Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 22.38 on 10 September 2012 Permalink  

    Orang yang kaya jiwa adalah 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Kekayaan Yang Paling Berharga

    Setiap orang jika ditanya kekayaan yang paling mahal harganya dan yang paling disukai, maka hampir pasti mereka akan menjawab : uang, mobil, rumah, berlian dan seterusnya. Jawaban itu tidak salah. Memang itu semua sudah umum dipandang sebagai kekayaan. Seseorang disebut kaya dan orang lainnya disebut miskin, perbedakan itu semata-mata karena kepemilikan harta. Orang disebut kaya jika ia memiliki rumah besar, uang banyak, mobil mewah, tabungan banyak di bank dan seterusnya. Sebaliknya orang disebut miskin jika ia tidak memiliki rumah, tidak punya tabungan, tidak punya mobil dan juga tidak memiliki penghasilan dan tidak memiliki apa-apa. Itulah ciri orang miskin.
    Sekalipun menurut pandangan sebagian besar orang, anggapan ini benar, tetapi pertanyaannya kemudian adalah, apakah tidak ada ukuran selain itu. Kita sering dengar ada juga pandangan yang mengatakan, biar miskin harta asalkan tidak miskin jiwa. Dengan kalimat ini, artinya ada orang yang sekalipun tidak memiliki harta, tetapi merasa memiliki jiwa yang luas dan kukuh, lebih disukai. Sebaliknya, ada orang yang kaya harta benda, tetapi sesungguhnya ia miskin. Jika harus memilih, memang yang terbaik adalah menjadi kaya harta sekaligus kaya jiwa. Tetapi, jika alternatif ini tidak boleh dipilih, maka ternyata ada orang yang lebih memilih kaya jiwa daripada kaya harta.
    Kemudian, siapa sesungguhnya orang yang disebut memiliki kekayaan jiwa itu. Saya pernah mendapat ceritera, ada seorang pegawai departemen agama, ketika memasuki pensiun, segera baju korpri dan baju saparinya dicuci dan disetelika. Tatkala, pegawai yang tergolong rendah, hanya menduduki jabatan di tingkat kabupaten diundang untuk acara pelepasan pensiun, baju-baju tersebut dengan ikhlas diserahkan ke kantor dengan maksud agar jika diperlukan, agar dipakai oleh pegawai lainnya. Tokh kata dia, setelah pensiun dia tidak akan menggunakan baju seragam itu lagi. Inilah menurut padangan saya contoh orang yang tergolong kaya jiwa.
    Sebaliknya dari ceritera di atas, sebagai contoh orang berjiwa kerdil yang juga disebut miskin jiwa, dapat dicontohkan lewat kasus berikut. Seorang pejabat, sekian banyak keluarganya dimasukkan di lembaga yang ia pimpin, sekalipun tidak memenuhi syarat. Ia berpikir, daripada diisi orang lain, apa salahnya diisi keluarganya sendiri. Bahkan, saudara dekatnya diberi fasilitas untuk pengadaan semua kebutuhan kantor. Itu dilakukan dengan alasan efisiensi, dan agar cepat. Kasus seperti ini, sederhana dan aneh, tetapi gampang sekali ditemui di mana-mana. Inilah gambaran orang yang hanya sebatas mementingkan dirinya sendiri dan abai pada orang lain. Satu sisi dia menjadi kaya, dihormati keluarganya dan diperjuangkannya, akan tetapi sesungguhnya dia hanya memiliki �aku� kecil, sebatas keluarganya, belum meraih �aku� besar, ialah masyarakatnya.
    Orang yang kaya jiwa adalah orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri, berani menghadapi tantangan hidup, ikhlas, sabar dan mampu membagikan kasih sayangnya kepada semua. Ia tidak takut miskin dan tidak takut pula kehilangan harta maupun jabatannya, yang ditakutkan adalah jika keberadaannya tidak memberi manfaat bagi orang lain. Lalu, siapa sesungguhnya orang yang miskin jiwa itu. Tidak lain adalah orang yang tidak menyandang sifat yang dimiliki oleh orang yang berjiwa besar itu. Sehingga, sekalipun hartanya melimpah, tetapi jika dia bakhil, pelit terhadap orang lain, maka harta yang dikumpulkan dengan susah payah, tokh akhirnya juga tidak memberi manfaat pada siapa saja, termasuk kepada dirinya sendiri.
    Iklan
     
  • tituitcom 22.36 on 10 September 2012 Permalink  

    Sebagai seorang penyandang Ulul al Baab 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Mari Meng “Ulul Al Baab” Kan Diri

    Universitas Islam Negeri Malang memiliki logo berupa tulisan dengan menggunakan huruf Arab berbunyi �ulul al Baab�. Logo itu sudah menjadi milik dan bahkan kebanggaan semua warga kampus. Ketika menyebut UIN Malang maka yang tergambar, satu di antaranya, adalah sebutan �ulul al Baab� itu. Logo itu ada di semua simbul-simbul UIN Malang, seperti di bendera, stempel, jaket almamater, buku-buku terbitan UIN Malang dan bahkan di mobil dan lain-lain yang dibanggakan oleh warga kampus, tidak luput dari logo itu.

    Kata Ulul al Baab sendiri diambil dari al Qur�an. Tidak kurang dari 16 ayat al Qur�an menyebut kata ini. Sedemikian agung maknanya, kata itu menggambarkan seseorang yang sempurna. Di antaranya ada pada surat Ali Imran 190-191. Pada ayat itu digambarkan bahwa penyandang Ulul al Baab �dala orang yang selalu berdzikir dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring, serta selalu memikirkan ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun di bumi.

    Penggunaan logo ini, sudah barang tentu memiliki maksud yang mulia. Yaitu, agar seluruh warga kampus, baik pimpinan, dosen, karyawan, mahasiswa dan bahkan seluruh alumni memiliki pribadi, watak, karakter sebagaimana yang tergambar pada simbul ini. Mereka di mana saja dan kapan saja sebagai penyandang identitas Ulul al Baab selalu ingat pada Allah swt., dan selalu memikirkan ciptaan-Nya. Orang selalu ingat pada Allah swt., akan selalu sadar keberadaannya, yaitu hanya ingin mengabdi pada-Nya. Hati mereka selalu diliputi oleh keimanan yang kokoh dan selalu melakukan sesuatu dengan kualitas yang terbaik, gemar beramal sholeh. Mereka akan selalu menghiasi dirinya dengan akhlak, sebagaimana dicontohkan oleh utusan-Nya, yaitu Muhammad saw.

    Sebagai seorang penyandang Ulul al Baab, ia adalah sekaligus sebagai seorang ilmuwan, atau ulama� sejati. Ia selalu bertanya tentang ciptaan Allah yang dahsyad, yaitu alam dan jagad raya ini. Tidak henti-hentinya ia bertanya tentang apa, dari mana dan kemana semua ciptaan ini. Segala yang diciptakan oleh Allah dalam keadaan sempurna dan tidak ada yang sia-sia. Pergumulan dan penjelajahan pemikirannya, sebagai seorang penyandang Ulul al Baab, akan melahirkan sifat-sifat mulia, yaitu bersyukur, sabar, ikhlas, tawadhu�, tawakkal, istiqomah, dan selalu berserah diri hanya pada Allah swt.

    Oleh karena itu, sesungguhnya yang dicita-citakan oleh UIN Malang melalui logo yang dicintai itu adalah agar melalui kampus ini terbangun pribadi-pribadi mulia, pribadi luhur dan pribadi yang dicintai oleh Allah swt., dan bukan sebatas pribadi yang kaya gelar akademik, apalagi dengan itu menjadi sombong dan angkuh. Yang diinginkan melalui UIN Malang adalah terbangunnya orang yang hatinya selalu ingat Allah swt, terpaut dengan masjid, selalu peduli sesama, menjadi manusia terbaik, yaitu yang selalu memberi manfaat bagi orang lain, penyandang ilmu dan akhlak mulia.

    Sungguh mulia cita-cita ini. Maka, untuk mewujudkannya disusunlah konsep tarbiyatul ulul al baab. Selain itu dibangunlah kultur seperti selalu meninggalkan kegiatan apa saja tatkala terdengar seruan adzan dan segera menuju masjid untuk sholat berjama�ah, membaca al Qur�an bersama-sama, selalu beribadah, bekerja dan memberikan yang terbaik, membiasakan bersikap terbuka, adil dan Jujur, sabar, ikhlas dan istiqomah. Begitu indah cita-cita yang tertuang pada logo kampus ini, maka selayaknyalah kita wujudkan Ulul al Baab secara ber-sama-2, dengan mulai �dari diri kita masing-masing�.http://www.imamsuprayogo.com/viewd_artikel.php?pg=9

     
  • tituitcom 22.26 on 10 September 2012 Permalink  

    Alkisah seorang raja yang kaya raya dan sangat baik, 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Alkisah seorang raja yang kaya raya dan sangat baik, ia mempunyai banyak sekali emas dan kuningan, karena terlalu banyak sehingga antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu. Suatu hari raja yang baik hati ini memberikan hadiah emas kepada seluruh rakyatnya, dia membuka gudangnya lalu mempersilakan rakyatnya mengambil kepingan emas terserah mereka.
    Karena antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu sehingga sulit sekali di bedakan, mana yang emas dan mana yang kuningan, lalu mana yang emasnya 24 karat dan mana yang emasnya hanya 1 karat, namun ada peraturan dari sang raja, yaitu apabila mereka sudah memilih dan mengambil satu dari emas itu, mereka tidak boleh mengembalikannya lagi.
    Tetapi raja menjanjikan bagi mereka yang mendapat emas hanya 1 karat atau mereka yang mendapatkan kuningan, mereka dapat bekerja dikebun raja dan merawat pemberian raja itu dengan baik, maka raja akan menambah dan memberikan kadar karat itu sedikit demi sedikit.
    Mendengar itu bersukacitalah rakyatnya, sambil mengelu-elukan rajanya. Mereka datang dari penjuru tempat, dan satu persatu dari mereka dengan berhati-hati mengamat-amati benda-benda itu, waktu yang diberikan kepada mereka semua ialah satu setengah hari, dengan perhitungan setengah hari untuk memilih, setengah hari untuk merenungkan, dan setengah hari lagi untuk memutuskan.
    Para prajurit selalu siaga menjaga keamanan pemilihan emas tersebut, karena tidak jarang terjadi perebutan emas yang sama diantara mereka. Selama proses pemilihan berlangsung, seorang prajurit mencoba bertanya kepada salah seorang rakyatnya, “apa yang kau amat-amati, sehingga satu setengah hari kau habiskan waktumu disini?”, jawab orang itu “tentu saja aku harus berhati-hati, aku harus mendapatkan emas 24 karat itu”,
    lalu tanya prajurit itu lagi “seandainya emas 24 karat itu tidak pernah ada, atau hanya ada satu diantara setumpuk emas ini, apakah engkau masih saja mencarinya?, sedangkan waktumu sangat terbatas”, jawab orang itu lagi “tentu saja tidak, aku akan mengambil emas terakhir yang ada ditanganku begitu waktuku habis”.
    Lalu prajurit itu berkeliling dan ia menjumpai seorang yang tampan,melihat perangainya ia adalah seorang kaya, bertanyalah prajurit itu kepadanya “hai orang kaya apa yang kau cari disini, bukankah engkau sudah lebih dari cukup?” ,jawab orang kaya itu “bagiku hidup adalah uang, kalau aku bisa mengambil emas ini, tentu saja itu berarti menambah keuntunganku”.
    Kemudian prajurit itu kembali mengawasi satu persatu dari mereka, maka tampak olehnya seseorang, yang sejak satu hari ia selalu menggenggam kepingan emasnya, lalu dihampirinya orang itu “mengapa engkau diam disini?, tidakkah engkau memilih emas-emas itu? atau tekadmu sudah bulat untuk mengambil emas itu?”, mendengar perkataan prajurit itu, orang ini hanya diam saja, maka prajurit itu bertanya lagi “atau engkau yakin bahwa itulah emas 24 karat, sehingga engkau tidak lagi berusaha mencari yang lain?”, orang itu masih terdiam, prajurit itu semakin penasaran, lalu ia lebih mendekat lagi
    “tidakkah engkau mendengar pertanyaanku?”, sambil menatap prajurit, orang itu menjawab “tuan saya ini orang miskin, saya tidak pernah tahu mana yang emas dan mana yang kuningan, tetapi hati saya memilih emas ini, sayapun tidak tahu, berapa kadar emas ini, atau jika ternyata emas ini hanya kuninganpun saya juga tidak tahu”. “lalu mengapa engkau tidak mencoba bertanya kepada mereka, atau kepadaku kalau engkau tidak tahu” tanya prajutit itu lagi.
    “Tuan emas dan kuningan ini milik raja, jadi menurut saya hanya raja yang tahu, mana yang emas dan mana yang kuningan, mana yang 1 karat dan mana yang 24 karat. Tapi satu hal yang saya percaya janji raja untuk mengubah kuningan menjadi emas itu yang lebih penting” jawabnya lugu. Prajurit ini semakin penasaran “mengapa bisa begitu?”, “bagi saya berapapun kadar karat emas ini cukup buat saya, karena kalau saya bekerja, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun menabung untuk membeli emas tuan”
    prajurit tampak tercengang mendengar jawaban dari orang ini, lalu ia melanjutkan perkataannya “lagi pula tuan, peraturannya saya tidak boleh menukar emas yang sudah Saya ambil”, “tidakkah engkau mengambil emas-emas yang lain dan menukarkannya sekarang, selagi masih ada waktu?” tanya prajurit lagi, “saya sudah menggunakan waktu itu, kini waktu setengah hari terakhir saya,
    inilah saatnya saya mengambil keputusan, jika saya gantikan emas ini engan yang lain, belum tentu saya mendapat yang lebih baik dari punya saya ini, saya memutuskan untuk mengabdi pada raja dan merawat milik saya ini,untuk menjadikannya emas yang murni”, tak lama lagi lonceng istana berbunyi,tanda berakhir sudah kegiatan mereka.
    Lalu raja keluar dan berdiri ditempat yang tinggi sambil berkata “wahai rakyatku yang kukasihi, semua emas yang kau genggam itu adalah hadiah yang telah kuberikan, sesuai dengan perjanjian, tidak seorangpun diperbolehkan menukar ataupun menyia-nyiakan hadiah itu, jika didapati hal diatas maka orang itu akan mendapat hukuman karena ia tidak menghargai raja” kata-kata aja itu disambut hangat oleh rakyatnya.
    Lalu sekali lagi dihadapan rakyatnya raja ingin memberitahu tentang satu hal “dan ketahuilah, bahwa sebenarnya tidak ada emas 24 karat itu, hal ini dimaksudkan bahwa kalian semua harus mengabdi kepada kerajaan, dan hanya akulah yang dapat menambah jumlah karat itu, karena akulah yang memilikinya. Selama satu setengah hari, setengah hari yang kedua yaitu saat kuberikan waktu kepada kalian semua untuk merenungkan pilihan, kalian kutunggu untuk datang kepadaku menanyakan perihal emas itu, tetapi sayang sekali hanya satu orang yang datang kepadaku untuk menanyakannya”. Demikianlah raja yang baik hati dan bijaksana itu mengajar rakyatnya,dan selama bertahun-tahun ia dengan sabar menambah karat satu persatu dari emas rakyatnya.
    Dikutip dari : Kumpulan Sharing dan Cerpen Judul Asli: When We Have to Choice Berharap melalui alkisah diatas kita dapat merefleksi diri dalam mencari pasangan hidup :
    • Bagi yang sedang mencari pasangan alias cari pacar(setengah hari untuk memilih) Memilih memang boleh tapi manusia tidak ada yang sempurna, jangan lupa emas-emas itu milik sang raja, jadi hanya dia yang tahu menahu masalah itu, artinya setiap manusia milik Tuhan jadi berdoalah untuk berkomunikasi denganNya tentang pasangan Anda.
    • Bagi yang telah memperoleh pasangan tapi belum menikah (setengah hari untuk merenungkan) Mungkin pertama kali Anda mengenal, si dia nampak emas 24 karat,ternyata setelah bertahun-tahun kenal, si dia hanya berkadar 10 karat. Diluar, memang kita dihadapkan dengan banyak pilihan, sama dengan rakyat yangm memilih emas tadi, akan tetapi pada saat kita sudah mendapatkannya, belum tentu waktu kita melepaskannya kita mendapat yang lebih baik. Jadi jika dalam tahap ini Anda merasa telah mendapatkan dia, hal yang terbaik dilakukan ialah menilai secara objektiv siapa dia (karena itu keterbukaan dan komunikasi sangat penting dalam menjalin hubungan), dan menyelaraskan hati Anda bersamanya, begitu Anda tahu tentang hal terjelek dalam dirinya sebelum Anda menikah itu lebih baik, dengan demikian Anda tidak merasa shock setelah menikah, tinggal bagaimana Anda menerimanya, Anda mampu menerimanya atau tidak, Anda mengusahakan perubahannya atau tidak,”cinta selalu berjuang”, dan jangan anggap tidak pernah ada masalah dalam jalan cinta Anda, justru jika dalam tahap ini Anda tidak pernah mengalami masalah dengan pasangan Anda (tidak pernah bertengkar mungkin). Anda malah harus berhati- hati, karena ini adalah hubungan yang tidak sehat, berarti banyak kepura-puraan yang ditampilkan dalam hubungan Anda yang terpenting adalah niat baik diantara pasangan, sehingga dengan komitmen dan cinta, segala sesuatu selalu ada jalan keluarnya. Meskipun dalam tahap ini Anda masih punya waktu setengah hari lagi untuk memutuskan, artinya anda masih dapat berganti pilihan, akan tetapi pertimbangkan dengan baik hal ini.
    • Bagi yang telah menikah (setengah hari untuk memutuskan) Dalam tahap ini, siapapun dia berarti anda telah mengambil keputusan untuk memilihnya, jangan berfikir untuk mengambil keuntungan dari pasangan Anda, jika ini terjadi berarti Anda egois, sama halnya dengan orang kaya diatas, dan dengan demikian Anda tidak pernah puas dengan diri pasangan Anda,maka tidak heran banyak terjadi perselingkuhan. Anda tidak boleh merasa menyesal dengan pilihan Anda sendiri,jangan kuatir raja selalu memperhatikan rakyatnya, dan menambah kadar karat pada emasnya.
    Jadi percayalah kalau Tuhan pasti akan memperhatikan Anda, dan Dia yang paling berkuasa mengubah setiap orang. Perceraian bukanlah solusi, sampai kapan kita harus menikah lalu bercerai, menikah lagi dan bercerai lagi ???, ingatlah si dia adalah hadiah, siapapun dia terimalah dia karena sekali lagi itulah pilihan Anda, ingat ini adalah setengah hari terakhir yaitu waktu untuk memutuskan, setelah itu Anda tidak boleh menukar atau meyia-nyiakan emas Anda, jadi peliharalah pasangan Anda sebagaimana hadiah terindah yang telah Tuhan berikan. Dan apapun yang terjadi dengan pasangan Anda komunikasikanlah dengan Tuhan, karena Dia yang memiliki hati setiap manusia ……..
     
  • tituitcom 03.19 on 12 August 2012 Permalink  

    Cinta terhadap harta, kekayaan, atau uang adalah manusiawi. 

    Cinta terhadap harta, kekayaan, atau uang adalah manusiawi. Artinya,   manusia di manapun dan kapanpun selalu mencintai harta  atau uang. Bahkan persoalan sosial, politik, hukum dan lain-lain selalu terkait dengan persoalan uang atau kekayaan ini. Beberapa orang bersatu hanya oleh karena didorong untuk mendapatkan uang bersama-sama.  Begitu  pula sebaliknya,  konflik dan bahkan perang   disebabkan,  di antaranya  oleh perebutan uang.
    Dengan uang, maka  kebutuhan seseorang  akan tercukupi, merasa derajat atau harkat dan martabatnya dihargai orang lain.  Selain itu, dengan banyak uang, ——-lebih-lebih sekarang ini, siapapun bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi, pendidikan, kemewahan, dan bahkan keadilan tatkala sedang membutuhkannya. Oleh karena itulah maka, uang dipandang segala-galanya dan dikejar-kejar untuk diperebutkan.
    Sedemikian cintanya terhadap harta,  sehingga   untuk mendapatkannya,   tidak sedikit orang  menempuh cara tidak benar, misalnya lewat berbohong dan atau korupsi bagi mereka yang berkesempatan.  Resiko  atas tindakannya itu,  ——-oleh karena kecintaannya terhadap uang,  tidak pernah diperhitungkan. Mereka mengira, bahwa  kekuasaan  atau posisi strategis di yang diduduki  tidak akan ada orang yang berani menyentuhnya.
    Anggapan tersebut ternyata keliru. Oleh karena terlalu banyak uang yang dikorupsi dan diketahui oleh publik, maka  yang bersangkutan ditangkap, diusut,  dan akhirnya dipenjara. Tatkala sudah sampai pada tahap ini, maka martabat seseorang sudah tidak ada harganya lagi. Sehari-hari yang dihadapi adalah penyelidik yang berusaha menggali berbagai kemungkinan penyimpangan yang telah dilakukannya.
    Harkat dan martabat seseorang, oleh karena menjadi terdakwa, seakan-akan lenyap. Orang akan menjadikannya sebagai bahan gunjingan, cemoohan dan bahkan hujatan yang tidak putus-putusnya. Media massa seperti koran, majalah, televisi dan lain-lain menyebarluaskan berita tentang kejahatan itu. Jika sudah pada taraf itu, maka kesedihan tidak saja dirasakan oleh yang bersangkutan,  tetapi juga oleh keluarga, sahabat dan bahkan  orang-orang  yang kebetulan sekelompok atau seorganisasi.    
    Nama-nama orang yang sekarang ini sehari-hari  menjadi buah bibir masyarakat  adalah  oleh karena yang bersangkutan korupsi milyaran rupiah.   Hal itu merupakan contoh nyata,  betapa sebenarnya uang  dengan mudah merusak  harkat dan martabat  pemiliknya, manakala cara memperolehnya tidak benar. Mungkin saja, andaikan mereka tahu dan sadar,  bahwa tindakannya akan membawa nasib  seperti itu, yang bersangkutan  berpikir panjang  melakukan kejahatan itu. 
    Uang ternyata tidak selalu membawa kebahagiaan sebagaimana yang diduga oleh banyak orang. Manakala cara mendapatkannya tidak benar,  ——-lewat  korupsi misalnya, maka harta justru akan menjadikan pemiliknya sengsara,  dan bahkan harkat dan martabatnya lenyap. Harta atau uang, jika cara mendapatkannya tidak benar, justru menjadi kendaraan menuju  kesengsaraan.
    Ajaran Islam mengingatkan kepada umatnya tentang darimana harta itu diperoleh, untuk apa, dan apakah sudah dibersihkan dari hak-hak orang lain. Uang memang bisa digunakan bekal meraih kebahagiaan, tetapi sebaliknya jika salah menggunakannya maka  akan mengantarkan  pemiliknya menemui kesengsaraan dan kenistaan. Harkat dan martabat seseorang  menjadi jatuh dan rusak  oleh karena  cara mendapatkan uang  tidak benar. Wallahu a’lam.
     
  • tituitcom 03.18 on 12 August 2012 Permalink  

    Cara Konyol Mencegah Penularan HIV/Aids 

    Akhir-akhir ini diperoleh data bahwa penyebaran penyakit HIV/Aids jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hubungan sex bebas di mana-mana merupakan sebab utama terjadinya penyakit yang mematikan itu.  Keadaan itu tentu menakutkan banyak pihak, termasuk oleh para pelaku sex bebas itu sendiri. Agaknya aneh, orang tetap menginginkan sex bebas tetapi tidak mau menanggung akibatnya.
    Bahayanya,  penyakit itu bisa  menular kepada orang lain, baik lewat hubungan sex suami isteri atau  media lainnya. Seorang isteri yang bersuamikan laki-laki yang terkena penyakit  mematikan  itu bisa tertulari. Demikian pula, bayi yang lahir dari  ibu yang berpenyakit HIV/Aids bisa tertular. Bahkan penularan itu juga bisa terjadi lewat alat-alat kesehatan, semisal jarum suntik.
    Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit yang mengerikan itu muncul ide, yaitu  dengan cara membagi-bagikan alat kontrasepsi sederhana berupa kondon kepada siapapun yang akan melakukan hubungan sex, termasuk anak-anak sekolah. Logika yang digunakan  sederhana, yaitu  bahwa hubungan sex bebas di zaman modern ini sudah tidak mungkin dicegah lagi.
    Mereka  berpandangan  bahwa,  melarang sex bebas dengan cara apapun   sudah tidak efektif. Maka cara yang dianggap tepat   adalah melakukan pencegahan dari akibat perilaku menyimpang itu. Pencegahan yang dimaksud adalah mengamankan dari proses penularan penyakit itu. Sekalipun melakukan perzinahan tetapi aman  dari  berbagai resiko, termasuk tertular dari penyakit HIV.  
    Sudah barang tentu, pikiran itu sangat bertentangan nilai-nilai agama. Zina adalah dosa besar yang harus dijauhi. Akibat dari perbuatan zina tidak saja  diterima di dunia, ——-semacam tertular penyakit HIV dan sejenisnya, tetapi juga di akherat. Para pezina akan dilempar  ke neraka. Oleh karena itu, bagi siapapun yang beriman, akan sejauh mungkin menghindarkan diri dari perbuatan buruk yang dilarang oleh agama itu.
    Pikiran orang yang akan memfasilitasi kondom kepada  siapapun yang melakukan sex bebas, termasuk pada anak-anak sekolah,  adalah menggambarkan bahwa yang bersangkutan tidak paham terhadap agama. Mereka mengira bahwa keselamatan itu hanya untuk di dunia, dan tidak berjangkauan jauh hingga akherat. Agama, ——Islam,  mengajari umatnya berpikir jangka jauh dan komprehensif. 
    Sebaliknya,  rencana membagi kondom gratis yang dimaksudkan untuk mencegah penyakit HIV/Aids,  adalah pikiran konyol. Mereka tidak sadar bahwa dengan cara itu akan menumbuh-kembangkan hubungan sex bebas yang sebenarnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai tradisi, bangsa, dan bahkan agama.
    Jika pikiran konyol tersebut  akhirnya diterima, maka sama halnya dengan meruntuhkan harkat dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijaga dan dijunjung tinggi. Bangsa ini masih ada dan tetap akan ada sepanjang tidak berpikir konyol dan masih konsisten menjaga nilai-nilai  agama yang luhur dan  mulia itu. Wallahu a’lam.  
     
  • tituitcom 21.07 on 9 August 2012 Permalink  

    Mewaspadai Lisan 

    Mewaspadai Lisan

    Lisan, bentuknya memang relatif kecil bila dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, namun ternyata memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Celaka dan bahagia ternyata tak lepas dari bagaimana manusia memanajemen lidahnya. Bila lidah tak terkendali, dibiarkan berucap sekehendaknya, alamat kesengsaraan akan segera menjelang. Sebaliknya bila ia terkelola dengan baik , hemat dalam berkata, dan memilih perkataan yang baik-baik, maka sebuah alamat akan datangnya banyak kebaikan..
    Di saat kita hendak berkata-kata, tentunya kita harus berpikir untuk memilihkan hal-hal yang baik untuk lidah kita. Bila sulit mendapat kata yang indah dan tepat maka ahsan (mendingan) diam. Inilah realisasi dari sabda Rasulullah sholallohu alaihi wasalam
    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam ( HR Muslim )
    di samping itu kita pun harus paham betul manakah lahan-medan kejelekan sehingga lidah kita tidak keliru memijaknya. Kita harus tahu apakah sebuah hal termasuk dalam bagian dosa bagi lidah kita atau tidak? Bila kita telah tahu , tentunya kita bersegera untuk meninggalkannya.
    Diantara medan-medan dosa bagi lidah kita antara lain..
    • Ghibah
      Ghibah bila didefinisikan maka seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah sholallohu alaihi wasalam
      “Engkau menyebutkan tentang saudaramu, dengan apa-apa yang dia benci” terus bagaimana jika yang kita bicarakan tersebut memang benar-benar ada pada saudara kita? “Jika memang ada padanya apa yang engkau katakan maka engkau telah meng-ghibahinya, dan bila tidak ada padanya maka engkau telah berdusta” (HR. Muslim)
      Di dalam Al quran , Allah ta’ala menggambarkan orang yang meng-ghibahi saudaranya seperti orang yang memakan bangkai saudaranya:
      “Janganlah kalian saling memata-matai dan jangan mengghibahi antara satu dengan yang lain, sukakah kalian memakan daging saudaranya tentu kalian akan benci” ( Al Hujurat 12)

    Tentu sangat menjijikkan makan daging bangkai , semakin menjijkkan lagi apabila yang dimakan adalah daging bangkai manusia , apalagi saudara kita sendiri. Demikianlah ghibah, ia pun sangat menjijkkan sehingga sudah sepantasnya untuk dijauhi dan dan ditinggalkan.
    Lebih ngeri bila berbicara tentang ghibah, apabila kita mengetahui balasan yang akan diterima pelakunya. Seperti dikisahkan oleh Rasulullah sholallohu alaihi wasalam di malam mi’rajnya. Beliau menyaksikan suatu kaum yang berkuku tembaga mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Rasul pun bertanya tentang keberadaan mereka, maka dijawab bahwa mereka lah orang-orang yang ghibah melanggar kehormatan orang lain.

    • Namimah
      Kalau diartikan ia bermakna memindahkan perkataan dari satu kaum kepada kaum yang lain untuk merusak keduanya. Ringkasnya “adu domba”. Sehingga Allah mengkisahkan tentang mereka dalam Al-Qur’an. Mereka yang berjalan dengan namimah , menghasut, dan mengumpat. Di sekitar kita orang yang punya profesi sebagai tukang namimah sangat banyak bergentayangan, dan lebih sering di kenal sebagai provokator-kejelekan. Namimah bukan hal yang kecil , bahkan para ulama mengkatagorikannya di dalam dosa besar . Ancaman Rasulullah bagi tukang namimah

      ” tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba (HR Bukhari)
      akibat ghibah ini sangat besar sekali, dengannya terkoyak persahabatan saudara karib dan melepaskan ikatan yang telah dikokohkan oleh Allah. Ia pun mengakibatkan kerusakan di muka bumi serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
    • Dusta
      Dusta adalah menyelisihi kenyataan atau realita. Dusta bukanlah akhlaq orang yang beriman, bahkan ia melekat pada kepribadian orang munafiq
      “Tiga ciri orang munafik, apabila berkata berdusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila dipercaya berkhianat (HR Bukhari dan Muslim)
      padahal orang munafik balasannya sangat mengerikan “di bawah kerak api neraka” Dusta pun mengantarkan pelakunya kepada kejelekan “Sungguh kedustaan menunjukkan kepada kejelekan dan kejelekan mengantarkan kepada neraka.
     
  • tituitcom 16.11 on 9 August 2012 Permalink  

    Tentang Memuji Pasangan 

     Tentang Memuji Pasangan
    Suatu saat saya berbincang dengan seorang ibu rumah tangga tentang memuji pasangan. Dia terkejut ketika tahu bahwa saya dan suami sering saling memuji, karena dia berpikir itu bukanlah hal penting dan bisa membuat pasangan GR. Saya tersenyum, mengingat betapa seringnya kami saling memuji hingga kadang pipi memerah karena senangnya. Tadinya saya pikir kebiasaan saling memuji ini hanya bertahan selama awal pernikahan saja, tetapi ternyata setelah sekian lama, kami masih sering melakukan hal itu. Ada perasaan berbunga bunga ketika suami memuji kecantikan saya saat saya berdandan rapi atau ekspresinya ketika memakan kue buatan saya, hmmm..uenak banget dek…padahal saya tahu kuenya tidak terlalu enak karena saya baru mulai belajar memasak ketika menikah. Saya juga pernah melihat suami saya tersenyum senyum bangga saat saya bilang..mas ganteng banget deh kalo pakai baju ini…..meskipun setelahnya dia jadi sering memakai baju itu sampai warnanya memudar dan bahannya menjadi rusak.

    Memuji pasangan, mungkin bukan perbuatan yang mudah tetapi juga tidak terlalu sulit,. Untuk sebagian pasangan, memuji mungkin bukan hal yang penting tetapi bisa jadi penting untuk suatu kondisi tertentu. Terkadang manusia butuh penghargaan untuk memotivasi dirinya. Seperti halnya ketika suami memuji masakan saya, meskipun saya tahu rasanya tidak jelas, tetapi itu justru membuat saya bersemangat untuk membuat masakan dengan rasa yang lebih enak lagi, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya saya kalau suami mencela masakan saya.

    Seperti yang dikatakan teman saya tadi, bisa jadi pasangan GR setelah dipuji, tetapi saya yakin tidak ada orang yang tidak senang ketika dipuji, dan bukankah Islam pun menganjurkan dalam rumah tangga untuk saling menyenangkan satu sama lain. Bahkan Rasulullah pun sering menghargai dan menyenangkan hati istri-istrinya dengan pujian. Begitu banyak pahala yang bertaburan dalam suatu rumah tangga, dan memuji pasangan merupakan salah satu pahala yang bertaburan itu, tinggal bagaimana kita apakah mau meraihnya atau tidak. So…kenapa masih pelit memuji pasangan?

    Hanifa Syahida

     
  • tituitcom 15.59 on 9 August 2012 Permalink  

    "Hidup Cukup" 

    “Hidup Cukup”      
    Bang Uki telah lebih dari 20 tahun berdagang nasi uduk di pinggir Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Uduk yang sungguh enak. Tiap pagi puluhan orang antre untuk makan di tempat atau dibawa pulang. Paling lama dua jam saja seluruh dagangan Bang Uki-ada empal, telur, semur daging, tempe goreng-ludes habis. Begitu setiap hari, 20 tahun lebih.
    Pertengahan 1980-an, ekonomi Orde Baru tengah menanjak ke puncak ketinggiannya. Bang Uki, dengan ritme stabil batang pohon cabai yang terus berproduksi, belanja pukul satu dini hari, masak mulai pukul dua, berangkat pukul empat, dan seusai subuh telah menggelar barang dagangnya. Tepat jam tujuh pagi, semua tuntas. Pukul sepuluh, ia sudah nongkrong di teras rumah, lengkap dengan kretek, gelas kopi, dan perkutut. “Tinggal nunggu lohor,” tukasnya pendek.
    Berulang kali pertanyaan bahkan desakan untuk membuka kios terbukanya hingga lebih siang sedikit ditolak Bang Uki. “Buat apa?” tukasnya. “Gua udah cukup. Anak udah lulus es te em. Berdua bini gua udah naik haji. Apalagi?” Pernah sekali penulis jumpai ia sedang memasak di rumahnya. Langit di luar masih gelap. Kedua mata Bang Uki terpejam. Tangan- nya lincah mengiris bawang merah. Saya menegur. Tak ada reaksi. “Abah masih tidur,” istrinya balas menegur.
    Kini, 15 tahun kemudian, Bang Uki sudah pensiun. Wajahnya penuh senyum. Hidupnya penuh, tak ada kehilangan. Kami yang kehilangan, masakan sedap khas Betawi. Kami sedikit tak rela. Bang Uki terlihat begitu ikhlasnya. Wajahnya terang saat ia dimandikan untuk kali terakhirnya. Dua jam berdagang, enam jam bekerja, telah mencukupkan hidupnya.
    Dan Bang Uki tidak sendiri. Nyi Omah juga tukang uduk di Pasar Jumat, Pak Haji Edeng tukang soto Pondok Pinang, pun begitu. Tukang pecel di Solo, gudeg di Yogya, nasi jamblang di Cirebon, atau bubur kacang hijau di Bandung, juga demikian. Mereka yang bekerja dan berdagang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jika telah cukup, untuk apa bekerja lebih. Untuk apa hasil, harta atau uang berlebih? “Banyak mudaratnya,” kilah Pak Haji Edeng.
    Mungkin. Apa yang kini jelas adalah perilaku bisnis dan ekonomi tradisional negeri ini ternyata mengajarkan satu moralitas: hidup wajib dicukupi, tetapi haram dilebih-lebihkan. Berkah Tuhan dan kekayaan alam bukan untuk kita keruk seorang. Manusia adalah makhluk sosial. Siapa pun mesti menenggang siapa pun.
    Alternatif kapitalisme
    Moralitas berdagang “Bang Uki” tentu bertentangan dengan apa yang kini menjadi moral dasar perekonomian material- kapitalistik. Di mana prinsip laissez faire atau free will dan free market digunakan tak hanya untuk memberi izin bahkan mendesak setiap orang untuk “mendapatkan sebanyak-banyaknya dengan ongkos sesedikit mungkin”. Satu spirit yang nyaris jadi kebenaran universal dan hampir tak ada daya tolak atau daya koreksinya.
    Dan siapa pun mafhum dengan segera, prinsip dan moralitas ekonomi modern itu bukan hanya melahirkan orang-orang yang sangat kaya, bahkan keterlaluan kayanya (semacam pembeli Ferrari seharga Rp 5 miliar yang mubazir di Jakarta yang macet), tetapi juga sejumlah besar orang yang hingga kini tak bisa menjamin apakah ia dapat makan atau tidak hari ini.
    Moralitas kapitalistik hanya menyediakan satu jalur sosial berupa filantrofisme, yang umumnya hanya berupa “pengorbanan” material yang hampir tiada artinya dibanding kekayaan bersih yang dimilikinya. George Soros, misalnya, dengan kekayaan 11 miliar dollar AS (hampir sepertiga APBN Indonesia), mengeluarkan 400 juta dollar (hanya sekitar 4 persen atau setara dengan bunga deposito) untuk berderma dan menerima simpati global di sekian puluh negara.
    Dan siapa peduli, bagaimana seorang Bill Gates, Rupert Murdoch, Liem Sioe Liong atau Probosutedjo menjadi begitu kayanya. Moralitas dasar kapitalisme di atas adalah dasar “legal” untuk meng- amini kekayaan itu. Betapapun, boleh jadi, harta yang amat berlebih itu diperoleh dari cara-cara kasar, telengas, ilegal bahkan atau-langsung dan tak langsung-dari merebut jatah rezeki orang lain.
    Dan siapa mampu mencegah atau menghentikannya? Pertanyaan lebih praktisnya adalah: Siapa berani? Tak seorang pun. Hingga sensus mutakhir menyatakan adanya peningkatan jumlah harta orang- orang kaya dunia sebanding dengan peningkatan jumlah orang yang papa. Belahan kekayaan ini sudah seperti palung gempa yang begitu dalamnya.
    Lalu di mana Bang Uki? Ia tak ada di belahan mana pun yang tersedia. Ia ada dan memiliki dunianya sendiri. Yang mungkin aneh, alienatif, marginal, tersingkir, luput, apa pun. Namun sesungguhnya, ia adalah sebuah alternatif. Bukan musuh, lawan, atau pendamping kapitalisme. Ia adalah sebuah tawaran yang membuka kemungkinan di tengah kejumudan (tepatnya ketidakadilan) tata ekonomi dunia saat ini.
    Ekonomi cukup
    Prinsip “hidup yang cukup” Bang Uki adalah landasan bagi sebuah “ekonomi cukup”, di mana manusia tidak lagi mengeksploitasi diri (nafsu)-nya sendiri, juga lingkungan hidup sekitarnya. Ia mengeksplorasi potensi terbaiknya untuk memenuhi keperluan manusia, sebatas Tuhan-yang mereka percaya-menganjurkan atau membatasinya.
    Bagaimana “cukup” itu didefinisi atau dibatasi, tak ada-bahkan tak perlu-ukuran dan standar. Seorang pengusaha dan profesional dapat mengukurnya sendiri dengan jujur: batas “cukup” bagi dirinya. Jika bagi dia dengan keluarga beranak dua, pembantu dua, tukang kebun, satpam atau lainnya, merasa cukup dengan sebuah rumah indah, dua kendaraan kelas menengah, mengapa ia harus meraih lebih? Mengapa ia harus melipatgandakannya?
    Apalagi jika usaha tersebut harus melanggar prinsip hidup, nilai agama, tradisi dan hal-hal lain yang semula ia junjung tinggi? Andaikan, sesungguhnya ia mampu menghasilkan puluhan miliar tabungan, sekian rumah mewah peristirahatan bahkan jet pribadi, dapat dipastikan hal itu hanya akan menjadi beban. Bukan melulu saat ia berupaya meraih, tetapi juga saat mempertahankannya.
    Bila pengusaha tersebut berhasil men- “cukup”-kan dirinya, secara langsung ia telah mengikhlaskan kekayaan lebih yang tidak diperolehnya (walau ia mampu) untuk menjadi rezeki orang lain. Ini sudah sebuah tindak sosial. Dan tindak tersebut akan bernilai lebih jika “kemampuan lebihnya” itu ia daya gunakan untuk membantu usaha atau sukses orang lain. Sambil menularkan prinsip “ekonomi cukup”, ia akan merasakan “sukses” atau kemenangan hidup yang bernuansa lain jika ia berhasil membantu sukses lain orang dan tak memungut serupiah pun uang jasa.
    Maka, secara langsung satu proses pemerataan demi kesejahteraan bersama pun telah berlangsung. Palung atau sen- jang kekayaan pun menipis. Kesempatan meraih hidup yang baik dapat dirasakan semua pihak. Pemerintah dapat bekerja lebih efektif tanpa gangguan-gangguan luar biasa dari konflik-konflik yang muncul akibat ketidakadilan ekonomi.
    Dan seorang pejabat, hingga presiden sekalipun, dapat pula mendefinisikan “cukup” baginya: jika seluruh kebutuhan hidupku, hingga biaya listrik, gaji pembantu hingga pesiar telah ditanggung negara, buat apalagi gaji besar kuminta? Moralitas seperti ini adalah sebuah revolusi. Dan revolusi membutuhkan keberanian, kekuatan hati serta perjuangan tak henti.
    Maka, “cukuplah cukup”. Kita sederhanakan sebagai prinsip hidup/ekonomi yang “sederhana”. Kian sederhana, maka kian cukup kian sejahteralah kita. Ukurannya? Yang paling sederhana, usul saya: semakin tinggi senjang jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita sehari-hari, makin sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita.
    Jika Anda mampu membeli Ferrari, mengapa tak mengonsumsi Mercedes seri E saja, atau Camry lebih baik, atau Kijang pun juga bisa. Dan dana lebih, bisa Anda gunakan untuk tindak-tindak sosial, untuk membuat harta Anda bersih, aman, dan hidup pun nyaman penuh senyuman.
    Beranikah Anda? Berani kita? Tak usah berlebih, kita cukupkan saja.
    ——–
    Radhar Panca Dahana Sastrawan 
     
  • tituitcom 15.55 on 9 August 2012 Permalink  

    Pribadi Menarik & Menyenangkan 

    Pribadi Menarik & Menyenangkan  

    Semua orang ingin disebut menarik, menjadi pusat perhatian, terkenal dan dikagumi banyak orang. Menjadi menarik dan menyenangkan merupakan obsesi kebanyakan orang. Menarik dan menyenangkan mencakup aspek fisik (lahiriah) dan non-fisik (meliputi: emosional, personalitas dan integritas pribadi). Banyak orang yang cantik, tampan, pandai dan kaya namun belum dapat dikategorikan sebagai orang-orang yang menarik dan menyenangkan dikarenakan adanya sesuatu yang kurang dalam diri mereka.
    Orang yang menarik dan menyenangkan membuat orang suka padanya dan selalu ingin dekat dan ingin melihatnya serta ingin berinteraksi dengannya. Orang yang memiliki daya tarik dan menyenangkan ibarat memiliki kekayaan yang tak ternilai harganya.
    Berbeda dengan kecantikan dan kepintaran yang pada hakekatnya merupakan  sesuatu  yang  diberikan  oleh  Tuhan (given),   menarik dan menyenangkan merupakan sesuatu yang dapat dipelajari dan distimulasikan dalam setiap aktifitas kehidupan kita sehari-hari (daily activity).
    Untuk itu ada beberapa Kiat yang perlu diikuti dan dilakukan bila Kita ingin memiliki Kepribadian Yang Menarik dan Menyenangkan.
    KIAT-KIATnya adalah sebagai berikut :
    1. SOPAN SANTUN (POLITENESS)
    Selalu sopan dan baik terhadap orang lain menyebabkan kita menjadi menarik dan menyenangkan bagi orang lain tersebut. Bila bertemu dengan siapapun kita hendaknya “hangat” dan ramah kepadanya. Tegur sapa yang manis dan hangat, seperti : Halo…apa khabar, Selamat Pagi…, Selamat Siang…, dsb harus selalu kita ucapkan lengkap dengan ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang tulus yang mencerminkan dan mewakili itu semua. Pada orang yang baru pertama kali kita kenal sebaiknya kita ucapkan : “Saya senang sekali bertemu dengan Anda…, Kapan-kapan kita bincang-bincang lagi…, dsb, dsb.
    Orang-orang yang ingin tampil menarik, menyenangkan dan diperhatikan orang adalah orang-orang tidak akan pernah menyakitkan dan melukai hati dan perasaan orang lain. Bila hati orang sudah terluka maka akan sulit sekali untuk dapat sembuh dalam waktu yang singkat malah mungkin sekali sakit hatinya berubah menjadi api dendam yang membara yang sewaktu-waktu dapat meledak bagaikan bom neutron yang dahsyat.
    2. KERAMAH-TAMAHAN (HOSPITALITY)  
    Prinsip “SENTUHLAH HATINYA”, haruslah DIPEGANG dan DIFAHAMI BETUL guna menimbulkan KESAN MENARIK dan MENYENANGKAN pada diri kita.
    BEBERAPA HAL yang PERLU DIPRAKTEKKAN sehubungan dengan Sopan Santun dan Keramah-tamahan :
    Sambutlah Tegur Sapa Orang-orang : “Tiada hal yang senyaman kata-kata sambutan yang diberikan oleh orang lain dengan nada yang tulus dan riang“.
    Senyumlah Kepada Orang-orang : “Ada 72 otot yang diperlukan untuk mengerutkan dahi, namun hanya dibutuhkan 14 buah otot untuk tersenyum“.
    Panggillah Orang dengan Menyebut Namanya : “Musik yang paling merdu dan syahdu di telinga siapapun adalah bunyi namanya sendiri…“.
    Bersikaplah Bersahabat : “Bila anda ingin bersahabat, bersikaplah bersahabat…
     THE VALUES OF SMILE :
    • It costs nothing but create much.
    • It enriches those who receive without impoverishing those who give.
    • It happens in a flash but the memory of it sometimes lasts forever.
    • None are so rich that they can along without it, and none are so poor but are richer for smile.
    • It create happiness at home, foster goodwill in a business and is the countersign of friends.
    • Yet it can not be bought, begged, borrowed or stolen, for it is something that is no earthly good to anybody till it is given away !
    • And if it ever happens that some people should be too tired to give you a smile, why not leave one of yours ?
    • For nobody needs a smile so much as those who have none left to give.
    3. RASA HORMAT (RESPECTFUlL)      
    Kalau kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakuakn mungkin akan menimbulkan Ketegangan, sebab orang lain mungkin tidak menyukai cara-cara kita tersebut. Sebaliknya, kalau kita memperlakukan orang lain dengan cara sebagaimana mereka ingin diperlakukan maka hakekatnya kita telah menangkap inti dari fleksibiltas diri kita yang sebenarnya.
    Menghormati orang lain, berarti belajar memperlakukan orang lain secara berbeda menurut kadar kebutuhan dan kepercayaan mereka bukannya menurut kadar kebutuhan dan kepercayaan diri kita sendiri. Hal ini bisa mengarah kepada pengertian Moral dan penerimaan diantara individu-individu dan kelompok-kelompok. Hal ini juga menunjukkan INTEGRITAS PRIBADI seseorang.
    Rasa hormat kepada orang lain, mungkin lebih mudah dipahami sebagai: “usaha mencari kepentingan umum yang dibagi bersama dan kemudian dikerjakan bersama-sama untuk mencapai hasil yang menang-menang (win-win)”.
    4. PENUH PERHATIAN (ATTENTIVE)
    Sikap penuh perhatian berarti menyadari “apa saja yang sedang berlangsung di lingkungan kita“. Sikap penuh perhatian berhubungan dengan kemampuan membaca situasi yang tersirat (implicit). Ini bisa dimulai dari sesederhana memperhatikan  ketika  seseorang merasa bosan dan merasakan bahwa sekarang bukan saatnya untuk menyampaikan gagasan-gagasan kita.
    Bersikap penuh perhatian berarti mengosongkan diri dari pemikiran-pemikiran diri kita sendiri secara subyektif (mampu melihat dari kaca mata orang lain) dan membuka wawasan dan pikiran untuk mau melihat segala hal di luar diri kita.
    Orang yang penuh perhatian juga tahu kapan ia harus bertindak dan kapan ia tidak boleh bertindak. Orang yang tergolong penuh perhatian akan bermain dalam hal : kecenderungan, pola-pola, variasi dan kesempatan. Orang yang penuh perhatian akan memiliki sikap terbuka baik terhadap informasi yang masuk, gagasan ataupun saran-saran dari orang lain.

    http://www.dudung.ne

     
  • tituitcom 02.03 on 8 August 2012 Permalink  

    Saat Buah Hati Tak Kunjung Hadir 

    Saat Buah Hati Tak Kunjung Hadir

    Penyusun: Ummu Nafisah
    Muroja’ah:Ustadz Jamaluddin, Lc.
    Rindang, sebut saja demikian. Wanita yang kini sedang dalam masa penantian yang amat panjang. Manisnya masa-masa awal pernikahan telah ia rasakan, tinggal satu pelengkap kebahagiaan yang belum didapatkannya, yaitu kehadiran sang buah hati. Bulan demi bulan, tahun demi tahun ia dan suaminya jalani. Hingga usia pernikahannya memasuki tahun ke-10, Allah belum juga menganugerahkan buah hati pada mereka berdua. Berbagai upaya telah mereka tempuh, namun apa daya, Sang Penguasa Takdir belum berkenan mengabulkan keinginan mereka.

    Satu Bentuk Cobaan
    Mungkin masih banyak pasangan suami istri lain yang bernasib serupa seperti Rindang dan suaminya. Bertahun-tahun berkeluarga, namun belum juga dikaruniai momongan. Sangatlah wajar jika manusia senantiasa menyenangi hal-hal yang indah di dunia ini. Karena sudah menjadi tabiat yang ditanamkan Allah kepada manusia bahwa manusia akan cenderung mencintai harta, anak-anak, dan istri. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,
    “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Inilah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali-Imran: 14)
    Saudariku muslimah, setiap insan di dunia ini tak akan terlepas dari ujian. Dalam surat Al-Baqarah, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya,
    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah: 155)
    Belum mendapatkan momongan meskipun telah lama mengarungi bahtera rumah tangga adalah salah satu bentuk dari berbagai macam bentuk ujian yang Allah berikan pada manusia. Kebanyakan orang mengira, bahwa cobaan hanya datang dalam bentuk kesulitan saja. Mereka tidak menyadari bahwa melimpahnya nikmat juga merupakan ujian yang diberikan Allah. Sehingga banyak memang yang dapat melalui cobaan dan bersabar ketika mendapatkan kesulitan namun sangat sedikit yang mampu melampaui ujian berupa kenikmatan dunia, hal ini menjadikan manusia lalai saat kesenangan hidup menyapa mereka. Dalam surat Al-Anbiya ayat 35, Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
    “…dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kami, kamu akan kembali.”
    Juga firman Allah yang artinya,
    “Adapun sebagian manusia apabila diberi ujian oleh Tuhannya yaitu diberi tempat yang mulia dan diberi kenikmatan kepadanya, maka ia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakan aku’. Adapun apabila Tuhannya mengujinya dengan membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakan aku.’” (Qs. Al-Fajr: 15-16)
    Bagimu wahai para orang tua yang belum dikarunia anak, bersabar adalah kunci dalam masalah ini, karena sabar adalah salah satu jalan datangnya pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:
    “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah: 153)
    Hendaknya kita berbaik sangka terhadap takdir Allah. Yakinlah, bahwa segala sesuatu yang telah menjadi keputusan Allah pasti mengandung banyak hikmah meskipun kita tidak menyadarinya. Ingatlah saudariku, tinta takdir telah mengering. Setiap manusia telah dituliskan tentang nasibnya lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rezekipun telah ditetapkan, manusia tidak akan meninggal sebelum jatah rizki yang Allah tetapkan baginya habis.
    Tidak Saling Menyalahkan
    Sebagaimana makhluk hidup yang lain, manusia membutuhkan keturunan untuk mewarisi dan meneruskan hidupnya. Itulah mengapa anak menjadi dambaan setiap keluarga. Anak bagaikan permata dalam kehidupan mereka. Penyejuk mata ketika keletihan menyapa, menjadi tempat berteduh ketika masa senja mulai tiba.
    Sekian lama belum dikarunia anak, tentu akan membuat pasangan suami istri risau dan gelisah. Dalam kasus seperti ini, istrilah yang biasanya merasakan beban paling berat. Apalagi ada pandangan bahwa penyebab semua itu adalah dari pihak istri. Ia yang mandul dan tidak bisa melahirkan keturunan. Padahal bukanlah seperti itu. Bukanlah salah istri, karena setiap takdir Allah-lah yang telah menggariskannya. Lagipula, tidak selalu istri yang menjadi penyebabnya, pihak suami sering pula menjadi sebab belum dikaruniainya anak.
    Oleh karena itu, tidak saling menyalahkan adalah jalan terbaik dalam menghadapi ujian ini. Hendaknya pasangan suami dan istri yang belum dikaruniai buah hati saling memberikan dukungan dan nasehat. Saling menasehati untuk bersabar atas takdir yang diberikan Allah. Dengan sikap seperti ini, diharapkan suami dan istri dapat saling menguatkan di tengah badai ujian Allah.
    Jangan Lupa Berdoa dan Berusaha
    Saat seorang mukmin menghadapi kesulitan dalam hidupnya, semestinya ia tidak berpangku tangan begitu saja tanpa berusaha. Berikhtiarlah. Ambillah sebab-sebab yang dapat menghilangkan kesulitan tersebut selama ikhtiar tersebut dibolehkan syari’at. Seperti halnya mukjizat Nabi Musa, tidaklah Nabi Musa serta merta dapat membelah lautan, melainkan ia harus mengayunkan tongkatnya terlebih dahulu. Atau seperti kisah Maryam ketika mengandung Nabi ‘Isa, untuk mendapatkan makanan (kurma), Allah tidak begitu saja menurunkan makanan tersebut dari langit, melainkan Maryam terlebih dahulu harus menggoyang pohon kurma.
    Pasangan suami dan istri yang belum dikaruniai anak dapat berikhtiar dengan banyak cara, seperti berkonsultasi dengan para ahli, orang yang berpengalaman dalam masalah ini, meminum obat-obatan dan ramuan-ramuan, mengkonsumsi makanan-makanan yang dipercaya mampu meningkatkan kesuburan. Memperkaya pengetahuan tentang bagaimana proses terjadinya pembuahan dan fungsi alat reproduksipun termasuk hal yang tidak ada salahnya untuk dicoba.
    Yang tidak boleh dilupa adalah doa, tidak selayaknya ditinggalkan. Seorang muslim tidak sepantasnya menyandarkan pada sebab dan usaha, karena semua penentu adalah Allah Sang Pencipta alam raya. Bukankah anak keturunan adalah bagian kecil dari alam raya? Giatlah berdoa agar Allah memberikan anugerah-Nya berupa anak yang mampu menyejukkan mata kita. Sebagaimana kisah Nabi Zakaria ‘alaihi salam yang di usia lanjut belum juga mendapatkan keturunan, ia berdoa:
    “Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan permohonanku terhadapmu, ya Rabbi, belum pernah tak terkabulkan. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. Yang akan mewarisi kenabianku dan mewarisi kenabian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai.’” (Qs. Maryam: 4-6)
    Satu lagi yang perlu diingat, wahai saudariku, termasuk di antara bentuk usaha adalah dengan memperbanyak taubat dan beristighfar, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya,
    “…beristighfarlah kepada Rabb-mu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kalian beristighfar) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat atas kalian, juga memberi banyak harta dan anak keturunan…” (Qs. Nuh: 10-12)
    Bersabar
    Jika sudah gigih berdoa dan berikhtiar dengan berbagai cara namun belum juga mendapatkan keturunan? Maka langkah selanjutnya adalah senantiasa bersabar atas takdir Allah. Yakinlah bahwa Allah telah memilihkan yang terbaik untuk kita. Jangan lupa berdoa seperti doa yang telah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita. Dalam sebuah hadits shahih diceritakan:
    Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    ‘Tidak seorang hambapun yang tertimpa musibah lalu ia mengatakan,
    إِنَّا لِلّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اللّهُمَّ أْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا
    “Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami kembali. Wahai Allah, berikanlah kami pahala dari musibah ini dan berilah ganti yang lebih baik darinya.”
    Kecuali Allah akan memberikan ganjaran pahala karena musibah yang menimpanya dan memberikan ganti yang lebih baik.’
    Ummu Salamah berkata, “Ketika Abu Salamah wafat, aku membacanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah memberikan ganti yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)
    Saudariku, engkau tidak sendirian. Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria pun bernasib serupa, mereka dikaruniai keturunan oleh Allah ketika usia mereka telah lanjut. Juga Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, orang yang paling dicintai Rasulullah, bukankah beliaupun tidak memiliki keturunan? Wahai muslimah, hendaknya kita mencontoh kesabaran mereka.
    Dengan doa dan kesabaran tersebut, semoga kita mampu bertawakal kepada Allah. Selanjutnya dengan begitu, Allah berkenan menganugerahkan kepada kita kesabaran dan rasa syukur. Kita mampu menjadi orang yang bersyukur ketika dikaruniai anak, sementara ketika masih sulit mendapat anak, kita tetap bersabar dan tidak berprasangka buruk kepada Maha Pencipta, termasuk juga ketika mendapatkan anak yang tidak sesuai dengan harapan kita. Waallahu a’lam.
    Maraji’:

    1. Bekal Menanti Si Buah Hati, Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi, Media Tarbiyah
    2. Majalah Nikah Vol. 3 No. 11: Agar Buah Hati Tak Sekadar Bayangan

    ***
    Artikel http://www.muslimah.or.id

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal