Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 14.23 on 11 September 2012 Permalink  

    Kinerja Keuangan Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Analisis Rasio Sebagai Tolak Ukur Kinerja Keuangan Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung Malang Periode 2005-2009
    Penulis : Siti Mutmaidah
    Tahun : 2010
    Fakultas : Tarbiyah
    Jurusan : Ilmu Pengetahuan Sosial
    Pembimbing : 1) Kusumadyah Dewi, M.AB..  
    Kata Kunci : Analisis Rasio, Kinerja Keuangan, Koperasi
    Koperasi adalah suatu perkumpulan orang biasanya yang memiliki
    kemampuan ekonomi terbatas yang melalui suatu bentuk organisasi perusahaan
    yang diawasi secara demokratis masing-masing memberikan sumbangan setara
    terhadap modal yang diperlukan dan bersedia menanggung resiko serta menerima
    imbalan yang sesuai dengan usaha yang mereka lakukan. Penelitian ini bertujuan
    untuk mendeskripsikan kinerja dari segi keuangan Koperasi Agro Niaga (KAN)
    dari tahun 2005- 2009. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana kinerja
    keuangan di Koperasi Agro Niaga dinilai dari hasil Analisis Rasio selama periode
    2005-2009.

    Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengukur kinerja keuangan
    Koperasi Agro Niaga (KAN) jabung malang dinilai dari hasil laporan keuangan
    menggunakan analisis Rasio selama periode 2005-2009.
    Pendekatan dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
    kualitatif metode deskriptif untuk mengukur kinerja Koperasi Agro Niaga (KAN),
    dilakukan menggunakan analasisi rasio keuangan seperti: rasio likuiditas meliputi
    current rasio, quick rasio. Rasio solvabilitas meliputi debt ratio (DR), Debt to
    equity ratio (DER). Rasio profitabilitas yang meliputi Net Profit Margin (NPM),
    Ratio Total Assets Turnover, Return on Total Assets (ROA), Return on Equity
    (ROE). Rasio aktivitas meliputi Inventory Turn Over (rata-rata persediaan ),
    Receivable, Fixed Aset Turn Over, Total Aset Turn Over. Metode analisis data
    yang digunakan adalah Analisis Time Series. Alat pengumpul data yang
    digunakan adalah dokumentasi, wawancara dan observasi.
    Dari hasil analisis diketahui bahwa rasio likuiditas perusahaan mengalami
    kenaikan walau dibahwah standar likuiditas untuk current rasio tetapi kinerja
    keuangan koperasi cudah cukup dianggap baik karena mendaki standar 2,0 dan
    dari quick rasio kinerja keuangan koperasi sangat baik karena sudah melebihi
    standar1,00. Rasio solvabilitas dari debt ratio dan debt equty ratio mengalami
    penurunan sehingga kenerja keuangan sudah dianggap baik karena koperasi sudah
    banyak melunasi hutangnya. Rasio Profitabilitas koperasi mengalami penurunan
    kecuali pada ratio total assets turnover koperasi mengalami kenaikan, penurunan
    rasio ini menunjukkan koperasi harus meningkatkan penjualan, total aktiva
    maupun modal agar kenaikan Profitabilitas dapat terlaksana. Rasio Aktivitas
    sangat baik karena koperasi mempunyai kemampuan menciptakan tingkat
    penjualan yang tinggi tiap tahunnya.

    Sumber :  http://lib.uin-malang.ac.id/?mod=th_detail&id=06130006

     
  • tituitcom 22.42 on 10 September 2012 Permalink  

    Filosofi Tarbiyah Ul� al-Alb�b 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Tarbiyah Ulul Albab

    Mukadimah
    Sebagai sebuah kerja bersama, kegiatan pendidikan harus dijalankan berdasarkan sebuah konsep yang dapat dipahami dan dijadikan acuan oleh semua komponen yang terlibat di dalamnya. Konsep pendidikan yang dimaksudkan itu menyangkut dasar filosofis, arah yang ingin diraih, kualitas proses dan produk yang diidealkan, karakteristik komponen pendidikan, serta berbagai pendukung yang diperlukan. Kejelasan konsep tersebut berfungsi sebagai penunjuk arah seluruh kegiatan yang dikembangkan dan sekaligus dijadikan sebagai pemersatu, sumber inspirasi dan kekuatan penggerak bagi semua komponen pendidikan yang ada.
    Universitas Islam Negeri (UIN) Malang sebagai perguruan tinggi yang diharapkan berdiri tegak dan kukuh, memerlukan konsep pendidikan yang jelas, utuh dan komprehensif. Apa yang selama ini dijalankan, baru didasarkan pada tradisi dan pedoman legal-formal yang dikeluarkan oleh pemerintah secara garis besar atau pokok-pokoknya saja. Pedoman itu masih memerlukan elaborasi secara detil agar mudah dipahami dan sekaligus berhasil melahirkan ciri khas yang disandang.

    Filosofi Tarbiyah Ul� al-Alb�b
    Sosok manusia ul� al-alb�b adalah orang yang mengedepankan dzikr, fikr dan amal shaleh. Ia memiliki ilmu yang luas, pandangan mata yang tajam, otak yang cerdas, hati yang lembut dan semangat serta jiwa pejuang (jihad di jalan Allah) dengan sebenar-benarnya perjuangan. Ia bukan manusia sembarangan, kehadirannya di muka bumi sebagai pemimpin menegakkan yang hak dan menjauhkan kebatilan.
    Ul� al-alb�b adalah manusia yang bertauhid. Kalimah syahadah sebagai pegangan pokoknya, �Asyhadu an la il�ha ill� All�h, wa asyhadu anna Muhammad Ras�l All�h.� Sebagai penyandang tauhid, ia berpandangan bahwa tidak terdapat kekuatan di muka bumi ini selain Allah. Semua makhluk manusia berposisi sama. Jika terdapat seseorang atau sekelompok/sejumlah orang dipandang lebih mulia, adalah oleh karena ia atau mereka telah menyandang ilmu, iman dan amal shaleh (taqwa). Penyandang derajat ul� al-alb�b tidak akan takut dan merasa rendah di hadapan siapapun sesama manusia. Kelebihan seseorang berupa kekuasaan, kekayaan, keturunan/nasab dan keindahan/ kekuatan tubuh tidak menjadikannya ia lebih mulia dari pada yang lain.
    Komunitas UIN Malang berjiwa dan berwatak ul� al-alb�b. Orientasi hidup ul� al-alb�b hanya pada ridha Allah swt. Kegiatan mendidik dan belajar yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa semata-mata hanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Mencari ilmu bukan sebatas untuk memperoleh ijazah dan kemudahan dalam mencari pekerjaan dan rizki. Ul� al-alb�b selalu yakin pada janji Allah bahwa rizki seseorang selalu berada di bawah keputusan Tuhan. Tidak selayaknya seseorang merisaukan terhadap rizki dan jenis pekerjaan yang akan diperoleh. Kebahagiaan bukan semata-mata terletak pada keberhasilan mengumpulkan rizki, tetapi pada kedekatan dengan Yang Maha Kuasa, Allah swt. Mahasiswa mencari ilmu pengetahuan lewat observasi, eksperimen dan membaca berbagai literatur bukan semata-mata untuk memperoleh indeks prestasi (IP) dan/atau sertifikat/ijazah, apalagi dikaitkan untuk mendapatkan pekerjaan dan rizki, tetapi adalah kewajiban agar menyandang derajad ul� al-alb�b.
    Identitas ul� al-alb�b diyakini dapat dibentuk lewat proses pendidikan yang dipola sedemikian rupa. Pola pendidikan yang dimaksudkan itu ialah pendidikan yang mampu membangun iklim yang dimungkinkan tumbuh dan berkembangnya dzikr, fikr dan amal shaleh. Menyesuaikan dengan konteks Ke-Indonesia-an, bentuk riil pendidikan UIN Malang diformat sebagai penggabungan antara tradisi pesantren (ma`had) dan tradisi perguruan tinggi. Pesantren telah lama dikenal sebagai wahana yang berhasil melahirkan manusia-manusia yang mengedepankan dzikr, sedangkan perguruan tinggi dikenal mampu melahirkan manusia fikr dan selanjutnya atas dasar kedua kekuatan itu melahirkan manusia yang berakhlak mulia dengan selalu berkeinginan untuk beramal shaleh.

    Ukuran Keberhasilan Tarbiyah Ul� al-Alb�b
    Keberhasilan hidup bagi penyandang ul� al-alb�b bukan terletak pada jumlah kekayaan, kekuasaan, sahabat, dan sanjungan yang diperoleh, melainkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Di dunia ini tak sedikit orang kaya, berkuasa dan disanjung orang banyak, tetapi ternyata tidak selamat dan juga tidak bahagia. Ul� al-alb�b diberikan oleh Allah swt. rizki yang halal, mungkin juga pengaruh yang luas tetapi tetap selamat dan bahagia. Penyandang ul� al-alb�b selalu memilih jenis dan cara kerja yang shaleh, artinya yang benar, lurus, tepat atau profesional. Oleh karena itu, amal shaleh yang dilakukan oleh ul� al-alb�b selalu disenangi oleh manusia dan bahkan oleh Allah swt.
    Ul� al-alb�b meyakini adanya kehidupan jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat. Kedua dimensi kehidupan itu harus memperoleh perhatian secara seimbang dan tidak dibenarkan hanya memprioritaskan salah satunya. Keberuntungan di dunia harus berdampak positif pada kehidupan akhirat dan tidak justru sebaliknya. Demikian pula kesehatan jasmani harus memberi dampak positif pula pada kesehatan ruhani. Keuntungan material bisa jadi berdampak positif pada kesehatan jasmani, akan tetapi jika diperoleh dengan cara yang tidak halal akan berdampak pada kesehatan ruhani. Bagi ul� al-alb�b hal tersebut harus dihindari.
    Lewat dzikr, fikr dan amal shaleh, pendidikan ul� al-alb�b mengantarkan seseorang menjadi manusia terbaik, sehat jasmani dan ruhani. Sebagai manusia terbaik, ia selalu melakukan kegiatan dan pelayanan terbaik kepada sesama, �khair an-n�s anfa`uhum li an-n�s. Sebagai orang yang sehat harus berusaha menghindar dari segala penyakit baik penyakit jasmani maupun penyakit ruhani. Penyakit jasmani mudah dikenali dan dirasakan, sementara penyakit ruhani tak mudah dikenali dan bahkan juga tidak disadari. Beberapa jenis penyakit ruhani itu antara lain: sifat dengki, iri hati, suka menyombongkan diri (takabbur), kufur nikmat, pendendam, keras kepala, individualistik, tidak toleran dan lain-lain.
    Pendidikan di UIN Malang diarahkan untuk menjadikan seluruh mahasiswanya: (1) berilmu pengetahuan yang luas, (2) mampu melihat/membaca fenomena alam dan sosial secara tepat, (3) Memiliki otak yang cerdas, (4) berhati lembut dan (5) bersemangat juang tinggi karena Allah sebagai pengejawantahan amal shaleh. Jika kelima kekuatan ini berhasil dimiliki oleh siapa saja yang belajar di kampus ini, artinya pendidikan ul� al-alb�b sudah dipandang berhasil. Sebab, dengan ciri-ciri itu seseorang diharapkan akan memiliki kekokohan akidah dan kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan profesional.

    Orientasi Tarbiyah Ul� al-Alb�b
    Arah Pendidikan ul� al-alb�b dirumuskan dalam bentuk perintah sebagai berikut: k�n� ul� al-`ilmi, k�n� ul� an-nuh�, k�n� ul� al-absh�r, k�n� ul� al-alb�b, wa j�hid� fi All�h haqqa jih�dih. Betapa pentingnya rumusan tujuan ini bagi pendidikan ul� al-alb�b agar dapat dihayati oleh semua warga kampus UIN Malang, maka ditulis di atas batu besar sebagai sebuah prasasti yang diletakkan persis di depan ma�had dalam kampus. Tulisan pada prasasti tersebut sekaligus dimaksudkan untuk memberikan kepastian bahwa pendidikan di kampus ini tidak akan mengarahkan para lulusannya untuk menempati posisi atau jabatan atau jenis pekerjaan tertentu di masyarakat. Pendidikan ul� al-alb�b memberikan piranti yang dipandang kukuh dan strategis agar seseorang dapat menjalankan peran sebagai khal�fah di muka bumi sebagaimana yang diisyaratkan Allah swt. melalui kitab suci al-Qur�an.
    Pendidikan ul� al-alb�b berkeyakinan bahwa mengembangkan ilmu pengetahuan bagi komunitas kampus semata-mata dimaksudkan sebagai upaya mendekatkan diri dan memperoleh ridha Allah swt. Akan tetapi, pendidikan ul� al-alb�b juga tidak menafikan arti pentingnya pekerjaan sebagai sumber rizki. Ul� al-alb�b berpandangan bahwa jika seseorang telah menguasai ilmu pengetahuan, cerdas, berpandangan luas dan berhati yang lembut serta mau berjuang di jalan Allah, insya Allah akan mampu melakukan amal shaleh. Konsep amal shaleh diartikan sebagai bekerja secara lurus, tepat, benar atau profesional. Amal shaleh bagi ul� al-alb�b adalah merupakan keharusan bagi komunitas kampus dan alumninya. Sebab, amal shaleh adalah jalan menuju ridha Allah swt.

    Pendekatan Tarbiyah Ul� al-Alb�b
    Dzikr, fikr, dan amal shaleh dipandang sebagai satu kesatuan utuh yang dikembangkan oleh tarbiyah ul� al-alb�b. Dzikr dilakukan secara pribadi maupun (diutamakan) berjama�ah, langsung di bawah bimbingan dosen/guru. Bentuk kegiatannya berupa shalat berjama�ah, khatmul Qur�an, puasa wajib maupun sunnah, memperbanyak membaca kalimah thayyibah, tasb�h, takb�r, tahm�d dan shalaw�t. Kegiatan semacam itu dilakukan di masjid atau ma�had, pada setiap waktu. Pendidikan fikr dilakukan untuk mempertajam nalar atau pikiran. Pendekatan yang dikembangkan lebih berupa pemberian tanggung jawab kepada mahasiswa untuk mengembangkan keilmuannya secara mandiri —proses mencari sendiri lebih diutamakan. Prestasi atau kemajuan belajar diukur dari seberapa banyak dan kualitas temuan yang dihasilkan oleh mahasiswa selama belajar. Pendidikan ul� al-alb�b lebih merupakan kegiatan riset terbimbing oleh dosen daripada berbentuk kuliah sebagaimana lazimnya dilakukan di perguruan tinggi. Dasar pikiran yang dijadikan acuan pengembangan pendekatan adalah formula dan juga kisah-kisah dalam al-Qur�an serta evaluasi terhadap hasil yang dilakukan lewat pendekatan kuliah selama ini.
    Ayat-ayat al-Qur�an banyak sekali menggunakan formula kalimat bertanya dan perintah untuk mencari sendiri, seperti: Apakah tidak kau pikirkan? Apakah tidak kau perhatikan? Apakah tidak kau lihat? dan sebagainya. Formula kalimat bertanya semacam itu melahirkan inspirasi dan pemahaman bahwa memikirkan, memperhatikan dan melihat sendiri, seharusnya dijadikan kata kunci dalam pilihan pendekatan belajar untuk memperluas ilmu pengetahuan. Selain itu, masih bersumberkan al-Qur�an, diambil dari kisah nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan dilakukan dengan cara membangun hipotesis dan mengujinya sendiri dengan logika dan data empirik yang ditemukan. Melalui proses panjang, akhirnya Tuhan memberikan petunjuk dengan bersabda: aslim (ber-Islam-lah) maka Ibrahim-pun mengatakan aslamtu (saya ber-Islam dan berserah diri). Kisah ini pula memberikan inspirasi bahwa jika mencari Tuhan saja Ibrahim diberi peluang untuk mencari sendiri, maka selayaknyalah manusia seperti halnya mahasiswa seyogyanya diberi kebebasan seluas-luasnya mencari sendiri dan bukan dituntun dan selalu diberi petunjuk. Dosen dalam tarbiyah ul� al-alb�b berperan sebagai pemberi petunjuk atau kata putus terakhir setelah mahasiswa sebelumnya melakukan pencaharian sendiri. Dasar pertimbangan yang lain ialah bahwa ternyata pendekatan kuliah selama ini tidak memberi peluang mahasiswa mengasah kekuatan nalarnya lewat tantangan yang harus dihadapi. Itu semua dapat diduga sebagai sumber kelemahan pendekatan pendidikan yang selama ini dikembangkan.
    Amal shaleh sedikitnya merangkum tiga dimensi. Pertama, profesionalitas; kedua, transendensi berupa pengabdian dan keikhlasan; dan ketiga, kemaslahatan bagi kehidupan pada umumnya. Pekerjaan yang dilakukan oleh peserta didik ul� al-alb�b harus didasarkan pada keahlian dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Apalagi, amal shaleh selalu terkait dengan dimensi keumatan dan transendensi, maka harus dilakukan dengan kualitas setinggi-tingginya. Tarbiyah ul� al-alb�b menanamkan nilai, sikap dan pandangan bahwa dalam memberikan layanan kepada umat manusia di mana, kapan dan dalam suasana apapun harus dilakukan yang terbaik (amal shaleh).
    Selain itu, dalam mengembangkan budaya amal shaleh harus dilakukan dengan cara ibda� bi nafsika: mulai dari diri sendiri. Sebaliknya, hal yang menyangkut pengembangan pemikiran dilakukan dengan pendekatan kebebasan, keterbukaan dan mengedepankan keberanian yang bertanggung jawab. Bebas artinya siapa saja, dengan tidak melihat oleh dan dari mana pikiran itu berasal, dihargai asal pikiran itu kukuh, baik dari nalar maupun data yang diajukan. Prinsip terbuka berarti memberikan peluang kepada siapa saja untuk mengajukan nalar dan daya kritisnya. Kebenaran bagi tarbiyah ul� al-alb�b, tidak mengenal final, artinya masih diberi ruang untuk dikritisi, kecuali menyangkut akidah atau tauhid. Sedangkan keberanian ditumbuh-kembangkan, oleh karena sifat ini dipandang sebagai modal dan bahkan pintu masuk lahirnya keterbukaan dan kebebasan sebagai pilar penyangga tumbuhnya iklim akademik.

    Budaya Pendidikan
    Budaya sebuah komunitas, tak terkecuali komunitas pendidikan, dapat dilihat dari dimensi lahir maupun batinnya. Budaya lahiriah meliputi hasil karya atau penampilan yang tampak atau yang dapat dilihat, misalnya penampilan fisik seperti gedung, penataan lingkungan sekolah, sarana pendidikan dan sejenisnya. Sedangkan yang bersifat batiniah adalah hasil karya yang tidak tampak, tetapi dapat dirasakan. Hal itu misalnya menyangkut pola hubungan antarsesama, cara menghargai prestasi seseorang, sifat-sifat pribadi yang dimiliki baik kekurangan maupun kelebihannya, dan sebagainya. Budaya adalah sesuatu yang dianggap bernilai tinggi, yang dihargai, dihormati dan didukung bersama. Budaya juga berstrata, oleh karena itu di tengah masyarakat terdapat anggapan budaya rendah, sedang dan tinggi. Dilihat dari perspektif organisasi, budaya juga berfungsi sebagai instrumen penggerak dinamika masyarakat.
    Tingkat perkembangan budaya sebuah komunitas masyarakat, dapat dilihat dari sisi yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Lembaga pendidikan disebut berbudaya tinggi, dari sisi lahiriahnya, ketika ia berhasil membangun penampilan wajahnya sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya, lembaga pendidikan itu: memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, berhasil membangun gedung sebagai sarana pendidikan yang mencukupi �baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya, mampu menyediakan prasarana pendidikan yang memadai, menciptakan lingkungan bersih, rapi dan indah, memiliki jaringan atau network yang luas dan kuat, dan sebagainya. Sedangkan tingkat budaya batiniah dapat dilihat melalui cita-cita, pandangan tentang dunia kehidupan: menyangkut diri, keluarga dan orang lain atau sesama, apresiasi terhadap kehidupan spiritual dan seni, kemampuan mengembangkan ilmu dan hikmah. Masih dalam lingkup budaya batin dapat dilihat pula dari bagaimana mereka membangun interaksi dan interrelasi di antara komunitasnya, mendudukkan dan menghargai orang lain dalam berbagai aktivitasnya, dan bagaimana mensyukuri nikmat serta karunia yang diperoleh.
    Suasana yang dinamis, penuh kekeluargaan, kerjasama serta saling menghargai senantiasa menjadi sumber inspirasi dan kekuatan penggerak menuju ke arah kemajuan, baik dari sisi spiritual, intelektual dan profesional. Sebaliknya, komunitas yang diwarnai oleh suasana kehidupan yang saling tidak percaya, s� al-zhann, tidak saling menghargai di antara sesama, kufur, akan memperlemah semangat kerja dan melahirkan suasana stagnan. Pola hubungan sebagaimana disebutkan terakhir itu akan melahirkan atmosfir konflik yang tak produktif serta jiwa materialistik dan hubungan-hubungan transaksional yang akan berakibat memperlemah kehidupan organisasi kampus itu sendiri. Tarbiyah ul� al-alb�b harus dijauhkan dari budaya seperti itu. Sebab, sebaik-baik fasilitas yang disediakan berupa kemegahan gedung serta setinggi apapun kualitas tenaga pengajar, jika lembaga pendidikan tersebut tak mampu mengembangkan budaya tinggi, maka pendidikan tak akan menghasilkan produk yang berkualitas sebagaimana yang diharapkan. Bahkan sebaliknya, sekalipun budaya lahiriah tak berkategori tinggi, tetapi jika budaya batiniah dapat dikembangkan setinggi mungkin, produk pendidikan masih dapat diharapkan lebih baik hasilnya. Tarbiyah ul� al-alb�b dalam menggapai tujuan pendidikan secara maksimal, mengembangan budaya lahiriah dan batiniah secara padu, simultan dan maksimal sesuai dengan potensi dan kekuatan yang ada.

    Struktur Keilmuan
    Ilmu yang dikembangkan di UIN Malang bersumber dari al-Qur�an dan hadis nabi. Petunjuk al-Qur�an dan hadis yang masih bersifat konseptual selanjutnya dikembangkan lewat kegiatan eksperimen, observasi dan pendekatan ilmiah lainnya. Ilmu pengetahuan yang berbasis pada al-Qur�an dan al-Sunnah itulah yang dikembangkan oleh UIN Malang. Jika menggunakan bahasa kontemporer UIN Malang berusaha menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu kesatuan. UIN Malang sesungguhnya tidak sepaham dengan siapa saja yang mengkategorisasikan ilmu agama dan ilmu umum. Sebab kategorisasi itu terasa janggal dan/atau rancu. Istilah umum adalah lawan kata dari khusus. Sedangkan agama, khususnya Islam tidak tepat dikategorikan sebagai ajaran yang bersifat khusus. Sebab, lingkup ajarannya begitu luas dan bersifat universal, menyangkut berbagai aspek kehidupan. Jika keduanya dipandang sebagai ilmu, maka agama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu, sedang ilmu umum berasal dari manusia.
    Kedua jenis ilmu yang berasal dari sumber yang berbeda itu harus dikaji secara bersama-sama dan simultan. Perbedaan di antara keduanya, ialah bahwa mendalami ilmu yang bersumber dari al-Qur�an dan hadis hukumnya wajib �ain bagi mahasiswa UIN Malang. Sedangkan, mendalami ilmu yang bersumber dari manusia hukumnya wajib kifayah. Artinya, terhadap jenis ilmu yang disebutkan terakhir ini, mahasiswa diperkenankan memilih salah satu cabang disiplin ilmu yang diminati. Penguasaan salah satu cabang ilmu dianggap telah gugur atas kewajiban mengembangkan disiplin ilmu lainnya.
    Dalam perspektif bangunan kurikulum, struktur keilmuan yang dikembangkan UIN Malang menggunakan metafora sebuah pohon yang kukuh dan rindang. Sebagaimana layaknya sebuah pohon menjadi kukuh, berdiri tegak dan tak mudah roboh dihempas angin jika memiliki akar yang kukuh dan menghunjam ke bumi. Pohon yang berakar kuat itu akan melahirkan batang yang kukuh pula. Batang yang kukuh akan melahirkan cabang dan ranting yang kuat serta daun dan buah yang sehat dan segar. Pohon dengan ciri-ciri seperti itulah yang dijadikan perumpamaan ilmu yang dikembangkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.
    Akar yang kukuh menghunjam ke bumi itu digunakan untuk menggambarkan kemampuan berbahasa asing (Arab dan Inggris), logika dan filsafat, ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Bahasa Asing �Arab dan Inggris, harus dikuasai oleh setiap mahasiswa. Bahasa Arab digunakan sebagai piranti mendalami ilmu-ilmu yang bersumber dari al-Qur�an dan hadis nabi serta kitab-kitab berbahasa Arab lainnya. Sudah menjadi keyakinan bagi UIN Malang bahwa mengkaji Islam pada level perguruan tinggi harus menggunakan sumber asli. Mempelajari Islam hanya menggunakan buku terjemah dipandang tidak mencukupi. Penggunaan Bahasa Inggris dipandang penting sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi dan bahasa pergaulan internasional. Selanjutnya, pendalaman terhadap Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, kemampuan logika/filsafat, ilmu alam dan ilmu sosial perlu dikuasai oleh setiap mahasiswa agar dijadikan bekal dan instrumen dalam menganalisis dan memahami isi al-Qur�an, hadis maupun fenomena alam dan sosial yang dijadikan obyek kajian-kajian selanjutnya. Jika hal-hal tersebut dikuasai secara baik, maka mahasiswa akan dapat mengikuti kajian keilmuan selanjutnya secara mudah. Sebaliknya, jika mahasiswa gagal mendalami ilmu alat tersebut dipastikan akan mengalami kesulitan dan bisa jadi akan mengalami kegagalan dalam studinya.
    Batang yang kukuh digunakan untuk menggambarkan ilmu-ilmu yang terkait dan bersumber langsung dari al-Qur�an dan hadis Nabi. Yaitu, studi al-Qur�an, studi hadis, Pemikiran Islam dan sirah Nabawiyah. Ilmu semacam ini hanya dapat dikaji dan dipahami secara baik oleh mereka yang telah memiliki kemahiran Bahasa Arab, logika, ilmu alam dan ilmu Sosial.
    Dahan dan ranting dari pohon yang kukuh dan rindang tersebut digunakan untuk menggambarkan disiplin ilmu modern yang dipilih oleh setiap mahasiswa. Disipilin ilmu ini bertujuan untuk mengembangkan aspek keahlian dan profesionalismenya. Disiplin ilmu modern itu misalnya: ilmu kedokteran, filsafat, psikologi, ekonomi, sosiologi, teknik serta cabang-cabang ilmu lainnya. Lebih lanjut, jika metafora berupa pohon dikembangkan, dan harus menyebut buah pohon tersebut, maka buah itu adalah ilmu, iman, amal shaleh, dan akhlaq al-karimah. Keempat kata: ilmu, iman, amal shaleh, dan akhlaq al-karimah sengaja ditulis dengan huruf tebal untuk menunjukkan betapa pentingnya hal itu dalam kehidupan di alam ini. Ridha Allah swt., tergantung pada kadar iman, amal shaleh, dan akhlaq al-karimah seseorang. Iman, amal shaleh, dan akhlaq al-karimah lahir dari hidayah dan kekayaan ilmu pengetahuan. Seseorang yang memiliki ilmu, iman, amal shaleh, dan akhlaq al-karimah yang dihasilkan oleh kampus ini disebut: ulama� yang intelek profesional dan/atau intelek profesional yang ulama. UIN Malang hadir bertujuan melahirkan manusia yang berilmu, beriman, beramal shaleh, dan ber-akhlaq al-karimah itu.

    Dosen, Mahasiswa dan Karyawan
    Ketiga komponen pendidikan �dosen, karyawan dan mahasiswa�bekerja di kampus ini harus dilandasi oleh niat memenuhi kewajiban dan agar menjadi dekat dan memperoleh ridha Allah swt. Niat secara tegas seperti itu dikedepankan, sebab bagi setiap muslim dan muslimat, thalab al-`ilm hukumnya adalah wajib, bahkan berlangsung sepanjang hayat: min al-mahd ila al-lahd.
    Kesamaan tujuan berupa sama-sama menggapai ridha Allah itu harus melahirkan hubungan yang saling mencintai dan menghargai di antara seluruh komunitas kampus. Sekalipun pada intinya lingkup pendidikan, tak terkecuali pendidikan di perguruan tinggi, secara langsung hanya sebatas hubungan antara dosen dan mahasiswa, tetapi tidak terpuji jika mengabaikan peran-peran pihak lain seperti, karyawan. Tata krama pendidikan Islam mengajarkan bahwa siapapun yang memudahkan jalan bagi pengembangan ilmu harus dihargai. Bahkan, Allah swt. dalam salah satu hadis Nabi berjanji akan memberikan balasan berupa surga.
    Eratnya hubungan antara dosen dan mahasiswa harus ditunjukkan sebagaimana hubungan antara orang tua dan anaknya, antara petani dan tanamannya, atau antara gembala dengan binatang peliharaannya. Kedua belah pihak, antara dosen dan mahasiswa, harus ada nuansa kasih sayang yang mendalam. Perasaan sukses bagi dosen bukan tatkala menerima reward atau ma`�syah pada setiap bulannya, tetapi justru tatkala mahasiswanya mengalami kemajuan. Lebih dari itu, kegembiraan lebih terasa tatkala melihat dan/atau mendengar bahwa mahasiswanya telah mampu dan berhasil melakukan sesuatu amal shaleh di tengah masyarakat. Sebaliknya, dosen akan merasa susah tatkala menyaksikan mahasiswanya tak mengalami kemajuan yang berarti. Dosen sebagaimana petani ataupun penggembala, bergembira ria tatkala tanaman dan ternaknya tumbuh subur dan berkembang biak dengan baik. Itulah gambaran dan metafora hubungan dosen dan mahasiswa di kampus yang beridentitas Islam ini. Hubungan dosen dan mahasiswa tidak cukup diikat oleh peraturan atau perundang-undangan yang tertulis, hubungan itu diikat oleh suasana batin, rasa dan kasih sayang yang mendalam.
    Agar terjadi jalinan hubungan yang erat dan kukuh antara semua komponen perguruan tinggi ini harus dikembangkan ta`�ruf atau keterbukaan. Ta`�ruf akan melahirkan taf�hum. Saling memahami akan melahirkan tadh�mun atau saling menghargai. Tadh�mun akan memunculkan tar�hum dan akhirnya terjadilah suasana ta`�wun di antara semua warga kampus. Hubungan seperti ini, bagi kaum muslimin dijamin tak akan membunuh daya kritis, sebab dalam Islam juga harus ditumbuh-kembangkan suasana taw�shaw bi al-haqq wa taw�shaw bi ash-shabr. Hubungan dosen dan mahasiswa diikat oleh suasana kasih sayang dan bukan yang lain, yang merugikan salah satu atau kedua belah pihak.
    Sikap dan perilaku buruk dan tidak terpuji, harus dihindari oleh semua pihak. Hubungan dosen dan mahasiswa harus dijauhkan dari nuansa transaksional, hegemonik dan kooptatik. Mereka yang merasa memiliki kelebihan tidak sombong karena kelebihannya, dan yang berkekurangan tidak boleh direndahkan dan merasa rendah diri. Hubungan antar-warga kampus harus mencerminkan sebagai masyarakat yang berbudaya tinggi, memperoleh sinar ilahi (n�r il�hi) dan menyandang budaya adiluhung yaitu budaya orang-orang yang berpendidikan tinggi Islam.

    Identitas dan Bahasa Pergaulan Warga Kampus
    Peribahasa Jawa mengatakan: �ajining diri songko lathi, ajining rogo songko busono.� Artinya, cara berbicara dan cara berbusana (berpakaian) akan selalu dijadikan dasar pemberian penghormatan kepada seseorang. Dari peribahasa Jawa itu dapat diambil pengertian secara lugas bahwa jika seseorang ingin dihormati orang lain, maka hargailah orang lain dengan cara berbicara dan berbusana yang baik atau sopan. Cara bicara dan berbusana menjadi cermin kehormatan seseorang.
    Warga kampus �dosen, mahasiswa dan karyawan�baik secara individual maupun kolektif adalah representasi atau cermin kebesaran dan kewibawaan UIN Malang, lembaga pendidikan tinggi Islam di mana semua warga kampus bekerja dan belajar harus dijunjung dan dimuliakan namanya. Siapa yang merusak nama baik almamater atau kampus Islam ini harus mempertanggung-jawabkan kepada seluruh komponen kampus ini.
    Semua dosen, mahasiswa dan karyawan UIN Malang di mana dan kapan saja harus berbusana dan menggunakan bahasa yang mencerminkan harkat dan derajat Islam yang amat agung dan tinggi. Menyangkut cara berpakaian, Islam sudah memberikan tuntunan yang jelas, wajib menutup aurat. Dosen, mahasiswa dan karyawan boleh menggunakan mode yang disenangi, tetapi selalu dilarang menyimpang dari norma yang digariskan oleh ajaran Islam. Menampakkan aurat, baik secara terang-terangan atau tersamar (berpakaian terlalu ketat), harus dihindari oleh seluruh komunitas kampus Islam ini.
    Secara lebih detil perlu dikemukakan bahwa semua mahasiswa di kampus harus bersepatu, laki-laki tidak diperkenankan memakai kaos, giwang, kalung dan berambut panjang. Perempuan harus mengenakan pakaian yang menutup aurat wanita secara sempurna.
    Menyangkut bahasa pergaulan sehari-hari, cepat atau lambat, atau paling tidak secara bertahap menggunakan Bahasa Arab dan/atau Inggris. Penggunaan bahasa asing bukan semata-mata menyesuaikan tuntutan zaman sehubungan dibukanya dunia perdagangan bebas, lebih dari itu ialah dimaksudkan sebagai upaya membangun identitas atau citra kampus Islam yang seharusnya memiliki kelebihan dibanding kampus-kampus lainnya. Alasan strategis lainnya, bahwa sebagai kampus yang melakukan kajian berbagai ilmu yang bersumber dari literatur asing (Arab dan Inggris) maka kedua bahasa tersebut harus dikuasai secara baik dan oleh karena itu berbahasa asing tersebut harus menjadi bagian dari kehidupan kampus ini.

    Manajemen Pengelolaan dan Pengembangan Kampus
    Al-Qur�an bagi umat Islam adalah petunjuk segala kehidupan, tak terkecuali dalam mengembangkan organisasi pendidikan yang melibatkan orang banyak. Membangun kampus sama artinya dengan membangun orang, baik dari sisi karakter, perilaku, keilmuan maupun ketrampilan.
    Mengatur orang banyak dengan berbagai sifatnya harus menggunakan pendekatan kemanusiaan. Sebab, manusia selain memiliki potensi maslahah, sekaligus juga menyandang potensi sifat-sifat mafsadah. Kedua sifat yang berlawanan itu tidak akan dapat dihilangkan, oleh karena itu harus disalurkan pada hal yang menguntungkan.
    Selanjutnya harus dibedakan antara manajemen pengelolaan kampus dan manajemen pengembangan kampus. Manajemen pengelolaan kampus lebih tertuju pada penataan atau pengaturan terhadap seluruh kegiatan pelayanan pendidikan. Sedangkan manajemen pengembangan kampus lebih diarahkan pada upaya menumbuh-kembangkan kampus agar tahap demi tahap mengalami kemajuan. Kedua jenis manajemen tersebut diuraikan secara garis besar.

    1. Manajemen Pengelolaan Kampus
    Manajemen yang dikembangkan agar lembaga ini tumbuh secara wajar, dinamis, inovatif dan terhindar dari hambatan psikologis harus selalu menumbuh-kembangkan suasana kebersamaan, keterbukaan, tanggung jawab, amanah dan profesional. Sebagai lembaga pendidikan, kampus ini memiliki peran dan tanggung jawab menumbuh -kembangkan anak-anak muda yang penuh harap agar kelak menjadi manusia ul� al-alb�b.
    Lembaga ini tak ubahnya sebidang persemaian anak manusia yang harus tumbuh secara wajar, sehat dan sempurna. Sedemikian berat peran yang harus diemban oleh lembaga pendidikan tinggi ini. Oleh karena itu, lembaga ini harus disangga oleh orang banyak, dan bukan justru saling memperebutkan amanah. Perebutan yang berlebihan hanya akan memperlemah kekuatan yang diperlukan untuk menyangga beban berat tersebut.
    Sebagai langkah antisipatif untuk menjaga kebersamaan yang kukuh kampus ini harus menjauhkan diri dari atmosfir politik. Sebab, kampus bukan lembaga politik, melainkan lembaga akademik. Selain itu untuk menjaga keutuhan bersama maka harus selalu diwaspadai, jika muncul gejala seseorang atau sekelompok orang merasa terpinggirkan, maka harus segera dihimpun. Keutuhan dan kebersamaan dalam kampus ini harus ditempatkan pada posisi strategis yang tak boleh diabaikan.
    Partisipasi semua pihak, sebagai syarat agar organisasi dapat tumbuh sehat, harus didasarkan atas profesionalisme. Penetapan seseorang menduduki jabatan tertentu harus dipilih secara fair, objektif dan demokratis. Penempatan seseorang untuk menduduki jabatan tertentu yang hanya didasarkan pada pertimbangan kedekatan hubungan kelompok atau primordial akan meruntuhkan semangat partisipasi. Profesionalisme menuntut rasionalisme yang merupakan ciri khas perguruan tinggi.
    Hal lain yang tidak boleh dilanggar adalah tumbuhnya rasa ketidak-adilan, termasuk dalam pembagian informasi. Perasaan tidak adil akan melahirkan friksi-friksi yang mengakibatkan lembaga menjadi tidak sehat. Siapa saja akan ikhlas mendarmabaktikan apa saja yang dimiliki, jika mereka merasa diberlakukan secara adil dan jujur. Sikap tidak fair, tidak jujur dan tidak adil, selalu dibenci oleh semua orang. Relevan dengan itu, tepatlah rumusan sebuah prinsip manajemen kontemporer yang mengatakan bahwa pemimpin harus cerdik, tetapi sekali-kali jangan mencoba-coba menggunakan kecerdikannya untuk menipu orang lain. Di sini suasana keterbukaan lagi-lagi penting untuk menghindari lahirnya s� al-zhann atau saling tidak mempercayai yang akan berdampak negatif pada pertumbuhan organisasi.
    Polarisasi warga kampus atas dasar perbedaan paham keagamaan, etnis atau asal daerah diberi toleransi, dan bahkan dikembangkan sepanjang tidak mengganggu keutuhan warga kampus secara keseluruhan. Perbedaan yang melahirkan polarisasi itu suatu ketika menjadi penting jika dengan polarisasi itu dapat ditumbuh-kembangkan suasana fastabiq� al-khairat, sehingga dapat memacu pertumbuhan dan dinamika kampus.

    2. Manajemen Pengembangan Kampus
    Dalam al-Qur�an terdapat petunjuk bagaimana mengembangkan komunitas manusia. Beberapa ayat yang dikenal sebagai awal turunnya al-Qur�an, yakni awal surat al-`Alaq dan awal surat al-Muddatstsir, memberikan inspirasi bagaimana sebuah gerakan membangun masyarakat seharusnya dilakukan. Surat al-`Alaq diawali dengan kata qir�ah atau iqra�, yaitu perintah membaca. Kemudian pada ayat pertama surat al Muddatstsir, yang selama ini dikenal sebagai ayat-ayat yang turun setelahnya, berisi seruan pada kaum berselimut (muddatstsir), mereka diperintah untuk qiy�m atau bangkit. Perintah selanjutnya adalah melakukan bersuci (thah�rah). Dalam konteks bersuci terdapat ayat perintah meninggalkan angkara murka dan larangan terhadap orang yang berharap/mengangan-angankan sesuatu yang mustahil terjadi atau memberi sesuatu yang jumlahnya sedikit agar memperoleh sesuatu yang jumlahnya lebih banyak.(wa ar-rujza fahjur, wa l� tamnun tastaktsir). Ada dua ayat lagi, yang penting sekali kaitannya dengan perjuangan atau berjihad. Berjuang harus dimaksudkan untuk mengagungkan asma Allah (wa rabbaka fakabbir). Selain itu harus bersabar (wa li rabbika fashbir). Sebagai makhluk beriman maka seluruh rangkaian amal dan pengabdiannya harus diarahkan pada tujuan tunggal, yaitu menggapai ridha Allah swt.
    Seharusnya pengembangan lembaga pendidikan tinggi Islam mengacu pada petunjuk ayat-ayat al-Qur�an ini. Pertama dimulai dari membaca (qir�ah) kondisi internal maupun eksternal kampus, meliputi: potensi, tantangan, maupun peluangnya. Pemahaman terhadap hal itu semua melahirkan kesadaran. Muddatsir adalah gambaran orang yang lagi pasif (berselimut), maka hal itu merupakan sebuah seruan untuk melahirkan kesadaran agar berlanjut terjadi qiy�m atau kebangkitan. Kesadaran akan menjadi sebuah kekuatan pendorong terjadinya kebangkitan. Perguruan tinggi Islam harus bangkit. Mereka seharusnya bertekad tak mau diungguli oleh perguruan tinggi manapun dan di manapun. Munculnya semangat itulah yang disebut telah lahirnya kebangkitan.
    Selanjutnya, UIN Malang sebagai perguruan tinggi yang ingin menjadikan Islam sebagai pegangan dan pedoman hidup harus menjauhkan diri dari hal apa saja yang bersifat merugikan diri maupun pihak lain (kemungkaran dan bersikap subjektif). UIN Malang harus dikembangkan dalam konteks berjuang (jih�d) mengagungkan asma Allah. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran, kesungguhan, kebersamaan dan pengorbanan. Itu semua dilakukan sebagai bentuk kesungguhan dalam mendekatkan diri serta menggapai ridha Allah swt.
    Selain ber-iqra� (membaca) secara terus menerus untuk melahirkan inspirasi dan kekuatan penggerak seluruh komponen yang ada, dibutuhkan pula rumusan visi, misi, core of value dan core of belief secara jelas. Sejak 1998 STAIN Malang yang saat ini berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang telah berhasil merumuskan Visi, Misi dan Tradisinya. Rumusan ini penting artinya untuk selanjutnya dijadikan sebagai dasar menyusun strategi pengembangan yang di dalamnya termasuk susunan skala perioritasnya.
    Selain itu, UIN Malang telah berhasil menyusun strategi pengembangan sehingga melahirkan konsep yang disebut dengan Rukun al- J�mi`ah yang terdiri atas sembilan macam komponen yang meliputi : (1) sumber daya manusia yang handal (dosen, karyawan, dan mahasiswa), (2) masjid, (3) ma�had, (4) perpustakaan, (5) laboratorium, (6) ruang belajar/kuliah, (7) perkantoran sebagai pusat pelayanan, (8) pusat pengembangan seni dan olah raga, dan (9) sumber-sumber pendanaan yang luas dan kuat. Kesembilan komponen itu, merupakan satu kesatuan utuh yang harus diadakan sebagai karasteristik perguruan tinggi Islam, yang diharapkan mampu mengantarkan mahasiswa memiliki empat kekuatan sekaligus, yaitu: (1) Kekokohan akidah dan kedalaman spiritual, (2) keagungan akhlak, (3) keluasan ilmu dan (4) kematangan profesional. Walhasil, semua usaha-usaha itu dimaksudkan sebagai upaya mendekatkan diri dan ridha Allah swt.

    Penutup
    Sebagai sebuah konsep awal, Tarbiyah Ul� al-Alb�b ini masih memerlukan pengujian yang seksama. Sebab, konsep ini disusun semata-mata didasarkan atas pandangan-pandangan yang lebih bersifat idealis, yang bisa jadi jauh dari kebutuhan nyata atau aspirasi masyarakat yang sedang berkembang. Sebuah konsep dapat dijalankan dengan baik dan maksimal jika ada kesesuaian dengan kekuatan dan kenyataan di lapangan. Sementara dalam realitasnya akhir-akhir ini masyarakat sedang dilanda oleh budaya ekonomi kapitalistik yang serba menuntut keuntungan besar dan cepat dari usaha dan modal yang serendah-rendahnya. Jika ungkapan tersebut betul, maka konsep ini sangat kontradiktif dengan budaya masyarakat yang berkembang saat ini.
    Akan tetapi, sadar akan fenomena kualitas pendidikan yang semakin hari tidak menunjukkan kemajuan, bahkan cenderung merosot, maka konsep ini diharapkan, sekalipun mungkin dinilai bersifat utopis, menjadi bukti bahwa ternyata masih ada sebagian masyarakat yang benar-benar menaruh keprihatinan terhadap kualitas pendidikan. Atas dasar keprihatinan yang amat mendalam tentang pendidikan kita selama ini, konsep ini disusun.
    Mudah-mudahan konsep Tarbiyah Ul� al-Alb�b membawa manfaat bagi upaya-upaya mencari jalan keluar untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan semoga Allah swt. selalu melimpahkan petunjuk, berkah, pertolongan dan ridha-Nya. Amin.[]

     
  • tituitcom 22.38 on 10 September 2012 Permalink  

    Orang yang kaya jiwa adalah 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Kekayaan Yang Paling Berharga

    Setiap orang jika ditanya kekayaan yang paling mahal harganya dan yang paling disukai, maka hampir pasti mereka akan menjawab : uang, mobil, rumah, berlian dan seterusnya. Jawaban itu tidak salah. Memang itu semua sudah umum dipandang sebagai kekayaan. Seseorang disebut kaya dan orang lainnya disebut miskin, perbedakan itu semata-mata karena kepemilikan harta. Orang disebut kaya jika ia memiliki rumah besar, uang banyak, mobil mewah, tabungan banyak di bank dan seterusnya. Sebaliknya orang disebut miskin jika ia tidak memiliki rumah, tidak punya tabungan, tidak punya mobil dan juga tidak memiliki penghasilan dan tidak memiliki apa-apa. Itulah ciri orang miskin.
    Sekalipun menurut pandangan sebagian besar orang, anggapan ini benar, tetapi pertanyaannya kemudian adalah, apakah tidak ada ukuran selain itu. Kita sering dengar ada juga pandangan yang mengatakan, biar miskin harta asalkan tidak miskin jiwa. Dengan kalimat ini, artinya ada orang yang sekalipun tidak memiliki harta, tetapi merasa memiliki jiwa yang luas dan kukuh, lebih disukai. Sebaliknya, ada orang yang kaya harta benda, tetapi sesungguhnya ia miskin. Jika harus memilih, memang yang terbaik adalah menjadi kaya harta sekaligus kaya jiwa. Tetapi, jika alternatif ini tidak boleh dipilih, maka ternyata ada orang yang lebih memilih kaya jiwa daripada kaya harta.
    Kemudian, siapa sesungguhnya orang yang disebut memiliki kekayaan jiwa itu. Saya pernah mendapat ceritera, ada seorang pegawai departemen agama, ketika memasuki pensiun, segera baju korpri dan baju saparinya dicuci dan disetelika. Tatkala, pegawai yang tergolong rendah, hanya menduduki jabatan di tingkat kabupaten diundang untuk acara pelepasan pensiun, baju-baju tersebut dengan ikhlas diserahkan ke kantor dengan maksud agar jika diperlukan, agar dipakai oleh pegawai lainnya. Tokh kata dia, setelah pensiun dia tidak akan menggunakan baju seragam itu lagi. Inilah menurut padangan saya contoh orang yang tergolong kaya jiwa.
    Sebaliknya dari ceritera di atas, sebagai contoh orang berjiwa kerdil yang juga disebut miskin jiwa, dapat dicontohkan lewat kasus berikut. Seorang pejabat, sekian banyak keluarganya dimasukkan di lembaga yang ia pimpin, sekalipun tidak memenuhi syarat. Ia berpikir, daripada diisi orang lain, apa salahnya diisi keluarganya sendiri. Bahkan, saudara dekatnya diberi fasilitas untuk pengadaan semua kebutuhan kantor. Itu dilakukan dengan alasan efisiensi, dan agar cepat. Kasus seperti ini, sederhana dan aneh, tetapi gampang sekali ditemui di mana-mana. Inilah gambaran orang yang hanya sebatas mementingkan dirinya sendiri dan abai pada orang lain. Satu sisi dia menjadi kaya, dihormati keluarganya dan diperjuangkannya, akan tetapi sesungguhnya dia hanya memiliki �aku� kecil, sebatas keluarganya, belum meraih �aku� besar, ialah masyarakatnya.
    Orang yang kaya jiwa adalah orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri, berani menghadapi tantangan hidup, ikhlas, sabar dan mampu membagikan kasih sayangnya kepada semua. Ia tidak takut miskin dan tidak takut pula kehilangan harta maupun jabatannya, yang ditakutkan adalah jika keberadaannya tidak memberi manfaat bagi orang lain. Lalu, siapa sesungguhnya orang yang miskin jiwa itu. Tidak lain adalah orang yang tidak menyandang sifat yang dimiliki oleh orang yang berjiwa besar itu. Sehingga, sekalipun hartanya melimpah, tetapi jika dia bakhil, pelit terhadap orang lain, maka harta yang dikumpulkan dengan susah payah, tokh akhirnya juga tidak memberi manfaat pada siapa saja, termasuk kepada dirinya sendiri.
     
  • tituitcom 22.36 on 10 September 2012 Permalink  

    Sebagai seorang penyandang Ulul al Baab 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Mari Meng “Ulul Al Baab” Kan Diri

    Universitas Islam Negeri Malang memiliki logo berupa tulisan dengan menggunakan huruf Arab berbunyi �ulul al Baab�. Logo itu sudah menjadi milik dan bahkan kebanggaan semua warga kampus. Ketika menyebut UIN Malang maka yang tergambar, satu di antaranya, adalah sebutan �ulul al Baab� itu. Logo itu ada di semua simbul-simbul UIN Malang, seperti di bendera, stempel, jaket almamater, buku-buku terbitan UIN Malang dan bahkan di mobil dan lain-lain yang dibanggakan oleh warga kampus, tidak luput dari logo itu.

    Kata Ulul al Baab sendiri diambil dari al Qur�an. Tidak kurang dari 16 ayat al Qur�an menyebut kata ini. Sedemikian agung maknanya, kata itu menggambarkan seseorang yang sempurna. Di antaranya ada pada surat Ali Imran 190-191. Pada ayat itu digambarkan bahwa penyandang Ulul al Baab �dala orang yang selalu berdzikir dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring, serta selalu memikirkan ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun di bumi.

    Penggunaan logo ini, sudah barang tentu memiliki maksud yang mulia. Yaitu, agar seluruh warga kampus, baik pimpinan, dosen, karyawan, mahasiswa dan bahkan seluruh alumni memiliki pribadi, watak, karakter sebagaimana yang tergambar pada simbul ini. Mereka di mana saja dan kapan saja sebagai penyandang identitas Ulul al Baab selalu ingat pada Allah swt., dan selalu memikirkan ciptaan-Nya. Orang selalu ingat pada Allah swt., akan selalu sadar keberadaannya, yaitu hanya ingin mengabdi pada-Nya. Hati mereka selalu diliputi oleh keimanan yang kokoh dan selalu melakukan sesuatu dengan kualitas yang terbaik, gemar beramal sholeh. Mereka akan selalu menghiasi dirinya dengan akhlak, sebagaimana dicontohkan oleh utusan-Nya, yaitu Muhammad saw.

    Sebagai seorang penyandang Ulul al Baab, ia adalah sekaligus sebagai seorang ilmuwan, atau ulama� sejati. Ia selalu bertanya tentang ciptaan Allah yang dahsyad, yaitu alam dan jagad raya ini. Tidak henti-hentinya ia bertanya tentang apa, dari mana dan kemana semua ciptaan ini. Segala yang diciptakan oleh Allah dalam keadaan sempurna dan tidak ada yang sia-sia. Pergumulan dan penjelajahan pemikirannya, sebagai seorang penyandang Ulul al Baab, akan melahirkan sifat-sifat mulia, yaitu bersyukur, sabar, ikhlas, tawadhu�, tawakkal, istiqomah, dan selalu berserah diri hanya pada Allah swt.

    Oleh karena itu, sesungguhnya yang dicita-citakan oleh UIN Malang melalui logo yang dicintai itu adalah agar melalui kampus ini terbangun pribadi-pribadi mulia, pribadi luhur dan pribadi yang dicintai oleh Allah swt., dan bukan sebatas pribadi yang kaya gelar akademik, apalagi dengan itu menjadi sombong dan angkuh. Yang diinginkan melalui UIN Malang adalah terbangunnya orang yang hatinya selalu ingat Allah swt, terpaut dengan masjid, selalu peduli sesama, menjadi manusia terbaik, yaitu yang selalu memberi manfaat bagi orang lain, penyandang ilmu dan akhlak mulia.

    Sungguh mulia cita-cita ini. Maka, untuk mewujudkannya disusunlah konsep tarbiyatul ulul al baab. Selain itu dibangunlah kultur seperti selalu meninggalkan kegiatan apa saja tatkala terdengar seruan adzan dan segera menuju masjid untuk sholat berjama�ah, membaca al Qur�an bersama-sama, selalu beribadah, bekerja dan memberikan yang terbaik, membiasakan bersikap terbuka, adil dan Jujur, sabar, ikhlas dan istiqomah. Begitu indah cita-cita yang tertuang pada logo kampus ini, maka selayaknyalah kita wujudkan Ulul al Baab secara ber-sama-2, dengan mulai �dari diri kita masing-masing�.http://www.imamsuprayogo.com/viewd_artikel.php?pg=9

     
  • tituitcom 22.34 on 10 September 2012 Permalink  

    Umat Islam sudah lama mengidealkan pendidikan Islam. 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Eksistensi Pendidikan Islam di Indonesia

    Umat Islam sudah lama mengidealkan pendidikan Islam. Mereka kemudian membangun madrasah sejak tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah dan bahkan sampai tingkat perguruan tinggi. Sedemikian tinggi kepercayaan mereka bahwa lembaga pendidikan Islam mampu mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang diedialkan, yakni menjadi orang beriman, beramal saleh serta akhlakul karimah.

    Untuk membangun lembaga pendidikan, karena tingginya semangat yang mereka miliki, tidak peduli dengan keterbatasan tenaga, sarana dan juga dana yang digunakan untuk menyangga program yang dikembangkan itu. Akibatnya, tidak sedikit lembaga pendidikan yang dirintis dan dikelola masyarakat kondisinya sangat memprihatinkan. Proses pendidikan kemudian berjalan apa adanya. Mereka rupanya kepercayaan bahwa kegiatan pendidikan yang sebatas berlabel Islam itu agar mampu melahirkan lulusan yang lebih baik bilamana dibandingkan dengan lembaga pendidikan selain itu. Kualitas, seolah-olah hanya diukur dari label yang disandang, dan bukan menyangkut isi yang berhasil dikembangkan.

    Dari fenomena lembaga pendidikan Islam ini, banyak hal yang dapat dikaji lebih jauh. Pertama, bagi umat Islam pendidikan adalah sesuatu yang dipandang sebagai kebutuhan mutlak, yang tidak bisa digantikan oleh lainnya. Yang dipentinghkan bagi mereka adalah berlabel Islam dan syukur lagi jika diikuti oleh kualitas yang sesungguhnya. Kedua, atgas dasar kecintaannya pada jenis lembaga pendidikan tersebut, masyarakat bersedia berkorban demi kelangsungan lembaga pendidikan tersebut. Ketiga, mereka masih lebih mengedepankan label, yaitu label Islam dari pada lainnya yang tidak menggunakan label itu sekalipun kualitasnya lebih tinggi.

    Atas dasar kenyataan ini, maka siapapun pemimpin bangsa ini tidak akan bisa mengabaikan lembaga pendidikan Islam, apalagi melarangnya. Jika masyarakat pecinta lembaga pendidikan jenis ini merasa ditekan atau dihalangphalangi dalam mengembangkan pendidikan Iislam, maka dengan cara apapun mereka akan mencari jalan keluarnya. Dan justru dilarang atau dibatasi itu, maka semangat mereka akan lebih berkobar dan demikian pula ekesediaan berkorban untuknya semakin tinggi.

     
  • tituitcom 22.30 on 10 September 2012 Permalink  

    Mengembangkan Perguruan Tinggi Berbasis Integrasi Agama dan Ilmu 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Mengembangkan Perguruan Tinggi Berbasis Integrasi Agama dan Ilmu

    Misi utama perguruan tinggi berbeda dengan sekolah dasar dan menengah, perguruan tinggi lebih mengutamakan pada upaya penemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran ilmu pengetahuan. Sedangkan sekolah dasar dan mengenah lebih pada upaya memberikan pengenalan, pengertian dan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Perpedaan ini membawa implikasi baik menyangkut pada kebijakan pengembangan, pemberian otonomi, penilaian atau ukuran-ukuran yang digunakan dalam pengembangannya dan lain-lain.

    Sekalipun misi utama adalah terkait dengan penemuan dan pengembangan lmu pengetahuan, kehadiran perguruan tinggi pada hakekatnya adalah untuk membangun kalitas manusia yang memiliki kesadaran diri sebagai makhluk, memiliki kekayaan ilmu pengetahuan, budi luhur —berakhlak, maupun frofesionalisme sebagai bekal hidup di masyarakat, baik untuk kepentingan diri sendiri maupun orang lain.

    Jika ruang lingkup misi perguruan tinggi seperti itu yang dikehendaki, maka tidak mungkin berhasil diraih melalui pendekatan konvensional, seperti sekedar melalui kuliah, latihan di perpustakaan, laboratorium,ujian dan wisuda. Kegiatan pendidikan tinggi yang dilakukan sebatas itu pada kenyataannya hanya menghasilkan sarjana yang berijazah tetapi tidak memiliki kesadaran diri yang kukuh, ilmu yang mencukpi, kepribadian dan ketrampilan yang cukup. Banyak sarjana menganggur di tengah-tengah masyarakat sesungguhnya merupakan bukti kegagalan perguruan tinggi selama ini.

     
  • tituitcom 22.26 on 10 September 2012 Permalink  

    Alkisah seorang raja yang kaya raya dan sangat baik, 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Alkisah seorang raja yang kaya raya dan sangat baik, ia mempunyai banyak sekali emas dan kuningan, karena terlalu banyak sehingga antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu. Suatu hari raja yang baik hati ini memberikan hadiah emas kepada seluruh rakyatnya, dia membuka gudangnya lalu mempersilakan rakyatnya mengambil kepingan emas terserah mereka.
    Karena antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu sehingga sulit sekali di bedakan, mana yang emas dan mana yang kuningan, lalu mana yang emasnya 24 karat dan mana yang emasnya hanya 1 karat, namun ada peraturan dari sang raja, yaitu apabila mereka sudah memilih dan mengambil satu dari emas itu, mereka tidak boleh mengembalikannya lagi.
    Tetapi raja menjanjikan bagi mereka yang mendapat emas hanya 1 karat atau mereka yang mendapatkan kuningan, mereka dapat bekerja dikebun raja dan merawat pemberian raja itu dengan baik, maka raja akan menambah dan memberikan kadar karat itu sedikit demi sedikit.
    Mendengar itu bersukacitalah rakyatnya, sambil mengelu-elukan rajanya. Mereka datang dari penjuru tempat, dan satu persatu dari mereka dengan berhati-hati mengamat-amati benda-benda itu, waktu yang diberikan kepada mereka semua ialah satu setengah hari, dengan perhitungan setengah hari untuk memilih, setengah hari untuk merenungkan, dan setengah hari lagi untuk memutuskan.
    Para prajurit selalu siaga menjaga keamanan pemilihan emas tersebut, karena tidak jarang terjadi perebutan emas yang sama diantara mereka. Selama proses pemilihan berlangsung, seorang prajurit mencoba bertanya kepada salah seorang rakyatnya, “apa yang kau amat-amati, sehingga satu setengah hari kau habiskan waktumu disini?”, jawab orang itu “tentu saja aku harus berhati-hati, aku harus mendapatkan emas 24 karat itu”,
    lalu tanya prajurit itu lagi “seandainya emas 24 karat itu tidak pernah ada, atau hanya ada satu diantara setumpuk emas ini, apakah engkau masih saja mencarinya?, sedangkan waktumu sangat terbatas”, jawab orang itu lagi “tentu saja tidak, aku akan mengambil emas terakhir yang ada ditanganku begitu waktuku habis”.
    Lalu prajurit itu berkeliling dan ia menjumpai seorang yang tampan,melihat perangainya ia adalah seorang kaya, bertanyalah prajurit itu kepadanya “hai orang kaya apa yang kau cari disini, bukankah engkau sudah lebih dari cukup?” ,jawab orang kaya itu “bagiku hidup adalah uang, kalau aku bisa mengambil emas ini, tentu saja itu berarti menambah keuntunganku”.
    Kemudian prajurit itu kembali mengawasi satu persatu dari mereka, maka tampak olehnya seseorang, yang sejak satu hari ia selalu menggenggam kepingan emasnya, lalu dihampirinya orang itu “mengapa engkau diam disini?, tidakkah engkau memilih emas-emas itu? atau tekadmu sudah bulat untuk mengambil emas itu?”, mendengar perkataan prajurit itu, orang ini hanya diam saja, maka prajurit itu bertanya lagi “atau engkau yakin bahwa itulah emas 24 karat, sehingga engkau tidak lagi berusaha mencari yang lain?”, orang itu masih terdiam, prajurit itu semakin penasaran, lalu ia lebih mendekat lagi
    “tidakkah engkau mendengar pertanyaanku?”, sambil menatap prajurit, orang itu menjawab “tuan saya ini orang miskin, saya tidak pernah tahu mana yang emas dan mana yang kuningan, tetapi hati saya memilih emas ini, sayapun tidak tahu, berapa kadar emas ini, atau jika ternyata emas ini hanya kuninganpun saya juga tidak tahu”. “lalu mengapa engkau tidak mencoba bertanya kepada mereka, atau kepadaku kalau engkau tidak tahu” tanya prajutit itu lagi.
    “Tuan emas dan kuningan ini milik raja, jadi menurut saya hanya raja yang tahu, mana yang emas dan mana yang kuningan, mana yang 1 karat dan mana yang 24 karat. Tapi satu hal yang saya percaya janji raja untuk mengubah kuningan menjadi emas itu yang lebih penting” jawabnya lugu. Prajurit ini semakin penasaran “mengapa bisa begitu?”, “bagi saya berapapun kadar karat emas ini cukup buat saya, karena kalau saya bekerja, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun menabung untuk membeli emas tuan”
    prajurit tampak tercengang mendengar jawaban dari orang ini, lalu ia melanjutkan perkataannya “lagi pula tuan, peraturannya saya tidak boleh menukar emas yang sudah Saya ambil”, “tidakkah engkau mengambil emas-emas yang lain dan menukarkannya sekarang, selagi masih ada waktu?” tanya prajurit lagi, “saya sudah menggunakan waktu itu, kini waktu setengah hari terakhir saya,
    inilah saatnya saya mengambil keputusan, jika saya gantikan emas ini engan yang lain, belum tentu saya mendapat yang lebih baik dari punya saya ini, saya memutuskan untuk mengabdi pada raja dan merawat milik saya ini,untuk menjadikannya emas yang murni”, tak lama lagi lonceng istana berbunyi,tanda berakhir sudah kegiatan mereka.
    Lalu raja keluar dan berdiri ditempat yang tinggi sambil berkata “wahai rakyatku yang kukasihi, semua emas yang kau genggam itu adalah hadiah yang telah kuberikan, sesuai dengan perjanjian, tidak seorangpun diperbolehkan menukar ataupun menyia-nyiakan hadiah itu, jika didapati hal diatas maka orang itu akan mendapat hukuman karena ia tidak menghargai raja” kata-kata aja itu disambut hangat oleh rakyatnya.
    Lalu sekali lagi dihadapan rakyatnya raja ingin memberitahu tentang satu hal “dan ketahuilah, bahwa sebenarnya tidak ada emas 24 karat itu, hal ini dimaksudkan bahwa kalian semua harus mengabdi kepada kerajaan, dan hanya akulah yang dapat menambah jumlah karat itu, karena akulah yang memilikinya. Selama satu setengah hari, setengah hari yang kedua yaitu saat kuberikan waktu kepada kalian semua untuk merenungkan pilihan, kalian kutunggu untuk datang kepadaku menanyakan perihal emas itu, tetapi sayang sekali hanya satu orang yang datang kepadaku untuk menanyakannya”. Demikianlah raja yang baik hati dan bijaksana itu mengajar rakyatnya,dan selama bertahun-tahun ia dengan sabar menambah karat satu persatu dari emas rakyatnya.
    Dikutip dari : Kumpulan Sharing dan Cerpen Judul Asli: When We Have to Choice Berharap melalui alkisah diatas kita dapat merefleksi diri dalam mencari pasangan hidup :
    • Bagi yang sedang mencari pasangan alias cari pacar(setengah hari untuk memilih) Memilih memang boleh tapi manusia tidak ada yang sempurna, jangan lupa emas-emas itu milik sang raja, jadi hanya dia yang tahu menahu masalah itu, artinya setiap manusia milik Tuhan jadi berdoalah untuk berkomunikasi denganNya tentang pasangan Anda.
    • Bagi yang telah memperoleh pasangan tapi belum menikah (setengah hari untuk merenungkan) Mungkin pertama kali Anda mengenal, si dia nampak emas 24 karat,ternyata setelah bertahun-tahun kenal, si dia hanya berkadar 10 karat. Diluar, memang kita dihadapkan dengan banyak pilihan, sama dengan rakyat yangm memilih emas tadi, akan tetapi pada saat kita sudah mendapatkannya, belum tentu waktu kita melepaskannya kita mendapat yang lebih baik. Jadi jika dalam tahap ini Anda merasa telah mendapatkan dia, hal yang terbaik dilakukan ialah menilai secara objektiv siapa dia (karena itu keterbukaan dan komunikasi sangat penting dalam menjalin hubungan), dan menyelaraskan hati Anda bersamanya, begitu Anda tahu tentang hal terjelek dalam dirinya sebelum Anda menikah itu lebih baik, dengan demikian Anda tidak merasa shock setelah menikah, tinggal bagaimana Anda menerimanya, Anda mampu menerimanya atau tidak, Anda mengusahakan perubahannya atau tidak,”cinta selalu berjuang”, dan jangan anggap tidak pernah ada masalah dalam jalan cinta Anda, justru jika dalam tahap ini Anda tidak pernah mengalami masalah dengan pasangan Anda (tidak pernah bertengkar mungkin). Anda malah harus berhati- hati, karena ini adalah hubungan yang tidak sehat, berarti banyak kepura-puraan yang ditampilkan dalam hubungan Anda yang terpenting adalah niat baik diantara pasangan, sehingga dengan komitmen dan cinta, segala sesuatu selalu ada jalan keluarnya. Meskipun dalam tahap ini Anda masih punya waktu setengah hari lagi untuk memutuskan, artinya anda masih dapat berganti pilihan, akan tetapi pertimbangkan dengan baik hal ini.
    • Bagi yang telah menikah (setengah hari untuk memutuskan) Dalam tahap ini, siapapun dia berarti anda telah mengambil keputusan untuk memilihnya, jangan berfikir untuk mengambil keuntungan dari pasangan Anda, jika ini terjadi berarti Anda egois, sama halnya dengan orang kaya diatas, dan dengan demikian Anda tidak pernah puas dengan diri pasangan Anda,maka tidak heran banyak terjadi perselingkuhan. Anda tidak boleh merasa menyesal dengan pilihan Anda sendiri,jangan kuatir raja selalu memperhatikan rakyatnya, dan menambah kadar karat pada emasnya.
    Jadi percayalah kalau Tuhan pasti akan memperhatikan Anda, dan Dia yang paling berkuasa mengubah setiap orang. Perceraian bukanlah solusi, sampai kapan kita harus menikah lalu bercerai, menikah lagi dan bercerai lagi ???, ingatlah si dia adalah hadiah, siapapun dia terimalah dia karena sekali lagi itulah pilihan Anda, ingat ini adalah setengah hari terakhir yaitu waktu untuk memutuskan, setelah itu Anda tidak boleh menukar atau meyia-nyiakan emas Anda, jadi peliharalah pasangan Anda sebagaimana hadiah terindah yang telah Tuhan berikan. Dan apapun yang terjadi dengan pasangan Anda komunikasikanlah dengan Tuhan, karena Dia yang memiliki hati setiap manusia ……..
     
  • tituitcom 22.16 on 10 September 2012 Permalink  

    Sarjana ulul al baab adalah sosok manusia yang 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Konsep ulul al baab dijadikan pilihan untuk menggambarkan sarjana yang ingin  dihasilkan oleh Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Konsep itu diambil dari kitab suci al Qur’an. Tidak kurang dari 16 ayat dalam al Qur’an yang menyebut kata ulul al baab.  Satu di antaranya adalah pada surat Ali Imran ayat 191.  Pada ayat itu disebutkan bahwa ulul al baab adalah orang yang selalu berdzikir atau ingat Allah pada setiap waktu, orang-orang yang selalu memikirkan penciptaan langit dan bumi, dan orang-orang yangkin bahwa semua yang diciptakan oleh Allah tidak ada yang sia-sia.
    Maka sarjana yang menyandang sebutan ulul al baab dalam setiap gerak hidupnya diharapkan tidak pernah lepas dari mengingat Allah. Sejak bangun di pagi hari, bekerja, belajar, istirahat,  dan melakukan  apa saja, hingga istirahat dan tidur kembali,  selalu mendasarkan pada kesadaran teologis, yaitu mengingat Tuhan.  Kesadarannya tidak pernah terputus dengan keberadaan  Allah yang menciptakannya, memelihara, melindungi, memberikan kekuatan, dan mengasihinya. Tuhan selalu berada pada alam kesadarannya. Itulah makna dzikrullah pada seorang yang menyandang identitas sebagai ulul al baab itu.
    Selanjutnya, sarjana ulul al baab selalu berpikir tentang penciptaan langit dan bumi  serta menyadari sepenuhnya bahwa semua ciptaan Allah di muka bumi ini sebenarnya tidak ada yang sia-sia. Manusia sebagai makhluk tertinggi dibanding dengan makhluk lainnya, memiliki kekuatan nalar untuk memahami ciptaan Allah. Itulah selanjutnya, manusia disebut sebagai makhluk yang berilmu. Kelebihan berupa ilmu pengetahuan itulah akhirnya menjadi dasar manusia disebut  sebagai makhluk tertinggi dibanding dengan semua makhluk lainnya.
    Ilmu pengetahuan itu sedemikian luas, terbentang,  dan bebas digali oleh manusiua sendiri. Manusia boleh mengetahui rahasia Allah  dan kemudian memanfaatkannya untuk keperluan kehidupannya. Hanya satu yang tidak mungkin  diketahui oleh karena tidak adanya kemampuan   yang cukup, yaitu mengetahui tentang Dzat Allah sendiri. Rahasia Allah berupa hukum-hukum alam, sosial, dan humaniora,  melalui upaya  yang saksama dan mendalam ternyata  berhasil diketahui oleh manusia.
    Pengetahuan itu selanjutnya dimanfaatkan lewat pengembangan teknologi hingga akhirnya mempermudah kehidupan manusia. Kita rasakan pada saat ini, tempat yang berjauhan tidak menjadi halangan untuk berkomunikasi, oleh karena telah berhasil diciptakan alat komunikasi dan tranportasi modern. Berbagai penyakit telah ditaklukkan dan atau diatasi oleh karena ditemukan ilmu dan teknologi tentang kesehatan. Berbagai peralatan yang diperlukan berhasil ditemukan yang semua itu untuk mempermudah kehidupan manusia.
    Manusia ulul al baab tidak boleh berhenti berpikir dan berbuat. Alam yang semula dianggap mengganggu dan bahkan menghalangi, maka kemudian  diubah dan akhirnya justru menjadi sesuatu yang memudahkan dalam  menjalani hidupnya. Manusia dan atau khususnya sarjana ulul al baab tidak boleh menyerah pada alam. Alam dan sosial harus dipahami, dikuasai,  dan selanjutnya ditaklukkan untuk kepentingan hidup secara bersama-sama.
    Sebagai contoh sederhana, seorang sarjana ulul al baab yang berada di wilayah yang gersang lagi tandus, maka pikirannya harus selalu digerakkan untuk mencari tahu, bagaimana keadaan seperti itu  diubah menjadi subur dan makmur. Pengetahuannya terhadap kitab suci, bahwa sumber kehidupan itu adalah air, maka sarjana ulul al baab seharusnya  berpikir, untuk menghadirkan air di tempat itu.  Rekayasa dan teknologi pengairan pun diciptakan.
    Air di suatu tempat yang semula selalu menjadi sumber musibah atau petaka,  yaitu tatkala di musim penghujan selalu menjadi sebab banjir dan di musim kemarau selalu kekurangan air, maka keadaan itu harus berhasil diubah oleh sarjana yang beridentitas ulul al baab. Semua yang dilakukan itu tidak semata-mata untuk mendapatkan keuntungan pribadi, melainkan adalah sebagai upaya memudahkan orang lain dan sebagai bagian dari ibadah serta dzikir kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Itulah rangkaian antara dzikir, pikir dan kerja profesional selalu mewarnai kehidupan mereka sehari-hari.
    Sarjana ulul al baab adalah sosok manusia yang senantiasa  berusaha meraih kehidupan yang sempurna untuk memperoleh ridha Allah swt. Kampus ulul al baab harus dijadikan wahana berlatih untuk membangun dan mengobarkan jiwa  tauhid, semangat memperkaya ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas diri secara terus menerus, berpihak pada kebenaran dan keadilan, memupuk kegiatan ritual untuk membanguin spiritual dan selalu bekerja terbaik,  profesional atau beramal shaleh. Gambaran seperti itulah yang disebut manusia atau sarjana   ulul al baab yang ingin dikembangkan melalui  kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wallahu a’lam.       
     
  • tituitcom 22.12 on 10 September 2012 Permalink  

    Seorang pemuda, setelah berkelana bertahun-tahun, 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Seorang pemuda, setelah berkelana bertahun-tahun, ia ingin pulang dan membangun kampungnya. Namun selama ini, ia merasa tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk mewujudkan niat baiknya itu. Pengetahuan yang dimiliki tidak lebih dari sekedar apa yang pernah dilihat dari perkelanaannnya itu. Sebenarnya pengetahuannya itu cukup banyak, tetapi tidak ada yang mendalam. Selama berkelana, ia melihat banyak peristiwa, keadaan, dan hal-hal  yang tidak mungkin dilihat di kampungnya sendiri.
    Sudah barang tentu pengetahuan yang dimilikinya itu tidak cukup untuk membangun masyarakat kampungnya. Sebuah nasip yang harus diterima oleh  pemuda ini, ia  dilahirkan di desa yang gersang dan tandus. Tidak banyak jenis tumbuhan yang bisa ditanam dan hidup di tanah kelahirannya itu. Itulah sebabnya, keadaan masyarakat yang ada di tempat itu sangat miskin. Mereka sehari-hari hanya bergulat dengan berbagai tantangan untuk memenuhi kebutuhan agar tetap bertahan hidup.
    Hidup seadanya itulah yang harus diterima oleh warga kampung, oleh karena tidak ada alternatif lain yang bisa dipilih dan lebih baik. Mereka bertani dengan cara seadanya. Irigasi tidak ada, sehingga pemenuhan kebutuhan air hanya menggantungkan  hujan. Air hujan biasanya digunakan untuk semua kebutuhan. Minum, mandi, memasak dan bahkan untuk mengairi tanaman dicukupkan air hujan dari langit.
    Membayangkan betapa sulitnya tantangan yang harus dihadapi itu, pemuda dimaksud berusaha mencari bekal dari orang yang dianggap memiliki pengetahuan dan kearifan. Ditemukanlah orang dimaksud dan segera didatangi. Setelah mengungkapkan segala niat yang dimiliki, maka orang arif dan berilmu dimaksud malah  berpesan yang isinya justru semula dianggap tidak masuk akal. Dia menasehati, agar untuk membangun kampung itu jangan membawa bekal terlalu banyak, cukup tiga jenis saja.
    Orang arif itu memberikan pertimbangan, bahwa siapapun yang melakukan sesuatu dengan bekal dan  daya dukung yang cukup, maka tidak akan dianggap oleh orang lain sebagai telah  berprestasi. Ia menggunakan dalil bahwa siapapun akan sukses dalam melakukan sesuatu manakala semua peralatan dan bekal yang dimiliki tercukupi. Pemuda ini ternyata menyetujui dengan pandangan dan strategi seperti itu. Hal itu  justru lebih menantang.
    Selanjutnya, orang kaya ilmu dan arif itu menyebut bahwa tiga jenis bekal itu adalah kain, air,  dan kitab suci. Dengan kain itu, ia akan bisa menutupi auratnya, dengan air ia akan tetap bisa hidup oleh karena air adalah sumber kehidupan,  dan dengan kitab suci ia tidak akan tersesat hidupnya. Berbekalkan tiga jenis itulah, maka pemuda dimaksud pulang  dan berusaha untuk membangun kampungnya.      
    Dalam kisah fiktif itu, pemuda tersebut memang harus menghadapi tantangan yang luar biasa. Akan tetapi dengan keyakinan, kepercayaan diri, kesungguhan, kesabaran, keikhlasan, istiqomah,  ditambah dengan pengalaman selama berkelana dan petunjuk serta inspirasi yang diperoleh dari kitab suci al Qur’an, ternyata tantangan demi tantangan bisa  berhasil dijawab.  Pemuda ini ternyata berhasil menggerakkan masyarakat, mengatasi kekeringan, mengubah dari tanah tandus menjadi subur.
    Sekalipun melewati waktu yang tidak terlalu lama, maka usaha  pertanian, peternakan, dan berbagai jenis kerajinan di kampung itu berhasil dikembangkan. Bahkan hasilnya  sebagian dijual di kampung-kampung sebelahnya. Tiga jenis bekal yang dibawa oleh pemuda, yaitu kain, air dan kitab suci berhasil mengubah kampung. Atas dasar itu, anak-anak muda, ——setelah  beberapa tahun  kuliah, mestinya juga berani bertekat yang sama, mengubah kampungnya,  agar mereka tidak disebut sebagai  penganggur intelektual, tokh telah memiliki bekal lebih dari tiga jenis sebagaimana disebutkan di muka.  Wallahu a’lam. 
     
  • tituitcom 22.11 on 10 September 2012 Permalink  

    Dalam sejarah kemanusiaan, berkorban ternyata menjadi ajaran utama 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Dalam sejarah kemanusiaan, berkorban ternyata menjadi ajaran utama dan harus dilakukan. Habil dan Qobil, putra Adam, dalam kisah sejarah awal manusia  telah dianjurkan untuk berkorban dan juga dilaksanakannya.  Dikisahkan pula, bahwa korban Habil diterima, dan begitu pula sebaliknya, kurban Qobil ditolak. Dalam riwayatnya, ukuran ditolak dan diterima sebuah pengorbanan, disamping keikhlasan,  juga kualitas barang atau benda yang dikorbankan itu.  
    Korban Habil diterima, oleh karena dilakukan dengan ikhlas dan apa yang dikorbankan adalah benda yang berkualitas, terbaik, dan yang paling dicintainya. Begitu pula sebaliknya, korbannya Qobil. Selain itu kisah korban juga dilakukan oleh Nabi Ibrahim dengan anaknya yang amat dicintai, yaitu nabi Ismail. Kisah itu sagat mengerikan, seorang anak laki-laki satu-satunya yang amat dicintai harus dikorbankan. Namun itu dilakukan  semata-mata untuk memenuhi perintah Tuhan.
    Melalui kisah itu, pelajaran penting yang seharusnya ditangkap adalah bahwa korban adalah merupakan keharusan kemanusiaan yang mesti ditunaikan oleh siapapun yang ingin sukses atau berhasil dalam menjalani hidup. Tidak akan mungkin sukses, berhasil, dan apalagi berbahagia bagi siapapun tanpa dilalui dengan pengorbanan. Konsep berkorban menjadi jelas, adalah merupakan pintu keberhasilan dari setiap usaha manusia.
    Melalui kisah kenabian tersebut, rupanya Tuhan ingin menunjukkan bahwa berkorban harus dilakukan oleh siapapun. Tidak akan mungkin sukses dalam menjalani hidup tanpa pengorbanan. Pengorbanan adalah merupakan kepastian yang tidak boleh diabaikan dan apalagi tinggalkan. Ajaran berkorban juga disimbolkan dalam bentuk menyembelih kambing, sapi, atau unta. Penyembelihan korban disebut simbolik, oleh karena dalam sebuah hadits nabi juga disebutkan, bahwa bukan daging dan darah hewan korban yang akan sampai kepada Tuhan, melainkan adalah ketaqwaannya.
    Pada umumnya, orang  mencintai harta. Hewan adalah merupakan bagian dari harta yang dicintai. Pada saat tertentu, yaitu pada hari raya qurban dan  atau tiga hari setelahnya, atau hari tasyrik, seorang muslim disunnahkan untuk menyembelih hewan korban. Selanjutnya, daging kurban itu supaya diberikan kepada mereka  yang berhak, yaitu di antaranya adalah para fakir miskin.        
    Konsep korban ini selalu relevan dengan kehidupan pada setiap zaman dan tempat. Hal itu tidak terkecuali adalah terhadap bangsa Indonesia sekarang ini. Ajaran berkorban mengingatkan kepada kita semua, bahwa cita-cita mulia, lebih-lebih membangun bangsa, maka  tidak akan mungkin berhasil manakala tidak diikuti oleh kesediaan berkorban.  Berkorban adalah merupakan kunci keberhasilan terhadap semua usaha, apapun usaha itu, baik pada tingkatan pribadi dan apalagi komunitas besar, yaitu membangun bangsa dan negara.
    Negeri yang dihuni oleh masyarakat yang disebut agamis ini, memang terasa aneh. Pemimpin dan rakyatnya bercita-cita besar membangun negara dan bangsa agar menjadi maju, sejahtera, bermartabat, dan  tidak tertinggal dari bangsa lain. Disebut aneh oleh karena semangat berkorban sebagaimana ditunjukkan oleh ajaran agamanya masih terasa lembek, dan bahkan justru  bertolak belakang dari ajaran itu.  Dari waktu ke waktu dikabarkan, tidak sedikit pejabat di berbagai tingkatan melakukan tindak kejahatan korupsi untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.
    Para pahlawan bangsa ini telah memberikan contoh terbaik. Mereka telah mengorbankan apa saja yang dimiliki, hingga jiwa dan raganya sekalipun dikorbankan untuk berperang melawan penjajah demi  meraih kemerdekaan. Kesediaan dan kerelaan berkorban itulah sebenarnya kunci keberhasilan para pejuang bangsa ini hingga berhasil mengusir penjajah. Kemerdekaan itu diraih di atas  pengorbanan yang luar biasa dari para pejuang bangsa ini.
    Bangsa Indonesia pada saat ini  sedang berjuang untuk membangun. Namun rupanya, semangat untuk berkorban terasa masih perlu ditumbuh-kembangkan. Masih belum banyak pemimpin bangsa ini yang secara nyata mau berkorban. Justru yang terdengar adalah sebaliknya, yaitu berlomba mendapatkan tunjangan dan bahkan juga fasilitas yang berlebihan.  Akibatnya sehari-hari,  nuansa yang berkembang,  bukan berkorban melainkan bertransaksi.
    Lebih memprihatinkan lagi, bahwa semangat menjadi pemimpin di negeri ini masih diikuti, ——-secara terang-terangan atau tersembunyi, untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat rendahan.  Bahkan  suasana itu memunculkan istilah yang menyedihkan, yaitu politik transaksional.  Mereka lupa, bahwa  kunci sukses  adalah berkorban, sebagaimana dilakukan oleh Habil, Nabi Ibrahim, dan para pahlawan bangsa ini, dan bukan bertransaksi. Mereka sukses usaha dan hidupnya, oleh karena ada kesediaan berkorban.
    Oleh karena itu, di saat hari raya korban seperti ini, tepat sekali  sebagai kaum yang beriman menunjukkan secara simbolik pengorbanan dengan cara menyembelih hewan korban. Apalagi kita yakin,  bahwa berkorban adalah pintu utama meraih kesuksesan. Maka,  pintu sukses itu harus kita lalui. Wallahu a’lam.      
     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal