Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 22.32 on 10 September 2012 Permalink  

    Masyarakat yang diliputi oleh suasana korup 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Membangun Masyarakat Bersih

    Masyarakat yang diliputi oleh suasana korup yang dilakukan tidak saja oleh pejabat birokrasi pemerintah, melainan juga oleh lembaga-lembaga swasta mengundang pertanyaan besar. Apalagi anehnya pelaku korup ternyata juga dilakukan oleh orang-orang yang sehari-hari terlibat memberantas korupsi itu sendiri. Kalau demikian, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan ialah apakah korusi merupakan karakter sebuah tatanan masyarakat tertentu dan sesungguhnya itu menjadi berubah tatkala karakter masyarakat juga berhasil diubah.

    Sangat mengejutkan fenomena ang muncul akhir-akhir ini, menyangkut tentang korupsi ini. Lembaga eksekutif yang telah memiliki perangkat hukum, sistim manajemen dan akuntansi yang mantap, sarana pengendalian yang cukup handal melalui program-program komputerisasi dan lain sebagainya, tetapi pada kenyataannya masih tetap terjadi korupsi yang jumlah pelaku dan nilai dana yang dikorup tetap tinggi. Begitu pulalembaga legislatif, yang semestinya melakukan peran-peran kontrol, ternyata tidak sedikit kasus-kasus korupsi justru dilakukan oleh banyak anggota legislatif. Tidak tanggung-tanggung bahwa pelaku korupsi dilakukan secara bersama-sama. Akibatnya, di beberapa daerah, sejumlah anggota legislatif diperiksa bersama-sama dan akhirnya juga masuk penjara bersama-sama. Peristiwa ini sesungguhnya sangat memalukan. Korupsi dianggap menjadi sesuatu ang biasa, wajar dan lazim. Dan justru menjadi aneh jika terdapat pejabat pemerintah aau juga swasta yang mampu menjaga diri untuk tidak melakukan korupsi.

    Anehnya di tengah masyaraat yang korup, justru orang yang tidak aman adalah orang-orang yang jujur yang tidak mau melakukan penyimpangan. Masyarakat korup ternyata juga membenci siapa saja yang jujur. Orang jujur dianggap tidak menguntungkan bagi orang-orang yang menyuikai korupsi. Biasanya orang jujur kemudian tersisihkan, dan jangan berharap daam proses pemilihan kepemimpinan yang berjalan secara demokratis di tengah-tengah masyarakat korup ia akan dipilih menjadi seorang pimpinan. Oleh karena itu sesungguhnya tidak selalu benar pandangan yang mengatakan bahwa orang jujur itu selalu dibutuhkan di segala jenis masyarakat. Justru orang jujur di tengah-tengah masyarakat korup akan selalu disisihkan.

    Memberantas korupsi di tengah-tengah masyarakat yang menjalani kehidupannya dengan korupsi ternyata tidak mudah. Pengadilan yang kukuh yang ditopang oleh sistim manajemen maupun akuntansi yang kuat ternyata juga masih belum berhasil menghilangkan tindak korupsi ini. Jika kita memperhatikan betapa kerapian, kekuatan manajemen dan akuntansi yang dilakukan oleh bank. Sungguh sangat rapi. Bank biasanya didukung oleh manajemen dan akuntansi yang kuat. Selain itu juga dikelola oleh orang-orang yang ahli di bidangnya secara meyakinkan. Kita mendengar bahwa gaji pegawai dan apalagi pejabat bank sedemikian tinggi, melebihi gaji yang diterima pegawai lainnya. Akan tetapi pada kenyataannya tidak sedikit justru korupsi terbesar jumlahnya terjadi di dunia perbankan. Bagaimana ini semua dapat dipahami ?

    Fenomena lain, suatu lembaga yang amat sederhana, diurus oleh orang yang secara ekonomis rendah, tidak didukung oleh manajemen dan akuntansi yang akurat, tetapi justru di sana tidak ada korupsi. Semua keuangan tidak ada yang diselewengkan. Para pengelolanya memiliki ketulusan yang tinggi. Laporan keuangan tidak dibuat secara rumit, akan tetapi uang yang ada selamat dari kemungkinan penyimpangan. Lagi-lagi, mengapa hal itu terjadi. Pertanyaannya, apakah semakin pintar masyarakat justru kemungkinan penyimpangan juga semakin besar terjadi dan begitu juga sebaliknya ? Apakah orang berpengetahuan sederhana, berpendidikan rendah juga selalu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan penyimpangan terhadap pengurusan keuangan. Sehingga, dari fenomena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa justru kepintaran itu yang mengakibatkan lahirnya penyimpangan keuangan yang disebut korup itu ? Sudah barang tentu logikanya sesederhana ini.

    Untuk menjawab persoalan tersebut saya mencoba bertanya pada al Qur?an. Pada kitab suci yang diturunkan melali Nabi Muhammad saw ini banyak bertebaran perintah untuk berjuang. Bahkan, ada perintah agar berjuang dengan sebenar-benarnya berjuang untuk Allah. Dari berbagai perintah untuk berjuang ini, saya memperoleh kesan bahwa bangunan masyarakat Islam sesungguhnya adalah masyarakat yang selalu diliputi oleh suasana perjuangan.

    Dalam keadaan apapun, kita lihat bahwa perjuangan selalu terkait dengan pengorbanan. Orang yang sedang berjuang, apalagi berjuang untuk membangun keadilan, kejujuran, menghindar dari penindasan, meraih cita-cita luhur dan bahkan berjuang untuk mendapatkan cinta, maka selalu dibarengi dengan kesediaan untuk berkorban. Masyarakat atau seseorang yang sedang dalam suasana perjuangan tidak pernah berharap memperoleh keuntungan, apalagi keuntungan yang bersifat materi. Yang diharap dalam perjuangan adalah capaian nilai perjuangan itu, sekalipun mereka harus berkorban.

    Berbeda dengan masyarakat pejuang adalah masyarakat yang bernuansa transaksi onal. Transaksi biasanya terjadi dalam aktivitas jual beli atau tukar menukar. Dalam suasana transaksional seorang pembeli selalu menginkan memperoleh barang dengan harga semurah-murahnya, dan begitu pula sebaliknya. Seorang penjual selalu menginginkan harga atau untung setinggi-tingginya. Oleh karena itulah seringkali terjadi tipu muslihat, kecurangan, penipuan, ingkar janji dan sebagainya. Sedemikian buruh keadaan terjadi pada dunia transaksional itu, sampai-sampai al Qur?an dan juga tidak sedikit hadits nabi secara khususu memperingatkan agar selalu bertindak adil dan jujur dalam menimbang dan juga dalam jual beli. Bahkan lebih dari itu, karena sedemikian buruknya suasana transaksional itu, diingatkan bahwa pasar adalah merupakan tempat yang buruk, dan berbeda dengan masjid atau tempat ibadah. Atas dasar ini, masyarakat transaksional adalah masyarakat yang kurang bagus karena bisa melahirkan sifat-sifat pribadi atau kelompok menjadi kurang bagus itu.

    Membandingkan antara dua tipe masyarakat, yakni masyarakat bernuansa berju ang dan masyarakat bernuansa transaksional memang sangat jauh berbeda. Masyarakat pejuang melahirkan sikap berkorban, jujur dan adil membela nilai-nilai kemanusian yang tinggi. Sebaliknya, masyarakat transaksional, sekalipun hal itu selalu menjadi pilihan dan bahkan menjadi tuntutan masyarakat modern, selalu melahirkan ciri-ciri seperti korup, menyimpang, menerabas, tipu muslihat, bohong, palsu dan sebagainya. Pertanyaannya adalah apakah lembaga, baik pemerintah atau swasta dan lebih luas lagi, masyarakat bangsa ini lebih bernuansa pejuang atau transaksional itu. Jika ternyata kita evaluasi bahwa nuansa transaksional lebih menonjol daripada nuansa perjuangan, maka wajarlah jika korupsi dan bentuk penyimpangan lainnya lebih subur. Sebab, korup dan segala bentuk penyimpangan masyarakat itu memang merupakan anak kandung dari masyarakat yang bernuansa transaksional itu, wallohu a?lam bishowab.

     
  • tituitcom 22.24 on 10 September 2012 Permalink  

    Fisika di Balik Keindahan Bulu Merak 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    -Tak seorang pun yang memandang corak bulu merak kuasa menyembunyikan kekaguman atas keindahannya. Satu di antara penelitian terkini yang dilakukan para ilmuwan telah mengungkap keberadaan rancangan mengejutkan yang mendasari pola-pola ini.

    Para ilmuwan Cina telah menemukan mekanisme rumit dari rambut-rambut teramat kecil pada bulu merak yang menyaring dan memantulkan cahaya dengan aneka panjang gelombang. Menurut pengkajian yang dilakukan oleh fisikawan dari Universitas Fudan, Jian Zi, dan rekan-rekannya, dan diterbitkan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, warna-warna cerah bulu tersebut bukanlah dihasilkan oleh molekul pemberi warna atau pigmen, akan tetapi oleh struktur dua dimensi berukuran teramat kecil yang menyerupai kristal. (1)

    Zi dan rekan-rekannya menggunakan mikroskop elektron yang sangat kuat untuk menyingkap penyebab utama yang memunculkan warna pada bulu merak. Mereka meneliti barbula pada merak hijau jantan (Pavo rnuticus). Barbula adalah rambut-rambut mikro yang jauh lebih kecil yang terdapat pada barb, yakni serat bulu yang tumbuh pada tulang bulu. Di bawah mikroskop, mereka menemukan desain tatanan lempeng-lempeng kecil berwarna hitam putih, sebagaimana gambar di sebelah kanan. Desain ini tersusun atas batang-batang tipis yang terbuat dari protein melanin yang terikat dengan protein lain, yakni keratin. Para peneliti mengamati bahwa bentuk dua dimensi ini, yang ratusan kali lebih tipis daripada sehelai rambut manusia, tersusun saling bertumpukan pada rambut-rambut mikro. Melalui pengkajian optis dan penghitungan, para ilmuwan meneliti ruang yang terdapat di antara batang-batang tipis atau kristal-kristal ini, berikut dampaknya. Alhasil, terungkap bahwa ukuran dan bentuk ruang di dalam tatanan kristal tersebut menyebabkan cahaya dipantulkan dengan beragam sudut yang memiliki perbedaan sangat kecil, dan dengannya memunculkan aneka warna.

    “Ekor merak jantan memiliki keindahan yang memukau karena pola-pola berbentuk mata yang berkilau, cemerlang, beraneka ragam dan berwarna,” kata Zi, yang kemudian mengatakan, “ketika saya memandang pola berbentuk mata yang terkena sinar matahari, saya takjub akan keindahan bulu-bulu yang sangat mengesankan tersebut.”(2) Zi menyatakan bahwa sebelum pengkajian yang mereka lakukan, mekanisme fisika yang menghasilkan warna pada bulu-bulu merak belumlah diketahui pasti. Meskipun mekanisme yang mereka temukan ternyata sederhana, mekanisme ini benar-benar cerdas.

    Jelas bahwa terdapat desain yang ditata dengan sangat istimewa pada pola bulu merak. Penataan kristal-kristal dan ruang-ruang [celah-celah] teramat kecil di antara kristal-kristal ini adalah bukti terbesar bagi keberadaan desain ini. Pengaturan antar-ruangnya secara khusus sungguh memukau. Jika hal ini tidak ditata sedemikian rupa agar memantulkan cahaya dengan sudut yang sedikit berbeda satu sama lain, maka keanekaragaman warna tersebut tidak akan terbentuk.

    Sebagian besar warna bulu merak terbentuk berdasarkan pewarnaan struktural. Tidak terdapat molekul atau zat pewarna pada bulu-bulu yang memperlihatkan warna struktural, dan warna-warna yang serupa dengan yang terdapat pada permukaan gelembung-gelembung air sabun dapat terbentuk. Warna rambut manusia berasal dari molekul warna atau pigmen, dan tak menjadi soal sejauh mana seseorang merawat rambutnya, hasilnya tidak akan pernah secemerlang dan seindah bulu merak.

    Telah pula dinyatakan bahwa desain cerdas pada merak ini dapat dijadikan sumber ilham bagi rancangan industri. Andrew Parker, ilmuwan zoologi dan pakar pewarnaan di Universitas Oxford, yang menafsirkan penemuan Zi mengatakan bahwa penemuan apa yang disebut sebagai kristal-kristal fotonik pada bulu merak memungkinkan para ilmuwan meniru rancangan dan bentuk tersebut untuk digunakan dalam penerapan di dunia industri dan komersial. Kristal-kristal ini dapat digunakan untuk melewatkan cahaya pada perangkat telekomunikasi, atau untuk membuat chip komputer baru berukuran sangat kecil. (3)

    Jelas bahwa merak memiliki pola dan corak luar biasa dan desain istimewa, dan berkat mekanisme yang sangat sederhana ini, mungkin tidak akan lama lagi, kita akan melihat barang dan perlengkapan yang memiliki lapisan sangat cemerlang pada permukaannya. Namun, bagaimanakah desain memesona, cerdas dan penuh ilham semacam ini pertama kali muncul? Mungkinkah merak tahu bahwa warna-warni pada bulunya terbentuk karena adanya kristal-kristal dan ruang-ruang antar-kristal pada bulunya? Mungkinkah merak itu sendiri yang menempatkan bulu-bulu pada tubuhnya dan kemudian memutuskan untuk menambahkan suatu mekanisme pewarnaan padanya? Mungkinkah merak telah merancang mekanisme itu sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan desain yang sangat memukau tersebut? Sudah pasti tidak.

    Sebagai contoh, jika kita melihat corak mengagumkan yang terbuat dari batu-batu berwarna ketika kita berjalan di sepanjang tepian sungai, dan jika kita melihat pula bahwa terdapat pola menyerupai mata yang tersusun menyerupai sebuah kipas, maka akan muncul dalam benak kita bahwa semua ini telah diletakkan secara sengaja, dan bukan muncul menjadi ada dengan sendirinya atau secara kebetulan. Sudah pasti bahwa pola-pola ini, yang mencerminkan sisi keindahan dan yang menyentuh cita rasa keindahan dalam diri manusia, telah dibuat oleh seorang seniman. Hal yang sama berlaku pula bagi bulu-bulu merak. Sebagaimana lukisan dan desain yang mengungkap keberadaan para seniman yang membuatnya, maka corak dan pola pada bulu merak mengungkap keberadaan Pencipta yang membuatnya. Tidak ada keraguan bahwa Allahlah yang merakit dan menyusun bentuk-bentuk mirip kristal tersebut pada bulu merak dan menghasilkan pola-pola yang sedemikian memukau bagi sang merak. Allah menyatakan Penciptaannya yang tanpa cacat dalam sebuah ayat Al Qur’an:

    Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik Bertasbih KepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Hasyr, 59:24

    ———–
    oke [oke@multisolid.com]

     
  • tituitcom 22.15 on 10 September 2012 Permalink  

    Gambaran masyarakat Dukuh Plapar 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    -ukuh Plapar ini mengingatkan pada saya bagaimana ayah saya dalam berdakwah melakukan pendekatan dengan masyarakat yang belum mengerti sama sekali tentang Islam, sehingga kegiatan sehari-hari mereka jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka sangat biasa mengkonsumsi makanan yang tidak halal seperti daging babi hutan, melakukan judi, minuman keras dan perbuatan haram lainnya. Ayah saya memperlakukan mereka sebagai masarakat yang memerlukan penghormatan, artinya terhadap mereka tidak pernah menyakiti dengan cara menyindir dengan kata-kata, apalagi mengolok-olok. Ayah saya selalu melihat mereka sebagai masyarakat yang belum mengerti tentang Islam, karena itu harus dididik dengan cara sebijak mungkin.

    Ayah saya selalu berpendapat bahwa sekalipun yang dilakukan mereka jauh dari ajaran Islam, tetapi bagi mereka sudah dipandang benar. Oleh karena itu, jika kita mencoba menyalahkan dan berusaha mengajak ke jalan yang benar —menurut kita yakni Islam, mereka pun akan menolak. Sebab, apa yang mereka lakukan selama ini diperoleh dari leluhur mereka yang sangat dicintai dan dihormati. Merubah pandangan hidup mereka, jika tidak dilakukan secara hati-hati atau bilkhikmah, akan dimaknai sebagai tidak menghormati para leluhur mereka.

    Kata yang lebih tepat untuk mengubah masyarakat ini adalah alkulturasi. Ayah saya tidak pernah mengubah secara drastic dan total kebiasaan mereka. Justru melalui kebiasaan-kebiasaan mereka, dengan sedikit demi sedikit mengenalkan faham tentang Islam ke dalamnya. Suatu misal, di dukuh ini terdapat kebiasaan melakukan bersih desa, kenduri atau selamatan dengan berbagai sesajen. Ayah tidak pernah menyuruh berhenti dari menjalankan kebiasaan itu. Akan tetapi justru melalui kebiasaan itu, ayah mengenalkan ajaran Islam secara bertahap, sedikit demi sedikit. Dalam sesajen yang terdiri atas berbagai jenis makanan yang dihidangkan, ayah yang selalu diminta tampil untuk memberikan penjelasan maksud kenduru diselenggarakan, selalu menyelipkan pada penjelesannya sesuatu yang mengarah pada ajaran tauhid. Sedemikian lembut dan samarnya penjelasan itu, sehingga mereka tidak terasa bahwasanya alam pikiran mereka sedang dipengaruhi dan diubah.

    Ayah saya selalu memberikan penjelasan pada saya, bahwa tidak mungkin mengubah masyarakat dapat berhasil dilakukan dengan cara tergesa-gesa, apalagi secara frontal. Kata dia, yang diubah bukan fisik melainkan kawasan hati atau keyakinan.

    Istilah dukuh, menunjuk pada wilayah bagian dari sebuah desa. Desa pada umumnya terdiri atas beberapa dukuh. Dukuh Plapar sendiri masuk Desa Watulimo, letaknya jauh dari jalan besar yang bisa dilewati kendaraan roda empat. Ke padukuhan ini, orang biasa menempuh dengan jalan kaki, berjarak kira-kira 3 km dari kantor kelurahan. Waktu saya masih anak-anak, seumur anak sekolah dasar, biasa orang pergi kemana-mana dengan jalan kaki. Kendaraan baik roda dua apalagi roda empat, masih amat jarang ditemui. Pemilik kendaraan bermotor baru dapat dihitung dengan jari jumlahnya, dan hanya beberapa saja yang memiliki sepeda pancal.

    Dukuh Plapar dikenal masyarakat sebagai wilayah yang penduduknya gemar berburu babi hutan. Mereka beragama Islam, tetapi tidak mengenal ajaran Islam, kecuali dalam batas yang sangat sederhana, misalnya jika mereka mau berkhitan, nikah dan tatkala meninggal dunia. Entah darimana ajaran ini diperoleh, tidak ada kejelasan. Karena tidak mengenal agama, maka sehari-hari mereka mengkonsumsi daging babi hutan menjadi biasa, demikian berjudi, mabuk-mabukan, dan bergantian isteri juga dianggap hal yang tidak terlalu aib.

    Anehnya masyarakat seperti ini tatkala anak mereka menginjak usia belasan tahun juga dikhitan. Begitu pula ketika melangsungkan pernikahan juga mengikuti ajaran Islam. Mereka mengundang pejabat pencatat nikah yang dipanggil dengan sebutan Naib. Pejabat Kantor Urusan Agama (KUA), yang biasanya berkantor di tingkat kecamatan, dengan disebut Naib juga mengalami kesulitan tatkala menikahkan mempelai berdua. Biasanya sebagai pertanda, mereka beragama Islam agar dapat dilayani prosesi pernikahan secara Islam, maka Naib harus menuntunm mereka mengucapkan dua kalimah syahadah. Namun sebatas mengucap syahadah ini mereka selalu mengalami kesulitan, karena memang tidak terbiasa diucapkan.

    Memperoleh gambaran masyarakat Dukuh Plapar seperti itu, umumnya kaum santri yang bertempat tinggal di luar Dukuh Plapar tidak mau mendekat. Kaum santri menganggap orang Plapar sebagai orang yang tidak beragama, pemakan daging babi, penjudi, peminum dan seterusnya. Sekalipun tidak pernah terjadi konflik di antara kedua kelompok yang berbeda ini, mereka tidak saling berkomunikasi secara dekat. Di anatara mereka hanya merasa bukan kelompoknya. Mereka masing-masing memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda. Bahkan jika kaum santri, pada saat-saat tertentu harus datang ke Dukuh Plapar biasanya dsilakukan dengan hati-hati, agar tidak makan makanan yang mengandung daging babi.

    Pada umumnya, entah dari mana mereka mendapatkan ajaran ang bagus, di antara kelompok yang berbeda dari intensitas keberagamaan itu, ternata tidak pernah terjadi konflik. Di antara mereka sama-sama memahami atas perbedaan itu. Kaum santri biasanya disebut sebagai kaum putih, sedang masyarakat Plapar disebut sebagai kaum merah. Mungkin, perbedaan itu masih diredam oleh adanya saling membutuhkan, misalnya tatkala ada pernikahan, kematian dan sejenisnya, orang Plapar selalu membutuhkan jasa orang santri.
    Kerja ulet dan telaten yang dilakukan oleh para da’i, ternyata sekarang Dukuh Plapar sudah berubah secara total. Di dukuh itu sekarang sudah ada masjid dan madrasah. Tidak ada lagi orang membawa tombak dan anjingnya ke hutan untuk berburu babi hutan. Orang-orang Plapar saat ini kalau sore datang ke masjid sholat berjama’ah. Di sana-sini terdengar suara adzan tatkala waktu sholat tiba. Demikian pula bacaan al Qur’an dengan mudah didengar dari berbagai tempat, baik dari rumah maupun masjid. Perubahan itu terjadi, karena para da’i menempuh cara yang tepat dalam berdakwah. Para da’i tidak menjauh dari masyarakat, tetapi justru mencoba menghargai, menghormati dan cara berpikir orang Plapar. Hasilnya orang Plapar menjadi simpatik dan akhirnya mengikuti seruan para dai, sehingga menjadi muslim taat. Melalui kegiatan diba’an, berzanji dan juga tahlil, lama kelamaan orang Plapar menjadi santri. Apalagi, kegiatan kesenian yang bernafas Islam juga dikembangkan. Dakwah seperti ini kiranya yang justru diperlukan agar berhasil dan bukan menakut-nakuti atau mengancam bahkan juga membuat peraturan. Allahu a’lam

     
  • tituitcom 17.28 on 10 September 2012 Permalink  

    Pemeliharaan Spesimen Perlu Dukungan 

    Pemeliharaan Spesimen Perlu Dukungan

     
    No Image
    Tawon monster Garuda yang ditemukan di Sulawesi
    JAKARTA, KOMPAS.com – Spesimen hewan, tumbuhan dan mikroba berharga namun sulit dinilai dengan uang. Hal ini menjadi kendala saat publik bertanya tentang manfaat pemeliharaan spesimen museum.

    Demikian diungkapkan Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam konferensi pers usai Penghargaan Sarwono Prawirohardjo pada Selasa (28/8/2012) di Jakarta.

    “Kita sulit untuk mengatakan berapa value-nya berapa. Kita bisa prediksi bahwa ini bermanfaat untuk kemaslahatan umat, tapi sulit menilai,” ungkap Endang.

    Saat ini, LIPI mengelola tiga museum koleksi, meliputi Museum Zoologicum Bogoriense yang memuat koleksi hewan, Herbarium Bogoriense yang memuat koleksi tumbuhan serta Insonesia Culture Collection yang menampung koleksi mikroba.

    Salah satu kendala yang dihapai adalah mahalnya biaya pemeliharaan aset. Padahal, aset harus dipertahankan sebab merupakan kekayaan sekaligus bisa menjadi bahan riset untuk kesejahteraan masyarakat.

    Endang mengatakan, dukungan untuk pemeliharaan aset diperlukan. Endang mencontohkan, koleksi mikroba bisa digunakan untuk mengembangkan riset penemuan antibiotik atau obat bagi beragam penyakit.

    Soekarjo Somadikarta, taksonom burung dan peraih penghargaan Sarwono Prawirohardjo 2012 yang diberikan LIPI, mengatakan bahwa koleksi sangat bermanfaat untuk meneliti masalah lingkungan dan penyakit.

    Spesimen burung misalnya, kata Somadikarta, bisa digunakan untuk penelitian pengaruh perubahan iklim serta penyebaran penyakit.

     

    Artikel ini ditulis oleh KOMPAS : Yunanto Wiji Utomo | Selasa, 28 Agustus 2012

    Artikel ini diunggah oleh Pramono pada tanggal 03 September 2012
     
     
  • tituitcom 16.54 on 10 September 2012 Permalink  

    8 Hal Penyebab Kiamat Versi Ilmiah 

    Pernahkah membayangkan kiamat akan seperti apa? Bumi tidak seaman yang kita kira. Berikut delapan hal yang berpotensi menyebabkan kiamat.

    Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan kiamat di planet kita. Ilmuwan memberikan detail mengenai hal itu dan berikut delapan hal tersebut.
    1. Serangan sinar gamma
    Saat supenova meledak, ledakan itu menghasilkan sinar gamma. Jika ada ledakan dekat bumi paling tidak berjarak 30 juta tahun cahaya maka kan berbahaya.
    “Sinar ini dapat merusak atmosfir bumi dan menghasilkan kebakaran global, membakar atmosfir dan membunuh spesies hidup tersisa dalam beberapa bulan bahkan yang hidup di bawah air sekalipun,” kata Annie McQuade, penulis buku mengenai bencana global. Untungnya, ledakan luar biasa ini jauh dari planet Bumi.
    2. Virus mematikan serang manusia
    Dalam buku karangan John Barnes dijelaskan bagaimana ‘virus pikiran’ dapat menghancurkan dunia. Dalam bukunya yang lain, Barnes memperkenalkan nano-reconstructor (alat yang dapat mengubah pikiran orang) dan dapat digunakan untuk memerintahkan otak untuk melakukan hal jahat.
    Serupa, Profesor aeronautics dan astronautics di Purdue University, Barrett Caldwell mengatakan hal ini lebih dikenal sebagai ‘penyakit psikogenik masal’ di mana membuat orang terinfeksi menjadi pendiam dan terisolasi. Hingga saat ini belum ada perlindungan untuk mencegah serangan virus pikiran ini. “Contoh terkerennya adalah genosida di Rwanda,” kata Howard Davidson, fisikawan dan profesor Standford.
    3. Kutub utara dan selatan bertukar tempat
    Setiap beberapa ratus tahun, kutub magnet Bumi terbalik. “Masalahnya bukan terletak pada perubahan tempatnya, namun medan magnet bumi ini akan menarik radiasi matahari di sekitar kutub,” jelas penulis buku Implied Spaces, Walter Jon Williams. “Jadi, jika kutub bertukar tempat maka banyak penduduk yang akan terbakar.”
    4. Semesta terus berkembang
    Hal ini disebut ‘cabikan besar’. Energi gelap memaksa semesta berkembang dan mengakibatkan partikel atom tidak bisa bertemu dan berinteraksi lagi. Hal ini akan menyebabkan segala materi terpisah begitu saja.
    Proses ini membutuhkan waktu ribuan tahun, tidak ada cara mencegah peristiwa ini.
    5. Eksperimen ilmuwan terlalu jauh
    Sejarah menunjukkan, bahaya terbesar bagi manusia adalah dirinya sendiri. Seiring perkembangan eksperimen manusia, mendorong munculnya bahaya bagi dunia. “Kesalahan terbesar eksperiman bukanlah eksperimennya melainkan manusia yang menggunakan hasil eksperimen tersebut,” kata Williams.
    6. Gunung api super meratakan planet
    Gunung api super di Asia Tenggara membakar India 73 ribu tahun silam dan menyebabkan musim dingin vulkanik selama dua dekade dan memusnahkan 75% ras manusia.
    Tiga dari enam gunung api bahaya saat ini ada di Amerika Serikat (AS) di mana gunung tersebut mungkin menyebabkan ‘bencana vulkanis’ itu.
    Jika gunung itu meletus, tidak ada yang bisa menghentikannya. Letusan gunung bisa terjadi dari beberapa gunung sekaligus.

    7. Komputer mengambil alih semuanya
    Satu lagi katalisme ciptaan manusia yang saat ini sudah terjadi. Seiring kemajuan komputer, pada akhirnya komputer akan mengambil alih semua pekerjaan manusia. Ancaman yang lebih berbahaya lagi berasal dari Artificial Intelligence (AI). “AI secara kualitatif lebih baik dari manusia,” kata McQuade. “AI dapat belajar dengan cepat dan dengan mudah melampaui ‘intelejensi’ manusia.”

    8. Batuk menyebar di seluruh dunia
    Salah satu penyebab paling sederhana lainnya adalah batuk. Flu mematikan dapat menyebar di seluruh dunia dengan sangat cepat. “Flu selalu menjadi ancaman kapanpun terutama penyebarannya yang cepat sekali,” kata William.
    “Masalah lainnya adalah rumah sakit sekarang terlalu mengandalkan antibiotik sehingga mengabaikan prosedur sterilisasi,” tambahnya.
    Untungnya, ilmuwan berhasil mengembangkan vaksin virus flu berbahaya ini. Cara paling mudah melawan potensi ini adalah menjaga kebersihan
     
  • tituitcom 22.53 on 8 August 2012 Permalink  

    Potensi Limbah Cair Industri Tahu Sebagai Sumber Energi Alternatif Biogas 

    Biogas dikenal sebagai gas rawa atau lumpur dan bisa digunakan sebagai bahan bakar. Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob.
    Biogas dikenal sebagai gas rawa atau lumpur dan bisa digunakan
    sebagai bahan bakar. Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan
    dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri
    anaerob. Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk
    menghasilkan biogas (Anonim, 2005).
    Whey merupakan bagian limbah cair tahu yang paling berbahaya.
    Pengolahan  limbah  cair  tahu  secara  anaerobik  memungkinkan  konversi
    whey menjadi  biogas  karena  whey mengandung  bahan  organik  cukup
    tinggi  sebagaimana  yang  ditunjukkan  oleh  nilai  CODnya.  Pembentukan
    biogas terjadi  selama proses fermentasi berjalan (Setiawan, 2005).
    Pembuatan dan penggunaan biogas di Indonesia mulai digalakkan
    pada awal tahun 1970-an dengan tujuan memanfaatkan buangan atau sisa
    yang  berlimpah  dari  benda  yang  tidak  bermanfaat  menjadi  yang
    bermanfaat,  serta mencari  sumber  energi  lain  di  luar  kayu  bakar  dan
    minyak  tanah.  Pembuatan  biogas  bisa  dengan  drum  bekas  yang  masih kuat atau sengaja dibuat dalam bentuk bejana dari tembok atau bahan-
    bahan lainnya (Suriawiria, 2005).
    Biogas dipergunakan dengan cara yang sama seperti penggunaan
    gas  lainnya yang mudah terbakar dengan mencampurnya dengan oksigen
    (O2). Untuk mendapatkan hasil pembakaran yang optimal perlu dilakukan
    proses pemurnian/penyaringan karena biogas mengandung beberapa gas
    lain yang tidak menguntungkan (Anonim, 2005).
    Biogas  dapat  digunakan  untuk  kepentingan  penerangan  dan
    memasak. Lampu atau kompor yang sudah umum dan biasa dipergunakan
    untuk  gas  lain  selain  biogas  tidak  cocok  untuk  pemakaian  biogas,
    sehingga  memerlukan  penyesuaian  karena  bentuk  dan  sifat  biogas
    berbeda  dengan  bentuk  dan  sifat  gas  lain  yang  sudah  umum.  Pusat
    Teknologi Pembangunan (PTP) ITB telah sejak lama membuat lampu atau
    kompor  yang  dapat  menggunakan  biogas,  yang  asalnya  dari  lampu
    petromak atau  kompor  yang  sudah  ada.  Kompor  biogas  tersebut
    tersusun  dari  rangka,  pembakar,  spuyer,  cincin  penjepit  spuyer  dan
    cincin  pengatur  udara,  yang  kalau  sudah  diatur  akan  mempunyai
    spesifikasi  temperatur  nyala  api  dapat mencapai  560°C  dengan  warna nyala  biru  muda  pada  malam  hari,  dan  laju  pemakaian  biogas  350
    liter/jam.  (Suriawiria, 2005).
    Gas metan mempunyai  nilai  kalor  antara  590  – 700  K.cal/m3.
    Sumber  kalor  lain  dari  biogas  adalah  dari  H2 serta  CO  dalam  jumlah
    kecil, sedang karbon dioksida dan gas nitrogen tak berkontribusi dalam
    soal  nilai  panas.  Nilai  kalor  biogas  lebih  besar  dari  sumber  energi
    lainnya,  seperti  coalgas  (586  K.cal/m3)  ataupun  watergas  (302
    K.cal/m3). Nilai  kalor  biogas  lebih  kecil  dari  gas  alam  (967  K.cal/m3).
    Setiap kubik biogas setara dengan 0,5 kg gas alam cair (liquid petroleum
    gases/LPG),  0,5  L  bensin  dan  0,5  L  minyak  diesel.  Biogas  sanggup
    membangkitkan tenaga  listrik  sebesar 1,25 – 1,50 kilo watt hour  (kwh)
    (Setiawan,2005).
    Biogas merupakan  gas  yang  tidak  berwarna,  tidak  berbau  dan
    sangat  tinggi  dan  cepat  daya  nyalanya,  sehingga  sejak  biogas  berada
    pada  bejana  pembuatan  sampai  penggunaannya  untuk  penerangan
    ataupun  memasak,  harus  selalu  dihindarkan  dari  api  yang  dapat
    menyebabkan kebakaran atau ledakan (Suriawiria, 2005).
    Pembuatan biogas dimulai dengan memasukkan bahan organik ke
    dalam digester,  sehingga bakteri anaerob membusukkan bahan organiktersebut dan menghasilkan gas  yang disebut biogas. Biogas  yang  telah
    terkumpul di dalam digester dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju
    tangki penyimpan gas  atau langsung ke lokasi penggunaannya, misalnya
    kompor. Biogas dapat dipergunakan dengan cara yang sama seperti cara
    penggunaan gas  lainnya yang  mudah terbakar.  Pembakaran  biogas
    dilakukan dengan mencampurnya dengan oksigen (O2). Untuk
    mendapatkan hasil pembakaran yang  optimal  perlu dilakukan proses
    pemurnian/penyaringan karena biogas  mengandung beberapa gas  lain
    yang  tidak menguntungkan. Keuntungan lain yang  diperoleh adalah
    dihasilkannya lumpur yang dapat digunakan sebagai pupuk. Faktor-faktor
    yang mempengaruhi produktivitas sistem biogas antara  lain jenis bahan
    organik yang  diproses, temperatur digester,  ruangan tertutup atau
    kedap udara, pH, tekanan udara serta kelembaban udara. Komposisi gas
    yang terdapat di dalam biogas adalah 40-70 % metana (CH4), 30-60 %
    karbondioksida (CO2)  serta sedikit hidrogen (H2) dan hidrogen sulfida
    (H2S)  (Anonim,2005).
    Dari proses fermentasi dihasilkan campuran biogas yang terdiri
    atas,  metana  (CH4), karbon  dioksida,  hidrogen,  nitrogen  dan  gas  lain
    seperti H2S. Metana  yang dikandung  biogas  ini  jumlahnya  antara  54  –70%,  sedang  karbon  dioksidanya antara 27  – 43%.  Gas-gas  lainnya
    memiliki persentase hanya sedikit saja (Setiawan, 2005).
     
  • tituitcom 22.43 on 8 August 2012 Permalink  

    Mikrobia dalam Pengolahan Limbah Cair Tahu 

    Mikrobia  merupakan  salah  satu  faktor  kunci  yang ikut menentukan  berhasil  tidaknya  suatu  proses  penanganan  limbah  cair organik secara biologi
    Mikrobia  merupakan  salah  satu  faktor  kunci  yang ikut
    menentukan  berhasil  tidaknya  suatu  proses  penanganan  limbah  cair
    organik secara biologi. Keberadaanya sangat diperlukan untuk berbagai
    tahapan dalam perombakan bahan organik.
    Marchaim  (1992)  menyatakan  bahwa  efektifitas  biodegradasi
    limbah  organik menjadi metana membutuhkan  aktifitas metabolik  yang
    terkoordinasi  dari  populasi  mikrobia  yang  berbeda-beda.  Populasi
    mikroba  dalam  jumlah  dan  kondisi  fisiologis  yang  siap  diinokulasikan
    pada media fermentasi disebut sebagai starter.
    Bakteri, suatu grup prokariotik, adalah organisme yang mendapat
    perhatian  utama  baik  dalam  air  maupun  dalam  penanganan  air  limbah
    (Jenie dan Winiati, 1993). Jadi,  dalam proses anaerobik, mikrobia yang
    digunakan  berasal  dari  golongan  bakteri.  Bakteri  yang  bersifat
    fakultatif  anaerob  yaitu  bakteri  yang mampu  berfungsi  dalam  kondisi
    aerobik  maupun  anaerobik.  Bakteri-bakteri  tersebut  dominan  dalam
    proses penanganan limbah cair baik secara aerobik ataupun anaerobik.Marchaim  (1992)  menyatakan  bahwa  digesti  atau  pencernaan
    bahan  organik  yang  efektif membutuhkan  kombinasi metabolisme  dari
    berbagai jenis bakteri anaerobik.
    Beberapa  jamur  (fungi)  dan  protozoa  dapat  ditemukan  dalam
    penguraian  anaerobik,  tetapi  bakteri  merupakan  mikroorganisme  yang
    paling dominan bekerja didalam proses penguraian anaerobik. Sejumlah
    besar  bakteri  anaerobik  dan  fakultatif  yang  terlibat  dalam  proses
    hidrolisis  dan  fermentasi  senyawa  organik  antara  lain  adalah
    Bacteroides,  Bifidobacterium,  Clostridium,  Lactobacillus,
    Streptococcus.  Bakteri  asidogenik  (pembentuk asam)  seperti
    Clostridium, bakteri  asetogenik  (bakteri  yang memproduksi  asetat dan
    H2)  seperti  Syntrobacter  wolinii  dan  Syntrophomonas  wolfei  (Said,
    2006)
    Bakteri  metana  yang  telah  berhasil  diidentifikasi  terdiri  dari
    empat genus  (Jenie dan Rahayu, 1993) :
    1. Bakteri  bentuk  batang  dan  tidak  membentuk  spora  dinamakan
    Methanobacterium.
    2. Bakteri  bentuk  batang  dan  membentuk  spora  adalah
    Methanobacillus.3. Bakteri bentuk kokus yaitu Methanococcus atau kelompok koki yang
    membagi diri.
    4. Bakteri bentuk sarcina pada sudut 90O dan tumbuh dalam kotak yang
    terdiri dari 8 sel yaitu Methanosarcina.
    Bakteri  metanogen  melaksanakan  peranan  penting  pada  digesti
    anaerob  karena  mengendalikan  tingkat  degradasi  bahan  organik  dan
    mengatur  aliran  karbon  dan  elektron  dengan  menghilangkan  metabolit
    perantara  yang  beracun  dan meningkatkan  efisiensi  termodinamik  dari
    metabolisme perantara antar spesies.
    Soetarto  et  all. (1999)  menyatakan  bahwa  bakteri  metanogen
    merupakan  obligat  anaerob  yang  tidak  bisa  tumbuh  pada  keadaan  yang
    terdapat  oksigennya  dan  menghasilkan  metan  dari  oksidasi  hidrogen
    atau senyawa organik sederhana seperti asetat dan metanol serta tidak
    dapat menggunakan karbohidrat, protein, dan substrat komplek organik
    yang  lain.  Bakteri  penghasil  metan  bersifat  gram  variabel,  anaerob,
    dapat mengubah CO2 menjadi metan, dinding selnya mengandung protein
    tetapi  tidak  mempunyai  peptidoglikan.  Bakteri  ini  merupakan  mikrobia
    Archaebacteria yang merupakan jasad renik prokariotik yang habitatnya
    sangat ekstrim. Archaebacteria  adalah kelompok prokariot yang sangat berbeda dari eubacteria. Dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan
    (murein),  tidak  sensitif  terhadap  kloramfemikol.  Pada
    Methanobacterium  sp.,  dinding  selnya  mengandung  materi  seperti
    peptidoglikan  yang  disebut  pseudopeptidoglikan  atau  pseudomurein
    tersusun dari N asetil glukosamin dan asam N asetil talosaminuronat (2
    gula  amino).  Asam  amino  yang  ada  semuanya  bentuk  L  (pada
    peptidoglikan  bentuk D). Dinding  sel  Archaebacteria  tahan  terhadap
    lisosim. Methanosarcina sp. mengandung dinding sel tebal galaktosamin,
    asam  glukuronat,  dan  glukosa.  Dinding  sel  Methanococcus  dan
    Methanomicrobium  mengandung protein dan kekurangan karbohidrat.
    Dwidjoseputro  (1998)  menyatakan  bahwa  ciri  genus
    Methanobacterium  adalah  anaerob,  autotrof/heterotrof,  dan
    menghasilkan gas metan. Bakteri autotrof  (seringkali dibedakan antara
    kemoautotrof  dan  fotoautotrof)  dapat  hidup  dari  zat-zat  anorganik.
    Bakteri heterotrof membutuhkan zat organik untuk kehidupannya.
    Substrat yang digunakan oleh bakteri metanogen berupa  karbon
    dengan sumber energi berupa H2/CO2, format, metanol, metilamin, CO,
    dan  asetat.  Kebanyakan  metanogen  dapat  tumbuh  pada  H2/CO2, akan
    tetapi  beberapa  spesies  tidak  dapat  memetabolisme  H2/CO2.  Nutrisi yang dibutuhkan oleh metanogen bervariasi dari yang sederhana sampai
    yang  kompleks.  Berkaitan  dengan  asimilasi  karbon,  ada  yang  berupa
    metanogen  autotrof  dan  heterotrof.  Di  habitat  aslinya,  bakteri
    metanogen  terantung dari  bakteri  lain  yang menyuplai  nutrien  esensial
    seperti  sisa  mineral,  vitamin,  asetat,  asam  amino,  atau  faktor-faktor
    tumbuh lainnya (Main and Smith, 1981).
    Bakteri  yang  berperan  dalam  penguraian  limbah  organik  secara
    alami  tumbuh  secara  lambat  sehingga  diperlukan  penambahan  inokulasi
    pengurai limbah. Salah satu merk dagang inokulum yang biasa digunakan
    adalah  Bio2000.  Kemasan  Bio2000  mendiskripsikan  bahwa  Bio2000
    merupakan  serbuk  pengurai  limbah  organik  yang  didalamnya  terdapat
    bakteri dan bahan-bahan alami yang dapat menghasilkan bifido bacteria
    (bakteri  yang  menguntungkan)  sehingga mampu  memacu  penguraian
    limbah organik  lebih cepat. Komposisi Bio2000 adalah air  (3 %), % abu
    (72,46),  protein  kasar  (3,57 %  ),  lemak  kasar  (  0,27 %),  serat  kasar
    (9,37), kalsium (19,12 %), fosfor (0,1 %), dan lain-lain (11,33 %). Bakteri
    yang diinokulasikan adalah bakteri amilolitik (35,43 %), selulotik ( 26,64
    %), proteolitik (20,84 %), dan lipolitik (17,13 %).
     
  • tituitcom 22.37 on 8 August 2012 Permalink  

    Proses Transformasi Bahan Organik 


    Pengolahan  limbah  secara  anaerobik  mengakibatkan  terjadinya
    transformasi makromolekul bahan organik menjadi molekul-molekul yang
    lebih sederhana. Menurut Lettinga (1994), terdapat empat tahap proses
    transformasi bahan organik pada sistem anaerobik, yaitu :
    1. Hidrolisis
    Pada  tahapan  hidrolisis,  mikrobia  hidrolitik  mendegradasi
    senyawa  organik  kompleks  yang  berupa  polimer  menjadi
    monomernya  yang  berupa  senyawa  tak  terlarut  dengan  berat
    molekul  yang  lebih  ringan.  Lipida  berubah menjadi  asam  lemak 

    rantai panjang dan gliserin, polisakarida menjadi gula (mono dan
    disakarida),  protein  menjadi  asam  amino  dan  asam  nukleat
    menjadi  purin  dan  pirimidin.  Konversi  lipid  berlangsung  lambat
    pada  suhu  dibawah  20
    OC.  Proses  hidrolisis  membutuhkan
    mediasi  exo-enzim  yang  dieksresi  oleh  bakteri  fermentatif  .
    Hidrolisis molekul komplek dikatalisasi oleh enzim ekstra seluler
    seperti  sellulase,  protease,  dan  lipase.  Walaupun  demikian
    proses  penguraian  anaerobik  sangat  lambat  dan  menjadi
    terbatas  dalam  penguraian  limbah  sellulolitik  yang mengandung
    lignin (Said, 2006).
    2. Asidogenesis.
    Monomer-monomer  hasil  hidrolisis  dikonversi menjadi  senyawa
    organik  sederhana  seperti  asam  lemak  volatil,  alkohol,  asam
    laktat,  senyawa  mineral  seperti  karbondioksida,  hidrogen,
    amoniak,  dan  gas  hidrogen  sulfida.  Tahap  ini  dilakukan  oleh
    berbagai kelompok bakteri, mayoritasnya adalah bakteri obligat
    anaerob  dan sebagian yang lain bakteri anaerob fakultatif.
    3. Asetogenesis
    Hasil asidogenesis dikonversi menjadi hasil  akhir bagi produksi
    metana  berupa  asetat,  hidrogen,  dan  karbondioksida.  Sekitar
    70  %  dari  COD  semula  diubah  menjadi  asam  asetat.
    Pembentukan  asam  asetat  kadang-kadang  disertai  dengan
    pembentukan karbondioksida atau hidrogen, tergantung kondisi
    oksidasi dari bahan organik aslinya.
    Etanol, asam propionat, dan asam butirat dirubah menjadi asam
    asetat  oleh  bakteri  asetogenik  dengan  reaksi  seperti  berikut
    (Said, 2006) :
    CH3CH2OH + CO2  CH3COOH + 2H2            …….. (pers. 1)
    Etanol                       Asam Asetat
    CH3CH2COOH + 2H2O  CH3COOH + CO2 + 3H2    …….. (pers. 2)
    Asam Propionat             Asam Asetat
    CH3CH2CH2COOH + 2H2O  2CH3COOH + 2H2     ……… (pers. 3)
    Asam Butirat                 Asam Asetat
    4. Metanogenesis.
    Pada  tahap  metanogenesis,  terbentuk  metana  dan
    karbondioksida. Metana dihasilkan dari asetat atau dari reduksi
    karbondioksida  oleh  bakteri  asetotropik  dan  hidrogenotropik
    dengan menggunakan hidrogen.
    Tiga  tahap  pertama  di  atas  disebut  sebagai  fermentasi  asam
    sedangkan tahap keempat disebut fermentasi metanogenik (Lettinga, et
    all,  1994).  Tahap  asetogenesis    terkadang  ditulis  sebagai  bagian  dari
    tahap asidogenesis.
    Fermentasi  asam  cenderung  menyebabkan  penurunan  pH  karena
    adanya  produksi  asam  lemak  volatil  dan  intermediet-intermediet  lain
    yang memisahkan  dan memproduksi  proton. Metanogenesis  hanya  akan
    berkembang  dengan  baik  pada  kondisi  pH  netral  sehingga
    ketidakstabilan  mungkin  muncul  sehingga  aktivitas  metanogen  dapat
    berkurang.  Kondisi  ini  biasa  disebut  souring (pengasaman)  (Lettinga,
    1994).
    Berbagai studi tentang digesti anerobik pada berbagai ekosistem
    menunjukkan bahwa 70 %  atau  lebih metana yang  terbentuk diperoleh
    dari  asetat  (pers.  1).  Jadi  asetat  merupakan  intermediet  kunci  pada seluruh  fermentasi  pada  berbagai  ekosistem  tersebut  (Main  et  al.
    1977).    Hanya  sekitar  33  %  bahan  organik  yang  dikonversi  menjadi
    metana melalui  jalur hidrogenotropik dari reduksi CO2 menggunakan H2
    (pers. 2) (Marchaim,1992).
    Reaksi  kimia  pembentukan  metan  dari  asam  asetat  dan  reduksi
    CO2 dapat dilihat pada persamaan reaksi berikut :
    Asetotropik metanogenesis :
    CH3COOH  CH4 + CO2  …………………………………. (pers. 1)
    Hidrogenotropik metanogenesis :
    4H2 + CO2  CH4 + H2O …………………………………. (pers. 2)
    Henzen  and  Harremoe  (1983)  dalam  Lettinga  et  all (1994)
    menyatakan bahwa bakteri yang memproduksi metana dari hidrogen dan
    karbondioksida  tumbuh  lebih  cepat  daripada  yang  menggunakan  asam
    asetat. Kecepatan  penguraian  biopolimer,  tidak  hanya  tergantung  pada
    jumlah jenis bakteri yang ada dalam reaktor, akan tetapi juga efisiensi
    dalam mengubah substrat dengan kondisi-kondisi waktu tinggal substrat
    di dalam  reaktor, kecepatan  alir  efluen,  temperatur dan pH  yang yang
    terjadi  di  dalam  bioreaktor.  Bilamana  substrat yang  mudah  larut
    dominan, reaksi kecepatan terbatas akan cenderung membentuk metana
    dari asam asetat dan dari asam lemak dengan kondisi stabil atau steady 
    state. Faktor  lain  yang mempengaruhi proses  antara  lain waktu  tinggal
    atau lamanya substrat berada dalam suatu reaktor sebelum dikeluarkan
    sebagai  sebagai  supernatan  atau  digested  sludge (efluen). 
    Minimum waktu tinggal harus lebih besar dari waktu generasi metan sendiri, agar
    mikroorganisme  didalam  reaktor  tidak  keluar  dari  reaktor  atau  yang
    dikenal dengan istilah wash out (Indriyati, 2005).
    Mikroba  yang  bekerja  butuh  makanan  yang  terdiri  atas
    karbohidrat, lemak, protein, fosfor dan unsur-unsur mikro. Lewat siklus
    biokimia,  nutrisi  diuraikan  dan  dihasilkan  energi  untuk  tumbuh.  Dari
    proses pencernaan anaerobik  ini akan dihasilkan gas metan. Bila  unsur-
    unsur  dalam  makanan  tak  berada  dalam  kondisi  yang  seimbang  atau
    kurang,  bisa  dipastikan  produksi  enzim  untuk  menguraikan  molekul
    karbon  komplek  oleh  mikroba  akan  terhambat.  Pertumbuhan  mikroba
    yang  optimum  biasanya  membutuhkan  perbandingan  unsur  C  :  N  :  P
    sebesar  150  :  55  :  1  (Jenie  dan  Winiati,  1993).  Namun,  aktivitas
    metabolisme dari bakteri metanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N
    sekitar 8-20 (Anonim, 2005).
    Ada  beberapa  senyawa  yang  bisa  menghambat  (proses)
    penguraian dalam  suatu  unit biogas  saat menyiapkan bahan baku  untuk
    produksi  biogas,  seperti  antiobiotik,  desinfektan  dan  logam  berat
    (Setiawan, 2005).

     
  • tituitcom 00.18 on 4 August 2012 Permalink  

    Keuntungan Serta Kelemahan Pengolahan Secara Anaerob 

     pengolahan  limbah  secara  anaerob  mempunyai  keuntungan  sebagai berikut :

    Sardjoko  (1991)  dalam  Hasan  (2004)  menyatakan  bahwa
    pengolahan  limbah  secara  anaerob  mempunyai  keuntungan  sebagai
    berikut :
    1. menghasilkan lumpur yang secara biologi sangat stabil
    2. memerlukan sedikit unsur hara karena menghasilkan sedikit jaringan
    sel
    3. tidak memerlukan energi untuk aerasi
    4. menghasilkan  gas metan  sebagai  produk  akhir  yang mempunyai  nilai
    ekonomis 
    5. lumpur anaerob dapat disimpan tanpa pemberian zat makanan
    Sedangkan kelemahannya adalah :
    1. agak peka terhadap kehadiran senyawa tertentu, seperti CHCl3, CCl4,
    dan CN
    2. diperlukan  waktu  start  up  yang  relatif  lama  sebagai  akibat
    pertumbuhan anaerob yang sangat lambat
    3. pada  dasarnya  merupakan  proses  pengolahan  awal  sehingga
    memerlukan pengolahan lanjutan untuk bisa dibuang
     Penanganan  secara  anaerobik  hanya  menurunkan  sebagian
    kandungan  bahan  organik  dan  dalam  banyak  kasus  diikuti  dengan
    penanganan aerobik (Mahida, 1984).  
    Indriyati  (2005)  menyatakan  bahwa  kemampuan  pertumbuhan
    bakteri metan sangat rendah, membutuhkan waktu dua sampai lima hari
    untuk penggandaannya,  sehingga membutuhkan  reaktor  yang bervolume
    cukup besar.
     Lamanya waktu pertumbuhan mikrobia mengakibatkan waktu start
    up menjadi lama. Hal ini bisa diatasi dengan penambahan bahan pengurai
    limbah  organik.  Bahan  pengurai  limbah  organik  tersebut  antara  lain
    Starbio Plus, Bio Fund, EMMA, EM-4, Decomic  (UMM, 2006), Bio2000
    serta  Starbio-CC  yang  terbukti  mampu  menguraikan  limbah  secara
    cepat, praktis dan mudah (Yusri, 2004).

     
  • tituitcom 00.14 on 4 August 2012 Permalink  

    Pengendalian Limbah Cair Tahu dengan Sistem Anaerobik 

     Pengendalian Limbah Cair Tahu dengan Sistem Anaerobik Salah  satu  dasar  pertimbangan  dalam  pemilihan  teknologi pengolahan  limbah  cair  adalah  karakteristik  limbah  cair  (Pusteklim, tanpa tahun)

    Pengendalian Limbah Cair Tahu dengan Sistem Anaerobik
    Salah  satu  dasar  pertimbangan  dalam  pemilihan  teknologi
    pengolahan  limbah  cair  adalah  karakteristik  limbah  cair  (Pusteklim,
    tanpa tahun).
    Dengan  melihat  karakteristik  limbah  cair  tahu  di  atas,  maka
    limbah cair tahu tergolong  limbah cair yang mengandung bahan organik
    yang  tinggi  dan  pada  umumnya  biodegradable atau  mudah  diurai  oleh
    mikrobia.  Kondisi  tersebut  akan  sangat  menguntungkan  untuk  diolah
    dengan  proses  biologis,  yaitu memanfaatkan  kehidupan mikrobia  untuk
    menguraikan zat organik. Menurut Metcalf dan Eddy (1991), penanganan
    limbah secara biologik adalah untuk menghilangkan bahan-bahan terlarut
    dan  bahan  padat  koloid  yang  tidak  mengendap  (non  settleable  colloid
    solid).
     Jenie  dan  Winiati  (1993)  menyatakan  bahwa  sistem  biologik
    merupakan sistem utama yang digunakan untuk menangani limbah organik
    secara  aerob  maupun  anaerob.  Proses-proses  yang  berlangsung
    berdasarkan  pada  dasar-dasar  mikrobiologi.  Mikroorganisme
     Beberapa alasan yang dipakai untuk penggunaan proses anaerobik
    dalam penanganan  limbah antara  lain  :  laju reaksi  lebih tinggi dibanding
    aerobik, kegunaan produk akhir dan stabilisasi bahan organik (Wagiman,
    2004)
     Karakteristik  proses  pengolahan  anaerobik  dapat  dijelaskan
    sebagai berikut (Pusteklim, tanpa tahun) :
    1. mampu  menerima  beban  organik  yang  tinggi  per  satuan  volume
    reaktornya sehingga volume reaktor relatif  lebih kecil dibandingkan
    dengan proses aerobik
    2. tanpa energi untuk prosesnya tetapi dapat menghasilkan energi
    3. menghasilkan surplus lumpur yang rendah
    4. pertumbuhan mikroba yang lambat
    5. membutuhkan stabilitas pH pada daerah netral (6,5-7,5)
     Menurut  Lettinga  (1994)  faktor-faktor  lingkungan  yang  sangat
    berpengaruh pada pengolahan  limbah secara anaerobik adalah suhu, pH,
    adanya  nutrien  essensial  (makronutrien,  nitrogen,  phosphor,  dan
    mikronutrien), serta tidak adanya senyawa racun.
    Bakteri-bakteri anaerobik mesofilik mampu tumbuh pada suhu 20
    – 45
    o
    C  (Jenie  dan Winiati,  1993).  Proses  digesti  akan  optimum  pada
    suhu 35 – 40
    OC untuk range mesofil dan 55
    OC untuk termofil. Nilai dan
    kestabilan  pH  pada  reaktor  anaerobik  sangat  penting  karena
    metanogenesis  terjadi  pada  kisaran  pH  netral  (6,3  – 7,8).  Senyawa
    racun  yang  berpengaruh  adalah  logam  berat,  senyawa  kloro-organik,
    oksigen  dan  sulfida.  Sebagian  oksigen  masuk  saat  distribusi  influen,
    namun  selanjutnya digunakan dalam metabolisme oksidatif  pada proses
    asidogenesis  sehingga  tidak  ada  lagi  oksigen  terlarut  dalam  reaktor
    (Lettinga, 1994).

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal