Updates from Agustus, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 23.24 on 9 August 2012 Permalink  

    Ibas Kunjungi Sentra Pengrajin Keripik Tempe di Ngawi 

      Ibas di tengah pengrajin keripik tempe
    LENSAINDONESIA.COM: Anggota DPR RI Dapil VII Jawa Timur, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengunjungi sentra keripik tempe di Dusun Sadang, Desa Karang Tengah Prandon, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Kamis (9/8/2012).
    Dalam kesempatan itu, putra kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu mendorong para pengerajin agar meningkatkan produktivitasnya.
    “Kualitas keripik tempe hasil produksi Kabupaten Ngawi sudah dikenal luas ke daerah-daerah lain sehingga patut dikembangkan dan menjadi perhatian pemerintah,” kata Ibas di sela kunjungannya di sentra keripik tempe Desa Karang Tengah Prandon Kabupaten Ngawi, Kamis.
    Ia mengatakan,”Saya melihat kualitas olahan keripik tempe asal Kabupaten Ngawi yang sudah dikenal sampai ke sejumlah wilayah. Tentunya, potensi ini harus ditingkatkan dengan memperluas jaringan pemasaran produk keripik tempe Ngawi.”
    Menurut dia, dorongan tersebut dapat diwujudkan dengan dukungan pemerintah daerah untuk merangkul mulai dari petani kedelai, produsen tempe, hingga keripik tempe untuk bersama-sama mengoptimalkan produktivitasnya.
    “Harus dapat disinergikan masing-masing elemennya agar manfaat pengembangannya dapat dirasakan, khususnya untuk meningkatkan perekonomian di tingkat lokal karena menjadi mata pencaharian masyarakat. Untuk itu saya mendorongnya,” kata dia.
    Ibas juga menyinggung potensi Ngawi sebagai penyangga produksi kedelai di Jawa Timur. Pihaknya mengapresiasi penerapan strategi perluasan areal tanam komoditas kedelai melalui kerja sama dengan Dinas Kehutanan setempat dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang telah berlangsung di Kabupaten Ngawi.
    “Lebih luasnya, Ngawi harus menjadi salah satu wilayah pembuka peluang swasembada kedelai dan menjadi daerah percontohan untuk wilayah lain. Potensi dan peluang itu ada. Untuk itu, kita mendorong agar petani di Ngawi bisa melihat potensi ini dan benar-benar memanfaatkannya dengan baik,” kata politikus Partai Demokrat ini.
    Ia menilai pemanfaatan lahan kehutanan untuk ditanami kedelai akan mendorong peningkatan produksi kedelai. Hal ini sebagai satu peluang, khususnya bagi Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk mendapat perhatian dari pusat.
    Terkait dengan gejolak kenaikan harga kedelai dewasa ini, Ibas melihat sejumlah faktor yang menjadi penyebab. Salah satunya, karena faktor cuaca yang menyebabkan penurunan produksi kedelai di dunia.
    Kenaikan harga kedelai, lanjut dia, memang menarik perhatian kita semua karena kedelai merupakan bahan dasar produk-produk makanan yang menjadi selera sebagian besar masyarakat Indonesia, seperti tempe.
    “Tempe juga menjadi makanan favorit saya. Selain tingginya permintaan menjelang Lebaran, ada faktor lain yang menyebabkan harga kedelai melonjak naik. Produksi kedelai di tingkat global juga mengalami penurunan akibat anomali cuaca,” ujarnya.
    Meski demikian, Ibas justru melihat peluang komoditas itu bisa menjadi primadona penopang perekonomian petani kedelai. Hanya saja, Ibas mengingatkan keseriusan petani, pemerintah daerah, dan pusat harus selaras dengan program yang propetani.
    “Terlepas dari itu semua, saya optimistis kita bisa memanfaatkan ini menjadi peluang yang baik untuk menyejahterakan petani Indonesia. Kalau kita dukung dengan berbagai kebijakan yang propetani, tentu petani akan kembali menggarap lahan pertaniannya untuk tanaman kedelai,” katanya.
    Pihaknya juga mendorong agar regulasi yang propetani serta inovasi-inovasi di bidang pertanian terus dikembangkan untuk membantu kaum petani semain produktif.
    Pemerintah saat ini, kata dia, sedang berkosentrasi untuk penyiapan lahan pertanian yang kini semakin merosot. Departemen Pertanian juga terus mendorong munculnya varian-varian kedelai baru yang semakin berkualitas dan tahan dengan cuaca ekstrim.
    “Saya mendukung semua upaya pemerintah tersebut lewat regulasi yang propetani. Ini semua merupakan rangkaian upaya kita bersama menuju swasembada kedelai,” demikian Ibas. @LI-13/ant

    Editor: Mohammad Ridwan Rubrik : Headline Jatimraya , HEADLINE UTAMA , jatimraya , MADIUN , Terkini

     
  • tituitcom 22.53 on 8 August 2012 Permalink  

    Potensi Limbah Cair Industri Tahu Sebagai Sumber Energi Alternatif Biogas 

    Biogas dikenal sebagai gas rawa atau lumpur dan bisa digunakan sebagai bahan bakar. Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob.
    Biogas dikenal sebagai gas rawa atau lumpur dan bisa digunakan
    sebagai bahan bakar. Biogas adalah gas mudah terbakar yang dihasilkan
    dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri
    anaerob. Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk
    menghasilkan biogas (Anonim, 2005).
    Whey merupakan bagian limbah cair tahu yang paling berbahaya.
    Pengolahan  limbah  cair  tahu  secara  anaerobik  memungkinkan  konversi
    whey menjadi  biogas  karena  whey mengandung  bahan  organik  cukup
    tinggi  sebagaimana  yang  ditunjukkan  oleh  nilai  CODnya.  Pembentukan
    biogas terjadi  selama proses fermentasi berjalan (Setiawan, 2005).
    Pembuatan dan penggunaan biogas di Indonesia mulai digalakkan
    pada awal tahun 1970-an dengan tujuan memanfaatkan buangan atau sisa
    yang  berlimpah  dari  benda  yang  tidak  bermanfaat  menjadi  yang
    bermanfaat,  serta mencari  sumber  energi  lain  di  luar  kayu  bakar  dan
    minyak  tanah.  Pembuatan  biogas  bisa  dengan  drum  bekas  yang  masih kuat atau sengaja dibuat dalam bentuk bejana dari tembok atau bahan-
    bahan lainnya (Suriawiria, 2005).
    Biogas dipergunakan dengan cara yang sama seperti penggunaan
    gas  lainnya yang mudah terbakar dengan mencampurnya dengan oksigen
    (O2). Untuk mendapatkan hasil pembakaran yang optimal perlu dilakukan
    proses pemurnian/penyaringan karena biogas mengandung beberapa gas
    lain yang tidak menguntungkan (Anonim, 2005).
    Biogas  dapat  digunakan  untuk  kepentingan  penerangan  dan
    memasak. Lampu atau kompor yang sudah umum dan biasa dipergunakan
    untuk  gas  lain  selain  biogas  tidak  cocok  untuk  pemakaian  biogas,
    sehingga  memerlukan  penyesuaian  karena  bentuk  dan  sifat  biogas
    berbeda  dengan  bentuk  dan  sifat  gas  lain  yang  sudah  umum.  Pusat
    Teknologi Pembangunan (PTP) ITB telah sejak lama membuat lampu atau
    kompor  yang  dapat  menggunakan  biogas,  yang  asalnya  dari  lampu
    petromak atau  kompor  yang  sudah  ada.  Kompor  biogas  tersebut
    tersusun  dari  rangka,  pembakar,  spuyer,  cincin  penjepit  spuyer  dan
    cincin  pengatur  udara,  yang  kalau  sudah  diatur  akan  mempunyai
    spesifikasi  temperatur  nyala  api  dapat mencapai  560°C  dengan  warna nyala  biru  muda  pada  malam  hari,  dan  laju  pemakaian  biogas  350
    liter/jam.  (Suriawiria, 2005).
    Gas metan mempunyai  nilai  kalor  antara  590  – 700  K.cal/m3.
    Sumber  kalor  lain  dari  biogas  adalah  dari  H2 serta  CO  dalam  jumlah
    kecil, sedang karbon dioksida dan gas nitrogen tak berkontribusi dalam
    soal  nilai  panas.  Nilai  kalor  biogas  lebih  besar  dari  sumber  energi
    lainnya,  seperti  coalgas  (586  K.cal/m3)  ataupun  watergas  (302
    K.cal/m3). Nilai  kalor  biogas  lebih  kecil  dari  gas  alam  (967  K.cal/m3).
    Setiap kubik biogas setara dengan 0,5 kg gas alam cair (liquid petroleum
    gases/LPG),  0,5  L  bensin  dan  0,5  L  minyak  diesel.  Biogas  sanggup
    membangkitkan tenaga  listrik  sebesar 1,25 – 1,50 kilo watt hour  (kwh)
    (Setiawan,2005).
    Biogas merupakan  gas  yang  tidak  berwarna,  tidak  berbau  dan
    sangat  tinggi  dan  cepat  daya  nyalanya,  sehingga  sejak  biogas  berada
    pada  bejana  pembuatan  sampai  penggunaannya  untuk  penerangan
    ataupun  memasak,  harus  selalu  dihindarkan  dari  api  yang  dapat
    menyebabkan kebakaran atau ledakan (Suriawiria, 2005).
    Pembuatan biogas dimulai dengan memasukkan bahan organik ke
    dalam digester,  sehingga bakteri anaerob membusukkan bahan organiktersebut dan menghasilkan gas  yang disebut biogas. Biogas  yang  telah
    terkumpul di dalam digester dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju
    tangki penyimpan gas  atau langsung ke lokasi penggunaannya, misalnya
    kompor. Biogas dapat dipergunakan dengan cara yang sama seperti cara
    penggunaan gas  lainnya yang  mudah terbakar.  Pembakaran  biogas
    dilakukan dengan mencampurnya dengan oksigen (O2). Untuk
    mendapatkan hasil pembakaran yang  optimal  perlu dilakukan proses
    pemurnian/penyaringan karena biogas  mengandung beberapa gas  lain
    yang  tidak menguntungkan. Keuntungan lain yang  diperoleh adalah
    dihasilkannya lumpur yang dapat digunakan sebagai pupuk. Faktor-faktor
    yang mempengaruhi produktivitas sistem biogas antara  lain jenis bahan
    organik yang  diproses, temperatur digester,  ruangan tertutup atau
    kedap udara, pH, tekanan udara serta kelembaban udara. Komposisi gas
    yang terdapat di dalam biogas adalah 40-70 % metana (CH4), 30-60 %
    karbondioksida (CO2)  serta sedikit hidrogen (H2) dan hidrogen sulfida
    (H2S)  (Anonim,2005).
    Dari proses fermentasi dihasilkan campuran biogas yang terdiri
    atas,  metana  (CH4), karbon  dioksida,  hidrogen,  nitrogen  dan  gas  lain
    seperti H2S. Metana  yang dikandung  biogas  ini  jumlahnya  antara  54  –70%,  sedang  karbon  dioksidanya antara 27  – 43%.  Gas-gas  lainnya
    memiliki persentase hanya sedikit saja (Setiawan, 2005).
     
  • tituitcom 22.43 on 8 August 2012 Permalink  

    Mikrobia dalam Pengolahan Limbah Cair Tahu 

    Mikrobia  merupakan  salah  satu  faktor  kunci  yang ikut menentukan  berhasil  tidaknya  suatu  proses  penanganan  limbah  cair organik secara biologi
    Mikrobia  merupakan  salah  satu  faktor  kunci  yang ikut
    menentukan  berhasil  tidaknya  suatu  proses  penanganan  limbah  cair
    organik secara biologi. Keberadaanya sangat diperlukan untuk berbagai
    tahapan dalam perombakan bahan organik.
    Marchaim  (1992)  menyatakan  bahwa  efektifitas  biodegradasi
    limbah  organik menjadi metana membutuhkan  aktifitas metabolik  yang
    terkoordinasi  dari  populasi  mikrobia  yang  berbeda-beda.  Populasi
    mikroba  dalam  jumlah  dan  kondisi  fisiologis  yang  siap  diinokulasikan
    pada media fermentasi disebut sebagai starter.
    Bakteri, suatu grup prokariotik, adalah organisme yang mendapat
    perhatian  utama  baik  dalam  air  maupun  dalam  penanganan  air  limbah
    (Jenie dan Winiati, 1993). Jadi,  dalam proses anaerobik, mikrobia yang
    digunakan  berasal  dari  golongan  bakteri.  Bakteri  yang  bersifat
    fakultatif  anaerob  yaitu  bakteri  yang mampu  berfungsi  dalam  kondisi
    aerobik  maupun  anaerobik.  Bakteri-bakteri  tersebut  dominan  dalam
    proses penanganan limbah cair baik secara aerobik ataupun anaerobik.Marchaim  (1992)  menyatakan  bahwa  digesti  atau  pencernaan
    bahan  organik  yang  efektif membutuhkan  kombinasi metabolisme  dari
    berbagai jenis bakteri anaerobik.
    Beberapa  jamur  (fungi)  dan  protozoa  dapat  ditemukan  dalam
    penguraian  anaerobik,  tetapi  bakteri  merupakan  mikroorganisme  yang
    paling dominan bekerja didalam proses penguraian anaerobik. Sejumlah
    besar  bakteri  anaerobik  dan  fakultatif  yang  terlibat  dalam  proses
    hidrolisis  dan  fermentasi  senyawa  organik  antara  lain  adalah
    Bacteroides,  Bifidobacterium,  Clostridium,  Lactobacillus,
    Streptococcus.  Bakteri  asidogenik  (pembentuk asam)  seperti
    Clostridium, bakteri  asetogenik  (bakteri  yang memproduksi  asetat dan
    H2)  seperti  Syntrobacter  wolinii  dan  Syntrophomonas  wolfei  (Said,
    2006)
    Bakteri  metana  yang  telah  berhasil  diidentifikasi  terdiri  dari
    empat genus  (Jenie dan Rahayu, 1993) :
    1. Bakteri  bentuk  batang  dan  tidak  membentuk  spora  dinamakan
    Methanobacterium.
    2. Bakteri  bentuk  batang  dan  membentuk  spora  adalah
    Methanobacillus.3. Bakteri bentuk kokus yaitu Methanococcus atau kelompok koki yang
    membagi diri.
    4. Bakteri bentuk sarcina pada sudut 90O dan tumbuh dalam kotak yang
    terdiri dari 8 sel yaitu Methanosarcina.
    Bakteri  metanogen  melaksanakan  peranan  penting  pada  digesti
    anaerob  karena  mengendalikan  tingkat  degradasi  bahan  organik  dan
    mengatur  aliran  karbon  dan  elektron  dengan  menghilangkan  metabolit
    perantara  yang  beracun  dan meningkatkan  efisiensi  termodinamik  dari
    metabolisme perantara antar spesies.
    Soetarto  et  all. (1999)  menyatakan  bahwa  bakteri  metanogen
    merupakan  obligat  anaerob  yang  tidak  bisa  tumbuh  pada  keadaan  yang
    terdapat  oksigennya  dan  menghasilkan  metan  dari  oksidasi  hidrogen
    atau senyawa organik sederhana seperti asetat dan metanol serta tidak
    dapat menggunakan karbohidrat, protein, dan substrat komplek organik
    yang  lain.  Bakteri  penghasil  metan  bersifat  gram  variabel,  anaerob,
    dapat mengubah CO2 menjadi metan, dinding selnya mengandung protein
    tetapi  tidak  mempunyai  peptidoglikan.  Bakteri  ini  merupakan  mikrobia
    Archaebacteria yang merupakan jasad renik prokariotik yang habitatnya
    sangat ekstrim. Archaebacteria  adalah kelompok prokariot yang sangat berbeda dari eubacteria. Dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan
    (murein),  tidak  sensitif  terhadap  kloramfemikol.  Pada
    Methanobacterium  sp.,  dinding  selnya  mengandung  materi  seperti
    peptidoglikan  yang  disebut  pseudopeptidoglikan  atau  pseudomurein
    tersusun dari N asetil glukosamin dan asam N asetil talosaminuronat (2
    gula  amino).  Asam  amino  yang  ada  semuanya  bentuk  L  (pada
    peptidoglikan  bentuk D). Dinding  sel  Archaebacteria  tahan  terhadap
    lisosim. Methanosarcina sp. mengandung dinding sel tebal galaktosamin,
    asam  glukuronat,  dan  glukosa.  Dinding  sel  Methanococcus  dan
    Methanomicrobium  mengandung protein dan kekurangan karbohidrat.
    Dwidjoseputro  (1998)  menyatakan  bahwa  ciri  genus
    Methanobacterium  adalah  anaerob,  autotrof/heterotrof,  dan
    menghasilkan gas metan. Bakteri autotrof  (seringkali dibedakan antara
    kemoautotrof  dan  fotoautotrof)  dapat  hidup  dari  zat-zat  anorganik.
    Bakteri heterotrof membutuhkan zat organik untuk kehidupannya.
    Substrat yang digunakan oleh bakteri metanogen berupa  karbon
    dengan sumber energi berupa H2/CO2, format, metanol, metilamin, CO,
    dan  asetat.  Kebanyakan  metanogen  dapat  tumbuh  pada  H2/CO2, akan
    tetapi  beberapa  spesies  tidak  dapat  memetabolisme  H2/CO2.  Nutrisi yang dibutuhkan oleh metanogen bervariasi dari yang sederhana sampai
    yang  kompleks.  Berkaitan  dengan  asimilasi  karbon,  ada  yang  berupa
    metanogen  autotrof  dan  heterotrof.  Di  habitat  aslinya,  bakteri
    metanogen  terantung dari  bakteri  lain  yang menyuplai  nutrien  esensial
    seperti  sisa  mineral,  vitamin,  asetat,  asam  amino,  atau  faktor-faktor
    tumbuh lainnya (Main and Smith, 1981).
    Bakteri  yang  berperan  dalam  penguraian  limbah  organik  secara
    alami  tumbuh  secara  lambat  sehingga  diperlukan  penambahan  inokulasi
    pengurai limbah. Salah satu merk dagang inokulum yang biasa digunakan
    adalah  Bio2000.  Kemasan  Bio2000  mendiskripsikan  bahwa  Bio2000
    merupakan  serbuk  pengurai  limbah  organik  yang  didalamnya  terdapat
    bakteri dan bahan-bahan alami yang dapat menghasilkan bifido bacteria
    (bakteri  yang  menguntungkan)  sehingga mampu  memacu  penguraian
    limbah organik  lebih cepat. Komposisi Bio2000 adalah air  (3 %), % abu
    (72,46),  protein  kasar  (3,57 %  ),  lemak  kasar  (  0,27 %),  serat  kasar
    (9,37), kalsium (19,12 %), fosfor (0,1 %), dan lain-lain (11,33 %). Bakteri
    yang diinokulasikan adalah bakteri amilolitik (35,43 %), selulotik ( 26,64
    %), proteolitik (20,84 %), dan lipolitik (17,13 %).
     
  • tituitcom 22.37 on 8 August 2012 Permalink  

    Proses Transformasi Bahan Organik 


    Pengolahan  limbah  secara  anaerobik  mengakibatkan  terjadinya
    transformasi makromolekul bahan organik menjadi molekul-molekul yang
    lebih sederhana. Menurut Lettinga (1994), terdapat empat tahap proses
    transformasi bahan organik pada sistem anaerobik, yaitu :
    1. Hidrolisis
    Pada  tahapan  hidrolisis,  mikrobia  hidrolitik  mendegradasi
    senyawa  organik  kompleks  yang  berupa  polimer  menjadi
    monomernya  yang  berupa  senyawa  tak  terlarut  dengan  berat
    molekul  yang  lebih  ringan.  Lipida  berubah menjadi  asam  lemak 

    rantai panjang dan gliserin, polisakarida menjadi gula (mono dan
    disakarida),  protein  menjadi  asam  amino  dan  asam  nukleat
    menjadi  purin  dan  pirimidin.  Konversi  lipid  berlangsung  lambat
    pada  suhu  dibawah  20
    OC.  Proses  hidrolisis  membutuhkan
    mediasi  exo-enzim  yang  dieksresi  oleh  bakteri  fermentatif  .
    Hidrolisis molekul komplek dikatalisasi oleh enzim ekstra seluler
    seperti  sellulase,  protease,  dan  lipase.  Walaupun  demikian
    proses  penguraian  anaerobik  sangat  lambat  dan  menjadi
    terbatas  dalam  penguraian  limbah  sellulolitik  yang mengandung
    lignin (Said, 2006).
    2. Asidogenesis.
    Monomer-monomer  hasil  hidrolisis  dikonversi menjadi  senyawa
    organik  sederhana  seperti  asam  lemak  volatil,  alkohol,  asam
    laktat,  senyawa  mineral  seperti  karbondioksida,  hidrogen,
    amoniak,  dan  gas  hidrogen  sulfida.  Tahap  ini  dilakukan  oleh
    berbagai kelompok bakteri, mayoritasnya adalah bakteri obligat
    anaerob  dan sebagian yang lain bakteri anaerob fakultatif.
    3. Asetogenesis
    Hasil asidogenesis dikonversi menjadi hasil  akhir bagi produksi
    metana  berupa  asetat,  hidrogen,  dan  karbondioksida.  Sekitar
    70  %  dari  COD  semula  diubah  menjadi  asam  asetat.
    Pembentukan  asam  asetat  kadang-kadang  disertai  dengan
    pembentukan karbondioksida atau hidrogen, tergantung kondisi
    oksidasi dari bahan organik aslinya.
    Etanol, asam propionat, dan asam butirat dirubah menjadi asam
    asetat  oleh  bakteri  asetogenik  dengan  reaksi  seperti  berikut
    (Said, 2006) :
    CH3CH2OH + CO2  CH3COOH + 2H2            …….. (pers. 1)
    Etanol                       Asam Asetat
    CH3CH2COOH + 2H2O  CH3COOH + CO2 + 3H2    …….. (pers. 2)
    Asam Propionat             Asam Asetat
    CH3CH2CH2COOH + 2H2O  2CH3COOH + 2H2     ……… (pers. 3)
    Asam Butirat                 Asam Asetat
    4. Metanogenesis.
    Pada  tahap  metanogenesis,  terbentuk  metana  dan
    karbondioksida. Metana dihasilkan dari asetat atau dari reduksi
    karbondioksida  oleh  bakteri  asetotropik  dan  hidrogenotropik
    dengan menggunakan hidrogen.
    Tiga  tahap  pertama  di  atas  disebut  sebagai  fermentasi  asam
    sedangkan tahap keempat disebut fermentasi metanogenik (Lettinga, et
    all,  1994).  Tahap  asetogenesis    terkadang  ditulis  sebagai  bagian  dari
    tahap asidogenesis.
    Fermentasi  asam  cenderung  menyebabkan  penurunan  pH  karena
    adanya  produksi  asam  lemak  volatil  dan  intermediet-intermediet  lain
    yang memisahkan  dan memproduksi  proton. Metanogenesis  hanya  akan
    berkembang  dengan  baik  pada  kondisi  pH  netral  sehingga
    ketidakstabilan  mungkin  muncul  sehingga  aktivitas  metanogen  dapat
    berkurang.  Kondisi  ini  biasa  disebut  souring (pengasaman)  (Lettinga,
    1994).
    Berbagai studi tentang digesti anerobik pada berbagai ekosistem
    menunjukkan bahwa 70 %  atau  lebih metana yang  terbentuk diperoleh
    dari  asetat  (pers.  1).  Jadi  asetat  merupakan  intermediet  kunci  pada seluruh  fermentasi  pada  berbagai  ekosistem  tersebut  (Main  et  al.
    1977).    Hanya  sekitar  33  %  bahan  organik  yang  dikonversi  menjadi
    metana melalui  jalur hidrogenotropik dari reduksi CO2 menggunakan H2
    (pers. 2) (Marchaim,1992).
    Reaksi  kimia  pembentukan  metan  dari  asam  asetat  dan  reduksi
    CO2 dapat dilihat pada persamaan reaksi berikut :
    Asetotropik metanogenesis :
    CH3COOH  CH4 + CO2  …………………………………. (pers. 1)
    Hidrogenotropik metanogenesis :
    4H2 + CO2  CH4 + H2O …………………………………. (pers. 2)
    Henzen  and  Harremoe  (1983)  dalam  Lettinga  et  all (1994)
    menyatakan bahwa bakteri yang memproduksi metana dari hidrogen dan
    karbondioksida  tumbuh  lebih  cepat  daripada  yang  menggunakan  asam
    asetat. Kecepatan  penguraian  biopolimer,  tidak  hanya  tergantung  pada
    jumlah jenis bakteri yang ada dalam reaktor, akan tetapi juga efisiensi
    dalam mengubah substrat dengan kondisi-kondisi waktu tinggal substrat
    di dalam  reaktor, kecepatan  alir  efluen,  temperatur dan pH  yang yang
    terjadi  di  dalam  bioreaktor.  Bilamana  substrat yang  mudah  larut
    dominan, reaksi kecepatan terbatas akan cenderung membentuk metana
    dari asam asetat dan dari asam lemak dengan kondisi stabil atau steady 
    state. Faktor  lain  yang mempengaruhi proses  antara  lain waktu  tinggal
    atau lamanya substrat berada dalam suatu reaktor sebelum dikeluarkan
    sebagai  sebagai  supernatan  atau  digested  sludge (efluen). 
    Minimum waktu tinggal harus lebih besar dari waktu generasi metan sendiri, agar
    mikroorganisme  didalam  reaktor  tidak  keluar  dari  reaktor  atau  yang
    dikenal dengan istilah wash out (Indriyati, 2005).
    Mikroba  yang  bekerja  butuh  makanan  yang  terdiri  atas
    karbohidrat, lemak, protein, fosfor dan unsur-unsur mikro. Lewat siklus
    biokimia,  nutrisi  diuraikan  dan  dihasilkan  energi  untuk  tumbuh.  Dari
    proses pencernaan anaerobik  ini akan dihasilkan gas metan. Bila  unsur-
    unsur  dalam  makanan  tak  berada  dalam  kondisi  yang  seimbang  atau
    kurang,  bisa  dipastikan  produksi  enzim  untuk  menguraikan  molekul
    karbon  komplek  oleh  mikroba  akan  terhambat.  Pertumbuhan  mikroba
    yang  optimum  biasanya  membutuhkan  perbandingan  unsur  C  :  N  :  P
    sebesar  150  :  55  :  1  (Jenie  dan  Winiati,  1993).  Namun,  aktivitas
    metabolisme dari bakteri metanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N
    sekitar 8-20 (Anonim, 2005).
    Ada  beberapa  senyawa  yang  bisa  menghambat  (proses)
    penguraian dalam  suatu  unit biogas  saat menyiapkan bahan baku  untuk
    produksi  biogas,  seperti  antiobiotik,  desinfektan  dan  logam  berat
    (Setiawan, 2005).

     
  • tituitcom 21.17 on 6 August 2012 Permalink  

    Tumis Tahu Sayuran 

    Tahu ternyata mudah diolah dan dipadu aneka bahan dan bumbu.
    Seperti tahu goreng yang ditumis dengan sayuran komplet ini.
    Kuahnya sedikit banyak hingga bumbu bisa meresap ke dalam tahu.
    Asyik banget buat lauk santap siang!

    Bahan:

    2 sdm minyak sayur
    2 siung bawang putih, cincang halus
    3 butir bawang merah, cincang halus
    100 g daging sapi untuk sukiyaki/daging has sapi iris tipis
    150 g wortel, potong 3 cm, belah tipis
    2 batang daun bawang, potong 3 cm
    250 g tahu goreng, potong-potong
    150 ml kaldu/air
    1 sdm kecap manis
    1 sdm saus tomat
    1 sdm kecap Inggris
    ½ sdt merica bubuk
    1 sdt garam
    1 sdt cabai merah bubuk

    Cara membuat:

    · Tumis bawang putih dan bawang merah hingga layu dan harum.
    · Masukkan daging sapi selembar demi selembar sambil aduk
    hingga kaku dan berubah warna.
    · Masukkan sayuran, aduk hingga layu.
    · Tambahkan tahu dan air, aduk rata.
    · Bubuhi bumbu, aduk hingga mendidih dan masak hingga kuah
    agak menyusut dan bumbu meresap. Angkat.
    · Taburi cabai merah bubuk. Sajikan hangat.

    (Untuk 4 orang)

     
  • tituitcom 21.11 on 6 August 2012 Permalink  

    Burger Tofu 

    Jika Anda sedang mengurangi konsumsi daging sapi bukan berarti
    tak bisa makan yang lezat. Burger dari tahu plus daging ayam ini
    sangat gurih dan enak. Bisa disantap dengan nasi tetapi enak juga
    diselipkan dalam roti plus mayones dan saus tomat. Mau coba?

    Bahan:

    300 g taku putih yang bagus
    100 g daging ayam cincang
    1 sdm tepung terigu
    1 kuning telur
    2 sdm mentega
    Bumbu:
    1 batang daun bawang, iris halus
    1 sdm bawang merah goreng, haluskan
    ½ sdt pala bubuk
    ½ sdt merica bubuk
    1 sdm kecap asin
    1 sdm saus BBQ
    1 sdt garam

    Cara membuat:

    · Tiriskan tahu hingga kering lalu haluskan.
    · Campur tahu halus dengan daging ayam, tepung terigu, dan
    Bumbu. Aduk hingga rata.
    · Bagi adonan menjadi 4 bagian. Bentuk masing-masing menjadi
    bundar pipih.
    · Panaskan mentega hingga leleh. Goreng burger hingga cokelat
    kekuningan kedua sisinya. Angkat dan tiriskan.
    · Sajikan hangat. (Untuk 4 buah)

     
  • tituitcom 21.04 on 6 August 2012 Permalink  

    Ca Tahu Rebon 

     
    Kalau sedang tak banyak waktu untuk menyiapkan lauk, cobalah
    tumis tahu yang praktis ini. Gunakan tahu putih yang bagus mutunya.
    Padukan dengan rebon dan daun bawang yang harum aromanya.
    Jangan lupa pakai bumbu yang agak royal agar rasa gurihnya
    meresap sempurna.

    Bahan:

    300 g tahu putih yang bagus mutunya, tiriskan
    1 sdm minyak sayur
    2 siung bawang putih, cincang halus
    2 sdm rebon yang bagus, cuci, tiriskan
    2 batang daun bawang, potong 3 cm
    1 sdm saus tiram
    100 ml air
    ½ sdt merica bubuk
    1 sdm kecap asin
    1 sdt garam

    Cara membuat:

    · Goreng tahu hingga hampir kering. Tiriskan, potong ½ x 2×4 cm.
    · Tumis bawang putih hingga kuning.
    · Masukkan rebon, aduk hingga harum.
    · Tambahkan daun bawang, tahu, air, dan bumbu. Masak hingga
    bumbu meresap.
    · Angkat. Sajikan hangat.
    Untuk 4 orang

     
  • tituitcom 22.50 on 5 August 2012 Permalink  

    Hot Plate Tofu Udang 

    Membuat hot plate bergaya resto ternyata tidak sulit. Isinya pun bisa
    Anda sesuaikan dengan selera. Coba saja paduan udang dan tofu ini,
    dengan bumbu sedikit pedas, rasanya sangat lezat.

    Bahan:

    1 sdm minyak sayur
    ½ sdt minyak wijen
    2 siung bawang putih, cincang halus
    100 g udang kupas ukuran sedang
    1 sdm saus tiram
    1 sdm saus cabai bawang
    1 sdm kecap asin
    ½ sdt merica bubuk
    1 sdt garam
    200 ml air
    2 batang bokchoy, potong-potong
    250 g tahu sutera, potong-potong
    ½ sdt tepung maizena, larutkan dengan sedikit air

    Cara membuat:

    · Panaskan minyak, tumis bawang putih hingga kuning.
    · Masukkan udang kupas, aduk hingga berubah warna.
    · Tambahkan bumbu dan air, didihkan.
    · Masukkan bokchoy dan tahu, didihkan kembali.
    · Tuangi larutan maizena, aduk hingga kental. Angkat.
    · Panaskan hot plate di atas api sedang hingga panas benar. Angkat.
    · Tuangkan tofu dan udang tumis ke atas hot plate.
    · Sajikan segera

     
  • tituitcom 22.36 on 5 August 2012 Permalink  

    Resep Kering Tempe 

    Bahan:

    500 g tempe yang bagus kualitasnya
    minyak goreng
    3 buah cabai merah besar, buang bijinya, iris serong tipis, goreng
    kering
    3 sdm bawang merah goreng
    1 sdm bawang putih goreng
    1 cm lengkuas
    2 lembar daun salam
    Bumbu:
    100 g gula pasir
    25 g gula Jawa, sisir
    75 ml air
    1 sdt garam
    1 sdt air jeruk nipis

    Cara membuat:

    · Potong-potong tempe sebesar korek api batang.
    · Goreng dalam minyak panas hingga kuning dan kering. Angkat
    dan tiriskan.
    · Jerangkan bumbu, lengkuas, dan daun salam hingga mendidih dan
    agak kental.
    · Masukkan tempe, cabai merah, bawang merah, dan bawang putih.
    Aduk hingga tercampur rata. Angkat dan dinginkan.
    · Simpan dalam wadah bertutup dan kering.
    Untuk 400 gram

     
  • tituitcom 22.32 on 5 August 2012 Permalink  

    Orak-Arik Tahu Telur 

    Jika sedang tak banyak waktu buat memasak, cobalah orak-arik
    komplet gizi ini. Gunakan tahu sutera plus telur sehingga rasanya
    gurih. Tambahkan sedikit sayuran dan sajikan selagi hangat
    mengepul. Dijamin makin sedap!

    Bahan:

    2 sdm minyak sayur
    2 siung bawang putih, cincang halus
    25 g bawang Bombay, cincang halus
    2 batang daun bawang, iris serong
    3 butir telur ayam, kocok lepas
    100 g tahu sutera, tiriskan
    ½ sdt minyak wijen
    ½ sdt merica hitam bubuk
    1 sdt garam

    Cara membuat:

    · Panaskan minyak, tumis bawang putih dan bawang Bombay
    hingga layu.
    · Tambahkan daun bawang, aduk hingga layu.
    · Masukkan telur kocok, aduk cepat hingga bergumpal kasar.
    · Masukkan tahu sutera, aduk smabil tekan hingga tahu agak
    hancur. Aduk rata.
    · Bubuhi minyak wijen, merica, dan garam. Aduk hingga rata.
    · Angkat, sajikan hangat.
    Untuk 4 orang

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal