Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 17.33 on 13 September 2012 Permalink  

    (Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Al-Khalifah Kepanjen Kabupaten Malang 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.


     <!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>

    Penanggulangan Kenakalan Remaja (Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Al-Khalifah Kepanjen Kabupaten Malang)
    Penulis            :           Ari Yudiarko
    Tahun :           2010
    Fakultas          :           Tarbiyah
    Jurusan           :           Pendidikan Agama Islam
    Pembimbing    :           1) Prof. Dr. H. Baharuddin, M.Pd.I. 
    Kata Kunci     :           Kenakalan, Remaja
    Tujuan dari pendidikan nasional Indonesia adalah untuk mencerdaskan
    kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu
    manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi
    luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
    kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan
    dan kebangsaan sesuai dengan UUSPN BAB II, asal 4. Siswa di sekolah
    menengah mempunyai tingkat perkembangan kepribadian dan sosial yang berada
    di mana pada masa transisi dari anak-anak ke remaja. Masa remaja adalah masa
    krisis di mana remaja berusaha untuk mencari identitas diri. Dewasa ini dunia
    pendidikan sedang dilanda keprihatinan yang sangat mendalam dengan sering
    terjadinya tindak kenalakan remaja atau yang dikenal dengan sebutan kenakalan
    remaja yang membawa dampak cukup serius bagi perkembangan dirinya (remaja)
    dan masyarakat. Karena nakal itu adalah suatu perbuatan anti sosial, melanggar
    hukum yang berlaku, yang dilakukan oleh seorang yang menuju dewasa dengan
    diketahuinya ia sendiri yang apabila dilakukan oleh seorang dewasa dikualifikasi
    sebagai tindak kejahatan. Berita tentang kenakalan itu memberondong ibarat
    peluru di medan perang dan celakanya yang selalu terkena lemparan caci maki
    adalah pihak sekolah, bahkan tidak jarang masyarakat menganggap bahwa
    rendahnya mutu kelakuan atau kepribadian pelajar adalah karena kurang
    mampunya sekolah dalam mengendalikan psikis siswanya.
    Berangkat dari pemikiran di atas penulis mengambil judul
    “Penanggulangan Kenakalan Remaja (studi kasus di MTs Al-Khalifah
    Kepanjen)”. Dalam hal ini penulis mempelajari tentang apa sajakah jenis
    kenakalan yang dilakukan oleh remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi remaja
    sehingga melakukan kenakalan dan bagaimana usaha sekolah dalam
    menanggulangi kenakalan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
    mengetahui bentuk-bentuk kenakalan remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi
    kenakalan remaja serta usaha sekolah dalam mengatasi kenakalan remaja di
    Madrasah Tsanawiyah Al-Khalifah Kepanjen Kabupaten Malang.
    Untuk memperoleh data yang akurat, penulis menggunakan penelitian
    deskriptif kualitatif yaitu dengan metode mendeskripsikan dan menganalisis hasil
    penelitian tanpa menggunakan rumus perhitungan, adapun dalam memperoleh
    data penulis menggunakan observasi langsung, interview kepada para informan,
    dan dokumentasi
    Iklan
     
  • tituitcom 22.30 on 10 September 2012 Permalink  

    Mengembangkan Perguruan Tinggi Berbasis Integrasi Agama dan Ilmu 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Mengembangkan Perguruan Tinggi Berbasis Integrasi Agama dan Ilmu

    Misi utama perguruan tinggi berbeda dengan sekolah dasar dan menengah, perguruan tinggi lebih mengutamakan pada upaya penemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran ilmu pengetahuan. Sedangkan sekolah dasar dan mengenah lebih pada upaya memberikan pengenalan, pengertian dan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Perpedaan ini membawa implikasi baik menyangkut pada kebijakan pengembangan, pemberian otonomi, penilaian atau ukuran-ukuran yang digunakan dalam pengembangannya dan lain-lain.

    Sekalipun misi utama adalah terkait dengan penemuan dan pengembangan lmu pengetahuan, kehadiran perguruan tinggi pada hakekatnya adalah untuk membangun kalitas manusia yang memiliki kesadaran diri sebagai makhluk, memiliki kekayaan ilmu pengetahuan, budi luhur —berakhlak, maupun frofesionalisme sebagai bekal hidup di masyarakat, baik untuk kepentingan diri sendiri maupun orang lain.

    Jika ruang lingkup misi perguruan tinggi seperti itu yang dikehendaki, maka tidak mungkin berhasil diraih melalui pendekatan konvensional, seperti sekedar melalui kuliah, latihan di perpustakaan, laboratorium,ujian dan wisuda. Kegiatan pendidikan tinggi yang dilakukan sebatas itu pada kenyataannya hanya menghasilkan sarjana yang berijazah tetapi tidak memiliki kesadaran diri yang kukuh, ilmu yang mencukpi, kepribadian dan ketrampilan yang cukup. Banyak sarjana menganggur di tengah-tengah masyarakat sesungguhnya merupakan bukti kegagalan perguruan tinggi selama ini.

     
  • tituitcom 22.24 on 10 September 2012 Permalink  

    Fisika di Balik Keindahan Bulu Merak 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    -Tak seorang pun yang memandang corak bulu merak kuasa menyembunyikan kekaguman atas keindahannya. Satu di antara penelitian terkini yang dilakukan para ilmuwan telah mengungkap keberadaan rancangan mengejutkan yang mendasari pola-pola ini.

    Para ilmuwan Cina telah menemukan mekanisme rumit dari rambut-rambut teramat kecil pada bulu merak yang menyaring dan memantulkan cahaya dengan aneka panjang gelombang. Menurut pengkajian yang dilakukan oleh fisikawan dari Universitas Fudan, Jian Zi, dan rekan-rekannya, dan diterbitkan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, warna-warna cerah bulu tersebut bukanlah dihasilkan oleh molekul pemberi warna atau pigmen, akan tetapi oleh struktur dua dimensi berukuran teramat kecil yang menyerupai kristal. (1)

    Zi dan rekan-rekannya menggunakan mikroskop elektron yang sangat kuat untuk menyingkap penyebab utama yang memunculkan warna pada bulu merak. Mereka meneliti barbula pada merak hijau jantan (Pavo rnuticus). Barbula adalah rambut-rambut mikro yang jauh lebih kecil yang terdapat pada barb, yakni serat bulu yang tumbuh pada tulang bulu. Di bawah mikroskop, mereka menemukan desain tatanan lempeng-lempeng kecil berwarna hitam putih, sebagaimana gambar di sebelah kanan. Desain ini tersusun atas batang-batang tipis yang terbuat dari protein melanin yang terikat dengan protein lain, yakni keratin. Para peneliti mengamati bahwa bentuk dua dimensi ini, yang ratusan kali lebih tipis daripada sehelai rambut manusia, tersusun saling bertumpukan pada rambut-rambut mikro. Melalui pengkajian optis dan penghitungan, para ilmuwan meneliti ruang yang terdapat di antara batang-batang tipis atau kristal-kristal ini, berikut dampaknya. Alhasil, terungkap bahwa ukuran dan bentuk ruang di dalam tatanan kristal tersebut menyebabkan cahaya dipantulkan dengan beragam sudut yang memiliki perbedaan sangat kecil, dan dengannya memunculkan aneka warna.

    “Ekor merak jantan memiliki keindahan yang memukau karena pola-pola berbentuk mata yang berkilau, cemerlang, beraneka ragam dan berwarna,” kata Zi, yang kemudian mengatakan, “ketika saya memandang pola berbentuk mata yang terkena sinar matahari, saya takjub akan keindahan bulu-bulu yang sangat mengesankan tersebut.”(2) Zi menyatakan bahwa sebelum pengkajian yang mereka lakukan, mekanisme fisika yang menghasilkan warna pada bulu-bulu merak belumlah diketahui pasti. Meskipun mekanisme yang mereka temukan ternyata sederhana, mekanisme ini benar-benar cerdas.

    Jelas bahwa terdapat desain yang ditata dengan sangat istimewa pada pola bulu merak. Penataan kristal-kristal dan ruang-ruang [celah-celah] teramat kecil di antara kristal-kristal ini adalah bukti terbesar bagi keberadaan desain ini. Pengaturan antar-ruangnya secara khusus sungguh memukau. Jika hal ini tidak ditata sedemikian rupa agar memantulkan cahaya dengan sudut yang sedikit berbeda satu sama lain, maka keanekaragaman warna tersebut tidak akan terbentuk.

    Sebagian besar warna bulu merak terbentuk berdasarkan pewarnaan struktural. Tidak terdapat molekul atau zat pewarna pada bulu-bulu yang memperlihatkan warna struktural, dan warna-warna yang serupa dengan yang terdapat pada permukaan gelembung-gelembung air sabun dapat terbentuk. Warna rambut manusia berasal dari molekul warna atau pigmen, dan tak menjadi soal sejauh mana seseorang merawat rambutnya, hasilnya tidak akan pernah secemerlang dan seindah bulu merak.

    Telah pula dinyatakan bahwa desain cerdas pada merak ini dapat dijadikan sumber ilham bagi rancangan industri. Andrew Parker, ilmuwan zoologi dan pakar pewarnaan di Universitas Oxford, yang menafsirkan penemuan Zi mengatakan bahwa penemuan apa yang disebut sebagai kristal-kristal fotonik pada bulu merak memungkinkan para ilmuwan meniru rancangan dan bentuk tersebut untuk digunakan dalam penerapan di dunia industri dan komersial. Kristal-kristal ini dapat digunakan untuk melewatkan cahaya pada perangkat telekomunikasi, atau untuk membuat chip komputer baru berukuran sangat kecil. (3)

    Jelas bahwa merak memiliki pola dan corak luar biasa dan desain istimewa, dan berkat mekanisme yang sangat sederhana ini, mungkin tidak akan lama lagi, kita akan melihat barang dan perlengkapan yang memiliki lapisan sangat cemerlang pada permukaannya. Namun, bagaimanakah desain memesona, cerdas dan penuh ilham semacam ini pertama kali muncul? Mungkinkah merak tahu bahwa warna-warni pada bulunya terbentuk karena adanya kristal-kristal dan ruang-ruang antar-kristal pada bulunya? Mungkinkah merak itu sendiri yang menempatkan bulu-bulu pada tubuhnya dan kemudian memutuskan untuk menambahkan suatu mekanisme pewarnaan padanya? Mungkinkah merak telah merancang mekanisme itu sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan desain yang sangat memukau tersebut? Sudah pasti tidak.

    Sebagai contoh, jika kita melihat corak mengagumkan yang terbuat dari batu-batu berwarna ketika kita berjalan di sepanjang tepian sungai, dan jika kita melihat pula bahwa terdapat pola menyerupai mata yang tersusun menyerupai sebuah kipas, maka akan muncul dalam benak kita bahwa semua ini telah diletakkan secara sengaja, dan bukan muncul menjadi ada dengan sendirinya atau secara kebetulan. Sudah pasti bahwa pola-pola ini, yang mencerminkan sisi keindahan dan yang menyentuh cita rasa keindahan dalam diri manusia, telah dibuat oleh seorang seniman. Hal yang sama berlaku pula bagi bulu-bulu merak. Sebagaimana lukisan dan desain yang mengungkap keberadaan para seniman yang membuatnya, maka corak dan pola pada bulu merak mengungkap keberadaan Pencipta yang membuatnya. Tidak ada keraguan bahwa Allahlah yang merakit dan menyusun bentuk-bentuk mirip kristal tersebut pada bulu merak dan menghasilkan pola-pola yang sedemikian memukau bagi sang merak. Allah menyatakan Penciptaannya yang tanpa cacat dalam sebuah ayat Al Qur’an:

    Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik Bertasbih KepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Hasyr, 59:24

    ———–
    oke [oke@multisolid.com]

     
  • tituitcom 22.16 on 10 September 2012 Permalink  

    Sarjana ulul al baab adalah sosok manusia yang 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Konsep ulul al baab dijadikan pilihan untuk menggambarkan sarjana yang ingin  dihasilkan oleh Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Konsep itu diambil dari kitab suci al Qur’an. Tidak kurang dari 16 ayat dalam al Qur’an yang menyebut kata ulul al baab.  Satu di antaranya adalah pada surat Ali Imran ayat 191.  Pada ayat itu disebutkan bahwa ulul al baab adalah orang yang selalu berdzikir atau ingat Allah pada setiap waktu, orang-orang yang selalu memikirkan penciptaan langit dan bumi, dan orang-orang yangkin bahwa semua yang diciptakan oleh Allah tidak ada yang sia-sia.
    Maka sarjana yang menyandang sebutan ulul al baab dalam setiap gerak hidupnya diharapkan tidak pernah lepas dari mengingat Allah. Sejak bangun di pagi hari, bekerja, belajar, istirahat,  dan melakukan  apa saja, hingga istirahat dan tidur kembali,  selalu mendasarkan pada kesadaran teologis, yaitu mengingat Tuhan.  Kesadarannya tidak pernah terputus dengan keberadaan  Allah yang menciptakannya, memelihara, melindungi, memberikan kekuatan, dan mengasihinya. Tuhan selalu berada pada alam kesadarannya. Itulah makna dzikrullah pada seorang yang menyandang identitas sebagai ulul al baab itu.
    Selanjutnya, sarjana ulul al baab selalu berpikir tentang penciptaan langit dan bumi  serta menyadari sepenuhnya bahwa semua ciptaan Allah di muka bumi ini sebenarnya tidak ada yang sia-sia. Manusia sebagai makhluk tertinggi dibanding dengan makhluk lainnya, memiliki kekuatan nalar untuk memahami ciptaan Allah. Itulah selanjutnya, manusia disebut sebagai makhluk yang berilmu. Kelebihan berupa ilmu pengetahuan itulah akhirnya menjadi dasar manusia disebut  sebagai makhluk tertinggi dibanding dengan semua makhluk lainnya.
    Ilmu pengetahuan itu sedemikian luas, terbentang,  dan bebas digali oleh manusiua sendiri. Manusia boleh mengetahui rahasia Allah  dan kemudian memanfaatkannya untuk keperluan kehidupannya. Hanya satu yang tidak mungkin  diketahui oleh karena tidak adanya kemampuan   yang cukup, yaitu mengetahui tentang Dzat Allah sendiri. Rahasia Allah berupa hukum-hukum alam, sosial, dan humaniora,  melalui upaya  yang saksama dan mendalam ternyata  berhasil diketahui oleh manusia.
    Pengetahuan itu selanjutnya dimanfaatkan lewat pengembangan teknologi hingga akhirnya mempermudah kehidupan manusia. Kita rasakan pada saat ini, tempat yang berjauhan tidak menjadi halangan untuk berkomunikasi, oleh karena telah berhasil diciptakan alat komunikasi dan tranportasi modern. Berbagai penyakit telah ditaklukkan dan atau diatasi oleh karena ditemukan ilmu dan teknologi tentang kesehatan. Berbagai peralatan yang diperlukan berhasil ditemukan yang semua itu untuk mempermudah kehidupan manusia.
    Manusia ulul al baab tidak boleh berhenti berpikir dan berbuat. Alam yang semula dianggap mengganggu dan bahkan menghalangi, maka kemudian  diubah dan akhirnya justru menjadi sesuatu yang memudahkan dalam  menjalani hidupnya. Manusia dan atau khususnya sarjana ulul al baab tidak boleh menyerah pada alam. Alam dan sosial harus dipahami, dikuasai,  dan selanjutnya ditaklukkan untuk kepentingan hidup secara bersama-sama.
    Sebagai contoh sederhana, seorang sarjana ulul al baab yang berada di wilayah yang gersang lagi tandus, maka pikirannya harus selalu digerakkan untuk mencari tahu, bagaimana keadaan seperti itu  diubah menjadi subur dan makmur. Pengetahuannya terhadap kitab suci, bahwa sumber kehidupan itu adalah air, maka sarjana ulul al baab seharusnya  berpikir, untuk menghadirkan air di tempat itu.  Rekayasa dan teknologi pengairan pun diciptakan.
    Air di suatu tempat yang semula selalu menjadi sumber musibah atau petaka,  yaitu tatkala di musim penghujan selalu menjadi sebab banjir dan di musim kemarau selalu kekurangan air, maka keadaan itu harus berhasil diubah oleh sarjana yang beridentitas ulul al baab. Semua yang dilakukan itu tidak semata-mata untuk mendapatkan keuntungan pribadi, melainkan adalah sebagai upaya memudahkan orang lain dan sebagai bagian dari ibadah serta dzikir kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Itulah rangkaian antara dzikir, pikir dan kerja profesional selalu mewarnai kehidupan mereka sehari-hari.
    Sarjana ulul al baab adalah sosok manusia yang senantiasa  berusaha meraih kehidupan yang sempurna untuk memperoleh ridha Allah swt. Kampus ulul al baab harus dijadikan wahana berlatih untuk membangun dan mengobarkan jiwa  tauhid, semangat memperkaya ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas diri secara terus menerus, berpihak pada kebenaran dan keadilan, memupuk kegiatan ritual untuk membanguin spiritual dan selalu bekerja terbaik,  profesional atau beramal shaleh. Gambaran seperti itulah yang disebut manusia atau sarjana   ulul al baab yang ingin dikembangkan melalui  kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wallahu a’lam.       
     
  • tituitcom 22.15 on 10 September 2012 Permalink  

    Gambaran masyarakat Dukuh Plapar 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    -ukuh Plapar ini mengingatkan pada saya bagaimana ayah saya dalam berdakwah melakukan pendekatan dengan masyarakat yang belum mengerti sama sekali tentang Islam, sehingga kegiatan sehari-hari mereka jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka sangat biasa mengkonsumsi makanan yang tidak halal seperti daging babi hutan, melakukan judi, minuman keras dan perbuatan haram lainnya. Ayah saya memperlakukan mereka sebagai masarakat yang memerlukan penghormatan, artinya terhadap mereka tidak pernah menyakiti dengan cara menyindir dengan kata-kata, apalagi mengolok-olok. Ayah saya selalu melihat mereka sebagai masyarakat yang belum mengerti tentang Islam, karena itu harus dididik dengan cara sebijak mungkin.

    Ayah saya selalu berpendapat bahwa sekalipun yang dilakukan mereka jauh dari ajaran Islam, tetapi bagi mereka sudah dipandang benar. Oleh karena itu, jika kita mencoba menyalahkan dan berusaha mengajak ke jalan yang benar —menurut kita yakni Islam, mereka pun akan menolak. Sebab, apa yang mereka lakukan selama ini diperoleh dari leluhur mereka yang sangat dicintai dan dihormati. Merubah pandangan hidup mereka, jika tidak dilakukan secara hati-hati atau bilkhikmah, akan dimaknai sebagai tidak menghormati para leluhur mereka.

    Kata yang lebih tepat untuk mengubah masyarakat ini adalah alkulturasi. Ayah saya tidak pernah mengubah secara drastic dan total kebiasaan mereka. Justru melalui kebiasaan-kebiasaan mereka, dengan sedikit demi sedikit mengenalkan faham tentang Islam ke dalamnya. Suatu misal, di dukuh ini terdapat kebiasaan melakukan bersih desa, kenduri atau selamatan dengan berbagai sesajen. Ayah tidak pernah menyuruh berhenti dari menjalankan kebiasaan itu. Akan tetapi justru melalui kebiasaan itu, ayah mengenalkan ajaran Islam secara bertahap, sedikit demi sedikit. Dalam sesajen yang terdiri atas berbagai jenis makanan yang dihidangkan, ayah yang selalu diminta tampil untuk memberikan penjelasan maksud kenduru diselenggarakan, selalu menyelipkan pada penjelesannya sesuatu yang mengarah pada ajaran tauhid. Sedemikian lembut dan samarnya penjelasan itu, sehingga mereka tidak terasa bahwasanya alam pikiran mereka sedang dipengaruhi dan diubah.

    Ayah saya selalu memberikan penjelasan pada saya, bahwa tidak mungkin mengubah masyarakat dapat berhasil dilakukan dengan cara tergesa-gesa, apalagi secara frontal. Kata dia, yang diubah bukan fisik melainkan kawasan hati atau keyakinan.

    Istilah dukuh, menunjuk pada wilayah bagian dari sebuah desa. Desa pada umumnya terdiri atas beberapa dukuh. Dukuh Plapar sendiri masuk Desa Watulimo, letaknya jauh dari jalan besar yang bisa dilewati kendaraan roda empat. Ke padukuhan ini, orang biasa menempuh dengan jalan kaki, berjarak kira-kira 3 km dari kantor kelurahan. Waktu saya masih anak-anak, seumur anak sekolah dasar, biasa orang pergi kemana-mana dengan jalan kaki. Kendaraan baik roda dua apalagi roda empat, masih amat jarang ditemui. Pemilik kendaraan bermotor baru dapat dihitung dengan jari jumlahnya, dan hanya beberapa saja yang memiliki sepeda pancal.

    Dukuh Plapar dikenal masyarakat sebagai wilayah yang penduduknya gemar berburu babi hutan. Mereka beragama Islam, tetapi tidak mengenal ajaran Islam, kecuali dalam batas yang sangat sederhana, misalnya jika mereka mau berkhitan, nikah dan tatkala meninggal dunia. Entah darimana ajaran ini diperoleh, tidak ada kejelasan. Karena tidak mengenal agama, maka sehari-hari mereka mengkonsumsi daging babi hutan menjadi biasa, demikian berjudi, mabuk-mabukan, dan bergantian isteri juga dianggap hal yang tidak terlalu aib.

    Anehnya masyarakat seperti ini tatkala anak mereka menginjak usia belasan tahun juga dikhitan. Begitu pula ketika melangsungkan pernikahan juga mengikuti ajaran Islam. Mereka mengundang pejabat pencatat nikah yang dipanggil dengan sebutan Naib. Pejabat Kantor Urusan Agama (KUA), yang biasanya berkantor di tingkat kecamatan, dengan disebut Naib juga mengalami kesulitan tatkala menikahkan mempelai berdua. Biasanya sebagai pertanda, mereka beragama Islam agar dapat dilayani prosesi pernikahan secara Islam, maka Naib harus menuntunm mereka mengucapkan dua kalimah syahadah. Namun sebatas mengucap syahadah ini mereka selalu mengalami kesulitan, karena memang tidak terbiasa diucapkan.

    Memperoleh gambaran masyarakat Dukuh Plapar seperti itu, umumnya kaum santri yang bertempat tinggal di luar Dukuh Plapar tidak mau mendekat. Kaum santri menganggap orang Plapar sebagai orang yang tidak beragama, pemakan daging babi, penjudi, peminum dan seterusnya. Sekalipun tidak pernah terjadi konflik di antara kedua kelompok yang berbeda ini, mereka tidak saling berkomunikasi secara dekat. Di anatara mereka hanya merasa bukan kelompoknya. Mereka masing-masing memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda. Bahkan jika kaum santri, pada saat-saat tertentu harus datang ke Dukuh Plapar biasanya dsilakukan dengan hati-hati, agar tidak makan makanan yang mengandung daging babi.

    Pada umumnya, entah dari mana mereka mendapatkan ajaran ang bagus, di antara kelompok yang berbeda dari intensitas keberagamaan itu, ternata tidak pernah terjadi konflik. Di antara mereka sama-sama memahami atas perbedaan itu. Kaum santri biasanya disebut sebagai kaum putih, sedang masyarakat Plapar disebut sebagai kaum merah. Mungkin, perbedaan itu masih diredam oleh adanya saling membutuhkan, misalnya tatkala ada pernikahan, kematian dan sejenisnya, orang Plapar selalu membutuhkan jasa orang santri.
    Kerja ulet dan telaten yang dilakukan oleh para da’i, ternyata sekarang Dukuh Plapar sudah berubah secara total. Di dukuh itu sekarang sudah ada masjid dan madrasah. Tidak ada lagi orang membawa tombak dan anjingnya ke hutan untuk berburu babi hutan. Orang-orang Plapar saat ini kalau sore datang ke masjid sholat berjama’ah. Di sana-sini terdengar suara adzan tatkala waktu sholat tiba. Demikian pula bacaan al Qur’an dengan mudah didengar dari berbagai tempat, baik dari rumah maupun masjid. Perubahan itu terjadi, karena para da’i menempuh cara yang tepat dalam berdakwah. Para da’i tidak menjauh dari masyarakat, tetapi justru mencoba menghargai, menghormati dan cara berpikir orang Plapar. Hasilnya orang Plapar menjadi simpatik dan akhirnya mengikuti seruan para dai, sehingga menjadi muslim taat. Melalui kegiatan diba’an, berzanji dan juga tahlil, lama kelamaan orang Plapar menjadi santri. Apalagi, kegiatan kesenian yang bernafas Islam juga dikembangkan. Dakwah seperti ini kiranya yang justru diperlukan agar berhasil dan bukan menakut-nakuti atau mengancam bahkan juga membuat peraturan. Allahu a’lam

     
  • tituitcom 22.12 on 10 September 2012 Permalink  

    Seorang pemuda, setelah berkelana bertahun-tahun, 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Seorang pemuda, setelah berkelana bertahun-tahun, ia ingin pulang dan membangun kampungnya. Namun selama ini, ia merasa tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk mewujudkan niat baiknya itu. Pengetahuan yang dimiliki tidak lebih dari sekedar apa yang pernah dilihat dari perkelanaannnya itu. Sebenarnya pengetahuannya itu cukup banyak, tetapi tidak ada yang mendalam. Selama berkelana, ia melihat banyak peristiwa, keadaan, dan hal-hal  yang tidak mungkin dilihat di kampungnya sendiri.
    Sudah barang tentu pengetahuan yang dimilikinya itu tidak cukup untuk membangun masyarakat kampungnya. Sebuah nasip yang harus diterima oleh  pemuda ini, ia  dilahirkan di desa yang gersang dan tandus. Tidak banyak jenis tumbuhan yang bisa ditanam dan hidup di tanah kelahirannya itu. Itulah sebabnya, keadaan masyarakat yang ada di tempat itu sangat miskin. Mereka sehari-hari hanya bergulat dengan berbagai tantangan untuk memenuhi kebutuhan agar tetap bertahan hidup.
    Hidup seadanya itulah yang harus diterima oleh warga kampung, oleh karena tidak ada alternatif lain yang bisa dipilih dan lebih baik. Mereka bertani dengan cara seadanya. Irigasi tidak ada, sehingga pemenuhan kebutuhan air hanya menggantungkan  hujan. Air hujan biasanya digunakan untuk semua kebutuhan. Minum, mandi, memasak dan bahkan untuk mengairi tanaman dicukupkan air hujan dari langit.
    Membayangkan betapa sulitnya tantangan yang harus dihadapi itu, pemuda dimaksud berusaha mencari bekal dari orang yang dianggap memiliki pengetahuan dan kearifan. Ditemukanlah orang dimaksud dan segera didatangi. Setelah mengungkapkan segala niat yang dimiliki, maka orang arif dan berilmu dimaksud malah  berpesan yang isinya justru semula dianggap tidak masuk akal. Dia menasehati, agar untuk membangun kampung itu jangan membawa bekal terlalu banyak, cukup tiga jenis saja.
    Orang arif itu memberikan pertimbangan, bahwa siapapun yang melakukan sesuatu dengan bekal dan  daya dukung yang cukup, maka tidak akan dianggap oleh orang lain sebagai telah  berprestasi. Ia menggunakan dalil bahwa siapapun akan sukses dalam melakukan sesuatu manakala semua peralatan dan bekal yang dimiliki tercukupi. Pemuda ini ternyata menyetujui dengan pandangan dan strategi seperti itu. Hal itu  justru lebih menantang.
    Selanjutnya, orang kaya ilmu dan arif itu menyebut bahwa tiga jenis bekal itu adalah kain, air,  dan kitab suci. Dengan kain itu, ia akan bisa menutupi auratnya, dengan air ia akan tetap bisa hidup oleh karena air adalah sumber kehidupan,  dan dengan kitab suci ia tidak akan tersesat hidupnya. Berbekalkan tiga jenis itulah, maka pemuda dimaksud pulang  dan berusaha untuk membangun kampungnya.      
    Dalam kisah fiktif itu, pemuda tersebut memang harus menghadapi tantangan yang luar biasa. Akan tetapi dengan keyakinan, kepercayaan diri, kesungguhan, kesabaran, keikhlasan, istiqomah,  ditambah dengan pengalaman selama berkelana dan petunjuk serta inspirasi yang diperoleh dari kitab suci al Qur’an, ternyata tantangan demi tantangan bisa  berhasil dijawab.  Pemuda ini ternyata berhasil menggerakkan masyarakat, mengatasi kekeringan, mengubah dari tanah tandus menjadi subur.
    Sekalipun melewati waktu yang tidak terlalu lama, maka usaha  pertanian, peternakan, dan berbagai jenis kerajinan di kampung itu berhasil dikembangkan. Bahkan hasilnya  sebagian dijual di kampung-kampung sebelahnya. Tiga jenis bekal yang dibawa oleh pemuda, yaitu kain, air dan kitab suci berhasil mengubah kampung. Atas dasar itu, anak-anak muda, ——setelah  beberapa tahun  kuliah, mestinya juga berani bertekat yang sama, mengubah kampungnya,  agar mereka tidak disebut sebagai  penganggur intelektual, tokh telah memiliki bekal lebih dari tiga jenis sebagaimana disebutkan di muka.  Wallahu a’lam. 
     
  • tituitcom 22.11 on 10 September 2012 Permalink  

    Dalam sejarah kemanusiaan, berkorban ternyata menjadi ajaran utama 

    Perhatian Penting Untuk Pembaca Artike.abajadun.com
    1. Isi artikel, berita dan materi http://www.artikel.abajadun.com di ambil dan sadur dari berbagai sumber .
    2. Hak cipta dari isi , artikel , berita dan materi lainya adalah menjadi hak milik dari sumber bersangkutan .
    3. Admin abajadun sama sekali tidak berniat membajak dari sumber manapun, semua artikel,berita dan isi merupakan catatan yang pernah say abaca untuk kemudian saya documentasikan di artikel.abajadun.com supaya bisadi baca teman teman dan sebagai media silaturrahmi dan berbagi informasi.
    4. Jika ada yang keberatan dengan pemuatan isi , berita ,artikel, gambar foto,video yang ada di artikel.abajadun.com silahkan anda hubungi saya dan saya tidak akan keberatan menghapus isi materi tersebut .
    5. Bagi pembaca yang ingin menyebarkan /menggunakan materi di artikel.abajadun.com saya persilahkan saja dengan mencantumkan sumber asli artikel .
    Terakhir jika ada kebaikan dan keberhasilan , saya ucapkan syukur alhamdilillah , semoga semuanya bias memberi manfaat kepada kita semua baik untuk diri sendiri agama,nusa dan bangsa , sebagai penutup saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya , untuk itu bila ada kekuarnganya saya mohon maaf dan atas perhatian anda saya ucpakan terimakasih. Akhir kata selamat membaca.

    Dalam sejarah kemanusiaan, berkorban ternyata menjadi ajaran utama dan harus dilakukan. Habil dan Qobil, putra Adam, dalam kisah sejarah awal manusia  telah dianjurkan untuk berkorban dan juga dilaksanakannya.  Dikisahkan pula, bahwa korban Habil diterima, dan begitu pula sebaliknya, kurban Qobil ditolak. Dalam riwayatnya, ukuran ditolak dan diterima sebuah pengorbanan, disamping keikhlasan,  juga kualitas barang atau benda yang dikorbankan itu.  
    Korban Habil diterima, oleh karena dilakukan dengan ikhlas dan apa yang dikorbankan adalah benda yang berkualitas, terbaik, dan yang paling dicintainya. Begitu pula sebaliknya, korbannya Qobil. Selain itu kisah korban juga dilakukan oleh Nabi Ibrahim dengan anaknya yang amat dicintai, yaitu nabi Ismail. Kisah itu sagat mengerikan, seorang anak laki-laki satu-satunya yang amat dicintai harus dikorbankan. Namun itu dilakukan  semata-mata untuk memenuhi perintah Tuhan.
    Melalui kisah itu, pelajaran penting yang seharusnya ditangkap adalah bahwa korban adalah merupakan keharusan kemanusiaan yang mesti ditunaikan oleh siapapun yang ingin sukses atau berhasil dalam menjalani hidup. Tidak akan mungkin sukses, berhasil, dan apalagi berbahagia bagi siapapun tanpa dilalui dengan pengorbanan. Konsep berkorban menjadi jelas, adalah merupakan pintu keberhasilan dari setiap usaha manusia.
    Melalui kisah kenabian tersebut, rupanya Tuhan ingin menunjukkan bahwa berkorban harus dilakukan oleh siapapun. Tidak akan mungkin sukses dalam menjalani hidup tanpa pengorbanan. Pengorbanan adalah merupakan kepastian yang tidak boleh diabaikan dan apalagi tinggalkan. Ajaran berkorban juga disimbolkan dalam bentuk menyembelih kambing, sapi, atau unta. Penyembelihan korban disebut simbolik, oleh karena dalam sebuah hadits nabi juga disebutkan, bahwa bukan daging dan darah hewan korban yang akan sampai kepada Tuhan, melainkan adalah ketaqwaannya.
    Pada umumnya, orang  mencintai harta. Hewan adalah merupakan bagian dari harta yang dicintai. Pada saat tertentu, yaitu pada hari raya qurban dan  atau tiga hari setelahnya, atau hari tasyrik, seorang muslim disunnahkan untuk menyembelih hewan korban. Selanjutnya, daging kurban itu supaya diberikan kepada mereka  yang berhak, yaitu di antaranya adalah para fakir miskin.        
    Konsep korban ini selalu relevan dengan kehidupan pada setiap zaman dan tempat. Hal itu tidak terkecuali adalah terhadap bangsa Indonesia sekarang ini. Ajaran berkorban mengingatkan kepada kita semua, bahwa cita-cita mulia, lebih-lebih membangun bangsa, maka  tidak akan mungkin berhasil manakala tidak diikuti oleh kesediaan berkorban.  Berkorban adalah merupakan kunci keberhasilan terhadap semua usaha, apapun usaha itu, baik pada tingkatan pribadi dan apalagi komunitas besar, yaitu membangun bangsa dan negara.
    Negeri yang dihuni oleh masyarakat yang disebut agamis ini, memang terasa aneh. Pemimpin dan rakyatnya bercita-cita besar membangun negara dan bangsa agar menjadi maju, sejahtera, bermartabat, dan  tidak tertinggal dari bangsa lain. Disebut aneh oleh karena semangat berkorban sebagaimana ditunjukkan oleh ajaran agamanya masih terasa lembek, dan bahkan justru  bertolak belakang dari ajaran itu.  Dari waktu ke waktu dikabarkan, tidak sedikit pejabat di berbagai tingkatan melakukan tindak kejahatan korupsi untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.
    Para pahlawan bangsa ini telah memberikan contoh terbaik. Mereka telah mengorbankan apa saja yang dimiliki, hingga jiwa dan raganya sekalipun dikorbankan untuk berperang melawan penjajah demi  meraih kemerdekaan. Kesediaan dan kerelaan berkorban itulah sebenarnya kunci keberhasilan para pejuang bangsa ini hingga berhasil mengusir penjajah. Kemerdekaan itu diraih di atas  pengorbanan yang luar biasa dari para pejuang bangsa ini.
    Bangsa Indonesia pada saat ini  sedang berjuang untuk membangun. Namun rupanya, semangat untuk berkorban terasa masih perlu ditumbuh-kembangkan. Masih belum banyak pemimpin bangsa ini yang secara nyata mau berkorban. Justru yang terdengar adalah sebaliknya, yaitu berlomba mendapatkan tunjangan dan bahkan juga fasilitas yang berlebihan.  Akibatnya sehari-hari,  nuansa yang berkembang,  bukan berkorban melainkan bertransaksi.
    Lebih memprihatinkan lagi, bahwa semangat menjadi pemimpin di negeri ini masih diikuti, ——-secara terang-terangan atau tersembunyi, untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat rendahan.  Bahkan  suasana itu memunculkan istilah yang menyedihkan, yaitu politik transaksional.  Mereka lupa, bahwa  kunci sukses  adalah berkorban, sebagaimana dilakukan oleh Habil, Nabi Ibrahim, dan para pahlawan bangsa ini, dan bukan bertransaksi. Mereka sukses usaha dan hidupnya, oleh karena ada kesediaan berkorban.
    Oleh karena itu, di saat hari raya korban seperti ini, tepat sekali  sebagai kaum yang beriman menunjukkan secara simbolik pengorbanan dengan cara menyembelih hewan korban. Apalagi kita yakin,  bahwa berkorban adalah pintu utama meraih kesuksesan. Maka,  pintu sukses itu harus kita lalui. Wallahu a’lam.      
     
  • tituitcom 17.32 on 10 September 2012 Permalink  

    KEASYIKAN SOMADIKARTA MENGGELUTI BURUNG INDONESIA 


    Usianya tak lagi muda, 82 tahun, tetapi tubuh dan pembawaan dirinya tak terlihat seperti laki-laki berusia lanjut karena tetap segar dan bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wartawan.
    Dialah Soekarja Somadikarta, yang akrab disapa Prof. Soma. Sudah lebih dari setengah abad dia asyik menggeluti burung-burung di Indonesia, bukan sebagai hobi, tetapi sebagai peneliti di bidang ornitologi atau taksonomi burung.
    Keasyikan meneliti burung-burung Indonesia itulah yang hingga kini membuat dia selalu sehat dan bugar meskipun di usia yang sudah lanjut.
    “Sukailah pekerjaanmu. Kalau kamu suka dengan pekerjaanmu, tidak akan stres sehingga tetap sehat,” katanya ketika ditanya rahasia kesehatan dan kebugaran tubuhnya.
    Dengan tips itu, Prof Soma mengatakan tubuhnya selalu sehat dan tidak memiliki pantangan makanan tertentu. Dia mengaku, tekanan darah dan kadar gula darah tubuhnya pun selalu normal meskipun dia tidak memiliki kegiatan olah raga khusus.
    Dia mengatakan memang sangat senang menggeluti burung-burung karena Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati terbesar di dunia memiliki burung yang beraneka ragam.
    Kepakaran dan kepeloporan Prof. Soma di bidang ornitologi Indonesia memang sudah diakui. Bahkan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan Penghargaan Sarwono Prawirohardjo XI pada 28 Agustus karena kepakaran dan kepeloporan Prof Soma di bidang itu.
    Pejuang-Ilmuwan
    Soekarja Somadikarta yang lahir di Bandung, 21 April 1930, ikut berjuang sebagai anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 1945. Ketika duduk di bangku kelas 3 SMP, dia menyandang pangkat kopral lalu naik menjadi sersan saat kelas 1 SMA.
    Saat itu, dia menjadi tentara di bawah Kompi I, Batalyon 1, Resimen 8, Divisi 3 Bandung Selatan yang dipimpin Kolonel Abdul Haris Nasution. Dia juga sempat menjadi anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).
    Pada 1947, dia ikut mendirikan Pasukan Tempur Garuda Putih di Tasikmalaya Selatan di bawah komando Kapten Tatang Aruman dan Letnan R Burdah.
    Kala itu, senjata yang dia pegang adalah Johnson, senjata laras panjang semiotomatis, yang kemudian dia serahkan kepada rekan seperjuangannya, Eddie Marzuki Nalapraja. Belakangan, rekannya itu pensiun dengan pangkat terakhir mayor jenderal dan sempat menjabat sebagai wakil gubernur DKI Jakarta.
    Ketika ibukota republik pindah dari Jakarta ke Yogyakarta, banyak anggota Tentara Republik Indonesia yang ikut hijrah. Namun, Somadikarta memilih tidak ikut hijrah dan tidak meminta surat keputusan sebagai Veteran RI kepada Presiden Soekarno.
    “Sudah merupakan kewajiban setiap warga untuk mempertahankan kedaulatan negaranya,” alasannya tidak meminta surat keputusan veteran.
    Di masa kemerdekaan Indonesia yang telah berdaulat, pada 1950, Somadikarta bekerja di Dinas Kesehatan, Komando Daerah Maritim Jakarta, Angkatan Laut. Pada 1952, dia pindah sebagai asisten Protozoaire en Virus ziekten di Lembaga Penyakit Menular, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Indonesia, Bogor.
    Di Universitas Indonesia, karir akademisnya terus mencuat mulai dari Kepala Bagian Zoologi, Ketua Jurusan Biologi, Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA), Dekan FIPIA -yang kemudian berubah menjadi Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA), Kepala Laboratorium Taksonomi dan Kepala Pusat Penelitian Sains dan Teknologi.
    Sedangkan gelar doktor ilmu pengetahuan alam dia raih di Mathematisch-naturwissenschaftliche Fakultat, Freie Universitat, Berlin Barat, Jerman Barat pada 29 Mei 1959.
    Gelar guru besar FIPIA/FMIPA UI dia peroleh pada 1 April 1974 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 0215/C/DEPK/1974 yang ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Sjarif Thajeb.
    “Senat Universitas Indonesia sebenarnya sudah menyetujui untuk mengangkat saya sebagai guru besar pada 1970. Namun saya menolak karena masih merasa belum pantas untuk menduduki jabatan terhormat itu,” katanya.
    Teliti Burung
    Keterlibatannya terhadap dunia ornitologi dimulai pada 1962 ketika dia diminta Prof. Sarwono Prawirohardjo, Kepala LIPI pertama, untuk menjadi pejabat Kepala Museum Zoologicum Bogoriense. Dia menerima jabatan itu, dengan syarat tetap diperbolehkan merangkap dengan jabatan di UI.
    “Sebagai pejabat kepala museum saat itu, saya meminta kepada rekan-rekan yang lain untuk memilih spesialisasi masing-masing. Saya meminta mereka memilih lebih dahulu,” katanya.
    Ternyata, dari rekan-rekannya yang ada di Museum Zoologicum Bogoriense tidak ada yang memilih bidang ornitologi atau taksonomi burung. Padahal, museum saat itu memiliki banyak spesimen burung, tetapi tidak ada yang memilih bidang itu.
    Akhirnya, Soma memilih untuk mengambil spesialisasi di bidang ornitologi. Apalagi, kata dia, saat itu masih belum ada orang Indonesia yang mau meneliti tentang burung.
    Spesialisasinya di bidang ornitologi di bawah bimbingan langsung ornitolog kaliber dunia, Erwin Stresemann. Untuk superspesialisasi, dia memilih Collocalia (burung walet).
    Saat itu, dia mengatakan sempat ditanya Stresemann, mengapa memilih superspesialisasi Collocalia. Sebab, jenis burung itu termasuk yang tersulit -karena bentuk, warna dan ukuran yang hampir sama- sehingga jarang ada yang memilih.
    “Saya katakan kepada Stresemann, justru karena sulit saya merasa tertantang,” tuturnya.
    Nama Somadikarta semakin diakui dunia ornitologi ketika dia berhasil menemukan salah satu jenis burung walet yang salah diklasifikasikan ke dalam Collocalia whitehedi papuensis.
    Menurut dia, burung walet itu berbeda dengan Collocalia whitehedi papuensis karena memiliki tiga jari di kakinya, sementara yang lain berjari empat. Temuannya itu kemudian dia kemukakan dalam tulisan ilmiah yang sempat menggemparkan dunia ornitologi.
    Bahkan, salah satu ornitolog kaliber dunia dari Universitas Harvard, Ernst Mayr -yang menurut Somadikarta dikenal sebagai orang yang angkuh- sempat tidak percaya bahwa dia salah mengklasifikasikan burung itu.
    “Akhirnya burung itu dikeluarkan dari subspesies Collocalia whitehedi papuensis dan menjadi salah satu spesies sendiri, yaitu Collocalia papuensis,” katanya.
    Kehilangan Anak-Istri
    Di kala usianya yang sudah senja, Somadikarta ternyata menyimpan kisah duka karena kehilangan anak kedua dan istrinya. Anak keduanya, Dedi Ahadiat Somadikarta, meninggal dunia 18 Januari 1985 pada usia 25 tahun setelah dirawat selama 12 jam di Rumah Sakit PMI Bogor.
    Somadikarta sangat mengenang putranya, sehingga dia pun menamai salah satu burung yang berhasil dia pertelakan dengan memasukkan nama anaknya, yaitu Collocalia linchi dediae.
    Kedukaannya semakin mendalam ketika istrinya, Lily Koeshartini yang dia nikahi di Semarang, 26 Februari 1955, meninggal dunia pada 18 April 2009 setelah seminggu dirawat di Bogor Medical Center dan seminggu di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
    “Saat itu saya sangat sedih ditinggal istri, tetapi saya pasrah dan ikhlaskan kepergiannya. Yang penting saat itu saya tidak pasrah sebelum dia meninggal dan sudah berusaha untuk kesembuhannya,” tuturnya.
    Kini, dia hanya tinggal memiliki seorang anak, yaitu Lily Berlinawati Somadikarta, yang mengikuti jejak Somadikarta menjadi peneliti di Inggris. Lily menikah dengan seorang Inggris bernama Andrew Ashdown pada 9 Juli 1988 dan memberikan dua orang cucu kepadanya.
    Sosok Kebapakan
    Bagi Kepala LIPI Prof. Lukman Hakim, sosok Prof. Soekarja Somadikarta memiliki kesan tersendiri. Prof. Soma adalah dekan Lukman ketika dia menempuh pendidikan di FMIPA UI.
    “Prof. Soma itu merupakan seorang dosen dan dekan yang kebapakan, orang tua yang senantiasa menjaga anak-anaknya. Bagi saya, Prof. Soma itu bagaikan seorang guru sekaligus ayah,” katanya. Kesan mendalam Lukman terhadap Prof. Soma adalah ketika dia yang ketika mahasiswa menjabat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa ditangkap tentara karena aksi pergerakan mahasiswa pada 1977. Saat itu, dia sempat dijenguk oleh Prof. Soma di tahanan.
    “Sikap Prof. Soma yang kebapakan dan peduli dengan mahasiswanya itu saya lihat berbeda jauh dengan sikap dosen-dosen saat ini. Dulu, setiap mahasiswa bisa berlindung kepada dosennya,” kata Lukman.
    Lukman mengatakan ketika Komisi Penilai memutuskan untuk memberikan Penghargaan Sarwono Prawirohardjo XI kepada Prof. Soma, dia sempat merasa khawatir karena takut dikira penghargaan itu disebabkan kedekatannya dengan Prof. Soma.
    Namun, dengan pertimbangan dari Komisi Penilai, akhirnya dia pun menyetujui untuk memberikan penghargaan itu kepada Prof. Soma. Akhirnya, dia sendiri yang memberitahukan penghargaan itu kepada Prof. Soma melalui telpon pada 25 Juli 2012.
    Menerima pemberitahuan melalui telepon itu, Somadikarta mengaku perasaannya campur aduk tak keruan antara was-was dan gembira. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah dia pantas menerima penghargaan setinggi itu, yang diidam-idamkan oleh seluruh peneliti Indonesia.
    “Tetapi takdir telah menetapkan demikian. Akhirnya saya menjawab, tentu saya terima dengan bangga penghargaan itu serta mengucapkan syukur kepada Tuhan atas keputusan dan perlindungan-Nya,” tutur Soekarja Somadikarta.

    » Sumber : ANTARA, 4 September 2012  KEASYIKAN SOMADIKARTA MENGGELUTI BURUNG INDONESIA


     
  • tituitcom 17.13 on 10 September 2012 Permalink  

    Kecerdasan Buatan – Menajamkan Otak Tumpul 

    Resensi Buku : Kecerdasan Buatan – Menajamkan Otak Tumpul
    Djoko Sardjono

    KECERDASAN buatan (artificial intelligence) merupakan inovasi baru di bidang ilmu pengetahuan. Mulai ada sejak muncul komputer modern, yakni pada 1940 dan 1950. Ini kemampuan mesin elektronika baru menyimpan sejumlah besar info, juga memproses dengan kecepatan sangat tinggi menandingi kemampuan manusia.
    Apa kecerdasan buatan itu? Bagian dari ilmu pengetahuan komputer ini khusus ditujukan dalam perancangan otomatisasi tingkah laku cerdas dalam sistem kecerdasan komputer. Sistem memperlihatkan sifat-sifat khas yang dihubungkan dengan kecerdasan dalam kelakuan atau tindak-tanduk yang sepenuhnya bisa menirukan beberapa fungsi otak manusia, seperti pengertian bahasa, pengetahuan, pemikiran, pemecahan masalah, dan lain sebagainya.
    Kecerdasan buatan mungkin satu dari perkembangan yang paling penting di abad ini. Hal ini akan memengaruhi kehidupan negara-negara yang memainkan peranan penting dalam perkembangan kecerdasan buatan, yang kemudian muncul sebagai negara-negara adikuasa.
    Pentingnya kecerdasan buatan menjadi nyata bagi negara-negara yang berperan sejak tahun 1970. Para pemimpin negara yang mengakui potensialnya kecerdasan buatan mengharap mendapat persetujuan jangka panjang untuk sumber-sumber yang memerlukan dana intensif.
    Jepang adalah yang pertama kali melakukan itu. Negara ini mengembangkan program yang sangat berambisi dalam penelitian kecerdasan buatan.
    Sebagai bidang ilmu pengetahuan komputer, kecerdasan buatan sebenarnya sudah mulai diselidiki pada 1930-an dan 1940-an. Waktu itu banyak cendekiawan mengembangkan ide-ide baru mengenai komputasi. Logika matematika selanjutnya menjadi bidang aktif dari penyelidikan kecerdasan buatan, karena sistem logika deduktif telah berhasil diimplementasikan dalam program-program komputer.
    Seorang ahli matematika bernama Alan Turing, yang memiliki sumbangan besar dalam pengembangan teori kemampuan penghitungan (computability), bergumul dengan pertanyaan apakah sebuah mesin dapat berpikir atau tidak. Uji yang dilakukan adalah dengan mengukur kinerja (performance) mesin cerdas. Uji Alan Turing menjadi dasar bagi banyak strategi yang digunakan dengan menilai program-program kecerdasan buatan.
    Awalnya, kecerdasan buatan hanya ada di universitas-universitas dan laboratorium penelitian, dan hanya sedikit produk yang dihasilkan dan dikembangkan. Menjelang akhir 1970-an dan 1980-an, mulai dikembangkan secara penuh dan hasilnya berangsur-angsur dipublikasikan di khalayak umum.
    Permasalahan di dalam kecerdasan buatan akan selalu bertambah dan berkembang seiring dengan laju perkembangan zaman menuju arah globalisasi dalam setiap aspek kehidupan manusia, yang membawa persoalan-persoalan yang semakin beragam pula. Bidang-bidang yang hampir bersangkutan dengan kecerdasan buatan termasuk keahlian teknik atau teknik mesin, terutama listrik dan teknik mekanik, bahasa, psikologi, ilmu kognitif, dan filosofi. Robotik juga dianggap oleh beberapa peneliti sebagai cabang kecerdasan buatan, tapi yang ini tidak umum.
    Dibandingkan dengan program konvensional, program kecerdasan buatan lebih sederhana dalam pengoperasiannya, sehingga banyak membantu pemakai. Program konvensional dijalankan secara prosedural dan kaku, rangkaian tahap solusinya sudah didefinisikan secara tepat oleh pemrogramnya. Sebaliknya, pada program kecerdasan buatan untuk mendapatkan solusi yang memuaskan dilakukan pendekatan trial and error, mirip seperti apa yang dilakukan oleh manusia. Program konvensional tidak dapat menarik kesimpulan seperti halnya pada program kecerdasan buatan kendati dengan informasi-informasi yang terbatas.
    Buku Kecerdasan Buatan yang ditulis Andri Kristanto, dosen Ilmu Komputer Universitas Widya Dharma Klaten, cocok dan layak untuk dibaca para mahasiswa jurusan teknik informatika, manajemen informatika, ilmu komputer, atau jurusan lain yang sesuai.

    Sumber : Media Indonesia (14 Oktober 2005)

     
  • tituitcom 02.29 on 5 September 2012 Permalink  

    Cloud computing, komputasi awan di dunia maya 

    Cloud computing, komputasi awan di dunia maya
    Gombang Nan Cengka

    Kebanyakan kerja komputasi yang terpenting saat ini dapat dilakukan dari web browser. Tidak percaya? Yang paling jelas tentu browsing itu sendiri. Berselancar di Internet bagi banyak orang saat ini sudah menjadi kebutuhan. Sebagian orang malah menghabiskan waktunya di komputer dengan menjelajahi jaringan web.
    Bagi mereka komputer tak hanya identik dengan Internet, tapi juga dengan web. Namun saat ini browser juga digunakan sebagai jendela untuk kerja komputasi yang dulunya menggunakan aplikasi terpisah. Dengan demikian saat ini kita bisa hanya memasang browser di komputer, dan melakukan hampir semua pekerjaan dari sana.
    Dengan cara ini baik data maupun proses komputasi lebih banyak bertumpu di server, yang biasanya terpisah dan tidak terjangkau secara fisik oleh pengguna. Mode komputasi seperti ini kadang disebut sebagai komputasi di awan (cloud computing).

    Bermula dari e-mail

    Ambil contoh saja aplikasi surat elektronik alias e-mail. Mungkin cukup banyak di antara kita yang berkenalan dengan surat elektronik lewat layanan gratis seperti Hotmail dan Yahoo Mail. Layanan e-mail gratis ini umumnya menggunakan antarmuka berbasis web. Bagi orang-orang seperti ini e-mail agak sulit dipisahkan dari web.
    Padahal secara historis client e-mail berbasis web baru muncul belakangan. E-mail sudah lahir jauh sebelum web ada, dan client e-mail khusus seperti Microsoft Outlook Express atau Mozilla Thunderbird sudah merupakan hal yang jamak. Namun bagi yang berkenalan dengan surat elektronik melalui layanan webmail, client e-mail yang tidak menggunakan browser masih merupakan hal baru, asing dan canggung untuk digunakan.
    Sebagai contoh penulis menemukan masih banyak orang gagap menggunakan aplikasi e-mail pada ponsel mereka, dan lebih nyaman membuka browser ponsel untuk mengakses antarmuka web bila ada.
    Padahal bila mereka sudah biasa menyetel dan memakai aplikasi serupa di komputer, mereka itu akan menjadi hal biasa saja. Selain e-mail beberapa layanan Internet lainnya juga dapat digunakan melalui browser. Contohnya adalah Internet Relay Chat (IRC).
    Kebanyakan pengguna IRC mungkin lebih nyaman berbincang-bincang di kanal IRC dengan client khusus seperti mIRC. Namun meski relative kurang populer sebenarnya ada layanan IRC berbasis web.
    Yang lebih banyak digunakan dan lebih populer akhir-akhir ini mungkin adalah pesan instan (instant messaging).
    Seperti IRC, pesan instan pada umumnya juga digunakan dengan client khusus. Akan tetapi sekarang antarmuka berbasis web juga sudah tersedia, dan bagi sebagian orang mungkin lebih menyukainya.
    Masalahnya, berbeda dengan IRC yang punya protokol yang terbakukan, dunia pesan instan terpecah-pecah menjadi beberapa belahan sesuai dengan penyedia jasa pesan instan.
    AIM populer di Amerika Serikat, sedangkan di bagian dunia lain umumnya orang menggunakan MSN atau Yahoo. Karena perbedaan itu tidak ada jaminan bila kita meminjam komputer orang lain (baik punya teman, atau di warung Internet) client pesan instan favorit kita terpasang.
    Tidak seperti browser. Dengan antarmuka berbasis web tak perlu repot-repot memasang client khusus. Cukup buka browser, ketikkan URL yang sesuai dan kita pun sudah dapat mengobrol.

    Multimedia & kantoran

    Sampai sejauh ini semua contoh aplikasi yang sudah dikemukakan, seperti e-mail, IRC dan pesan instan, seperti web sendiri, memang berorientasi pada Internet. Oleh karena itu mungkin logis saja semuanya ditumpangkan pada satu aplikasi. Toh bagi banyak orang ‘Internet’ identik dengan web.
    Namun, bagaimana dengan aplikasi lain yang secara tradisional dilakukan secara offline? Beberapa perusahaan seperti Yahoo dan Google saat ini agresif mengembangkan alternatif online.
    Dua contoh yang patut disebut adalah multimedia dan aplikasi kantoran (seperti pengolah kata, lembar kerja, dan presentasi). Mendengarkan lagu-lagu dari Internet sudah tak asing lagi, dan dengan bantuan plugin khusus browser dapat digunakan untuk mendengarkan lagu-lagu. Kenyataannya streaming musik dan ‘radio Internet’ sudah cukup lama dikenal.
    Namun, umumnya ini masih menggunakan aplikasi pemutar musik seperti Winamp, Windows Media Player ataupun iTunes.
    Kemunculan layanan video streaming YouTube menyadarkan kita bahwa browser bisa jadi platform multimedia yang patut mendapat perhatian serius. Ini tak lepas dari matangnya teknologi Flash, yang mengubah browser dari aplikasi yang pada awalnya berorientasi pada teks hingga mampu menampung kandungan video dan suara.
    Faktor lain yang turut menjadi pendorong adalah semakin terjangkaunya saluran Internet berkecepatan tinggi di banyak negara.
    Bagaimanapun video streaming memerlukan pipa yang cukup lebar, dan pipa yang sempit tidak akan mampu menanggung beban limpahan data berukuran besar seperti streaming video.
    Untuk aplikasi kantoran online seperti Google Docs AJAX (Asynchronous Javascript and XML) menjadi penunjang cukup berarti. Teknologi ini memungkinkan aplikasi web berperilaku seperti aplikasi offline tradisional. Dengan aplikasi kantoran berbasis web kita dapat menulis dokumen, membuat presentasi dan lembar kerja langsung di browser, tanpa harus memasang aplikasi tambahan.
    Bergeser ke server
    Dari sisi pengguna, yang terlihat adalah menyatunya berbagai fungsi dari aplikasi terpisah ke dalam browser. Namun, kalau kita melihat lebih jauh lagi, kita dapat melihatpergeseran kerja komputasi itu sendiri.
    Pada aplikasi desktop tradisional, kebanyakan kerja komputasi dan data bertumpu pada komputer pribadi. Pada aplikasi berbasis web ini berpindah pada server yang terpisah.
    Pendekatan seperti ini punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Data aplikasi yang bertumpu di server dapat diakses dari mana pun, asalkan pengguna terhubung dengan jaringan Internet.
    Dengan demikian misalnya pengguna dapat bekerja menggunakan komputer sekolah menyimpan data, lalu melanjutkannya dari komputer rumah tanpa perlu kelupaan membawa pulang data di dalam portable disk.
    Cara ini juga lebih fleksibel, karena tidak perlu bergantung pada sistem operasi.
    Dengan munculnya gadget yang memiliki browser web penuh seperti ponsel model terakhir, kita nantinya mungkin tidak perlu bergantung pada komputer lagi.
    Kelebihan lain adalah keamanan data dari kehilangan. Ini sekilas terasa aneh, karena dengan cara ini data kita serahkan pada pihak ketiga yang sukar kita kendalikan. Namun, dari pengalaman penulis, menyimpan data e-mail di jaringan Internet jauh lebih awet dan lebih mudah daripada di dalam komputer sendiri.
    Pada komputer pribadi kita harus meluangkan waktu untuk mem-backup buat jaga-jaga bila komputer rusak, dan memindahkannya bila membeli komputer baru. Ini tidak perlu dilakukan pada data e-mail seperti Yahoo.
    Di sisi lain aplikasi berbasis web (atau yang bergantung pada jaringan) tidak akan dapat berfungsi bila tidak ada koneksi Internet. Buat Indonesia yang penetrasi jaringan Internet masih belum mendalam ini merupakan masalah besar.
    Selain itu dengan alasan privasi banyak pula yang enggan menaruh datanya dalam server penyedia jasa Internet.
    Beberapa jenis aplikasi online, seperti aplikasi kantoran, juga masih kalah jauh dari segi fitur dan kemampuan daripada pesaingnya di ranah desktop.

    Konsekuensi

    Maraknya aplikasi online (terutama yang berbasis web) dapat dilihat dari sisi persaingan perusahaan Internet seperti Google dan Yahoo! dengan penyedia peranti lunak yang lebih tradisional seperti Microsoft dan Adobe-dan mungkin yang lain. Tidak berarti mereka tinggal diam.
    Microsoft dan Adobe sudah menyediakan pula aplikasi online. Aplikasi desktop tradisional rasanya tidak akan tergusur begitu saja. Namun, bisa dilihat bahwa untuk perusahaan yang bersandar pada penjualan di komputer desktop, ini agak mengkhawatirkan. Selain itu dengan pembakuan pada web browser akan membuat sistem operasi, bahkan peranti yang digunakan menjadi kurang relevan. Bila peranti tersebut punya browser dengan kemampuan standar, aplikasi apa pun bisa dijalankan.

    Sumber : Bisnis Indonesia (22 Desember 2007)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal