Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 17.08 on 10 September 2012 Permalink  

    Dari Internet ke Intelnet 

    Dari Internet ke Intelnet : Infrastruktur internet sekarang masih menggunakan model 30 tahun lalu
    Budi P

    Inilah berita yang tak ingin didengar oleh pengguna internet: world wide web dalam kondisi bahaya dan terancam ambruk. Benarkah?
    Patrick Gelsinger, direktur teknis produsen chip komputer Intel, dalam sebuah konferensi di San Francisco pekan lalu, mengatakan bahwa kapasitas jaringan internet yang ada sekarang tak akan mampu lagi lebih lama menampung gelombang lalu lintas akses internet dalam jaringannya.
    Ia mengatakan, infrastruktur internet yang dibuat berbasiskan model 30 tahun lalu diperkirakan tidak akan mampu lagi menangani membludaknya beban akses dan segala tetek-bengek pengamanan.
    “Kita bergerak dalam sejumlah keterbatasan arsitektural,” ujarnya. Ia mengaku, pihaknya kini sedang merancang jaringan baru yang akan melapisi dan memperkuat sistem yang ada sekarang.
    Intel memang sedang bekerja meningkatkan kemampuan internet dengan menambahkan satu lapisan teknologi yang dapat membantu jaringan mendeteksi serangan virus dan segera mengalihkan lalu lintas jaringan untuk menghindari kemandekan akses.
    Menurut Gelsinger, ini dapat dilakukan dengan cara menambahkan jaringan tambahan dalam pembuatan sumber daya komputasi dan penyimpanan (storage).
    Dengan serangan e-mail sampah alias spam yang kini mencapai 80 persen dari seluruh e-mail yang dikirimkan dan makin banyaknya jumlah virus dan cacing–seperti MyDoom dan Sasser–dewasa ini memang muncul perhatian serius untuk menstabilkan jaringan.
    Apalagi, jumlah pengguna web yang sudah meningkat 10 kali lipat pada dekade lalu, para ahli memperkirakan pertumbuhan tersebut akan terus berlangsung dengan jangka waktu yang semakin pendek.
    Untuk mendukung argumennya, ia mengajak Vinton Cerf, yang dikenal sebagai bapak internet, yang mendesain penggunaan protokol TCP/IP. Protokol yang diciptakan Steve Crocker, Bob Kahn, dan Cerf ini merupakan kunci desain ulang, karena protokol ini dapat dijalankan pada sistem operasi mana pun, komputer yang berbeda dapat bergabung dalam jaringan.
    Seperti diakui Cerf, “Saya rasa jaringan internet masih sangat primitif; kita masih berada di zaman batu dalam hal jaringan. Masih banyak urusan besar yang harus dilakukan; apalagi sejumlah keterbatasan fundamental internet sangat arsitektural.”
    Intel juga mengajak pemain-pemain industri lain untuk bergabung dengan jaringan PlanetLab yang sedang dikembangkan bersama Hewlett Packard, AT&T, dan lainnya.
    Cetak biru Intel–yang juga disebut Intelnet–didasarkan pada prototipe yang sedang dikembangkan proyek PlanetLab yang didanai oleh Intel.
    PlanetLab adalah jaringan riset yang digunakan oleh 150 universitas dan lembaga riset komersial. Konsep kerja samanya adalah memobilisasi penggunaan server masing-masing untuk ditempatkan sepanjang router yang saat ini berfungsi mengarahkan lalu lintas internet.
    Intel menjelaskan bahwa pendekatan PlanetLab adalah dengan menggunakan internet untuk mengirimkan data, tapi kemudian mengintegrasikan sebuah jaringan tambahan baru terhadap router server pintar dalam meningkatkan kemampuannya.
    Seperti menangkap adanya rasa curiga dari pihak lain, Gelsinger menegaskan bahwa server-server ini nantinya tidak harus menggunakan produk Intel, tapi bisa menggunakan tenaga virtual serupa.
    “Tak ada pengekangan dalam hal arsitektur infrastruktur internet ini; peranti silikon lain dapat digunakan sepanjang Anda bisa menghadirkan lapisan-lapisan virtual yang dibutuhkan.”
    “Dengan memahami dan bekerja dalam proyek riset ini, kami sedang mencoba mencari cara yang terbaik. Tentu saja, kita akan menggunakan teknik kompetitif lain. Ini sebuah kompetisi yang sehat.”
    Memang tidak sedikit pihak yang skeptis dengan gagasan ini. Jangan-jangan ini cuma akal Intel saja untuk berbisnis.
    “Ada beberapa celah dari kebenaran yang diungkapkannya (Gelsinger), tapi kita tidak ingin menggonta-ganti internet,” ujar Jim Page, Direktur Teknis Email Systems, perusahaan filter surat elektronik dan pengamanan.
    “Apa yang diungkapkannya hanyalah kabar baik untuk Intel secara komersial, tetapi ini bukan skenario akhir segalanya,” ulas Jim.
    Yang jelas, gagasan untuk memoles “rumah” internet ini juga diharapkan makin memudahkan pengembangan berbagai peranti jaringan pintar ini di masa depan.

    Sumber : Koran Tempo (23 September 2004)

     
  • tituitcom 16.54 on 10 September 2012 Permalink  

    8 Hal Penyebab Kiamat Versi Ilmiah 

    Pernahkah membayangkan kiamat akan seperti apa? Bumi tidak seaman yang kita kira. Berikut delapan hal yang berpotensi menyebabkan kiamat.

    Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan kiamat di planet kita. Ilmuwan memberikan detail mengenai hal itu dan berikut delapan hal tersebut.
    1. Serangan sinar gamma
    Saat supenova meledak, ledakan itu menghasilkan sinar gamma. Jika ada ledakan dekat bumi paling tidak berjarak 30 juta tahun cahaya maka kan berbahaya.
    “Sinar ini dapat merusak atmosfir bumi dan menghasilkan kebakaran global, membakar atmosfir dan membunuh spesies hidup tersisa dalam beberapa bulan bahkan yang hidup di bawah air sekalipun,” kata Annie McQuade, penulis buku mengenai bencana global. Untungnya, ledakan luar biasa ini jauh dari planet Bumi.
    2. Virus mematikan serang manusia
    Dalam buku karangan John Barnes dijelaskan bagaimana ‘virus pikiran’ dapat menghancurkan dunia. Dalam bukunya yang lain, Barnes memperkenalkan nano-reconstructor (alat yang dapat mengubah pikiran orang) dan dapat digunakan untuk memerintahkan otak untuk melakukan hal jahat.
    Serupa, Profesor aeronautics dan astronautics di Purdue University, Barrett Caldwell mengatakan hal ini lebih dikenal sebagai ‘penyakit psikogenik masal’ di mana membuat orang terinfeksi menjadi pendiam dan terisolasi. Hingga saat ini belum ada perlindungan untuk mencegah serangan virus pikiran ini. “Contoh terkerennya adalah genosida di Rwanda,” kata Howard Davidson, fisikawan dan profesor Standford.
    3. Kutub utara dan selatan bertukar tempat
    Setiap beberapa ratus tahun, kutub magnet Bumi terbalik. “Masalahnya bukan terletak pada perubahan tempatnya, namun medan magnet bumi ini akan menarik radiasi matahari di sekitar kutub,” jelas penulis buku Implied Spaces, Walter Jon Williams. “Jadi, jika kutub bertukar tempat maka banyak penduduk yang akan terbakar.”
    4. Semesta terus berkembang
    Hal ini disebut ‘cabikan besar’. Energi gelap memaksa semesta berkembang dan mengakibatkan partikel atom tidak bisa bertemu dan berinteraksi lagi. Hal ini akan menyebabkan segala materi terpisah begitu saja.
    Proses ini membutuhkan waktu ribuan tahun, tidak ada cara mencegah peristiwa ini.
    5. Eksperimen ilmuwan terlalu jauh
    Sejarah menunjukkan, bahaya terbesar bagi manusia adalah dirinya sendiri. Seiring perkembangan eksperimen manusia, mendorong munculnya bahaya bagi dunia. “Kesalahan terbesar eksperiman bukanlah eksperimennya melainkan manusia yang menggunakan hasil eksperimen tersebut,” kata Williams.
    6. Gunung api super meratakan planet
    Gunung api super di Asia Tenggara membakar India 73 ribu tahun silam dan menyebabkan musim dingin vulkanik selama dua dekade dan memusnahkan 75% ras manusia.
    Tiga dari enam gunung api bahaya saat ini ada di Amerika Serikat (AS) di mana gunung tersebut mungkin menyebabkan ‘bencana vulkanis’ itu.
    Jika gunung itu meletus, tidak ada yang bisa menghentikannya. Letusan gunung bisa terjadi dari beberapa gunung sekaligus.

    7. Komputer mengambil alih semuanya
    Satu lagi katalisme ciptaan manusia yang saat ini sudah terjadi. Seiring kemajuan komputer, pada akhirnya komputer akan mengambil alih semua pekerjaan manusia. Ancaman yang lebih berbahaya lagi berasal dari Artificial Intelligence (AI). “AI secara kualitatif lebih baik dari manusia,” kata McQuade. “AI dapat belajar dengan cepat dan dengan mudah melampaui ‘intelejensi’ manusia.”

    8. Batuk menyebar di seluruh dunia
    Salah satu penyebab paling sederhana lainnya adalah batuk. Flu mematikan dapat menyebar di seluruh dunia dengan sangat cepat. “Flu selalu menjadi ancaman kapanpun terutama penyebarannya yang cepat sekali,” kata William.
    “Masalah lainnya adalah rumah sakit sekarang terlalu mengandalkan antibiotik sehingga mengabaikan prosedur sterilisasi,” tambahnya.
    Untungnya, ilmuwan berhasil mengembangkan vaksin virus flu berbahaya ini. Cara paling mudah melawan potensi ini adalah menjaga kebersihan
     
  • tituitcom 02.29 on 5 September 2012 Permalink  

    Cloud computing, komputasi awan di dunia maya 

    Cloud computing, komputasi awan di dunia maya
    Gombang Nan Cengka

    Kebanyakan kerja komputasi yang terpenting saat ini dapat dilakukan dari web browser. Tidak percaya? Yang paling jelas tentu browsing itu sendiri. Berselancar di Internet bagi banyak orang saat ini sudah menjadi kebutuhan. Sebagian orang malah menghabiskan waktunya di komputer dengan menjelajahi jaringan web.
    Bagi mereka komputer tak hanya identik dengan Internet, tapi juga dengan web. Namun saat ini browser juga digunakan sebagai jendela untuk kerja komputasi yang dulunya menggunakan aplikasi terpisah. Dengan demikian saat ini kita bisa hanya memasang browser di komputer, dan melakukan hampir semua pekerjaan dari sana.
    Dengan cara ini baik data maupun proses komputasi lebih banyak bertumpu di server, yang biasanya terpisah dan tidak terjangkau secara fisik oleh pengguna. Mode komputasi seperti ini kadang disebut sebagai komputasi di awan (cloud computing).

    Bermula dari e-mail

    Ambil contoh saja aplikasi surat elektronik alias e-mail. Mungkin cukup banyak di antara kita yang berkenalan dengan surat elektronik lewat layanan gratis seperti Hotmail dan Yahoo Mail. Layanan e-mail gratis ini umumnya menggunakan antarmuka berbasis web. Bagi orang-orang seperti ini e-mail agak sulit dipisahkan dari web.
    Padahal secara historis client e-mail berbasis web baru muncul belakangan. E-mail sudah lahir jauh sebelum web ada, dan client e-mail khusus seperti Microsoft Outlook Express atau Mozilla Thunderbird sudah merupakan hal yang jamak. Namun bagi yang berkenalan dengan surat elektronik melalui layanan webmail, client e-mail yang tidak menggunakan browser masih merupakan hal baru, asing dan canggung untuk digunakan.
    Sebagai contoh penulis menemukan masih banyak orang gagap menggunakan aplikasi e-mail pada ponsel mereka, dan lebih nyaman membuka browser ponsel untuk mengakses antarmuka web bila ada.
    Padahal bila mereka sudah biasa menyetel dan memakai aplikasi serupa di komputer, mereka itu akan menjadi hal biasa saja. Selain e-mail beberapa layanan Internet lainnya juga dapat digunakan melalui browser. Contohnya adalah Internet Relay Chat (IRC).
    Kebanyakan pengguna IRC mungkin lebih nyaman berbincang-bincang di kanal IRC dengan client khusus seperti mIRC. Namun meski relative kurang populer sebenarnya ada layanan IRC berbasis web.
    Yang lebih banyak digunakan dan lebih populer akhir-akhir ini mungkin adalah pesan instan (instant messaging).
    Seperti IRC, pesan instan pada umumnya juga digunakan dengan client khusus. Akan tetapi sekarang antarmuka berbasis web juga sudah tersedia, dan bagi sebagian orang mungkin lebih menyukainya.
    Masalahnya, berbeda dengan IRC yang punya protokol yang terbakukan, dunia pesan instan terpecah-pecah menjadi beberapa belahan sesuai dengan penyedia jasa pesan instan.
    AIM populer di Amerika Serikat, sedangkan di bagian dunia lain umumnya orang menggunakan MSN atau Yahoo. Karena perbedaan itu tidak ada jaminan bila kita meminjam komputer orang lain (baik punya teman, atau di warung Internet) client pesan instan favorit kita terpasang.
    Tidak seperti browser. Dengan antarmuka berbasis web tak perlu repot-repot memasang client khusus. Cukup buka browser, ketikkan URL yang sesuai dan kita pun sudah dapat mengobrol.

    Multimedia & kantoran

    Sampai sejauh ini semua contoh aplikasi yang sudah dikemukakan, seperti e-mail, IRC dan pesan instan, seperti web sendiri, memang berorientasi pada Internet. Oleh karena itu mungkin logis saja semuanya ditumpangkan pada satu aplikasi. Toh bagi banyak orang ‘Internet’ identik dengan web.
    Namun, bagaimana dengan aplikasi lain yang secara tradisional dilakukan secara offline? Beberapa perusahaan seperti Yahoo dan Google saat ini agresif mengembangkan alternatif online.
    Dua contoh yang patut disebut adalah multimedia dan aplikasi kantoran (seperti pengolah kata, lembar kerja, dan presentasi). Mendengarkan lagu-lagu dari Internet sudah tak asing lagi, dan dengan bantuan plugin khusus browser dapat digunakan untuk mendengarkan lagu-lagu. Kenyataannya streaming musik dan ‘radio Internet’ sudah cukup lama dikenal.
    Namun, umumnya ini masih menggunakan aplikasi pemutar musik seperti Winamp, Windows Media Player ataupun iTunes.
    Kemunculan layanan video streaming YouTube menyadarkan kita bahwa browser bisa jadi platform multimedia yang patut mendapat perhatian serius. Ini tak lepas dari matangnya teknologi Flash, yang mengubah browser dari aplikasi yang pada awalnya berorientasi pada teks hingga mampu menampung kandungan video dan suara.
    Faktor lain yang turut menjadi pendorong adalah semakin terjangkaunya saluran Internet berkecepatan tinggi di banyak negara.
    Bagaimanapun video streaming memerlukan pipa yang cukup lebar, dan pipa yang sempit tidak akan mampu menanggung beban limpahan data berukuran besar seperti streaming video.
    Untuk aplikasi kantoran online seperti Google Docs AJAX (Asynchronous Javascript and XML) menjadi penunjang cukup berarti. Teknologi ini memungkinkan aplikasi web berperilaku seperti aplikasi offline tradisional. Dengan aplikasi kantoran berbasis web kita dapat menulis dokumen, membuat presentasi dan lembar kerja langsung di browser, tanpa harus memasang aplikasi tambahan.
    Bergeser ke server
    Dari sisi pengguna, yang terlihat adalah menyatunya berbagai fungsi dari aplikasi terpisah ke dalam browser. Namun, kalau kita melihat lebih jauh lagi, kita dapat melihatpergeseran kerja komputasi itu sendiri.
    Pada aplikasi desktop tradisional, kebanyakan kerja komputasi dan data bertumpu pada komputer pribadi. Pada aplikasi berbasis web ini berpindah pada server yang terpisah.
    Pendekatan seperti ini punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Data aplikasi yang bertumpu di server dapat diakses dari mana pun, asalkan pengguna terhubung dengan jaringan Internet.
    Dengan demikian misalnya pengguna dapat bekerja menggunakan komputer sekolah menyimpan data, lalu melanjutkannya dari komputer rumah tanpa perlu kelupaan membawa pulang data di dalam portable disk.
    Cara ini juga lebih fleksibel, karena tidak perlu bergantung pada sistem operasi.
    Dengan munculnya gadget yang memiliki browser web penuh seperti ponsel model terakhir, kita nantinya mungkin tidak perlu bergantung pada komputer lagi.
    Kelebihan lain adalah keamanan data dari kehilangan. Ini sekilas terasa aneh, karena dengan cara ini data kita serahkan pada pihak ketiga yang sukar kita kendalikan. Namun, dari pengalaman penulis, menyimpan data e-mail di jaringan Internet jauh lebih awet dan lebih mudah daripada di dalam komputer sendiri.
    Pada komputer pribadi kita harus meluangkan waktu untuk mem-backup buat jaga-jaga bila komputer rusak, dan memindahkannya bila membeli komputer baru. Ini tidak perlu dilakukan pada data e-mail seperti Yahoo.
    Di sisi lain aplikasi berbasis web (atau yang bergantung pada jaringan) tidak akan dapat berfungsi bila tidak ada koneksi Internet. Buat Indonesia yang penetrasi jaringan Internet masih belum mendalam ini merupakan masalah besar.
    Selain itu dengan alasan privasi banyak pula yang enggan menaruh datanya dalam server penyedia jasa Internet.
    Beberapa jenis aplikasi online, seperti aplikasi kantoran, juga masih kalah jauh dari segi fitur dan kemampuan daripada pesaingnya di ranah desktop.

    Konsekuensi

    Maraknya aplikasi online (terutama yang berbasis web) dapat dilihat dari sisi persaingan perusahaan Internet seperti Google dan Yahoo! dengan penyedia peranti lunak yang lebih tradisional seperti Microsoft dan Adobe-dan mungkin yang lain. Tidak berarti mereka tinggal diam.
    Microsoft dan Adobe sudah menyediakan pula aplikasi online. Aplikasi desktop tradisional rasanya tidak akan tergusur begitu saja. Namun, bisa dilihat bahwa untuk perusahaan yang bersandar pada penjualan di komputer desktop, ini agak mengkhawatirkan. Selain itu dengan pembakuan pada web browser akan membuat sistem operasi, bahkan peranti yang digunakan menjadi kurang relevan. Bila peranti tersebut punya browser dengan kemampuan standar, aplikasi apa pun bisa dijalankan.

    Sumber : Bisnis Indonesia (22 Desember 2007)

     
  • tituitcom 02.27 on 5 September 2012 Permalink  

    Dekatkan Anak pada Teknologi 


    Dekatkan Anak pada Teknologi
    Fransiskus Saverius Herdiman

    DALAM beberapa dekade terakhir, industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berkembang pesat. Bahkan, TIK telah memainkan peran sangat vital dalam perkembangan ekonomi dunia. Pada pertengahan tahun 90-an, TIK mulai menampakkan kekuatannya dan mengungguli industri lain yang selama ini dipandang sebagai sektor utama seperti otomotif, elektronika, dan lain-lain.
    Yearbook of World Electronics Data 2007 menyebutkan laju rata-rata pertumbuhan industri TIK mencapi 2 hingga 3 kali lipat dibanding laju rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan saat ekonomi dunia dilanda krisis setelah terjadinya kasus “911” industri TIK masih tetap tumbuh signifikan. Lebih menarik, Asia dipandang sebagai pasar TIK yang mengalami pertumbuhan terbesar di dunia dengan laju pertumbuhan lebih dari 26Negara tetangga Malaysia misalnya, mencatatkan 60ari ekspor manufakturnya adalah dalam bidang TIK.
    Guru Besar Tetap Bidang Komputasi Numerik pada Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI), T. Basaruddin dalam orasi ilmiah berjudul “Industri Perangkat Lunak Indonesia: Prospek dan Strategi Pengembangannya” mengatakan Indonesia sebenarnya – dengan jumlah penduduk empat besar dunia – merupakan pasar TIK dan perangkat lunak yang sangat diperhitungkan dunia.
    Hal ini, tampak selama beberapa tahun terakhir. Katanya, ada kecenderungan peningkatan penggunaan TIK yang cukup pesat. Jumlah pengguna internet di Indonesia misalnya, saat ini diperkirakan mencapai 20 juta orang atau meningkat 9 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2000.
    Fisikawan Yohanes Surya mengaku, perkembangan tekonologi komunikasi informasi saat ini sangat pesat. Menurutnya, ada tiga pilar yang menguasai dunia saat ini yakni: nano teknologi, bioteknologi dan information communication technology (ICT). Kata Surya, begitu dominannya perkembangan teknologi sampai-sampai masa depan yang gemilang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan dunia ini.
    “Yang terpikirkan dari masa depan yang gemilang adalah teknologi. Masa depan gemilang tak dapat terpikirkan tanpa teknologi,” ujarnya.
    Kemajuan sebuah negara kata Surya, sangat bergantung pada seberapa besar negara itu melakukan investasi dalam bidang tekonologi. Jepang misalnya, pada tahun 1960-an sudah mulai berinvestasi dalam bidang teknologi. Pada waktu itu, barang produk Jepang memiliki kualitas jelek. Tapi 48 tahun kemudian, produksi Jepang sudah merajai pasar dunia. Selain itu, produk Jepang memiliki kualitas yang mumpuni.
    Agar Indonesia bisa menjadi bangsa yang maju, kata Surya, tidak lain dan tidak bukan kecuali mengembangkan bidang teknologi komunikasi informasi.

    Sejak Dini

    Menurut Basaruddin, pendidikan di bidang TIK di Indonesia relatif baru yaitu mulai pada awal 80-an. Walau demikian, sejalan dengan pesatnya kemajuan di bidang ini, berbagai program TIK juga berkembang pesat.
    Data Akademi Pendidikan Tinggi Komputer (Aptikom) menyebutkan, Indonesia saat ini memiliki sekitar 640 perguruan tinggi yang menawarkan program studi terkait TIK. Setiap tahun meluluskan tidak kurang dari 15.000 lulusan bidang TIK dari berbagai jenjang pendidikan.
    Meski dari sisi jumlah kata Basaruddin lulusan pendidikan cukup memadai, tapi jika dilihat dari tingkat pengusaan TIK – khususnya perangkat lunak – masih tergolong rendah dan kekurangan. Hasil survei ISV tahun 2007 menunjukkan, Indonesia kekurangan tenaga pengembang perangkat lunak yang bermutu.
    Menurut Basaruddin, Sistem Pendidikan Nasional sebagaimana digariskan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 secara umum cukup kondusif untuk mendukung pengembangan industri pada umumnya termasuk perangkat lunak. Aspek mutu dan relevansi serta pentingnya spirit dan budaya keriwausahaan misalnya, sudah dituangkan sebagai indikator penting pengembangan pendidikan di Indonesia sebagaimana tertuang dalam Program Pembangunan Nasional (Propenas) serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009.
    “Sayangnya secara keseluruhan pendidikan di Indonesia masih mengalami kelemahan dalam hal mutu maupun akses,” ujarnya.
    Angka partisipasi kasar (APK) pada jenjang SMP, SMTA, dan Perguruan Tinggi misalnya, berturut-turut adalah 80.552,6 an 17,2APK ini jauh tertinggal dibawah Malaysia, Thailand, dan Filipina.
    Menurut Surya, siswa Indonesia memiliki potensi yang luar biasa besar. Hal itu misalnya ditunjukkan dari kesuksesan siswa Indonesia dalam berbagai ajang kejuaraan dunia.
    “Banyak siswa Indonesia yang luar biasa berbakat. Hal ini dapat saya saksikan selama 13 tahun mendampingi mereka dalam ajang olimpiade internasional,” kata Surya.
    Karena itu, Surya masih berharap bahwa Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar dan menyaingi bangsa lainnya.
    Untuk itu, Surya mendorong para orang tua agar sejak dini mendekatkan anak pada dunia teknologi. Misalnya, dengan memasukkan mereka pada berbagai lembaga kursus komputer.
    “Bukan sekadar bermain game, tapi harus melatih mereka agar bisa membuat program game, kata Surya.
    Badaruddin mengatakan, sudah saatnya pemerintah melakukan penguatan industri perangkat lunak yang didukung oleh sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi yang memadai.
    Selain itu, melakukan mobilisasi bakat di perguruan tinggi. “Sejarah perkembangan industri perangkat lunak di negara maju menunjukkan, perusahaan pengembang perangkat lunak lahir dari lingkungan kampus. Seperti terjadi di Stanford dan MIT,” ujar Basaruddin.

    Sumber : Jurnal Nasional (6 Maret 2008)

     
  • tituitcom 02.24 on 5 September 2012 Permalink  

    Strategi Kembangkan Piranti Lunak Harus Dilakukan 

    Strategi Kembangkan Piranti Lunak Harus Dilakukan

    Pemerintah dinilai harus cepat mencari strategi menarik investor asing dalam mengembangkan piranti lunak sebagai “offshore service” di Indonesia, agar potensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dapat tercapai.
    Demikian diungkapkan Prof Drs T Basaruddin MSc, PhD, dalam pidato pengukuhan Guru Besar Tetap Bidang Komputasi Numerik pada Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, di Kampus UI, Depok, Jabar, Rabu.
    Menurut Basaruddin, industri TIK berkembang sangat pesat dan telah memainkan peran yang vital dalam pengembangan ekonomi bukan saja di tanah air tetapi juga di seluruh negara dunia.
    Industri piranti lunak merupakan salah satu bentuk ekonomi kreatif yang tidak memerlukan modal investasi besar kecuali inovasi, ketrampilan dan kreativitas.
    “Dalam setiap pengembangan TIK dibutuhkan dukungan piranti lunak dalam berbagai bentuk dan fungsinya dari yang bersifat umum hingga yang sangat khusus. Karena itu, dibutuhkan produksi piranti lunak dalam jumlah besar,” katanya.
    Menurut Basaruddin, sesungguhnya Indonesia merupakan pasar yang sangat diperhitungkan dalam bidang TIK dan pranti lunak, mengingat jumlah penduduk terbesar ke empat.
    Jika pada tahun 2000 jumlah pengguna internet mencapai kurang dari dua juta, maka pada 2007 telah mencapai sekitar 20 juta.
    Demikian halnya pelanggan telepon seluler, pada 2007 telah mencapai lebih dari 90 juta nomor. Sementara, di industri piranti lunak melibatkan sekitar 250 perusahaan pengembang, namun disayangkan belum ada di antara perusahaan itu yang mampu mencapai tingkat capability maturity model (CMM) tertinggi pada level 5.
    Basiruddin menambahkan, setidaknya terdapat 10 faktor yang menjadi pertimbangan memilih negara sebagai “offshore services”untuk pengembangan piranti lunak, yaitu menciptakan lingkungan yang kondusif, dukungan pemerintah, ketersediaan sumber daya manusia.
    Selanjutnya, penguatan infrastruktur TIK, sistem pendidikan, biaya, situasi politik dan ekonomi, kesesuaian budaya, tingkat kematangan global, dan perlindungan hak cipta dan hak atas kekayaan intelektual, serta akses informasi.
    “Dalam tataran kebijakan, dukungan pemerintah bisa dikatakan belum memiliki strategi dan arah yang jelas mengenai TIK. Namun, pemerintah telah berupaya dengan membentuk Dewan TIK Nasional yang langsung bertanggungjawab kepada Presiden,” katanya.(*)

    Sumber : Antara (27 Februari 2008)

     
  • tituitcom 02.17 on 5 September 2012 Permalink  

    Google Earth : merubah jadi mudah kajian Sains 

    Google Earth : merubah jadi mudah kajian Sains
    Husnul.K

    Para pakar biologi, epidemiologi dan pengendalian bencana telah mendapati bahwa Google Earth adalah suatu alat yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan mereka. Kesuksesan GoogleEarth dalam bidang pemetaan bola bumi digital telah membangkitkan ketertarikan ilmuwan akan pemetaan komputer. Seorang ilmuwan, Erik Born, hanya dengan memasangkan sensor pelacak kecil di tubuh anjing laut Arctic, maka sebuah penanda posisi di layar monitornya akan menunjukkan posisi terakhir dari masing-masing anjing laut yang diawasinya. Dengan menekan satu tombol, Born dapat memetakan seluruh bagian dari benua Arctic, mendapat informasi lokasi-lokasi dimana lapisan es mengalami penipisan dan menunjukkan arah pergerakan es dimana anjing laut sering menggunakannya untuk bermigrasi. Dengan data yang diperoleh Born dapat mendekteksi bagaimana pemanasan global mempengaruhi pola migrasi para anjing laut kutub. Google Earth juga berperan sangat penting pasca badai Katrina yang melanda New Orleans beberapa waktu yl. Hanya berselang beberapa saat pasca bencana , Google Earth telah menambahkan 8000 foto udara yang diambil oleh US National Oceanic and Atmospheric Agency (NOAA).
    Salah satu fasilitas Google Earth yang sangat bermanfaat bagi para ahli epidemiologi, meteorologi dan perencana kota adalah kemampuannya untuk menandai berbagai macam tipe informasi di bumi ini secara visual. Para peneliti pengguna GoogleEarth dapat menandai lokasi-lokasi dimana kasus flu burung atau lokasi tindak kriminal terjadi. Pada awalnya, Google Earth memang tidak diperuntukkan untuk para ilmuwan. Peta bumi digital yang terdiri dari ratusan ribu foto satelit dan pencitraan udara ditujukan bagi para pecinta virtual pilot serta game. Akan tetapi saat ini para ilmuwan telah mendapati bahwa piranti lunak ini ternyata sangat bermanfaat bagi pekerjaan mereka. Popularitas Google Earth diantara pengguna telah memberika suatu era baru pada keseluruhan industri. “Google Earth menyajikan data global dengan cara yang sangat sederhana” kata Klaus Greve dari Institut Geografis Universitas Bonn, Jerman.
    Google Earth, bagaimanapun juga tidak dapat melakukan segalanya. Para ahli masih membutuhkan software khusus untuk bisa melakukan analisa data lebih mendalam dan detil. Sebagai contoh, untuk mempelajari pola penyebaran belalang pada masa sebelum Revolusi Industri, seorang analis data akan mengatur waktu pencarian data pada masa tertentu. Para pakar epidemiologi menggunakan informasi tersebut untuk melacak penyebaran suatu penyakit dan para ahli penanganan bencana, yang seringkali harus membuat keputusan dalam waktu singkat. Kedua kelompok tersebut membutuhkan kemampuan yang masih disediakan secara terbatas oleh Google Earth yaitu menggabungkan berbagai macam jenis data.
    Konsistensi pun merupakan suatu masalah tersendiri. “Saat ini belum ada suatu standar terbuka yang dapat dimengerti oleh semua pihak”, kata seorang ahli geologi komputer Alexander Zipf dari Institut Teknologi Mainz. Akan tetapi Zipf dan anggota timnya telah mengerjakan solusi untuk permasalahan ini. Mereka berupaya menciptakan suatu software yang bisa melacak sebaran bencana luar biasa (= catasthropic ) dari suatu kecelakaan kebocoran reaktor hingga dapat menangani bencana tersebut. Para ahli meteorologi akan menyediakan informasi cuaca, ahli geologi menyediakan informasi aliran air bawah tanah dan kantor perlindungan radiasi akan menyediakan informasi yang diperoleh dari sensor-sensor radioaktif. Dengan menggabungkan semua data dari berbagai sumber tersebut, maka program tersebut akan dapat melakukan fungsi utamanya, yakni komputasi. Bahkan jika diperlukan, penghitungan untuk keseluruhan ekosistem dapat dilakukan. Perlahan tapi pasti, seluruh proses kehidupan di muka bumi ini sudah mulai dapat dilihat dengan sangatlah mudah.

    Sumber : Ipteknet

     
  • tituitcom 02.12 on 5 September 2012 Permalink  

    John Von Neumann, Sang Penggagas Komputasi Modern 

    John Von Neumann, Sang Penggagas Komputasi Modern
    dna

    John von Neumann (1903-1957) adalah ilmuan yang meletakkan dasar-dasar komputer modern. Dalam hidupnya yang singkat, Von Neumann telah menjadi ilmuwan besar abad 21. Von Neumann meningkatkan karya-karyanya dalam bidang matematika, teori kuantum, game theory, fisika nuklir, dan ilmu komputer. Beliau juga merupakan salah seorang ilmuwan yang sangat berpengaruh dalam pembuatan bom atom di Los Alamos pada Perang Dunia II lalu.
    Von Neumann dilahirkan di Budapest, Hungaria pada 28 Desember 1903 dengan nama Neumann Janos. Dia adalah anak pertama dari pasangan Neumann Miksa dan Kann Margit. Di sana, nama keluarga diletakkan di depan nama asli. Sehingga dalam bahasa Inggris, nama orang tuanya menjadi Max Neumann. Pada saat Max Neumann memperoleh gelar, maka namanya berubah menjadi Von Neumann. Setelah bergelar doktor dalam ilmu hukum, dia menjadi pengacara untuk sebuah bank. Pada tahun 1903, Budapest terkenal sebagai tempat lahirnya para manusia genius dari bidang sains, penulis, seniman dan musisi.
    Von Neumann juga belajar di Berlin dan Zurich dan mendapatkan diploma pada bidang teknik kimia pada tahun 1926. Pada tahun yang sama dia mendapatkan gelar doktor pada bidang matematika dari Universitas Budapest. Keahlian Von Neumann terletak pada bidang teori game yang melahirkan konsep seluler automata, teknologi bom atom, dan komputasi modern yang kemudian melahirkan komputer. Kegeniusannya dalam matematika telah terlihat semenjak kecil dengan mampu melakukan pembagian bilangan delapan digit (angka) di dalam kepalanya.
    Setelah mengajar di Berlin dan Hamburg, Von Neumann pindah ke Amerika pada tahun 1930 dan bekerja di Universitas Princeton serta menjadi salah satu pendiri Institute for Advanced Studies.
    Dipicu ketertarikannya pada hidrodinamika dan kesulitan penyelesaian persamaan diferensial parsial nonlinier yang digunakan, Von Neumann kemudian beralih dalam bidang komputasi. Sebagai konsultan pada pengembangan ENIAC, dia merancang konsep arsitektur komputer yang masih dipakai sampai sekarang. Arsitektur Von Nuemann adalah komputer dengan program yang tersimpan (program dan data disimpan pada memori) dengan pengendali pusat, I/O, dan memori.

    Sumber : beritaNET.com

     
  • tituitcom 02.11 on 5 September 2012 Permalink  

    Indonesia Bikin Sistem Komputasi Grid 

    Indonesia Bikin Sistem Komputasi Grid
    Dendy Surapati

    Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (DIKTI), bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) dan Sun Microsystems, mewujudkan sistem komputasi grid di Indonesia. Sistem itu diberi nama InGrid (Inherent Grid).
    Saat ini, InGrid telah menghubungkan 27 perguruan tinggi negeri dan 59 perguruan tinggi swasta yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut T. Bassaruddin, Dekan Fasilkom Universitas Indonesia, sampai akhir tahun ini, InGrid akan merangkul seluruh perguruan tinggi negeri yang belum terhubung (23 perguruan tinggi), 80 perguruan tinggi swasta, dan 20 Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta). Sistem komputasi grid yang mulai beroperasi Maret 2007 dan terus dikembangkan ini diharapkan mampu menyelesaikan berbagai masalah dalam berbagai bidang. “Bukan cuma bidang TI saja,”; kata Bobby Nazief, Kepala Grid Computing Research Group, “Komputasi grid bisa diaplikasikan ke bidang lain yang membutuhkan komputasi besar.”
    Harry Kaligis, Manajer Umum Pengembangan Bisnis dan Pemasaran PT Sun Microsystems Indonesia, mengaku bahwa InGrid telah mendekati beberapa instansi. Salah satunya adalah Badan Meteorologi dan Geofisika.
    InGrid akan terus dikembangkan. Rencananya InGrid akan membangun komunitas pengguna, menambah koleksi aplikasi untuk berbagai bidang, merangkul perguruan-perguruan tinggi, serta mengembangkan portal-portal komputasi grid yang sesuai kebutuhan pengguna. “Kami sangat berharap kepanjangan InGrid menjadi Indonesia Grid,” kata Bobby.

    Sumber : PC Plus (10 Maret 2008)

     
  • tituitcom 02.08 on 5 September 2012 Permalink  

    2000 Genom Influenza Kini Bisa Diakses Publik 

    2000 Genom Influenza Kini Bisa Diakses Publik
    Arli Aditya Parikesit

    Virus flu burung telah mengancam dunia. Di Indonesia, telah lebih dari 100 korban meninggal. Sampai sekarang belum ditemukan obat dan vaksin yang ampuh untuk menghadapi virus mematikan tersebut. Apa yang harus kita lakukan? Science Daily (Feb. 26, 2007). Proyek sekuensing genom influenza, yang dimulai oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), salah satu direktorat dari National Institutes of Health (NIH), mengumumkan bahwa mereka telah mencapai terobosan besar. Seluruh cetak biru genetik lebih dari 2000 virus influenza manusia dan avian yang diampil dari berbagai sampel di seluruh dunia telha dipetakan dan data sekuens telah tersedia di database publik.

    Mekanisme

    Menurut direktur NIH Elias A Zerhouni, M.D, informasi tersebut akan membantu ilmuwan untuk memahami bagaimana mekanisme penularan dan evolusi virus influenza, dan akan membantu pengembangan vaksin flu baru, terapi, dan diagnostiknya. Sementara menurut direktur NIAID Anthony S.Fauci,M.D, ilmuwan dari seluruh dunia dapat menggunakan data sekuens untuk membandingkan berbagai strain virus, mengidentifikasi faktor genetik yang menentukan virulensi, dan mempelajari vaksin, target diagnostik, dan terapi baru.
    Proyek sekuensing genom influenza, yang dimulai tahun 2004, telah dilakukan dengan dana NIAID oleh Pusat Sekuensing Mikroba dari Institute for Genomic Research (TIGR) di Rockville, Maryland. Proyek ini sekarang dipimpin oleh David Spiro, Ph.D., dan Claire Fraser, Ph.D., pada TIGR dan Elodie Ghedin, Ph.D., pada Sekolah Kedokteran Universitas Pittsburg. Akhir-akhir ini, pertumbuhan kapasitas sekuensing telah menghasilkan laju produksi meningkat drastis, sehingga dapat mensekuensing 200 genom virus per bulan.
    Dengan melampaui batas 2000 genom, Pusat Sekuensing Mikroba akan melanjutkan proses sekuensing cepat pada strain influenza dan isolatnya, untuk kemudian menyediakan data sekuens secara gratis pada komunitas ilmuwan dan publik melalui GenBank, sebuah database sekuens genetik yang dimiliki oleh National Center for Biotechnology Information (NCBI) pada direktorat National Library of Medice (NLM) dari NIH. Database tersebut dapat diakses di internet.
    Influenza musiman merupakan keprihatinan kesehatan masyarakat yang utama di Amerika Serikat, karena menyumbang angka 36.000 kematian dan 200.000 pasien di rumah sakit setiap tahun. Secara global, influenza menyebabkan kematian antara 250.000 sampai setengah juta meninggal setiap tahun. Vaksin flu musiman di update setiap tahun untuk mentargetkan strain virus terbaru yang beredar. Mengembangkan vaksin seperti itu sangat sukar, karena virus influenza sangat mudah bermutasi ketika ia bereplikasi, dan mutasi tersebut dapat mempengaruhi virus, sehingga vaksin terhadap satu strain tidak akan efektif dengan strain lain.

    Genetik

    Keprihatinan yang lebih besar adalah potensi dari pandemik influenza yang disebabkan oleh kemunculan strain virus baru yang mematikan, yang dapat ditransmisikan secara mudah dari orang ke orang lainnya. Pandemik influenza telah terjadi tiga kali dalam abad yang lalu, dimana yang paling lethal adalah pandemik 1918, yang menyebabkan 40 sampai 50 juta kematian di seluruh dunia.
    “Beberapa tahun yang alu, informasi genetik virus yang tersedia pada public domain sangat terbatas, dan sebagian besar data sekuens tidak lengkap”, demikian kata Maria Y Giovanni, Ph.D, dari Pusat Sekuensing Mikroba NIAID. Menurut Maria, Proyek Sekuensing Genom Influenza telah mengisi gap tersebut dengan meningkatkan jumlah data sekuens virus influenza secara dramatis dan membuatnya tersedia secara cepat untuk seluruh komunitas ilmuwan. Terdapat peningkatan signifikan pada jumlah ilmuwan seluruh dunia yang mendepositokan data sekuens genom virus influenza pada public domain termasuk juga ilmuwan dari St.Jude Children’s Research Hospital dan Centers for Disease Control and Prevention,” demikian sambung Maria.
    Bersama dengan NIAID, TIGR, dan NCBI, kolaborator lain pada proyek ini termasuk juga Wadsworth Center of the New York State Department of Healt di Albany; Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta; St. Jude Children’s Research Hospital di Memphis, TN; The World Organization for Animal Health/Food and Agriculture Organization of the United Nations (OIE/FAO); Reference Laboratory for Newcastle Disease and Avian Influenza di Padova, Itali; The Ohio State University di Columbus, OH; Children’s Hospital Boston; Baylor College of Medicine di Houston; dan Cantebury Health Laboratories di Christchurch, Selandia Baru.
    Informasi lebih lanjut mengenai proyek sekuensing geom virus influenza dan akses terhadap data sekuens dapat diklik pada: Proyek Sekuensing Genom Virus Influenza NIAID http://www.niaid.nih.gov/dmid/genomes/mscs/influenza.htm/ Proyek Genom Virus Influenza TIGR: http://msc.tigr.org/infl_a_virus/index.shtml GenBank: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/Genbank/
    Dalam rangka membantu analisa dan intepretasi data sekuens dalam jumlah besar yang didapatkan oleh proyek, NIAID telah membangun BioHealthBase Bioinformatics Resource Center, yang baru saja dikembangkan oleh peneliti pada University of Texas Southwestern Medical Center di Dallas dan pengembang pada Northrop Grumman Information Technology’s Life Sciences division di Rockville, Maryland.
    Center ini menyediakan tool software bioinformatika pada komunitas ilmiah dan akses genom virus influenza beserta data terkait dalam format yang mudah digunakan. BioHealthBase baru-baru ini telah bekerja sama dengan Influenza Sequence Database pada Los Alamos National Laboratory untuk menyediakan manajemen data komputasi untuk peneliti virus influenza, beserta dengan sumber daya analisis untuk membantu interpretasi data genetis.
    Data dari Pusat Sekuensing Genom Influenza, beserta dengan data sekuens virus influenza lain yang telah tersedia secara gratis, juga tersedia pada Sumber Data Virus Influenza NCBI, yang juga terdapat berbagai alat analisis, seperti sequence aligment dan membangun ‘pohon’ untuk menunjukkan hubungan evolusi.
    Informasi lanjutan terhadap database tersebut dan berbagai alat analisa yang tersedia dapat diakses di:

    NIAID adalah direktorat dari National Institutes of Health. NIAID mendukung riset dasar dan terapan untuk mencegah, diagnostik, dan menangani penyakit infeksi seperti HIV/AIDS dan infeksi menular seksual lainnya, influenza, tuberculosis, malaria, dan penyakit dari agen potensial bioterorisme. NIAID juga mendukung riset pada imunologi dasar, transplantasi dan kelainan terkait imunologis, termasuk penyakit autoimun, asma, dan alergi.

    Sumber : NetSains (25 Januari 2008)

     
  • tituitcom 02.06 on 5 September 2012 Permalink  

    Tiga Supercomputer Paling Powerful Berjalan di SUSE Linux Enterprise 

    Tiga Supercomputer Paling Powerful Berjalan di SUSE Linux Enterprise
    Arief Lukman (FTI – Universitas Atma Jaya)

    Supercomputer-supercomputer yang ada di dunia kebanyakan berjalan diatas SUSE Linux Enterprise Server dari Novell. Dalam TOP 500, sebuah project menemukan trend bahwa komputasi dengan performa tinggi (tingkat tinggi), SUSE Linux Enterprise merupakan distribusi Linux yang menjadi pilihan dalam Superkomputer-superkomputer HPC terbesar saat ini.
    Dalam TOP 50 superkomputer, 40 persen superkomputer yang ada sekarang ini berjalan diatas SUSE Linux Enterprise, termasuk 3 server IBM terbaiknya yaitu IBM eServer Blue Gene yang terdapat di Lawrence Livermore National Laboratory, IBM eServer BlueGene/P (JUGENE) yang terdapat di Juelich Research Center dan SGI Altix 8200 yang terdapat di New Mexico Computing Applications Center.
    Novell bersama-sama dengan partner-partnernya membawa kapabilitas komputasi dengan performa tinggi yang tergabung dalam supercomputer-supercomputer ke Enterprise dan konsumen dengan pasar menengah dalam industri, termasuk manufacture, riset dan organisasi akademis. Konsumen-konsumennya antara lain Audi, MTU Aero Engines, NASA Advanced Supercomputing Division, Porsche Informik, Seoul National University, Swinburne University of Technology, Tokyo Institute of Technology dan Wehmeyer yang menjalankan superkomputer dan komputer kluster dengan SUSE Linux Enterprise Server.
    Tiga superkomputer yang terdapat di NASA Advanced SuperComputing Division sekarang ini berjalan dengan SUSE Linux Enterprise dari Novell juga. Superkomputer yang baru milik NASA, akan selesai musim panas ini, dan berjalan dengan SUSE Linux Enterprise juga.

    Sumber : beritaNET.com (17 Juni 2008)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal