap hal yang diambil secara zhalim kepada yang berhak dengan disertai taubat.
    14.  Mengucapkan doa tiga kali.
    15.  Menghadap kiblat.
    16.  Mengangkat dua tangan ketika berdoa.
    17.  Berwudhu sebelum berdoa jika mudah dilakukan.
    18.  Tidak melampaui batas dalam berdoa.
    19.  Memulai doa untuk dirinya sendiri lebih dahulu jika berdoa untuk orang lain.[7]
    20.  Bertawassul kepada Allah dengan menggunakan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia, atau dengan amal shalih yang pernah ia kerjakan, atau dengan cara minta didoakan oleh orang shalih yang masih hidup dan ada bersamanya.
    21.  Hendaknya makanan, minuman, dan pakaiannya berasal dari hasil yang halal.
    22.  Tidak berdoa untuk melakukan perbuatan dosa atau memutus tali silaturrahim.
    23.  Menyuruh perkara yang baik dan mencegah perbuatan yang mungkar.
    24.  Menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan.


    [1]     Dikutip dari: Sembuh dan Sehat Cara Nabi صلي الله عليه وسلم Karya: Syaikh Dr. Sa’id bi Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan: Maktabah Al-Hanif
    [2]     Surat Ghafir (al-Mu’min): 60
    [3]    Surat al-Baqarah: 186.
    [4]    Abu Dawud: 5/211 dan Ibnu Majah: 2/1258. Lihat: Shahih al-Jami’ish-Shaghir. 3/150 dan ShahihIbni Majah: 2/324.
    [5]    Ditakhrij (dikeluarkan) oleh Abu Dawud: 2/78, at-Tirmidzi: 5/557, dan Ibnu Majah: 2/1271. Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya bagus.” Lihat: Shahih at-Tirmidzi: 3/ 179
    [6]    At-Tirmidzi: 5/566, 5/462 dan Ahmad: 3/18. Lihat: Shahih al-Jami’: 5/116 dan Shahih at-Tirmidzi: 3/ 140
    [7]     Terdapat riwayat dari Nabi صلي الله عليه وسلم bahwa beliau memulai doa untuk dirinya sendiri, tetapi juga ada riwayat dari beliau bahwa beliau tidak memulai berdoa untuk dirinya lebih dahulu, seperti doa beliau untuk Anas, Ibnu ‘Abbas, Ummu Ismail, dan lain-lain. Lihat masalah ini secara rinci dalam Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi: 15/144, Tuhfatul-Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi: 9/ 328, dan al-Bukhari dalam Fathul-Bari: 1/218.
     
  • tituitcom 00.04 on 8 August 2012 Permalink  

    Tradisi Masyarakat Jawa Tentang Kelahiran 

    Masyarakat Jawa terkenal dengan keteguhannya mempertahankan dan melestarikan tradisi nenek moyangnya. Setelah Islam masuk, para ulama’ seperti wali songo memodifikasi kebudayaan yang berbau mistik dan tahayyul kepada tradisi yang sesuai dengan norma-norma Islam. Tradisi Jawa mengenai kelahiran seorang anak misalnya, sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, bahkan penuh dengan pengkultusan, kemusyrikan dan kemubadziran. Lalu oleh usaha kreatifitas wali songo diubahlah kebiasaan tersebut menjadi sebuah tradisi yang Islami. Di antara kebiasaan yang lazim dilakukan orang Jawa yang telah diakulturasikan dengan tradisi Islam berkenaan dengan kelahiran seorang anak seperti berikut:

     Tradisi Masyarakat Jawa Tentang Kelahiran

    1. Adzan dan Iqamah Bagi Bayi Yang Baru Lahir
    Adzan dan iqamah adalah kalimat dakwah yang sempurna, pula yang keberadaannya merupakan salah satu tonggak awal berdirinya ajaran Islam.  Lantunan adzan secara hukum syar’i  tidak hanya dikumandangkan pada saat akan melaksanakan ibadah shalat saja, namun boleh dilakukan kapan saja, termasuk ketika sang bayi baru lahir dari rahim ibunya.
    Para ulama’ sepakat bahwa sunnah hukumnya mengumandangkan adzan dan iqamah ketika bayi baru lahir. Kesunnahan ini dapat diketahui dari sebuah hadits berikut:
    Dari Ubaidah r.a. dari ayahnya, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. mengumandangkan adzan di telinga Husain bin Ali r.a. ketika Fatimah melahirkannya” (HR. Abu Daud).
    Selain hadits di atas, anjuran disunnahkannya adzan dan iqamah pada sang bayi beralasan bahwa sebelum mendengarkan ucapan atau suara lain dari luar, alangkah baiknya sang bayi terlebih dahulu mendengarkan kalimat tauhid untuk mengingatkan janji yang telah diikrarkan oleh sang bayi ketika berusia 4 bulan di dalam kandungan di hadapan Allah. Firman Allah:
    Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari tulang sulbi mereka, dan Allah mengambil janji terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku (Allah) ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab, “Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi” (QS. Al-A’raf: 172)
    Selain itu, suara adzan juga berfaedah untuk mendidik aqidah dan kepercayaan yang benar dan merupakan awal dari serangkaian proses pendidikan selanjutnya. Hanya dengan aqidah yang benar sajalah seseorang dapat mengarungi hidup secara sempurna melalui tauhid yang benar demi kebahagiaan di dunia dan akhirat.
    Pelaksanaan adzan dan iqamah dilakukan pada saat sang bayi sudah dibersihkan dari cairan dan kotoran lainnya. Lantunan adzan dikumandangkan di telinga bayi sebelah kanan, sedangkan iqamah dilantunkan di telinga bayi sebelah kiri. Hal ini berfungsi agar kedua telinga sang bayi terbentengi oleh suara kalimat tauhid. Ditambah kalimat “Qad qaamatis shalah” pada saat iqamah yang mengisyaratkan bahwa terdapat penegasan tentang penghambaan diri manusia kepada Allah dan sebagai sarana berkomunikasi antara manusia dengan Allah melalui penegakan shalat.
    Dengan demikian, pelantunan adzan dan iqamah bertujuan tidak lain sebagai sarana doa serta seruan kepada bayi agar senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.
    2. Tahnik dan Brokohan Untuk Bayi
    Tahnik artinya suapan pertama dari makanan yang diberikan pada bayi yang baru lahir. Pada umumnya, makanan yang akan ditahnik terlebih dahulu dilumat atau dihaluskan, kemudian diberikan kepada sang bayi sambil menggosok-gosokkannya kelangit-langit mulut. Terkadang makanan yang akan diberikan juga diberi madu dengan maksud sebagai pelatihan bagi sang bayi untuk dapat makan, memberikan rangsangan terhadap makanan dan minuman, dan menjaga kondisi fisik dan kesehatan bayi agar tahan terhadap serangan penyakit.
    Brokohan artinya meminta doa dan keberkahan. Maksudnya ialah serangkaian acara –mulai dari pelaksanaan adzan dan iqamah di telinga bayi, memohon doa kepada para ulama dan masyarakat bagi keselamatan si jabang bayi hingga memberi nama– dalam rangka memperingati kelahiran bayi dalam wujud selamatan atau kenduri.
    Pelaksanaan brokohan sudah menjadi tradisi  yang sudah turun-temurun dilakukan oleh masyarakat Asia Tenggara dan sebagian masyarakat muslim Indonesia, sebab asal-usul tradisi ini sebenarnya meniru kebiasaan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. 1400 tahun yang lalu. Dalam sebuah hadits disebutkan:
    Dari Aisyah r.a. berkata: Asma’ binti Abu Bakar telah keluar sewaktu hijrah. Padahal pada waktu itu ia sedang berat mengandung bayi Abdullah bin Zubair. Pada saat ia melewati dan sampai di Quba’, ia melahirkan Abdullah.  Setelah lahir, ia keluar menemui Rasulullah saw. supaya beliau meletakkan sesuatu pada langit-langit mulut anaknya. Lalu Rasulullah saw. mengambil anak tersebut darinya dan meletakkannya ke pangkuannya, kemudian beliau meminta buah kurma. Aisyah berkata, “Kami harus mencarinya terlebih dahulu sebelum diberikan kepada beliau”. Beliau meludahkannya ke dalam mulut anak tersebut sehingga yang pertama kali masuk ke perutnya adalah ludahnya Rasulullah saw. Selanjutnya Asma’ berkata, kemudian Rasulullah saw. mengusap kepala anak tersebut sembari mendoakannya dan menamainya dengan nama Abdullah. Kemudian apabila anak itu berumur tujuh ata delapan tahun, ia datang dan berbai’at kepada Rasulullah saw., karena ayahnya, Zubair, memerintahkannya berbuat demikian. Rasulullah saw. tersenyum ketika melihat anak itu menghadapnya, kemudian ia berbai’at kepada beliau. (HR. Muttafaqun ‘Alaih, al-Bayan, hadits no. 1257).
    Dalam hadits lain juga diceritakan:
    Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. isteri Nabi saw, katanya: Rasulullah saw. selalu diserahkan beberapa orang bayi supaya didoakan dengan keberkatan serta mentahnik mereka. Sebaik sahaja beliau diserahkan seorang bayi, bayi tersebut kencing diatas beliau. Beliau meminta sedikit air kemudian mencurahkannya di atas kencing tersebut tanpa membasuhnya. (HR. Muttafaqun ‘Alaih, al-Bayan, hadits no. 158).
    Jadi tidak benar apabila tradisi ini disebut-sebut sebagai bid’ah yang dilarang dalam Islam hanya karena sebab tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sehingga munculnya tradisi ini –walaupun secara penyebutan istilah berbeda dengan apa yang pernah dilakukan oleh beliau, tetapi intinya sama saja – tetap bersumber dari sunnah Rasulullah saw.
    3. Ritual Barakahan
    Sebagaimana acara “brokohan” di atas, setiap bayi yang baru lahir kemudian oleh Rasulullah saw. didoakan. Doa merupakan salah satu komponen paling penting dalam Islam dan sebagai perisai orang-orang mukmin. Tak terkecuali bagi sang bayi, sangat dianjurkan untuk didoakan agar ia memperoleh kebaikan dalam beragama Islam dan kebahagiaan di dunia maupun akhiratnya. isteri Rasulullah saw, Aisyah r.a. menuturkan:
    “Setiap bayi yang dihadapkan kepada Rasulullah saw., maka beliau mendoakannya, menyuapinya dengan kurma yang sudah dikunyah, dan mendoakannya dengan keberkahan” (HR. Abu Daud).
    Pelaksanaan doa dalam acara barakahan di antaranya: Ayat Kursi 7 kali, Surat Alam Nasyrah 3 kali, Surat al-Qadr 7 kali, Surat al-Ikhlas 7 kali, Surat al-Falaq, Surat an-Naas dan Surat  al-fatihah masing-masing satu kali, dan dilanjutkan dengan doa:
    “Dan sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar bayi beserta keturunannya terhindar dari godaan syetan yang terkutuk” (QS. Ali-Imran: 36).
    Sedangkan para tetangga dan kerabat dekat dianjurkan untuk menjenguk saudaranya yang sedang dikaruniai anak. Hal ini dimaksudkan untuk mendoakan anak tersebut supaya menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada orang tua.
    4. Mengebumikan Ari-Ari
    Mengebumikan ari-ari dalam istilah lain ialah mengubur tali pusar yang sewaktu masih berada di dalam kandungan ibunya menjadi bagian dari tubuh sang bayi. Dalam tradisi Islam, semua yang termasuk bagian dari tubuh manusia dianjurkan dikubur atau dikebumikan, seperti kuku, rambut dan bagian-bagian tubuh yang lain akibat pembunuhan atau kematian seseorang yang tidak lazim. Termasuk tali pusar (ari-ari), darah dan semua yang menyertai kelahiran bayi ini tetap disyariatkan untuk dikubur.
    Tradisi mengebumikan ari-ari ini sudah cukup populer dikenal oleh masyarakat Jawa sejak dahulu yang hingga saat inipun masih tetap dilestarikan. Merujuk pada ketentuan syariat, masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa tradisi seperti ini menjadi suatu hal yang sangat utama, ari-ari beserta “batir”nya supaya dikebumikan layaknya orang yang sudah mati. Sebab, mengubur anggota badan atau semua yang termasuk di dalamnya adalah anjuran yang sangat ditekankan demi menghormati (memuliakan) pemiliknya.
    Semua anggota-anggota tubuh manusia, sebagaimana di atas adalah organ-organ vital ketika sang bayi berada dalam kehidupan di alam kandungan. Namun atas qudrah dan sunnatullah, di saat sang bayi berpindah dari alam kandungan menuju alam dunia, organ-organ ini akan tidak berfungsi dan mengalami kematian dengan sendirinya. Sehingga organ-organ tersebut ketika masih berada di dalam kandungan ibunya juga memiliki nyawa selama mendampingi anaknya hingga melahirkan. Maka dari itu, wajar bila masyarakat memperlakukannya sebagaimana manusia, yakni dengan mengebumikan atau menguburnya.
    Adapun pelaksanaannya ialah seperti proses pemakaman, namun dalam pengebumian ari-ari ini, ditambah dengan pemberian kunyit, bunga, dan lainnya. Terkadang ditambah pula dengan pemasangan lampu, lilin dan dimasukkan ke dalam “takir”. Akan tetapi penambahan ini dianggap sangat berlebihan dikarenakan tidak adanya kejelasan akan maksud dan tujuannya secara syar’i, sehingga dipandang haram hukumnya dalam norma agama.
    5. Tradisi “Njagong” Bayi dan Sepasaran
    Sebagaimana syukuran dan barakahan di atas, tradisi “njagong” atau majelis dzikir bagi kelahiran sang bayi juga ditradisikan oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Para tetangga dan sanak saudara diundang untuk datang ke tempat orang yang baru melahirkan dalam rangka membaca doa dan dzikir. Acara ini ditujukan sebagai rasa syukur dan ungkapan kebahagiaan atas kelahiran si jabang bayi selaku calon generasi penerus bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
    Kata “njagong” ini berasal dari bahasa jawa yang berarti duduk-duduk bercengkerama bersama sambil menikmati hidangan. Para undangan datang dalam rangka turut berbahagia atas kelahiran sang buah hati dari orang yang mempunyai hajat. Tuan rumah juga ikut njagongi (menemani ngobrol) para undangannya sambil makan bersama, yang makanan yang disuguhkan tersebut dimaksudkan sebagai sedekah.
    Dalam pelaksanaan njagong ini, para undangan beserta tuan rumah diminta untuk membacakan kitab-kitab Maulid Nabi Muhammad saw, seperti al-Barzanji (berzanjian), shalawat Burdah Syaikh al-Bushairi (burdahan), dan kitab maulid ad-Diba’i (diba’an), terkadang pula dibacakan kitab manaqib. Pembacaan beberapa kitab-kitab tersebut dimaksudkan untuk memohon keberkahan kepada Allah melalui kemuliaan Rasul-Nya sehingga semua yang dihajatkan mendapat ridha dari Allah swt. Tradisi ini berlangsung lima hari hingga pada puncak acaranya ialah pada hari kelima, yakni diadakan tradisi “sepasaran”.
    6. Pelaksanaan Aqiqah
    Setelah upacara sepasaran dilangsungkan, kemudian pada hari ketujuh dilanjutkan dengan acara penyembelihan kambing, mencukur rambut bayi dan memberi nama. Dalam Islam, kebiasaan ini dikenal dengan sebutan aqiqah. Para tamu dan tetangga diundang untuk menghadiri acara tersebut dengan maksud yang sama dengan acara sepesaran di atas, yakni mendoakan agar supaya sang bayi yang akan diaqiqahi menjadi insan yang senantiasa taat kepada perintah Allah, menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada orang tuanya serta berguna bagi masyarakat.
    Pelaksanaannya pun hampir sama dengan sepasaran. Dengan melalui pendekatan syariat, para tamu diundang dan diminta untuk membaca kitab Maulid Nabi Muhammad saw dan kitab manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan kenduri, seperti membaca tahlil dan ditutup dengan doa. Setelah selesai, para undangan disuguhkan dengan makanan yang menu utamanya ialah berupa daging sembelihan hewan aqiqah.
    7. Menindik Telinga Bagi Anak Perempuan
    Khusus anak perempuan, pada saat pelaksanaan aqiqah biasanya disertai dengan tradisi melubangi daun telinga yang nantinya dimaksudkan untuk tempat dipasangnya anting-anting atau tindik. Tradisi ini memang belum ada pada zaman Rasulullah dengan tidak adanya pernyataan langsung dari beliau tentang hal ini. Sehingga tradisi menindik telinga anak perempuan dihukumi boleh (mubah) asal diniatkan untuk tempat perhiasan semata. Namun untuk anak laki-laki hukumnya makruh, bahkan haram apabila akan menyerupai wanita.
    Tradisi menindik ini sebenarnya sudah ditradisikan oleh Nabiyullah Ibrahim as. Ceritanya ialah suatu ketika Nabi Ibrahim diusir oleh keluarganya karena menyebarkan agama Tauhid. Kemudian dia lari ke utara (ke arah Haran). Di sanapun juga dimusuhi masyarakat sehingga ia pindah ke Kana’an (Palestina Selatan). Namun karena suatu sebab, ia dan isterinya pindah kembali ke Mesir. Ternyata disana terdapat seorang Raja yang justru menginginkan isterinya, yang tak lain bernama Sarah. Kemudian Ibrahim mencari akal agar istrinya supaya tidak jadi diperistri oleh Raja tersebut, yaitu dengan cara melubangi daun telinga milik Sarah. Menurut masyarakat Mesir pada masa lalu, wanita yang diketahui telinganya lubang dikategorikan sebagai orang yang cacat, yang menandakan bahwa ia adalah seorang budak. Dengan demikian, sang Raja mengurungkan niatnya untuk memperisteri Sarah.
    Setelah tidak jadi memperistri Sarah, sang raja malah menghadiahkan seorang wanita dari keturunan Habsyi kepada Ibrahim. Wanita tersebut tak lain adalah Hajar, ibunda Ismail. Beberapa saat kemudian, Sarah kaget dan marah-marah ketika melihat daun telinganya berlubang. Maka dari itu, Ibrahim menutupi daun telinga istrinya dengan emas agar ia lebih kelihatan cantik. Nah, dari kisah inilah kemudian berkembang menjadi budaya masyarakat setempat, tak terkecuali oleh masyarakat Jawa.
    Tidak hanya menindik daun telinga perempuan, khitan bagi anak laki-laki juga merupakan tradisi dari Nabi Ibrahim as. yang sampai saat ini tetap dilaksanakan. Begitupun budaya memakai sarung, yang akar sejarahnya juga berasal dari bapaknya Ismail as. Ini. Singkat cerita, saat Nabi Ibrahim as. berkhitan pada umur 97 tahun, beliau menggunakan kain penutup yang lebar sejenis sarung. Maka dari itulah, nabi kita tercinta Rasulullah saw.membiarkan kebiasaan tersebut agar tetap dilestarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim as. Begitu pula agama Islam yang sudah dirintis sebelumnya oleh Nabi Ibrahim as. dalam bingkai agama Tauhid.
    Allah swt. berfirman:
    Katakanlah: “Benarkah (apa yang telah difirmankan) Allah?” Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukankah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali Imran: 95).
    Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah millah Ibrahim seorang yang hanif”. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. An-Nahl: 123).
    Demikianlah rincian mengenai tradisi tentang kelahiran, semoga menjadi wawasan bagi kita selaku umat Islam serta penerus tradisi para pendahulu kita.
    Dikutip: Berbagai sumber
     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal