Updates from Agustus, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • tituitcom 02.23 on 23 August 2012 Permalink  

    Membersihkan Rumah Tuhan 

    Membersihkan Rumah Tuhan
    Juli 30, 2010 01:53

    Seluruh semesta raya ini tidak ada artinya apa-apa dibanding Allah. Berarti segala yang ada, tidak ada yang mampu menampung Allah. Segalanya tidak bisa menjadi tempat semayam Allah. Kecuali hati hamba-Nya yang beriman. Maka di sanalah Allah bersinggasana.
    Hati orang yang beriman adalah rumah Allah. Dan karena itu, hati kita adalah amanah Ilahi untuk dijaga, dirawat, dan dirias agar menjadi elok. Hati kita adalah ruang di mana pertemuan dialogis (munajat) antara hamba dengan Rabb berlangsung.
    Apabila hati kita tidak bersih, ruang jiwanya tidak bercahaya, sudut-sudutnya tidak aman dari ancaman syetan, tentu tidak ada lagi harapan untuk sebuah istana Ilahi dalam hati kita.
    Dalam menjaga dan membangun rumah Tuhan dalam jiwa, ada dua cara yang dilahirkan oleh tradisi keagamaan kita yang agung.

    Pertama tradisi tazkiyatun nafs yaitu tradisi membersihkan kejahatan jiwa yang dimulai dengan tobat. Dalam jiwa kita ada sisi gelap yang dipenuhi oleh virus-virus paling menjijikkan. Dimulai dengan virus iri-dengki, lalu berkembang menjadi virus takabbur, riya, ujub, mencintai dunia, kedzaliman, kefasikan, kemunafikan, dan kemudian akan menjurus pada kekufuran.
    Semua virus itu harus dibersihkan melalui taubat dan dzikrullah. Dari sinilah muncul paradigma kedua melalui tathirul qulub. Yaitu menyucikan hati melalui riasan etika atau akhlak hamba dengan Allah ta’ala.
    Penyucian hati berbeda dengan pembersihan jiwa. Kalau penyucian hati lebih menekankan pada riasan pasca pertobatan, lalu ia memasuki wilayah spiritual dengan riasan-riasan maqamat demi maqamat. Sedangan pembersihan jiwa adalah upaya untuk melakukan asketisme secara total. Baik lewat tobat, zuhud, wara’, dan sebagainya.

    Dua proses itu lama sekali tidak tergantung dengan lifestyle dan penampilan orang per orang. Orang yang dengan jubah dan jenggot serta tasbih di tangannya belum tentu ia orang suci atau sufi. Jangan-jangan karena ia pamer jubah dan jenggot malah muncul riya’ dan takabur atas nama syiar. Siapa tahu justru mereka yang berpenampilan perlente dengan dasi dan jas dandy serta sepatu mengkilat malah lebih dekat dengan Allah ketimbang Anda yang memakai baju-baju religius?
    Jangan-jangan mereka yang pakai rok mini itu memiliki keakraban asketik dengan Allah dibanding Anda yang berjilbab. Siapa tahu?

    Dalam wilayah ruhani, baju dan bendera harus dibuang. Bahkan prestasi amaliyah sebagai tempat gantungan masa depan di akhirat pun harus dikubur habis-habis. Pada saat yang sama, hanya Allahlah tempat bergantung. Bukan amal, bukan prestasi, dan bukan pula hasrat-hasrat luhur. Bahwa kita memang sedang beramal bagus. Itulah indikator bahwa kita berada dalam lindungan Ilahi.
    Tetapi sebaliknya ketika kita berbuat mungkar dan maksiat itu pertanda kita sedang dihina oleh Allah. Astaghfirullah!
    Kelak jika dua cara pembersihan dan penyucian hati itu berlangsung, kita akan memasuki ruang zinatul asrar. Yaitu ruang rahasia yang menjadi manifestasi kemahaindahan Ilahi. Maka di sana rumah Tuhan, bukan saja bersih, tetapi telah menjadi arasy yang hakiki.

    Iklan
     
  • tituitcom 02.19 on 23 August 2012 Permalink  

    ASMA’ JABARUT 

    ASMA’ JABARUT
    Juli 30, 2010 00:37
    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    ( ASMA’ JABARUT )

    Penjelasan Asma’ jabarut sangat terbatas sekali dan hanya ada di dalam kitab Jawahirul Khomsi, di dalam kitab tsb Syeikh Al-imam Al-Allamah Al-Hamam Sayyyid Muhammad bin Khotiruddin bin Bayazid bin Khowajah hanya menyebutkan “ Tiap tiap Sufi selalu mengamalkan Asma’ ini karena dgn mengamalkan Asma’ ini orang tersebut akan di sifati oleh sifat-sifatnya Alloh dan orang tersebut tidak akan terkena dengan Hizib,Qosam,Do’a Syar ( jelek ), tolasim ( Jenis ilmu yang di kembangkan oleh bani isroil),Azimat ,Quyud ( ikatan-ikatan sejenis ilmu sihir ),Ilmu sihir,Ilmu Mahabbah, di riwayatkan bahwa seorang waliyyulloh waliyyah Robiyatul A’dawiyyah terhizab dari ilmu mahabbahnya seorang waliyulloh Al-Imam Hasan Basri berkat wasilahnya Asma’ ini, Inilah Asma’ Jabarut yang di maksud :

    ALLOHUMMA YA NURU TANAWWARTA BINNURI WANNURU FI NURI NURIKA YA NURU, YA ‘AZIJU TA’AZZAJTA BIL IZZATI WAL IZZATU FI IZZATI IZZATIKA YA A’ZIJU, YA JALILU TAJALLALTA BIL JALALI WALJALALU FI JALALI JALALIKA YAJALILU, YA WAHIDU TAWAHHADTA BIL WAHDANIYYATI WAL WAHDANIYYATU FI WAHDANIYYATI WAHDANIYYATIKA YA WAHIDU, YA FARDU TAFARRODTA BIL FARDANIYYATI WAL FARDANIYYATU FI FARDANIYYATIKA YA FARDU, YA JAMILU TAJAMMALTA BIL JAMALI WALJAMALU FI JAMALI JAMALIKA YA JAMILU, YA A’DZIMU TAA’DZOMTA BIL A’DZOMATI WAL A’DZOMATU FI ADZOMATI ADZOMATIKA YA ADZIMU, YA KABIRU TAKABBARTA BIL KIBRIYAI WAL KIBRIYAU FI KIBRIYAI KIBRIYAIKA YA KABIRU, YA SALAMU TASALLAMTA BI SALAMI WAS SALAMU FI SALAMI SALAMIKA YA SALAMU YA SAMI’U TASAMMA’TA BIS SAM’I WAS SAM’U FI SAM’I SAM’IKA YA SAMI’U YA MUJIBU YA ALLOHU YA AZIJU YA MAN LA ILAHA ILLA HUWA ALAIHI TAWAKKALTU WA ILAIHIL MASIRU YA QUDDUSU AS ALUKA AN TUSOLLIYA ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA A’LA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD WA ANTAGFIROLI DZUNUBI WA TARHAMNI WA TATUBU ‘ALAYYA WA AN TAQDIYA HAJATI WA TAKFINI MUHIMMATI WA TASTAJIBA DA’WATI WA TAQBALA IBADATI BI ROHMATIKA YA ARHAMAR ROHIMIN.
    Asma’ di atas di baca 7x dimana mana terdesak oleh sesuatu, serta didawamkan Ba’da shubuh dan asar 3x.

     
  • tituitcom 04.12 on 10 July 2012 Permalink  

    Hidup Kumuh Ala Sufi 

    Ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin
    Sebagian masyarakat ternyata masih ada yang menyimpan cara pandang yang salah terhadap tasawuf. Sebagian mereka memersepsikan bahwa bergelut dengan tasawuf bisa menapaki jalan kesucian. Tasawuf mampu membersihkan keadaan jiwa yang kumuh. Cara pandang semacam ini melekat kuat pada sebagian masyarakat. Tak mengherankan apabila banyak orang yang mengalami kekeringan spiritual lantas memasuki kubangan tasawuf.
    Cara pandang yang salah ini terus berkembang. Bahkan, pada taraf memberi penilaian bahwa apabila ada seseorang yang bersikap zuhud, tekun beribadah, halus budi pekerti, berpenampilan sederhana, dan terkesan menjauhi dunia, maka digelari sebagai sufi. Keadaan orang yang demikian dinilai sebagai manusia yang tengah menempuh kehidupan tarekat. Padahal nyatanya, orang tersebut melakukan amaliah seperti itu semata-mata karena kecintaannya pada sunnah-sunnah Nabi n. Tak tebersit dalam dirinya keinginan mengamalkan ajaran tasawuf. Apalagi bercita-cita ingin menjadi seorang sufi.
    Klaim yang menyatakan bahwa orang yang melakukan proses tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dengan melakukan amaliah terpuji adalah aktualisasi paham sufi tentu tidak benar. Sebab, betapa banyak orang yang tidak menceburkan diri ke dalam kubangan tarekat sufi, ternyata mampu menampilkan suluk (perilaku) terpuji. Mereka mampu beribadah secara tekun dan khusyuk. Mereka bisa menampilkan sikap hidup zuhud. Mereka mampu menampakkan ketaatan kepada Allah l. Semua ini adalah hasil dari proses pembersihan jiwa.
    Para sahabat Rasulullah n adalah manusia terbaik. Manusia yang memiliki karakter dan jiwa yang bersih. Perbuatan sehari-harinya mencerminkan kebersihan jiwa. Selisiklah seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Umar bin al-Khaththab z. Malam demi malam ia lalui dengan sedikit tidur. Malam demi malam ia lalui dengan banyak beribadah kepada Rabbnya.
    Salim z berkata, “Adalah Abdullah tidak tidur pada malam hari melainkan sedikit.”
    Disebutkan pula oleh Hafshah x, “Sesungguhnya Abdullah adalah pria saleh.” (HR. al-Bukhari, no. 3840, 3841)
    Apakah dengan amal seperti itu lantas sahabat Abdullah bin Umar diklaim sebagai seorang sufi? Tentu, sebuah klaim yang tidak patut.
    Begitu pula saat Ibnu Abi Mulaikah bertutur tentang tiga puluh orang sahabat yang ditemuinya. Seluruh sahabat itu merasa khawatir apabila penyakit kemunafikan muncul dalam hati mereka. Ini adalah sikap demi menjaga kebersihan jiwa, bersih dari noda kemunafikan. Kata Ibnu Abi Mulaikah t, “Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi n. Mereka semua merasa takut apabila kemunafikan tumbuh pada dirinya.” (HR. al-Bukhari, no. 36)
    Apakah dengan sikap takut para sahabat itu lantas dinyatakan bahwa mereka adalah sufi? Jelas, ini klaim yang tidak pada tempatnya. Para sahabat melakukan amal berlandaskan ittiba’ (mengikuti) Nabi n. Adapun para pemuja tarekat sufi banyak beramal di atas landasan yang menyelisihi sunnah Nabi n. Oleh karena itu, tidak sepantasnya amaliah sahabat diklaim sebagai amaliah para sufi. Apalagi mengklaim sosok sahabat Nabi n sebagai seorang tokoh sufi.
    Jika kenyataannya demikian, untuk menempuh laku lampah bersih jiwa tak harus bergelut dengan tasawuf. Tidak harus bergabung ke dalam dunia tarekat sufi. Seseorang yang terjun ke dunia tasawuf justru tidak akan meraih apa yang dia inginkan. Alih-alih berhasil melakukan proses pembersihan jiwa, malah ia mendapatkan kekumuhan jiwa. Betapa tidak, tasawuf yang ia pelajari menjadikan dirinya malas mencari nafkah, padahal dirinya memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarganya. Bisa jadi pula, tasawuf yang ia pelajari menjadikan ia berpenampilan lusuh, berpakaian compang-camping, enggan menyantap daging, minum dari air yang kotor, badan kurus, dan sakit-sakitan. Selain itu, dengan tasawuf yang didalami, berarti ia harus menyerahkan ketaatan secara total, mutlak kepada mursyid (syaikh)-nya. Sebagai murid, tak ubahnya seperti mayat di hadapan yang memandikannya. Begitulah ia harus taat kepada sang mursyid. Ia tidak perlu menilai benar atau salah apa yang dititahkan dan dilakukan oleh sang mursyid. Di samping itu, bisa jadi tasawuf yang ia yakini malah menanamkan sikap taqdis (mengkuduskan/menyucikan) sang mursyid. Akibatnya, saat sang mursyid telah dimakamkan, kuburannya disembah-sembah. Dalam bahasa mereka, diziarahi untuk dimintai berkahnya. Yang lebih buruk lagi, manakala tasawuf yang ia peluk menyirami pikiran dan hatinya dengan pemahaman ittihad wal-hulul, manunggaling kawula Gusti, Allah l menyatu dalam dirinya.
    Apabila seperti itu keadaannya, mempelajari tasawuf tidak akan bisa mewujudkan jiwa nan bersih. Bahkan sebaliknya, tasawuf mengarahkan hidup seseorang bergelimang dalam kekumuhan. Akidah, akhlak, suluk (perilaku), serta pemikiran menjadi tercemar dan kotor. Hati pun penuh noda. Segenap perbuatan diselimuti oleh noda; mulai noda syirik hingga noda maksiat. Begitulah hidup kumuh ala sufi. Wal ‘iyadzu billah.
    Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah saat menjelaskan ayat,
    ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ
    “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (at-Taubah: 28)
    menyebutkan bahwa yang dimaksud najis dalam ayat tersebut adalah najis kesyirikan, bukan najis yang melekat pada badan (bersifat fisik). Najis kesyirikan adalah najis yang bersifat maknawi, bukan bersifat fisik. Najis kemusyrikan tak bisa disucikan atau dibersihkan dengan air. Walaupun orang musyrik mandi dengan air sebanyak air di samudra, niscaya tak akan sirna najis kesyirikan pada dirinya. Najis tersebut hanya akan lenyap manakala dibasuh dengan kalimat tauhid, syahadat bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Allah l dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah l.
    Kalimat inilah yang akan membersihkan najis kesyirikan. Adapun najis yang bersifat fisik, maka najis semacam ini dibersihkan atau disucikan dengan air. (Tashilu al-Ilmam bi Fiqhi lil Ahadits min Bulughi al-Maram, 1/83)
    Hal yang selaras dengan pendapat di atas dikemukakan pula oleh asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t. Beliau menyebutkan bahwa kata “najasun” pada ayat di atas maksudnya adalah kejelekan dalam hal ‘aqaid (keyakinan-keyakinan) dan amal-amal mereka. Penyebutan najis ditujukan kepada orang yang melakukan peribadahan kepada Allah l, namun diiringi dengan peribadahan kepada sesembahan selainnya. Tentu saja sesembahan lainnya ini tidak akan bisa memberi manfaat, tak bisa pula mendatangkan mudarat. Sesembahan lainnya itu tak akan mampu mencukupi sesuatu pun. Adapun kejelekan amal-amal mereka, diarahkan untuk memerangi Allah l, menghalangi dari jalan-Nya, membantu kebatilan, menolak kebenaran, dan berbuat kerusakan di muka bumi, serta tidak untuk menciptakan kebaikan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 333)
    Oleh karena itu, misi utama para rasul Allah l adalah melakukan proses tazkiyah (menyucikan/membersihkan) umat dari berbagai kejelekan, baik bersifat i’tiqadiyah (keyakinan) maupun amalan. Allah l berfirman,
    “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan Hikmah (as-sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (al-Jumu’ah: 2)
    Ibnu Katsir t menjelaskan surat al-Jumu’ah ayat 2 di atas bahwa dahulu orang-orang Arab berpegang pada agama Nabi Ibrahim al-Khalil q. Lantas mereka mengubah, mengganti, dan menyelisihi agama Nabi Ibrahim q. Mereka mengganti tauhid menjadi agama kesyirikan. Mengganti sesuatu yang yakin dengan sesuatu yang meragukan. Mereka pun mengada-adakan sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah l. Demikian pula dua kelompok ahlul kitab, mereka mengubah kitab-kitab mereka.
    Allah l kemudian mengutus Muhammad n. Beliau diutus dengan membawa syariat yang agung, sempurna, dan universal (menyeluruh) bagi segenap makhluk. Syariat tersebut memuat petunjuk bagi mereka. Syariat tersebut memuat pula penjelasan seluruh hal yang mereka butuhkan, mulai dari urusan kehidupan mereka, dakwah kepada segala perkara yang mendekatkan pada surga dan keridhaan Allah l atas mereka, juga segenap larangan yang bakal menjauhkan mereka dari neraka dan murka Allah l. Syariat itu menjadi hakim yang memilah antara syubhat dan sesuatu yang meragukan, baik dalam hal yang prinsip maupun yang bersifat furu’ (cabang masalah).
    Seluruhnya bagi Allah l, segala puja dan puji hanya bagi-Nya. Syariat tersebut mengandung banyak kebaikan dari yang sebelumnya. Diberikan kepada Rasulullah n sesuatu yang sebelumnya tidak diberikan kepada siapa pun. (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 8/89)
    Kalimat “menyucikan mereka” dalam ayat di atas adalah untuk mendorong mereka (kaum muslimin) agar berakhlak yang utama dan mencegah akhlak yang rendah. (Taisiru al-Karimi ar-Rahman, hlm. 862)
    Inilah salah satu misi utama Rasulullah n di tengah-tengah umatnya. Dengan demikian, tazkiyatun nufus akan mengangkat seseorang menjadi makhluk yang berakhlak unggul, mulia, dan tinggi. Bukan proses tarbiyatun nafsiyah atau riyadhah ar-ruhiyah (pendidikan jiwa atau pelatihan rohani) ala kelompok-kelompok sempalan. Apa yang mereka sebut sebagai pendidikan jiwa atau olah rohani tak lebih dari menanamkan kesyirikan, bid’ah, dan khurafat. Alih-alih jiwa atau rohani menjadi suci atau bersih, malah terkotori, tercemar, dan menjadi kumuh karena apa yang diajarkan tak selaras dengan ketentuan Allah l dan Rasul-Nya.
    Oleh karena itu, manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah menuntunkan bahwa melakukan proses tazkiyatun nufus harus bersandar pada ajaran Allah l dan Rasul-Nya n. Kesucian jiwa akan terjaga manakala seseorang mengikuti apa yang dituntunkan oleh Rasulullah n. Allah l berfirman,
    “Taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (Ali ‘Imran: 132)
    “Berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada cahaya (al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (at-Taghabun: 8)
    “Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, dan membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (al-Fath: 9)
    Rasulullah n, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah z, bersabda,
    كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
    “Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan?” Jawab Rasulullah, “Barang siapa menaatiku, ia akan masuk surga, dan barang siapa bermaksiat kepadaku, sungguh dia telah enggan.” (HR. al-Bukhari, no. 7280)
    Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa penyifatan dengan kata “enggan” karena adanya penolakan. Jika penolakan itu karena kekafiran, ia tidak akan masuk surga selamanya. Jika ia adalah seorang muslim, awalnya ia tercegah masuk surga selain orang yang dikehendaki oleh Allah l. Abdullah bin Mas’ud z menyebutkan,
    الِْاقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْاِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
    “Sederhana dalam (menunaikan) as-Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam (mengamalkan) bid’ah.” (Lihat Haqqu an-Nabi n, asy-Syaikh Dr. Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari, hlm. 27 dan 29)
    Dikisahkan, ada tiga orang sahabat yang menginginkan derajat terbaik dalam beribadah. Dengan penuh semangat, mereka mencari cara dengan bertanya kepada istri-istri Rasulullah n. Kala mereka telah diberi tahu tentang ibadah yang dilakukan oleh Nabi n, mereka melakukan introspeksi diri. Terletup pada diri mereka, “Bagaimana kedudukan (ibadah) kami dibandingkan dengan ibadah yang telah dilakukan oleh Rasulullah n? Padahal dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang telah mendapatkan pengampunan. Adapun kami?”
    Lantas, salah satu dari mereka berucap, “Jika seperti ini, aku akan senantiasa shalat malam dan tidak akan tidur.” Yang lainnya menyatakan, “Adapun aku akan terus berpuasa dan tidak akan berbuka.” Yang ketiga berkata, “Kalau aku, tidak akan menikahi wanita (yakni, meninggalkan kehidupan dunia untuk terus beribadah).” Dalam riwayat lain disebutkan, “Aku tidak akan makan daging (untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan menjaga kesucian jiwa).”
    Nabi n pun mendengar apa yang dinyatakan oleh ketiganya. Beliau berkata, “Apakah kalian yang menyatakan begini dan begini? Demi Allah, aku adalah orang yang lebih tahu dan paling takut kepada Allah k dibandingkan dengan kalian. Walau begitu, aku tetap shalat (malam) dan juga tidur. Aku berpuasa dan berbuka. Aku juga menikahi wanita. Barang siapa tidak menyukai sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.”
    Kisah hadits di atas dinukil asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah—dalam I’anatu al-Mustafid bi Syarhi Kitabi at-Tauhid, hlm. 245—untuk memberi contoh sikap berlebihan dalam beragama. Satu sikap melampaui batas dari ketentuan yang disyariatkan, inilah sikap berlebihan yang dilarang oleh Nabi n.
    Praktik tazkiyatun nufus menggunakan tarekat sufi (metode tasawuf) bisa menggelincirkan seseorang pada amaliah terlarang. Bentuk amaliah terlarang itu di antaranya bersikap berlebihan terhadap pembimbing spiritual, mursyid, atau syaikh sufi. Sikap seperti ini disebut al-ghuluw fi asy-syakhshi. Praktik taqdis terhadap mursyid atau menyerahkan ketaatan secara totalitas, mutlak, tanpa koreksi pada sang mursyid adalah amaliah terlarang. Ini adalah taklid yang membelenggu. Allah l berfirman,
    “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra’: 36)
    Rasulullah n berdasarkan hadits dari ‘Aisyah x bersabda,
    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
    “Barang siapa yang beramal tanpa didasari atas perintah kami, amalan itu tertolak.” (HR.Muslim, no. 1718)
    Al-Imam Malik t selepas memberi pelajaran menyatakan,
    كُلُّ كَلَامٍ فِيْهِ مَقْبُولٌ وَمَرْدُودٌ إِلاَّ كَلَامَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ
    “Setiap perkataan bisa diterima dan bisa ditolak, selain perkataan penghuni kubur ini (yakni, Rasulullah n).” (Siyar A’lami an-Nubala, 8/93)
    Hal yang sama diucapkan pula oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal t, “Pendapat seseorang bisa diambil dan ditinggalkan, selain (apa yang dari) Nabi n (wajib diterima atau diambil).” (Masa’il al-Imam Ahmad, no. 1786. Lihat Ithafu al-‘Uqul bi Syarhi ats-Tsalatsatil Ushul, asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah al-Jabiri, hlm. 9)
    Bentuk amaliah terlarang lainnya dalam metode tasawuf adalah al-ghuluw fi ad-din (sikap berlebihan dalam masalah agama). Tak sedikit ditemukan penyimpangan pada metode tasawuf. Para sufi menyibukkan diri dengan ibadah dan zikir dengan penuh semangat, namun tanpa bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga meninggalkan kewajiban agama yang lain. Teguran Nabi n terhadap tiga orang—pada kisah hadits di atas—menjadi dalil bahwa sikap al-ghuluw fi ad-din adalah terlarang. Perbuatan semacam itu tidak boleh dilakukan oleh orang yang mengaku mencintai Allah l dan Rasul-Nya. Allah l berfirman,
    Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali ‘Imran: 31)
    Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menyatakan bahwa sesungguhnya Islam memerintahkan sikap pertengahan dan seimbang dalam segala hal, tidak bersikap berlebihan dan tidak bersikap meremehkan. Terkait dengan sikap zuhud terhadap dunia, Islam menuntunkan sikap pertengahan. Sikap tengah antara sikap rakus dan tamak Yahudi yang berlebihan terhadap dunia dan sikap kaum rahbaniyyah (kependetaan) Nasrani yang meremehkan menjalani berbagai sebab, serta duduk berpangku tangan tak mau bekerja dan berbuat apa-apa.
    Kata beliau hafizhahullah selanjutnya, “Sikap zuhud yang dilakukan dalam batasan ittiba’ (mengikuti tuntunan Rasulullah n) adalah perbuatan terpuji dalam Islam karena Nabi n adalah orang pertama dari kalangan kaum zuhud. Begitu pula Abu Bakr, Umar, dan kalangan sahabat lainnya.
    Walau bersikap zuhud, tidak menjadikan mereka malas bekerja dan berdiam diri menanti uluran tangan orang lain. Bahkan, tatkala dunia mendatangi mereka, tak segan mereka menginfakkannya di jalan kebaikan. Mereka tidak meninggalkan berbagai kebaikan kecuali jika ada uzur. Apabila mereka memperoleh sesuatu yang bisa diambil manfaatnya, mereka menikmatinya. Nabi n menikahi wanita dan menyukai parfum. Beliau n memakan daging, berpuasa lalu berbuka, shalat malam, tidur, bekerja, berjihad menghukumi berbagai perkara yang muncul di antara kaum muslimin, mengajarkan al-Qur’an, dan kebaikan kepada kaum muslimin.
    Adapun zuhud ala sufi adalah meninggalkan pekerjaan yang halal dan bermanfaat, menanti uluran tangan orang lain, serta menengadahkan telapak tangan dan meminta-minta. Sikap lainnya, menyusahkan diri dengan tampilan lahir berupa pakaian yang lusuh, robek-robek, atau compang-camping agar terlihat zuhud.
    Jadilah ia orang yang menyelisihi sunnah Nabi n. Nabi n bersabda,
    فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
    “Barang siapa tidak menyukai sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Nabi n memakan daging. Beliau menyukai paha kambing. Sementara itu, sebagian sufi terjatuh pada ambang yang membahayakan mereka. Sebagian mereka makan abu dan tanah kemudian sengaja minum air kotor, menjauhi air yang bersih dan dingin dengan alasan tidak mampu mensyukurinya. Ini adalah alasan yang lemah. Apakah ketika ia meninggalkan air bersih dan dingin kemudian dia mampu bersyukur kepada Allah l atas sebagian nikmat lainnya, seperti penglihatan, pendengaran, kesehatan, dan lainnya? Justru dengan perbuatan tersebut ia telah melakukan dosa. Sebab, ia telah melakukan perbuatan yang membahayakan kesehatan tubuhnya. Dengan minum air yang tidak higienis itu, dia melakukan satu tindakan yang membinasakan. Allah l berfirman,
    “Janganlah membunuh diri kalian. Sungguh Allah Maha Penyayang kepada kalian.” (an-Nisa’: 29)
    Firman Allah l pula,
    “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (al-Baqarah: 185)
    Telah diperkenankan bagi seorang muslim berbuka di bulan Ramadhan ketika ia dalam keadaan safar (bepergian) atau sedang sakit, sebagai bentuk kasih sayang Allah l kepada kita. Hanya bagi Allah l segala pujian. (Haqiqatu ash-Shufiyyah, hlm. 30—32)
    Oleh karena itu, zuhud tak identik dengan kekumuhan. Zuhud tak identik dengan kemelaratan. Bisa saja seseorang hidup zuhud, tetapi secara lahir ia menampilkan hidup bersih, rapi, dan nyaman dipandang. Bisa saja seseorang hidup zuhud walau ia kaya raya. Harta melimpah ruah yang ada padanya disalurkan di jalan Allah l. Ia tidak kikir dan bakhil mengeluarkan harta miliknya untuk Islam dan kaum muslimin. Kekayaan menjadikan dirinya semakin tawadhu’, tidak menjadikan dirinya takabur.
    Hidup menjadi orang kaya itu tidak terlarang. Nabi n pernah mendoakan Anas bin Malik z menjadi orang yang banyak harta. Dari Anas bin Malik z, ia berkata,
    قَالَتْ أُمِّي: يَا رَسُولَ اللهِ، خَادِمُكَ أَنَسٌ، ادْعُ اللهَ لَهُ. فَقَالَ: اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيْمَا أَعْطَيْتَهُ
    “Ibuku memohon, ‘Wahai Rasulullah, pembantumu Anas, mohon doakanlah kepada Allah baginya.’ Beliau mendoakannya, ‘Ya Allah, perbanyaklah hartanya, anaknya, dan berkahilah ia pada apa saja yang telah Engkau berikan padanya’.” (HR. al-Bukhari, no. 6344)
    Para sahabat yang memiliki akhlak utama tetap mengembangkan bisnisnya. Mereka memiliki kekayaan yang tidak sedikit, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan az-Zubair bin al-‘Awam g. (Lihat Haqiqatu ash-Shufiyyah fi Dhau’i al-Kitab wa as-Sunnah, asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, hlm. 31)
    Oleh karena itu, jauhilah hidup kumuh ala sufi!
    Wallahu a’lam.
    Sumber : http://asysyariah.com/hidup-kumuh-ala-sufi.html

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal